NovelToon NovelToon
Fy Unig

Fy Unig

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.

Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.

Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.

Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.

Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

Malam yang panjang di Beverly Hills baru saja berakhir dengan keheningan yang mematikan bagi keluarga Van Doren, namun bagi Kingsley Emerson, itu adalah awal dari kebebasan yang sesungguhnya. Saat ia melajukan mobilnya kembali menuju pusat kota, udara pagi yang dingin menerobos masuk melalui celah jendela, membawa aroma laut Pasifik yang menyegarkan. Beban sepuluh tahun yang ia pikul di pundaknya seolah menguap bersama kabut yang mulai menipis di atas aspal jalan raya.

Kingsley melirik jam di dasbor. Masih pukul lima pagi. Tujuh hari yang ia janjikan kini menyusut menjadi enam. Dan ia tidak ingin membuang satu detik pun lagi untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan Faelynn.

Ia menepi di sebuah sudut jalan yang masih sepi, mengambil ponsel operasionalnya, dan mengirimkan pesan singkat kepada Angel.

Kingsley: Selesaikan pembersihan aset Van Doren. Pastikan tidak ada satu pun fragmen data yang tersisa. Dan Angel... terima kasih. Aku berutang padamu.

Jawaban Angel masuk hanya dalam hitungan detik.

Angel: Sudah bersih, King. Freya sudah dalam perjalanan ke bandara. Dia tidak akan berani menoleh ke belakang lagi. Selamat menempuh hidup baru, Kapten. Jangan buat istrimu menunggu terlalu lama.

Kingsley tersenyum tipis. Sebuah senyum yang jarang sekali terlihat di wajah seorang pria yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di zona konflik. Ia menyimpan ponsel itu di laci dasbor, memutuskan bahwa mulai detik ini, ponsel tersebut tidak akan lagi menjadi prioritas utamanya.

Di sisi lain kota, di dalam apartemen lantai empat yang kini terasa jauh lebih hidup, Faelynn terjaga lebih awal. Ia berdiri di balkon, mengenakan kardigan rajut tipis, menatap langit yang mulai berubah warna dari biru pekat menjadi jingga keemasan.

Pesan misterius semalam masih terngiang di benaknya, namun kata-kata Kingsley jauh lebih kuat bergema di dalam hatinya.

"Aku janji dengan nyawaku." Seorang pria yang sudah berkali-kali menantang maut demi tugas negara, kini memberikan janji yang sama demi ketenangannya. Faelynn merasa seolah-olah ia sedang dilindungi oleh perisai yang paling kokoh di dunia.

Pintu balkon terbuka pelan. Melinda muncul dengan dua cangkir cokelat hangat di tangannya.

"Belum tidur, Nak?" tanya Melinda lembut, menyerahkan salah satu cangkir pada putrinya.

"Sudah tidur sebentar, Bu. Tapi aku tidak bisa berhenti berpikir," jawab Faelynn, menyesap cokelatnya. "Semua ini terasa seperti mimpi. Kemarin aku menangisi kematiannya, dan sekarang... dalam enam hari aku akan menjadi istrinya."

Melinda mengusap bahu Faelynn. "Tuhan punya cara yang unik untuk menulis naskah hidup kita, Fae. Ibu melihat bagaimana Kingsley menatapmu. Itu bukan tatapan seorang pria yang hanya ingin bermain-main. Itu tatapan seorang diplomat yang akhirnya menemukan rumahnya. Kau adalah rumahnya, Nak."

Faelynn menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. "Tapi bagaimana dengan orang tuanya, Bu? Aku tau King berasal dari keluarga besar. Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku? Aku hanya seorang penulis yang tinggal di apartemen sempit."

"Nak, jika dia berani membawamu ke altar dalam tujuh hari, itu berarti dia sudah siap menghadapi siapa pun yang menentangnya. Kingsley bukan pria yang bisa disetir. Kau lihat sendiri bagaimana dia menghadapi si Ibner itu, kan?"

Faelynn terkekeh kecil mengingat wajah pucat Ibner kemarin. Ya, Kingsley adalah badai bagi musuh-musuhnya, namun ia adalah pelabuhan yang tenang bagi Faelynn.

Tepat pukul delapan pagi, sebuah mobil mewah berwarna perak berhenti di depan gedung apartemen. Bukan SUV hitam yang biasa Kingsley gunakan, melainkan sebuah sedan mewah yang lebih mencerminkan status sosial keluarganya sebagai Emerson.

Kingsley keluar dari mobil, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak segar, luka gores di pipinya sudah mulai mengering, memberinya kesan tangguh yang berkelas.

Para tetangga yang sedang melakukan aktivitas pagi—Mrs. Miller yang sedang menjemur kain dan Mrs. Higgins yang sedang menyiram bunga—kembali mematung. Kabar tentang "kekasih Faelynn yang hidup kembali" telah menjadi topik utama di grup pesan singkat gedung mereka. Namun melihat Kingsley kembali dengan mobil yang berbeda dan aura yang jauh lebih dominan, mereka hanya bisa berbisik-bisik dari jauh.

Kingsley tidak menoleh. Ia langsung menuju lantai empat.

Saat pintu apartemen terbuka, ia disambut oleh aroma masakan Melinda. Faelynn muncul dari balik pintu kamar, mengenakan gaun rumah sederhana berwarna biru muda. Rambutnya diikat kuda, dan wajahnya tanpa riasan, namun di mata Kingsley, dia adalah pemandangan paling indah yang pernah ada.

"Kau kembali," bisik Faelynn.

"Aku selalu kembali, Lyn," sahut Kingsley, melangkah masuk dan tanpa ragu mengecup kening Faelynn di depan ibunya.

Melinda hanya tersenyum dan memberikan kode pada Anna untuk masuk ke dapur, memberikan privasi pada "calon pengantin" itu.

Kingsley mengajak Faelynn duduk di sofa ruang tamu. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari sakunya. Saat kotak itu dibuka, sebuah cincin berlian dengan desain klasik yang sangat elegan berkilau di bawah cahaya lampu.

"Ini milik nenekku," ujar Kingsley pelan. "Ibuku memberikannya padaku semalam. Dia bilang, jika aku sudah menemukan wanita yang bisa membuatku ingin berhenti berlari, maka berikan ini padanya."

Faelynn menahan napas. "King... ini terlalu indah."

"Tidak seindah pemiliknya," Kingsley menarik tangan Faelynn dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Pas sekali. "Mulai hari ini, kau resmi bertunangan denganku. Dan dalam enam hari, cincin ini akan ditemani oleh cincin pernikahan."

Faelynn memeluk Kingsley dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. "Terima kasih, Ay. Terima kasih sudah membereskan segalanya."

"Aku tidak akan membiarkan ada satu pun debu yang mengotori jalanmu menuju altar, Lyn," bisik Kingsley. "Masa lalu, ancaman, atau apa pun itu... mereka sudah selesai. Sekarang hanya ada kita."

Siang harinya, Kingsley mengajak Faelynn keluar. Bukan untuk kencan biasa, melainkan untuk mengunjungi butik pengantin milik kenalan keluarganya di pusat kota.

Saat mereka berjalan keluar dari lobi apartemen, Ibner kebetulan sedang berdiri di dekat pintu keluar, tampak sedang berbicara dengan petugas keamanan. Melihat Kingsley dan Faelynn keluar dengan tangan bertautan dan cincin berlian yang berkilau di jari Faelynn, Ibner mendadak membeku.

Kingsley berhenti tepat di depan Ibner. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Ibner dengan tatapan dingin yang seolah mengatakan, "Kau masih berani bernapas di sekitarnya?"

Ibner segera membuang muka, pura-pura sibuk dengan ponselnya, dan melangkah pergi dengan terburu-buru. Nyalinya sudah habis sejak gertakan Kingsley di lobi kemarin.

"Kau tidak perlu melakukan itu, King," ujar Faelynn saat mereka sudah di dalam mobil.

"Melakukan apa?" tanya Kingsley pura-pura polos.

"Menakut-nakutinya dengan tatapanmu."

Kingsley terkekeh, tangannya tetap menggenggam tangan Faelynn saat ia mengemudi. "Aku hanya memastikan dia tahu posisinya, Sayang. Di duniaku, ancaman harus dinetralisir sampai ke akarnya. Dan melihatnya lari ketakutan adalah hiburan tersendiri bagiku."

Di butik pengantin, Faelynn merasa seperti Cinderella. Gaun-gaun sutra putih yang indah dipajang di sekelilingnya. Kingsley duduk di sofa beludru, memperhatikan setiap gaun yang dicoba Faelynn dengan perhatian penuh.

Saat Faelynn keluar dari ruang ganti dengan gaun A-line sederhana namun sangat elegan dengan detail lace di bagian bahu, Kingsley berdiri tanpa sadar. Matanya terpaku.

"Itu dia," ujar Kingsley rendah. "Kau terlihat... sempurna."

Faelynn menatap dirinya di cermin besar. Ia tidak pernah menyangka akan melihat dirinya seperti ini. Penulis yang biasanya hanya bergelut dengan kata-kata dan imajinasi, kini benar-benar sedang mempersiapkan adegan paling sakral dalam hidupnya.

"Enam hari lagi, King," bisik Faelynn pada pantulannya sendiri.

"Enam hari lagi, Nyonya Emerson," sahut Kingsley, berdiri di belakangnya dan meletakkan tangannya di bahu Faelynn.

Suasana haru dan bahagia itu menyelimuti mereka sepanjang hari. Namun, di balik kebahagiaan itu, Kingsley tetap waspada. Ia tahu, meskipun Freya sudah disingkirkan, dunia seorang Emerson tidak pernah benar-benar sunyi dari intrik. Namun selama Faelynn ada di sampingnya, ia merasa memiliki kekuatan untuk meruntuhkan tembok apa pun.

Malam itu, mereka kembali ke apartemen dengan tawa. Kecanggungan pagi itu telah mencair sepenuhnya. Faelynn menyadari bahwa meskipun Kingsley adalah seorang pria yang terbiasa dengan senjata dan rahasia, di hadapannya, Kingsley hanyalah seorang pria yang haus akan kasih sayang dan ketenangan.

"Ay, tidurlah di tempat tidurku malam ini. Aku akan tidur di sofa bersama Anna," tawar Faelynn saat Kingsley bersiap untuk tidur di sofa lagi.

Kingsley menarik tangan Faelynn, membuat gadis itu terduduk di sampingnya di sofa. "Tidak perlu, Sayang. Aku sudah terbiasa tidur di atas tumpukan batu di tengah gurun. Sofa ini terasa seperti kasur istana bagiku. Lagipula, aku ingin kau beristirahat dengan baik. Pernikahan dalam enam hari butuh banyak energi."

Faelynn tersenyum, mengecup pipi Kingsley singkat sebelum lari ke kamarnya dengan wajah merona.

Kingsley menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia tidak lagi memikirkan strategi perang atau analisis target saat akan tidur. Ia hanya memikirkan satu hal: wajah Faelynn di bawah kerudung pengantin nanti.

Fajar yang suci telah datang, dan bayang-bayang masa lalu telah pudar. Enam hari menuju altar, dan Kingsley Emerson siap memberikan segalanya untuk masa depan yang baru.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ren_iren
kembalikan king dan faelynn😂
Ros 🍂: maafkan author Buntu 😭🤣🙏🏼
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
ren_iren
dan tetiba king and faelyn berubah jd gadis angkat jemuran... dirimu kak, ada2 aja.... 😂😂😂
Ros 🍂: Nanti saya revisi kak, biar masuk cerita nya, Makasih Kak 🫶🙏🥰
total 3 replies
winpar
lnjut thorrr
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
Ros 🍂: ma'aciww kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!