NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Potong Kabel Pakai Tang Kuning

Sisa air mata di pipiku mendadak mengering, berganti dengan rasa kesat yang kaku bercampur lumpur rawa. Getaran di pergelangan tangan kiriku perlahan mereda, menyisakan denyutan konstan yang seolah berbisik bahwa waktu kami tidak banyak. Di sudut gubug rumbia, Kala terengah-engah dengan kelopak mata yang terpejam rapat. Sisi liarnya seolah meredup, menyisakan tubuh besarnya yang lemas dan tak berdaya di atas jaring tua berdebu.

Oeeekkk... Sreeekkk...

Suara lengkingan ganjil yang parau memecah kesunyian fajar dari arah kejauhan, disusul bunyi seretan rantai besi yang beradu dengan akar bakau. Bulu kudukku langsung berdiri tegak. Itu bukan suara binatang rawa biasa. Itu adalah suara lolongan mengerikan dari makhluk eksperimen gagal milik Baron yang pernah kudengar ceritanya saat melintasi bunker beton bersama Mbah Jarot.

Mereka dilepaskan untuk melacak keberadaan kami.

Tak lama kemudian, suara deru mesin diesel yang berat mulai terdengar konstan, berjarak sekitar seratus meter dari tempatku berdiri. Pasukan Baron membawa generator portabel untuk menyuplai daya lampu sorot dan pagar kejut portabel guna mempersempit ruang gerak kami.

Aku menatap Kala, lalu menatap ransel oranyeku yang tergeletak di lantai kayu. Rasa pasrah dan keinginan untuk lari naik bus malam ke Medan yang sempat membuatku menangis di depan pintu tadi mendadak menguap, digantikan oleh keputusasaan yang nekat. Sebagai anak pelabuhan, aku tahu betul kalau kami cuma berdiam diri di sini, dalam hitungan menit gubug ini akan dikepung total. Kala tidak bisa lari. Jadi, akulah yang harus bergerak.

Aku berlutut, membuka ransel oranyeku dengan cepat tanpa memicu suara. Tanganku meraba ke bagian dasar tas hingga jemariku menemukan sebuah perkakas yang sangat kukenali: tang kuning berkarat dengan gagang karet yang sudah mengelupas di beberapa sisi. Ini tang pinjaman dari montir depo sortir yang belum sempat kukembalikan.

"Kau mau ke mana, Lara?" bisik Kala, kelopak matanya terbuka sedikit, menampilkan pendaran emas yang sangat redup. Tangannya mencoba bergerak meraih ujung jaket pelabuhanku, namun gerakannya terlalu lambat dan lemas.

"Diam di sini, Paket Sialan," desisku sambil menepis tangannya perlahan. "Aku mau mengurus mesin bising di luar. Kalau kau bersuara sedikit saja, kupastikan sisik perakmu kurontokkan pakai tang ini."

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku menyelinap keluar melalui celah dinding rumbia yang bolong di bagian belakang gubug, langsung menjatuhkan tubuhku ke atas lumpur hitam yang sedingin es.

Bau belerang dan minyak tanah samar mulai tercium di udara fajar yang berkabut tebal.

Aku mulai merangkak, tiarap seendah mungkin di

antara semak bakau yang penuh duri. Setiap kali ranting berduri menggores lengan atau pipiku hingga perih, aku menahan napas agar tidak mengaduh. Keringat dingin mengucur deras di balik jaket pelabuhanku, membasahi punggung meskipun udara rawa terasa menusuk tulang.

Sreeek... Sreeek...

Hanya berjarak lima meter di sebelah kananku, semak bakau bergoyang hebat. Sebuah bayangan berukuran besar merayap dengan posisi aneh, mengeluarkan suara dengusan berlendir yang menjijikkan. Suara rantai besi yang melilit leher makhluk itu bergemerincing nyaring di atas akar pohon. Aku menahan napas, membenamkan separuh wajahku ke dalam lumpur busuk, berdoa dalam hati agar bau amis tubuhku menyatu dengan bau rawa sehingga mengacaukan indra penciuman makhluk eksperimen tersebut.

Begitu bayangan mengerikan itu melintas menjauh mengikuti aba-aba teriakan anak buah Baron di depan, aku kembali merangkak dengan cepat.

Di sebuah gundukan tanah yang agak kering di balik rimbunnya pohon nipah, aku melihatnya.

Sebuah boks besi hijau berukuran besar yang bergetar hebat—generator portabel milik Baron. Di sekelilingnya, tiga orang penjaga berbadan besar dengan seragam hitam sedang sibuk mengarahkan lampu sorot berdaya tinggi ke arah vegetasi bakau, sementara satu orang lagi sibuk memeriksa panel indikator digital di boks besi tersebut.

Aku menyipitkan mata, mengamati jalur kabel yang menjuntai dari generator itu. Otakku langsung berputar, memanggil kembali memori kasual beberapa hari lalu di Sektor Utara. Saat mengantar paket ke gardu, aku sempat berbagi rokok dan mengobrol santai dengan petugas teknisi logistik Baron. Waktu itu, dia sempat pamer dengan sombong soal sistem kelistrikan generator portabel baru mereka yang menggunakan pemantik elektronik otomatis untuk menyalakan arus lampu sorot dan pagar kejut portabel.

“Kalau kabel pemantik utamanya putus atau korslet, seluruh sistemnya bakal mati total karena gak ada sekring manual cadangan,” kata-kata teknisi itu terngiang jelas di kepalaku.

Kebetulan sekali, letak boks kabel pemantik itu berada di bagian belakang generator, tepat menghadap ke arah semak bakau tempatku bersembunyi saat ini. Para penjaga terlalu fokus menatap ke depan, mengira bahaya hanya akan datang dari arah dalam hutan rawa, bukan dari bawah kaki mereka.

Mengambil keuntungan dari suara deru mesin generator yang sangat bising, aku merangkak maju selangkah demi selangkah mendekati boks besi itu. Tang kuning di tangan kananku kucengkeram hingga buku-buku jariku memutih.

Begitu posisiku sudah berada tepat di balik bagian belakang mesin, aku menegakkan punggung sedikit, meraih penutup boks panel yang untungnya tidak dikunci oleh mereka. Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin dan lumpur, aku menyibak penutupnya. Di dalam sana, terdapat kumpulan kabel rumit yang terhubung ke modul digital.

Mataku menyapu barisan kabel tersebut dengan cepat. Yang mana kabel pemantiknya? Sial, semuanya terlihat mirip di bawah remang fajar.

"Woi! Periksa area gubug tua di sebelah sana! Makhluknya mencium bau sesuatu di arah barat daya!" Teriakan salah seorang anak buah Baron di sisi depan membuat jantungku serasa melompat keluar dari dada. Itu arah gubug tempat Kala bersembunyi.

Aku tidak punya waktu lagi untuk menimbang-nimbang. Pikiranku berpacu liar.

Berdasarkan skema mesin kargo standar pelabuhan yang biasa kulihat di depo, kabel pemantik elektronik yang memicu arus listrik utama selalu dilapisi pembungkus tebal berwarna merah dengan strip hitam yang terhubung langsung ke dinamo starter.

Aku menemukannya. Kabel tebal itu berada di bagian paling pojok bawah panel.

Aku membuka rahang tang kuning berkarat milikku, mengarahkannya ke kabel tersebut.

Tanganku gemetar hebat sampai ujung besi tang itu berbenturan dengan boks besi, memicu bunyi klenteng kecil yang membuatku menahan napas.

Aku memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir bawahku sampai berdarah, lalu mengerahkan seluruh sisa tenaga di lenganku untuk menekan gagang tang kuning itu sekuat-kuatnya.

KRETEK! ZZZAAAPTTT!

Percikan api biru yang menyilaukan melesat keluar seketika, menghantam pergelangan tanganku hingga terasa mati rasa karena gelombang kejut yang ganjil. Bau gosong plastik terbakar langsung menguar pekat dari dalam panel panel boks besi.

Korsleting berhasil.

Dalam sekejap mata, suara deru mesin generator yang tadinya memekakkan telinga langsung mati mendadak, menyisakan suara batuk mesin yang sekarat sebelum akhirnya sunyi total. Bersamaan dengan itu, lampu sorot raksasa yang menerangi rawa padam, melemparkan seluruh area kembali ke dalam kegelapan kelabu fajar yang pekat dan membingungkan.

"Apa yang terjadi?! Generatornya mati!"

"Sialan! Kabelnya korslet! Cepat periksa panel belakang!"

Teriakan panik anak buah Baron saling bersahutan di depan. Namun, kekacauan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Padamnya aliran listrik secara mendadak dari generator ternyata memutus sinyal frekuensi gelombang kejut portabel yang digunakan untuk mengendalikan makhluk-makhluk eksperimen gagal milik mereka.

KRAAAKKK! OEEEKKK!

Suara seretan rantai besi berubah menjadi suara amukan yang liar. Tanpa adanya kekangan sinyal listrik yang menahan mereka, makhluk-makhluk eksperimen yang kebingungan dan kesakitan akibat kejutan arus terakhir itu mendadak kehilangan kendali atas insting mereka. Mereka berbalik arah, menerjang kegelapan, dan menyerang sumber suara terdekat—yaitu para penjaga berseragam hitam yang memegang senter.

Suara rentetan tembakan senapan otomatis terdengar acak, disusul jeritan histeris dari anak buah Baron yang mulai kocar-kacir diserang oleh makhluk ciptaan majikan mereka sendiri.

Aku tidak membuang waktu untuk menonton hasil sabotaseku. Sambil memegangi pergelangan tangan kiriku yang masih terasa lemas dan linu akibat sisa sengatan listrik, aku membalikkan badan. Aku berlari secepat mungkin, setengah melompat menembus semak bakau dan lumpur hisap tanpa memedulikan lagi duri-duri yang merobek celanaku.

Dengan napas yang memburu dan dada yang rasanya mau pecah, aku melesat kembali menuju gubug rumbia, memanfaatkan jeritan kepanikan musuh di belakangku sebagai tameng untuk menyelamatkan nyawa kami berdua sekali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!