Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 | Tamu Tak Diundang
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Waktu seolah berhenti berputar saat pintu lift terbuka penuh. Di hadapan mereka, berdiri sosok wanita yang sangat mereka kenal dari cerita masa lalu dan data penyelidikan, namun kini hadir secara nyata di depan mata.
Stella.
Wanita itu tersenyum lebar, senyum yang terlihat sangat indah dan ramah di permukaan, namun di baliknya tersimpan duri yang tajam dan dingin. Aroma parfum mahal yang menyengat memenuhi lorong apartemen yang sempit itu, membuat suasana terasa semakin menyesakkan.
Iris langsung memeluk lengan Kim erat-erat, tubuhnya sedikit gemetar bukan karena dingin, tapi karena rasa takut yang muncul secara naluriah. Insting di dalam tubuhnya berteriak kencang.
[DETEKSI ANCAMAN: TINGGI.]
[LEVEL BAHAYA: MERAH.]
Kim berdiri tegak di depan Iris, membentuk perisai hidup. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi datar dan dingin, matanya menatap tajam menembus jiwa Stella. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya tatapan mata yang saling beradu, penuh dengan sejarah panjang, kebencian, dan juga pengakuan akan kekuatan lawan.
"Jangan bertingkah seolah kau adalah pemilik tempat ini, Stella. Apa yang kau lakukan di sini?" suara Kim terdengar rendah, berat, dan penuh tekanan.
Stella terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat manis namun mengerikan. "Ah, masih sama saja ya caranya bicara, Komandan Kim. Sangat kaku dan formal. Padahal kan kita sudah lama 'sahabat'?" jawabnya santai sambil melangkah setapak mendekat.
"Aku hanya ingin bersilaturahmi. Lagipula, apartemen ini kan milik perusahaan tempatku bekerja. Jadi wajar kan kalau aku mau mengecek penghuninya? Apalagi penghuninya adalah orang-orang yang sangat spesial," ujar Stella sambil melirik ke arah Iris yang bersembunyi di balik punggung Kim.
Mata mereka bertemu. Iris menatap Stella dengan campuran rasa takut dan penasaran.
"Dan kamu pasti Iris ya? Wah, benar-benar cantik dan manis. Pantas saja Kim sampai rela mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk menjagamu. Hmmm... atau jangan-jangan ada alasan lain?" ujar Stella dengan nada menggoda namun penuh sindiran.
"Jangan dekati dia!" bentak Kim tegas. "Kau pikir kami tidak tahu apa yang sudah kau lakukan? Kecelakaan bus, kerusakan yang disengaja... Kau berani bermain kotor, Stella."
"Oh? Jadi sudah ketahuan ya?" Stella justru tampak tidak terkejut sama sekali. Ia malah mengangkat bahu acuh tak acuh. "Memang sayang sekali busnya rusak. Tapi setidaknya itu berhasil membuktikan satu hal... Bahwa gadis ini memang memiliki apa yang kami cari. Bahwa dia adalah 'Spesimen' yang sempurna."
Stella melangkah lagi, kini jaraknya hanya beberapa meter dari mereka.
"Kau salah, Stella. Iris bukan spesimen atau alat percobaan! Dia adalah manusia yang memiliki hati dan perasaan! Berbeda dengan kau yang sudah kehilangan kemanusiaanmu sendiri!" seru Kim dengan nada tinggi.
Ucapan itu seketika membuat senyum di wajah Stella memudar. Wajahnya berubah serius dan dingin. Suasana menjadi sangat mencekam.
"Kemanusiaan? Kim... Di tahun 2100 lalu, kemanusiaan itu yang justru membuat kita kalah! Itu yang membuat kita lemah! Aku melakukan semua ini bukan karena aku jahat, tapi karena aku ingin menciptakan dunia baru yang lebih sempurna! Dimana yang kuat akan bertahan, dan yang lemah tidak akan menjadi beban!" balas Stella tak kalah keras.
"Tapi caramu membunuh dan memanipulasi orang tidak bersalah tidak akan pernah bisa dibenarkan!"
"Sudahlah, jangan bahas hal membosankan ini," potong Stella cepat, kembali memasang topeng senyumnya. "Aku ke sini bukan untuk berdebat. Aku hanya ingin mengingatkan... Bahwa permainan ini baru saja dimulai. Dan posisimu sekarang, Kim, tidak seaman yang kau kira."
Stella melirik jam tangannya yang mewah. "Wah, sudah sore ya. Sebaiknya aku pamit dulu. Masih banyak hal yang harus aku urus. Oh iya, sampaikan salam untuk teman-teman barumu di sekolah ya, Iris. Siska, Sandra, Faisal... Mereka semua anak-anak yang sangat baik dan patuh, bukan?"
Ucapan terakhir itu membuat jantung Iris dan Kim seketika berhenti berdetak.
Stella tahu. Dia tahu segalanya. Dan dia sengaja mengatakannya untuk menekan mental mereka.
Dengan anggukan kepala yang elegan, Stella berbalik badan dan berjalan santai menuju lift, seolah-olah dia baru saja melakukan kunjungan sosial biasa. Pintu lift terbuka, dia masuk, dan sebelum pintunya menutup, Stella melambaikan tangan dengan senyum yang sangat mengerikan.
"Sampai jumpa lagi... Keluarga kecilku."
Tut.
Pintu lift tertutup. Sosok Stella hilang dari pandangan.
Namun, ketegangan belum hilang. Bahkan justru semakin menjadi-jadi.
"Paman... Dia tahu tentang Siska dan yang lain... Dia yang ada di belakang semua ini, kan?" tanya Iris dengan suara bergetar, air matanya hampir jatuh.
Kim menghela napas panjang, lalu menoleh menatap Iris dengan wajah sangat serius.
"Benar, Nona. Dia dalang utamanya. Dan kedatangannya sini berarti satu hal..."
Kim membuka pintu apartemen mereka, dan saat lampu ruang tamu menyala...
Mereka berdua terbelalak kaget.
Di atas meja ruang tamu, terdapat sebuah kotak hadiah berwarna hitam dengan pita merah. Dan di sebelahnya, ada sebuah layar tablet yang menyala sendiri, menampilkan rekaman video...
Video yang memperlihatkan Bayu yang sedang diikat dan disekap di tempat yang gelap!
"SELAMAT DATANG KEMBALI. SEKARANG PERMAINANNYA AKAN MENJADI LEBIH SERU. PILIHLAH DENGAN BIJAK, KIM. ATAU SAHABAT KECIL ITU AKAN MENJADI KORBAN PERTAMA."
Tulisan itu muncul di layar, disusul dengan teriakan minta tolong Bayu yang terdengar samar-samar.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...