Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGERAN ANGKUH
Matahari pagi di bersinar samar di balik awan mendung.
Di depan gerbang utama, sebuah kereta kuda mewah berlogo kekaisaran berhenti, kusir kereta bergegas turun dan membukakan pintu sang Pangeran Mahkota.
Pangeran Mahkota Arkan melangkah turun, jubah bulu beruang hitamnya berkibar ditiup angin dingin, dia mendongak, menatap kastil Alessandro yang tampak kokoh sekaligus menyeramkan di depannya, lalu mendengus meremehkan.
"Tempat yang benar-benar suram, bagaimana bisa manusia waras tinggal di tempat seperti ini," gumam Arkan sembari merapatkan sarung tangan kulitnya.
Nero sudah berdiri di dekat tangga masuk kastil bersama beberapa ksatria, menyambut kedatangan sang pangeran Mahkota tanpa senyuman sama sekali, langkah kakinya terdengar teratur saat dia mendekati Arkan dan membungkuk formal.
"Selamat datang di kediaman Magnus, Yang Mulia Pangeran Mahkota Arkan. Grand Duke dan Grand Duchess sudah menunggu Anda di dalam," ucap Nero, suaranya terdengar datar dan profesional.
Arkan menatap Nero dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan angkuh, lalu tersenyum tipis.
"Lama tidak bertemu, Nero, di mana Alessandro? Kenapa bukan dia sendiri yang menjemput ku di depan gerbang? Apakah sopan santun wilayah Magnus memang seburuk ini?" tanya Pangeran Arkan, sinis.
Nero sama sekali tidak terpancing oleh sindiran itu, dia kembali menegakkan tubuhnya dan memberikan isyarat tangan agar Arkan mengikutinya masuk.
"Grand Duke sedang menyelesaikan beberapa urusan wilayah yang mendesak, Yang Mulia. Silakan lewat sini," jawab Nero dengan tenang, langsung berbalik memimpin jalan tanpa menunggu jawaban Arkan.
Arkan mengepalkan tangannya di balik jubah, merasa tersinggung dengan sambutan yang begitu dingin. Namun, dia menahan amarahnya karena tujuannya ke sini jauh lebih penting daripada meributkan masalah sambutan.
Arkan melangkah masuk, diikuti oleh dua ksatria pribadinya yang terus berjaga di belakang.
Di dalam aula pertemuan utama yang hangat karena kobaran api dari perapian besar, Alessandro dan Anastasia sudah duduk berdampingan di kursi kebesaran mereka.
Alessandro mengenakan pakaian formal hitam dengan sulaman perak, sementara Anastasia tampak sangat memukau dengan gaun merah marun yang kontras dengan kulit putih dan rambut panjangnya.
Padahal gaun yang dikenakan Anastasia hanya gaun biasa, tapi aura yang dimiliki wanita itu, memancar begitu kuat dan memikat.
"Kamu terlihat sangat siap, Grand Duchess," bisik Alessandro tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke arah pintu aula yang masih tertutup.
Anastasia yang sedang memainkan cincin di jarinya hanya tersenyum tipis.
"Tentu saja, aku tidak ingin mengecewakan tamu agung kita yang sudah jauh-jauh datang dari ibu kota hanya untuk melihatku," jawab Anastasia, dengan seringai licik di wajah nya.
Ceklekk
Pintu aula terbuka lebar, dan sosok Arkan melangkah masuk dengan gaya angkuh nya yang biasa dia pamerkan di istana kekaisaran.
Pandangan mata Arkan langsung tertuju pada sosok Anastasia yang duduk di sebelah Alessandro.
Arkan sempat tertegun sesaat melihat penampilan Anastasia, gadis yang biasanya selalu memakai gaun mencolok, dan menunduk ketakutan, kini tampak begitu bersinar, anggun, dan memancarkan aura yang sangat berbeda.
Alessandro hanya diam tidak berniat berdiri dari kursinya untuk memberikan penghormatan pada Pangeran Mahkota.
"Duduklah, Pangeran Arkan. Perjalanan dari ibu kota pasti sangat melelahkan," perintah Alessandro, datar.
"Terimakasih Grand Duke," jawab Arkan, membungkuk sedikit dengan senyum ramah yang terlihat sangat palsu
Arkan berjalan menuju kursi kosong yang berada di seberang meja, lalu mendudukkan dirinya dengan santai, matanya langsung beralih sepenuhnya pada Anastasia, memasang wajah penuh simpati yang dibuat-buat.
"Anastasia, bagaimana kabarmu? Begitu mendengar berita tentang pernikahan mendadak mu, aku langsung mengkhawatirkan mu, maafkan aku karena baru bisa datang sekarang," ucap Arkan, suaranya melembut, mencoba memancing reaksi emosional dari mantan tunangannya seperti dulu.
Anastasia menatap Arkan dengan pandangan datar, lalu melepaskan sebuah tawa pendek yang terdengar renyah namun dingin.
"Khawatir? Sungguh sebuah kehormatan besar mendapatkan perhatian dari seorang Pangeran Mahkota," jawab Anastasia, menyandarkan punggungnya ke kursi sembari menopang dagunya dengan satu tangan.
"Tapi seperti yang Anda lihat, Pangeran, saya sangat sehat dan bahagia di sini, kastil ini jauh lebih tenang daripada ibu kota yang penuh dengan rubah bermuka dua," lanjut Anastasia, tidak jadi berpura-pura menyedihkan seperti rencananya semalam.
Arkan sedikit mengernyit mendengar jawaban Anastasia yang begitu menusuk, dia tidak menyangka gadis itu akan berbicara dengan nada menyindir di depan suaminya sendiri.
"Aku senang jika kamu baik-baik saja, Anastasia. Tapi aku tahu tinggal di wilayah Magnus yang keras ini pasti tidak mudah untuk gadis selembut dirimu," ucap Arkan lagi, matanya melirik ke arah Alessandro dengan pandangan penuh provokasi.
"Jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, atau jika kamu merindukan rumahmu di ibu kota, kamu bisa mengatakannya padaku, aku akan bicara pada Kaisar agar membantumu," lanjut Pangeran Arkan, terlihat sangat tulus.
Benar-benar bajingan licik dan tidak tahu malu.
Mendengar kalimat itu, Alessandro yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara beratnya, dan atmosfer di dalam ruangan mendadak turun drastis, menjadi sangat menekan.
"Pangeran Arkan," panggil Alessandro, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Arkan.
"Istriku adalah Grand Duchess Magnus sekarang, segala hal yang menyangkut kenyamanan dan masa depannya adalah urusanku, bukan urusan pihak luar, termasuk pihak kekaisaran sekalipun," ucap Alessandro, penuh penekanan.
Arkan merasakan tenggorokannya mendadak kering menerima intimidasi alami dari sang Grand Duke, namun, dia memaksakan diri untuk tetap tersenyum tipis.
"Tentu saja, Grand Duke, aku hanya berbicara sebagai teman lama Anastasia, aku hanya tidak ingin dia merasa tertekan di tempat baru," kilah Arkan, mencoba mencairkan ketegangan.
Anastasia yang melihat Arkan mulai terdesak hanya menyunggingkan senyum miring yang licik, dia tahu betul Arkan sedang mencari celah untuk bisa berbicara berdua dengannya agar bisa menjalankan rencana manipulasi busuknya.
Tidak sulit membaca pikiran orang seperti Arkan, bagi Anastasia, yang pernah hidup jauh lebih keras dari ini.
"Grand Duke, Pangeran Arkan sudah jauh-jauh datang ke sini, bagaimana kalau kita menjamunya dengan teh dan camilan hangat? Kebetulan, aku ingin mendengar gosip terbaru dari ibu kota tentang adik tiriku, Elena," ucap Anastasia, menatap Alessandro dengan kilatan licik di mata nya.
Mendengar nama Elena disebut, rahang Arkan sedikit mengeras.
Elena adalah putri haram Count Starling yang dia nikahi setelah mencampakkan Anastasia.
Alessandro melirik tangan Anastasia yang berada di lengannya, lalu kembali menatap Arkan dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Jika istriku yang memintanya, maka lakukanlah. Nero, siapkan teh terbaik untuk tamu kita," perintah Alessandro, memberikan kode yang langsung dipahami oleh asisten pribadinya.
"Baik, Grand Duke," jawab Nero yang berdiri di sudut ruangan, lalu melangkah keluar untuk menyiapkan keperluan teh.
Arkan menarik napas dalam-dalam, mencoba menata kembali taktiknya, dia menyadari bahwa Anastasia yang ada di depannya saat ini benar-benar berbeda. Namun, ambisinya untuk mendapatkan peta pertahanan Magnus membuat dia menepis segala kecurigaannya.
Dia sangat yakin, dengan sedikit kata-kata manis saat Alessandro tidak ada, Anastasia akan kembali bertekuk lutut di bawah kakinya.