Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandaran
Hari ini bisa ketemu?
Aku butuh pendapat kamu
Sebagai teman
Aku dapet buktinya
Pesan singkat dari Arumi mengejutkan pagi Dimas.
"Gimana bisa dia dapet buktinya? Darimana?" gumam Dimas di dalam mobilnya.
Tapi satu kalimat dalam pesan singkat Arumi yang membuatnya sedikit merasa hangat.
"Sebagai teman," gumam Dimas sambil tersenyum.
Dimas mengirimkan balasan untuk Arumi lalu menatap layar ponsel, yang berisi pesan singkat Arumi, sedikit lebih lama.
"Oke. Temen dulu. Setidaknya jarak kami sedikit lebih deket dari semula," kata Dimas sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya lalu keluar mobil menuju ke klinik.
Sementara itu, Arumi masih belum membangunkan Kayla. Dia berdiri di samping tempat tidur Kayla, namun dirinya sibuk dengan ponselnya.
Oke. Nanti aku kabari lagi. Mungkin waktu istirahat makan siang aku ada waktu
Balasan dari Dimas sedikit menenangkan Arumi. Arumi memasukkan ponselnya ke dalam saku home dressnya dan segera membangunkan Kayla.
"Kayla nggak mau bangun?" tanya Ardi tiba-tiba, mengejutkan Arumi.
"Eh? Oh, nggak. Biasa, Mas. Emang kadang suka gini," kata Arumi.
"Bangun, Kay. Sekolah, yuk!" kata Dimas sambil mencium pipi Kayla yang masih tertidur pulas. Kayla menggeliat dalam tidurnya lalu perlahan membuka mata.
"Yuk, bangun," kata Ardi. Kayla mengangguk perlahan kemudian bangun. Ardi mengecup kening Kayla lalu beranjak.
"Papa sarapan dulu ya. Kayla mandi sama Mama," kata Ardi sambil mengelus kepala Kayla. Ardi tersenyum pada Arumi sesaat sebelum keluar dari kamar Kayla. Arumi membalas senyum Ardi dengan kikuk.
Tanpa sadar tangan Arumi mengepal, rahangnya mengeras saat menatap punggung Ardi. Kayla menatap mamanya dengan mata yang masih mengantuk.
'Kenapa Mama marah sama Papa?'
***
"Kita mau kemana, Ma?" tanya Kayla pada Arumi saat Arumi mengajaknya keluar siang hari.
"Kita mau ke tempat Dokter Dimas," kata Arumi sambil tersenyum.
"Yay!! Ada Gendhis?" tanya Arumi.
"Mmm... Sepertinya nggak ada," jawab Arumi. Kayla kecewa seketika.
"Tapi, Kayla bisa main di ruang tempat Kayla nungguin Mama dulu," kata Arumi mencoba membuat Kayla senang.
"Bener?" tanya Kayla memastikan. Arumi mengangguk sambil tersenyum.
"Yay!"
Arumi segera berangkat menuju klinik Dokter Arisa. Dimas memintanya untuk ke klinik mengingat apa yang akan mereka bahas adalah sesuatu yang tak bisa dibahas di tempat umum.
Dimas sudah menanti Arumi di depan klinik. Kecemasan terlihat jelas dalam raut mukanya.
"Mas Dokter!" sapa Kayla ceria, membuat kecemasan di wajah Dimas menghilang seketika berganti dengan senyum hangat.
"Hai!"
"Kayla mau main ke tempat bermain disini, boleh?" tanya Kayla pada Dimas sesaat setelah turun dari sepeda motor listrik. Dimas tersenyum lalu berjongkok di hadapan Kayla.
"Tentu saja! Dokter udah nungguin Kayla dari tadi," kata Dimas. Kayla tersenyum.
"Nungguin Kayla atau nungguin Mama?" tanya Kayla sambil tersenyum penuh makna. Dimas mengerutkan alis sambil tersenyum, tak menyangka anak sekecil Kayla peka terhadap perasaannya.
"Kay..." panggil Arumi seolah mengingatkan tidak baik menanyakan hal tersebut.
"Tapi Kayla suka, Ma. Mas Dokter baik. Udah gitu sayang sama Mama," kata Kayla polos. Arumi dan Dimas saling tatap. Keduanya sama-sama terkejut dengan kalimat Kayla.
"Ehem... Katanya mau main? Yuk masuk yuk. Mumpung belum ada pasien," kata Dimas sambil menggandeng Kayla.
Kayla terlihat antusias. Arumi menghela nafas panjang, seolah membuang kegugupan yang ditimbulkan oleh kalimat Kayla.
Tak ada Lia di meja pendaftaran pasien. Dimas dan Kayla langsung berjalan menuju ruang psikiatri anak yang memang didesain ramah anak. Kayla segera bermain dengan beberapa mainan disana. Arumi duduk di sebuah sofa panjang di dekat meja yang sepertinya untuk dokter bekerja.
Dimas masih mendampingi Kayla bermain. Kayla terlihat sangat nyaman bersama Dimas. Dimas juga terlihat santai bermain bersama Kayla. Sudah hampir lima belas menit setelah akhirnya Dimas meninggalkan Kayla yang asyik bermain sendiri.
"Maaf, jadi keasyikan main sama Kayla," kata Dimas sambil terkekeh. Arumi menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Jadi?" tanya Dimas.
"Ah! Sebentar," kata Arumi sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Ini," kata Arumi sambil menyodorkan bungkusan kecil yang sudah terbuka. Di atas bungkusan itu tertulis sesuatu.
"Teruntuk isteri Mas Ardi tersayang?" gumam Dimas lalu menatap Arumi. Arumi mengangguk.
Dimas mengeluarkan apa yang ada dalam bungkusan itu. Sekali lagi, Dimas menatap Arumi.
"Aku udah liat isinya. Aku cukup liat sekali aja, Dim," kata Arumi.
"Tolong kamu liat ini dan kasih tau apa yang harus aku lakukan," lanjut Arumi.
"Oke, bentar," kata Dimas lalu keluar dari ruang psikiatri anak menuju ruangannya. Tak berapa lama kemudian, Dimas kembali ke ruang psikiatri anak sambil membawa laptopnya.
Dimas segera menghubungkan flashdisk dari Arumi ke laptopnya. Seperti Arumi kemarin, dia menemukan satu folder berisi satu file video yang ternyata sebuah rekaman CCTV. Mata Dimas membulat. Dia mengenali wanita itu. Jelas. Itu wanita yang bersama Ardi di hotel.
Tangan Dimas mengepal, rahangnya mengeras. Meski begitu, dia tetap berusaha menguasai emosinya. Dia menutup laptopnya dan mengembalikan flashdisk pada Arumi. Arumi menatap Dimas dengan tatapan yang tak bisa Dimas artikan.
"Darimana kamu dapet itu?" tanya Dimas. Arumi menyimpan kembali flashdisk itu ke dalam tasnya.
"Aku nggak tau. Kemarin, sepulang dari taman, bungkusan ini ada di depan pintu," kata Arumi.
"Kamu kenal wanita dalam video itu?" tanya Dimas. Arumi menggelengkan kepalanya perlahan.
Hening.
Suara isak mulai terdengar dari Arumi. Kayla menoleh ke arah Arumi. Dimas menyadarinya lalu tersenyum dan berjalan ke arah Kayla. Setelah Dimas mengatakan sesuatu, Kayla mengangguk. Dimas kembali berjalan ke arah Arumi dan berjongkok di depan Arumi yang terlihat menahan tangis.
"Mari ke ruangan ku. Kayla udah janji bakal diem dan main disini sampe kamu selesai," kata Dimas.
Arumi mengangguk lalu menoleh ke arah Kayla sebentar. Kayla menatap Arumi lalu tersenyum seolah mengatakan, 'Aku akan jadi anak baik untuk Mama,'.
Dimas berjalan di samping Arumi seolah menjaga Arumi agar langkahnya tetap berpijak pada bumi. Perhatian kecil Dimas, membuat Arumi merasa begitu dijaga dan dihargai.
Sesaat setelah Dimas menutup pintu ruang konsultasi, tangis Arumi pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Hati Dimas merasa tersayat hanya dengan menatap punggung Arumi yang bergetar.
Dimas berjalan mendekati Arumi perlahan. Airmatanya benar-benar mengalir tanpa henti. Dimas menepuk bahu Arumi pelan. Arumi menoleh menatap Dimas yang menatapnya.
"Kamu boleh menangis sampai kamu puas," kata Dimas.
"Kamu nggak perlu pura-pura kuat," lanjut Dimas.
"Selama yang kamu mau... Aku akan menemani mu,"
Kata-kata Dimas membuat airmata Arumi semakin deras. Tanpa dia sadari, dia telah tenggelam dalam pelukan Dimas, menangisi rumah tangganya, menangisi takdirnya.
'Aku capek,'
***