[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IPK 4.00 dan Jalan Pintas Menuju Kebebasan
Seminggu terakhir terasa seperti berada di dalam kandang monyet. Bukan kandang biasa, tapi kandang yang penghuninya satu ekor monyet bernama Arjuna Wicaksono yang entah kenapa tidak pernah kehabisan akal untuk mengganggu hidup Olyvia.
Hari Senin, Arjuna muncul di kantin dengan membawa sekotak sushi mahal. Ia meletakkannya di meja Olyvia sambil tersenyum penuh harap. Olyvia mendorong kotak itu kembali tanpa menoleh.
Hari Selasa, Arjuna menunggu di depan kelas dengan segelas kopi latte dan catatan kecil bertuliskan "Aku kangen kamu". Olyvia mengambil kopi itu, meminumnya seteguk di depan Arjuna yang mulai tersenyum, lalu meletakkannya kembali ke tangannya. "Enak. Tapi bukan dari lo. Jadi gak ada artinya."
Hari Rabu, Arjuna menyewa seorang pemain biola untuk mengiringinya menyanyi di depan gedung fakultas. Lagu romantis Mandarin yang Olyvia dulu suka. Olyvia keluar lewat pintu belakang.
Hari Kamis, Arjuna mengirim pesan melalui teman sekelas bahwa ia akan menunggu di parkiran. Olyvia sudah pulang lebih awal menggunakan pintu samping.
Hari Jumat, Arjuna membawa spanduk baru. Kali ini tulisannya lebih pendek: "OLYVIA, I'M SORRY." Olyvia hanya melirik sekilas dan melanjutkan langkahnya seperti melihat iklan promo diskon yang tidak menarik.
Dan hari ini, Sabtu pagi, Olyvia duduk di tepi kolam renang istananya dengan laptop di pangkuan, memandangi layar yang menampilkan portal akademik kampus. Jarinya gemetar sedikit, bukan karena takut, tapi karena antisipasi.
Ia mengeklik tautan Pengumuman Hasil Ujian Akhir Semester.
Layar bergulir. Matanya mencari namanya di antara ratusan mahasiswa lain. Dan di sana, di urutan paling atas, dengan huruf tebal dan latar belakang emas kecil yang menandakan predikat tertinggi:
OLYVIA ARABELLA - 4.00
Perfect. Gue dapet IPK sempurna lagi.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi malas. Angin pagi bertiup lembut, membawa aroma klorin dari kolam renang. Tidak ada teriakan kegirangan. Tidak ada lompatan histeris. Hanya senyum tipis dan hembusan napas panjang.
Di kehidupan pertama, gue dapet IPK 4.00 juga. Tapi gue gak ngerasain apa-apa. Karena gue terlalu sibuk mikirin Arjuna. Sekarang? Gue ngerasain semuanya. Ini hasil kerja keras gue sendiri.
Ponselnya bergetar. Grup sahabat.
Karina: Vy! Lo liat portal?! IPK LO 4.00! GILA!
Sela: TRAKTIR! TRAKTIR! TRAKTIR!
Olyvia tersenyum dan membalas.
Olyvia: Tenang. Nanti gue traktir kalian di restoran rooftop. Tapi sebelum itu, gue mau urus sesuatu dulu.
Karina: Urus apa? Jangan bilang lo mau ngadepin si monyet lagi.
Olyvia: Bukan. Gue mau lulus lebih cepet.
Sela: HAH?!
Senin Pagi lain - Ruang Dosen Pembimbing
Olyvia mengetuk pintu ruangan dengan sopan. Sebuah suara berat dari dalam menjawab, "Masuk."
Ia membuka pintu dan mendapati Prof. Dr. Ir. Budi Santoso, M.Sc. , dosen pembimbing akademiknya, sedang duduk di balik meja yang penuh tumpukan kertas dan buku. Pria paruh baya dengan kacamata tebal dan rambut yang mulai memutih itu menatap Olyvia dengan alis terangkat.
"Olyvia. Tumben datang. Ada masalah dengan mata kuliah?"
Olyvia duduk di kursi depan meja. "Tidak, Prof. Justru saya mau minta tolong."
Prof. Budi menyandarkan punggungnya. "Minta tolong apa?"
"Saya ingin mengambil akselerasi kelulusan. Saya ingin lulus lebih cepat."
Wajah Prof. Budi berubah serius. Ia menatap Olyvia lekat-lekat, lalu menghela napas panjang. "Kamu tahu syaratnya?"
"Saya tahu, Prof. IPK minimal 3.75, semua mata kuliah inti sudah lulus dengan nilai A, dan harus membuat proyek akhir yang diakui secara nasional atau internasional."
"Dan kamu merasa sudah memenuhi semua?"
"IPK saya 4.00, Prof. Semua mata kuliah inti sudah saya selesaikan dengan nilai A. Tinggal proyek akhir."
Prof. Budi terdiam. Ia membuka laptopnya dan memeriksa transkrip nilai Olyvia. Matanya menyipit, lalu melebar sedikit. "Ini... semua nilaimu A. Bahkan mata kuliah yang biasanya sulit seperti Advanced Neural Network dan Quantum Computing."
Olyvia mengangguk tenang. "Saya belajar dengan serius, Prof."
Prof. Budi menutup laptopnya dan menatap Olyvia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Olyvia, saya sudah tiga puluh tahun mengajar. Saya tahu mana mahasiswa yang benar-benar jenius dan mana yang hanya rajin. Kamu... kamu berbeda. Kamu seperti orang yang sudah menguasai materi ini sebelum diajarkan."
Olyvia tersenyum tipis. Karena gue udah ngajar materi ini di kehidupan pertama, Prof. Tapi gak mungkin gue bilang begitu.
"Saya hanya suka membaca, Prof."
Prof. Budi mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi kamu tahu, mengambil akselerasi kelulusan itu tidak mudah. Kamu harus membuat proyek AI yang benar-benar inovatif. Bukan sekadar chatbot atau rekomendasi film. Sesuatu yang bisa membuat kampus ini bangga."
"Saya sudah punya konsepnya, Prof."
Prof. Budi mengangkat alis. "Oh ya? Coba jelaskan."
Olyvia membuka laptopnya dan memutar layar ke arah Prof. Budi. Di sana, sebuah presentasi singkat sudah ia siapkan. Diagram alur, arsitektur model, dan contoh output.
"Saya ingin membuat AI untuk deteksi dini penyakit paru-paru melalui analisis suara batuk. Menggunakan deep learning model yang saya rancang sendiri. Akurasinya saya targetkan di atas 95%."
Prof. Budi terdiam lama. Matanya menatap layar dengan serius. Ia membaca setiap slide, setiap diagram, setiap catatan kaki. Setelah hampir sepuluh menit, ia akhirnya bersuara.
"Ini... ini ambisius. Tapi kalau berhasil, ini bisa jadi terobosan besar. Tidak hanya untuk kampus, tapi untuk dunia medis."
"Saya yakin bisa, Prof."
Prof. Budi menatap Olyvia lekat-lekat. Ada kekaguman di matanya, tapi juga sedikit kekhawatiran. "Kamu yakin bisa menyelesaikan ini dalam waktu singkat? Biasanya proyek sebesar ini butuh satu tahun penuh. Kamu minta akselerasi, berarti mungkin hanya punya waktu tiga sampai empat bulan."
"Saya bisa selesaikan dalam dua bulan, Prof."
Prof. Budi nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Dua bulan? Kamu serius?"
"Serius, Prof. Bahkan mungkin kurang."
Prof. Budi menghela napas panjang. Ia melepas kacamatanya dan mengusap wajah. "Olyvia, saya akan jujur. Saya biasanya tidak mudah menyetujui akselerasi. Banyak mahasiswa yang minta, tapi akhirnya gagal di tengah jalan. Tapi kamu... ada sesuatu dalam dirimu yang membuat saya percaya."
Ia menatap Olyvia dengan mata tajam. "Baik. Saya setujui akselerasimu. Tapi ada syarat tambahan."
"Apa, Prof?"
"Proyek AI-mu ini harus kamu daftarkan ke kompetisi internasional. Kalau menang, itu akan jadi bukti bahwa kamu layak lulus lebih cepat. Dan kampus akan memberikan penghargaan khusus untukmu."
Olyvia tersenyum. "Saya setuju, Prof. Tanpa beban."
Prof. Budi mengangguk. "Baik. Saya akan urus administrasinya. Kamu fokus saja ke proyekmu. Dan Olyvia..."
"Ya, Prof?"
"Saya tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Dulu kamu mahasiswa yang cemerlang tapi sering ragu-ragu. Sekarang kamu seperti orang yang berbeda. Lebih percaya diri. Lebih tajam. Apa pun yang terjadi, pertahankan itu."
Olyvia berdiri dan menundukkan kepala sedikit. "Terima kasih, Prof. Saya tidak akan mengecewakan."
Di Luar Ruang Dosen
Begitu pintu tertutup, Olyvia menarik napas panjang. Satu langkah selesai. Sekarang tinggal eksekusi.
Ia berjalan menyusuri koridor fakultas yang mulai ramai oleh mahasiswa. Beberapa menyapanya dengan ramah, beberapa berbisik, beberapa menatapnya dengan kagum. Berita IPK 4.00-nya sudah menyebar.
Tapi belum sepuluh langkah ia berjalan, ia melihat sesosok pria berdiri di ujung koridor. Jas abu-abu, rambut klimis, dan senyum yang Olyvia kenal sangat menjijikkan.
Monyet lagi. Gak ada habisnya.
Arjuna melangkah mendekat. "Vy, selamat ya. Aku dengar IPK-mu 4.00. Aku bangga sama kamu."
Olyvia berhenti. Ia menatap Arjuna dengan wajah datar. "Makasih. Sekarang minggir."
"Vy, tolong. Aku cuma mau ngobrol. Aku dengar kamu mau akselerasi. Itu ide yang bagus. Aku bisa bantu. Kita bisa kerja sama lagi kayak dulu."
Olyvia nyaris tertawa. Kerja sama? Lo mau nyolong ide gue lagi?
"Jun, denger ya. Gue gak butuh bantuan lo. Proyek gue akan gue kerjain sendiri. Lo fokus aja sama produk lo yang katanya 'buatan sendiri' itu."
Wajah Arjuna berubah tegang. "Vy, soal produk itu... aku bisa jelaskan."
"Gak perlu. Udah jelas semuanya."
Olyvia melangkah melewati Arjuna. Tapi kali ini Arjuna tidak tinggal diam. Ia meraih lengan Olyvia dan menahannya. "Vy, tolong. Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
Gue kapak juga elu lama-lama ya.
Olyvia menatap tangan Arjuna yang mencengkeram lengannya. Ia menghela napas panjang, lalu menatap mata Arjuna dengan tatapan yang begitu dingin hingga Arjuna refleks melepaskan pegangannya.
"Jun, lo bisa hidup tanpa gue. Buktinya, lo masih bisa napas, lo masih bisa jalan, lo masih bisa nyolong ide orang. Hidup lo baik-baik aja. Cuma ego lo yang terluka karena gue nolak lo. Itu bukan cinta. Itu obsesi."
Arjuna terpaku. Olyvia melanjutkan.
"Gue mau lulus cepet karena gue mau bebas. Bebas dari kampus ini, dan terutama... bebas dari lo. Jadi tolong, mulai sekarang, jangan ganggu gue lagi."
Ia berbalik dan berjalan pergi. Kali ini Arjuna tidak mengikutinya.
Sore Hari di Istana Olyvia
Olyvia duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan kerangka awal proyek AI-nya. Jemarinya menari di atas keyboard, menulis baris demi baris kode.
AI deteksi penyakit paru-paru lewat suara batuk. Ini proyek yang gue rancang di kehidupan pertama, tapi gak pernah gue selesaikan karena gue sibuk ngerjain proyek Arjuna. Sekarang, gue bisa selesaikan sendiri.
Ponselnya bergetar. Pesan WeChat dari ChenYu.
ChenYu: Queens, jin tian zenme yang? Wo kan ni hao xiang hen mang. (Hari ini bagaimana? Aku lihat kamu sepertinya sibuk.)
Olyvia tersenyum dan membalas.
Olyvia: Wo yao biye le. Zai zuo yi ge AI xiangmu. (Aku mau lulus. Sedang mengerjakan proyek AI.)
ChenYu: Wa! Li hai! Shi shenme yang de AI? (Wah! Hebat! AI seperti apa?)
Olyvia: Yong yu jiance feibing de. Tongguo kesou shengyin. (Untuk mendeteksi penyakit paru-paru. Melalui suara batuk.)
ChenYu: ...Ni zhen de hen congming. Wo xiangxin ni hui chenggong de. (Kamu benar-benar pintar. Aku percaya kamu akan berhasil.)
Olyvia menatap pesan itu dan merasakan kehangatan aneh di dadanya. Dia selalu bilang hal yang sama. Percaya gue akan berhasil. Tanpa pamrih. Tanpa minta apa-apa. tapi aku sudah tidak percaya lagi dengan laki-laki lain. Untuk sekarang mungkin aku ingin mewujudkan mimpi ku dulu.
Olyvia: Xie xie. Ni de xiangxin dui wo hen zhongyao. (Terima kasih. Kepercayaanmu sangat berarti bagiku.)
ChenYu: Wo hui yi zhi zhichi ni. Jia you, Queens. (Aku akan selalu mendukungmu. Semangat, Queens.)
Olyvia meletakkan ponsel dan kembali menatap layar laptop. Senyum tipis masih mengembang di bibirnya.
Baiklah. Waktunya buktikan ke semua orang. Bahwa Olyvia Arabella bukan cuma anak beasiswa yang diremehkan. Gue adalah pencipta AI terbaik. Dan ini baru permulaan.