Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Canggung—ya, hanya itu yang mampu menggambarkan bagaimana udara di antara mereka berdua terasa menebal, seakan setiap molekulnya enggan bergerak, menahan napas, menunggu sesuatu yang bahkan tak mereka pahami.
Malam merambat pelan, begitu pelan hingga seolah waktu sendiri pun lupa bagaimana cara berjalan. Jarum jam di dinding tetap setia berdetak… suaranya menggema, memantul di setiap sudut ruangan, lalu jatuh tepat di dada mereka—menjadi gema yang menyerupai denyut jantung yang terlalu keras untuk diabaikan.
Gus Zayn duduk dalam diam yang panjang, punggungnya tegak, namun hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Matanya terbuka, menatap ruang yang sama, namun pikirannya melayang entah ke mana. Ia mencoba memejamkan mata—sekali, dua kali—tetapi selalu gagal. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang menolak untuk beristirahat, sesuatu yang terus berbisik bahwa malam ini berbeda… terlalu berbeda.
Ini pertama kalinya.
Pertama kalinya ia berbagi ruang dengan seseorang yang bukan dirinya.
Seseorang yang kehadirannya begitu nyata, begitu dekat, hingga setiap helaan napasnya terasa seperti riak kecil yang menyentuh kesadaran Gus Zayn tanpa izin.
Dan di sisi lain, Keira memeluk dirinya sendiri dalam sunyi yang sama panjangnya. Ia tidak bergerak banyak, bahkan untuk sekadar mengubah posisi duduk pun terasa seperti keputusan besar. Matanya sesekali terangkat, mencuri pandang dengan hati-hati, lalu buru-buru kembali menunduk, seakan tatapan itu adalah sesuatu yang terlarang untuk terlalu lama dipertahankan.
Ia merasakan hal yang sama—
detak yang terlalu cepat,
napas yang terlalu pendek,
dan perasaan yang terlalu asing untuk diberi nama.
Ruangan itu tetap sunyi.
Namun diamnya bukan kosong.
Diamnya penuh.
Penuh dengan hal-hal yang tidak terucap.
Penuh dengan jarak yang begitu dekat, namun terasa jauh.
Penuh dengan keinginan untuk mengatakan sesuatu… apa saja… agar waktu tidak terasa sepanjang ini.
Tetapi tak satu pun dari mereka bergerak lebih dulu.
Hanya ada suara jarum jam yang terus berjalan, setia, sabar, seolah ia adalah satu-satunya yang berani melangkah di antara dua hati yang masih belajar memahami arti kehadiran satu sama lain.
*
Pagi datang perlahan, cahayanya menyelinap masuk melewati celah-celah jendela. Gus Zayn sudah bangun sedari pagi. Ia sudah berangkat ke mushalla untuk memimpin shalat.
Sedangkan Keira, ia mengerjapkan matanya, ia masih menyesuaikan diri. Sampai suara seseorang membuat Keira langsung terlonjak kaget.
"Mbak... Mbak Kei sudah bangun?" Azizah datang menggoyang pelan tubuh kakak iparnya itu.
Keira langsung bangun, ia menatap adik iparnya itu. "Loh, Za. Kamu sejak kapan datang kemari? Dan kok..."
"Pasti mau tanya kenapa aku tahu mbak ada di kamarnya bang Zayn!!" Seru Azizah, ia lalu tersenyum-senyum, membuat Keira menatapnya penuh curiga.
"Kamu kenapa senyum-senyum?"
"Zizah nggak nyangka aja, mbak!! Bang Zayn ngajakin mbak tadi malam ke kamarnya. So sweet.." Ledek Azizah.
Pipi Keira bersemu merah, adik iparnya ini memang bisa saja membuatnya malu.
"Cey, mbak salting neh..." goda Azizah, ia menyenggol lengan kakak iparnya, "Bang Zayn ganteng kan? Mangkanya mbak senyum-senyum gitu?" Azizah semakin gencar sekali meledek sang kakak ipar.
Keira jelas tentu mengelak, ia tidak mungkin mengatakan jika ia salting. "Nggak ya! Kamu apa-apaan sih?" Keira mengibaskan tangannya.
Azizah terkikik geli. "Habisnya mbak lucu banget. Hihihi.."
"Zizah..." Keira menyembunyikan wajahnya di atas bantal, ia sungguh tak kuasa menahan senyumnya.
"Iya iya deh. Udah dong mbak... Jangan ngambek gitu. Oiya, tadi bang Zayn bilang aku di suruh datang buat jemput mbak. Katanya di suruh ke tempat ummi." Ucap Azizah. Ia tadi sangat syok saat mendengar jika Keira ada di dalam kamar abangnya, namun bukankah hal itu wajar? Mereka sudah menjadi pasangan yang halal.
"Oh iya. Maaf ya, saya mungkin telat bangunnya. Soalnya semalam nggak bisa tidur." Jawab Keira jujur, jantungnya semalam terlalu berisik, entah sampai jam berapa ia baru tertidur lelap.
Azizah kontan melotot. "Mbak sama bang Zayn?"
Keira yang tengah menyibak selimutnya jadi menoleh ke arah adik iparnya. "Kenapa? Saya sama abangmu kan udah menikah. Jadi wajar dong–"
"Eh iya... Iya.." Sela Azizah cepat, pipinya bahkan sudah merah merona. Ia tidak sanggup mendengar sambungan kata sang kakak ipar, terlalu malu.
Keira mengernyitkan sebelah alisnya. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa mbak. Ayo mbak... mandi dulu, habis itu temui ummi."
"Eh iya, aku mandi di dalam kamar yang kemarin ya.. Soalnya baju yang di belikan Gus Zayn ada di sana." Ucap Keira bangkit dari ranjang sana.
Azizah menganggukkan kepalanya. "Iya harus mandi mbak. Jangan lupa niatnya ya, mbak."
Keira bingung dengan perkataan Azizah, namun ia tidak bertanya lagi, ia bergegas keluar dari dalam kamar Gus Zayn dan segera pergi ke kamar yang ia tempati kemarin.
Karena Gus Zayn sudah membelikan beberapa pakaian untuknya.