NovelToon NovelToon
Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kend 13

Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pengobat Perih

Jay memacu motor nya dengan kecepatan maksimal. Beruntung jalanan sepi di sore ini, hingga dia tak menghiraukan laju motor itu sedikit di luar kendalinya.

'Misi tambahan, berciuman dengan Shiva selama satu menit, untuk penduplikatan kemampuan bela diri Shiva!' Di tengah Jay dalam melajukan motor matic barunya, suara robotik itu kembali memberikan misi.

'Heh! Ternyata benar! Shiva punya sedikit keahlian bela diri.' Ucap Jay dalam hati. Membayangkan gadis tomboy itu ternyata punya sedikit kemampuan. Pantas saja semalam Shiva seperti tak terbiasa mengenakan gaun malam.

Sementara itu, Shiva yang sudah di tangkap Paijo dan Paimin, kini tangan dan kakinya telah diikat. Gadis itu berusaha untuk melepaskan diri dengan meronta. Namun tak berhasil, mulut nya di tutup dengan menggunakan lakban, kedua tangannya diikat kebelakang.

Paijo dan Paimin telah menggiring gadis itu kedalam semak-semak, sehingga para pengendara yang berlalu lalang tidak menyadari akan kejadian itu. Walaupun ada dua motor yang terparkir di pinggir jalan, para pengendara pasti menduga motor itu adalah kepunyaan salah seorang warga yang berkebun di sekitar.

"Gimana Jo? Apa mereka sudah jalan?" Tanya Paimin pada rekannya. Menanyakan tentang rekan-rekannya yang lain akan menjemput mereka.

"Mereka katanya juga lagi bersenang-senang dengan buruan mereka masing-masing. Sepertinya kita juga harus bersenang-senang juga kan?" Jawab Paijo dengan senyuman yang menjijikkan. Matanya penuh nafsu melihat kearah Shiva yang sedang tergolek tak berdaya di atas semak.

Seketika itu juga mata Paimin berbinar mendengar usulan rekannya itu. "Kenapa nggak lu bilang dari tadi?" Timpal Paimin juga dengan senyum tak kalah lebih menjijikkan. Melihat bentuk tubuh Shiva yang molek, air liur nya seakan mau menetes.

"Gue duluan oke!" Paijo meraih tangan Paimin yang mulai mendekati Shiva.

"Nggak bisa gitu. Gue duluan lah! Kan gue yang nangkap tuh jalang!" Sela Paimin yang tak mau kalah.

"Heleh, kalau gue nggak nangkep tangannya, mana mungkin lu bisa nangkep tuh cewek.!" Hardik Paijo yang juga tidak mau mengalah.

"Itu kan karena gue udah pegangin kakinya." Paimin balas menghardik rekannya itu.

Sementara mereka berdebat, tanpa mereka sadari, Jay telah membawa Shiva menjauh dari tempat tersebut secara diam-diam. Jay melepaskan lakban yang menempel pada mulut Shiva dengan kasar.

"Aaahhhmmm!" Mata Shiva melotot. Ketika lakban yang menyumpal bibir nya di buka secara paksa menimbulkan rasa perih yang amat tak terlukis kan. Dia ingin berteriak, namun, tiba-tiba saja bibirnya itu kembali disumpal.

Sehingga pekikan nya teredam oleh sesuatu, sesuatu itu bukan lagi lakban seperti sebelumnya, bukan juga kain yang biasa para perampok gunakan. Itu terasa begitu lembut dirasakan oleh bibir mungil nya.

Mata Shiva kembali melotot mengetahui siapa orang yang telah menciumnya di saat seperti ini. Mengetahui pemuda itu yang melumat bibir nya, saraf-saraf Shiva kembali mengendur, merilekskan diri menerima perlakuan pemuda itu.

Wajah nya bersemu merah, menyadari dirinya telah membalas pagutan bibir Jay yang baru saja di lepas oleh pemuda itu. "Apa-apaan sih Jay! Mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini!" Sungut Shiva memalingkan wajah nya dari pandangan Jay.

"Sorry, gue telat. Yang penting lu masih utuh, kak!" Ucap Jay mengabaikan rengekkan Shiva. Tangannya mengacak-acak rambut kepala Shiva bagian atas.

Jay jadi canggung sendiri, sebenarnya ciuman itu hanya butuh satu menit. Karena tadi Shiva membalas ciuman itu, Jay jadi tak berdaya. Mungkin ciuman tadi jadi berkisar dua menit empat puluh detik.

"Oh, Jadi lu yang udah ngambil buruan kita?" Tiba-tiba saja suara bariton Paimin menggema di balik semak-semak. "Ketemu Jo, Sini!" Teriak Paimin memanggil rekan nya.

Jay jadi waspada, dengan gerakan pelan, dia melepaskan simpul tali yang mengikat tangan Shiva.

Dalam situasi seperti ini, Paimin tidak mau mengambil resiko. Preman bertato itu mengeluarkan sebilah pisau dari belakang pinggang nya.

"Hati-hati! Tadi mereka berdua." Ucap Shiva mengingat kan Jay agar lebih waspada terhadap teman preman itu yang belum terlihat.

"Oke!" Jay dengan santai berdiri seteleh melepaskan tali yang mengikat tangan Shiva.

Paimin ragu-ragu mendekati mereka berdua, karena rekannya belum juga datang.

"Dasar preman gadungan, megang pisau aja gemetaran!" Jay tersenyum sinis melihat tangan Paimin gemetar dalam mengacungkan pisau ke arah nya.

"Diam lu bocah!" Teriak Paimin yang langsung saja menyerang Jay dengan menghunus kan pisau yang di genggamnya.

Dengan tendangan yang presisi Jay mengenai tangan Paimin yang memegang pisau, sehingga pisau itu terlepas dari genggaman pria garang itu. Lalu segera Jay memukul tengkuk Paimin menggunakan tangannya, membuat Preman itu jatuh tersungkur saat itu juga.

Shiva yang sudah melepaskan ikatan pada kakinya, tanpa aba-aba melayang kan kaki mulus menendang pria malang itu bertubi-tubi.

"Glek!" Jay menelan air liur nya dengan paksa melihat kebrutalan kakak sepupunya itu. Paimin di tendangnya habis-habisan, sampai-sampai preman malang itu pingsan.

Paijo yang baru sampai di tempat kejadian, buru-buru kabur melihat rekannya babak belur di hajar gadis itu.

Jay yang mengetahui rekan preman itu kabur begitu saja, tidak mengejarnya lagi. Dia dan Shiva pun mengurus Paimin dengan melaporkan nya pada pihak yang berwajib.

Beberapa saat kemudian, beberapa anggota polisi datang ke tempat peristiwa. Mendengar beberapa patah kata penjelasan dari polisi, dan mengamankan pisau sebagai barang bukti tindakan kriminal, Jay dan Shiva di saran kan untuk waspada melewati jalan tersebut. Karena sudah banyak laporan dari beberapa warga tentang pembegalan di daerah sekitar.

Akhirnya, di bantu oleh mobil polisi, motor Shiva telah sampai di rumah.

"Terima kasih Pak Dirga!" Ucap Jay pada polisi paruh baya itu, karena telah bersedia mengantarkan motor Shiva yang mogok kerumah nya.

"Sama-sama, Nak! Ingat nak Shiva, hati-hati melewati jalan itu! Kalau bisa jangan tempuh perjalanan seorang diri," Kembali Pak Dirga sebagai kapolsek mengingat kan Shiva.

"Baik pak." Shiva mengangguk. Menanggapi ucapan yang di sarankan bapak kapolsek tersebut.

Setelah Pak polisi itu berlalu, Shiva menatap Jay dengan pandangan bermusuhan.

"Ada apa?" Di tatap seperti itu Jay pun jadi penasaran.

"Pura-pura nggak tau! Sakit nih bibir!" Ucap Shiva bersungut-sungut, memanyun kan bibir nya sedemikian rupa.

Jay pun jadi canggung, tak tahu harus berkata apa. Mengingat kejadian tadi, dia memang terlalu impulsif membuka lakban yang membekap mulut gadis itu. Mungkin saja sepupunya itu akan marah, Jay jadi teringat saat Shiva dengan brutal nya menendang preman tadi, tubuh nya tiba-tiba saja bergidik.

"Lain kali, buka lakban nya pelan-pelan kek! Untung di cium, Eh!" Shiva menutup mulutnya, tak melanjutkan kata-kata nya karena merasa ada yang salah. Di liriknya Jay sedang memegang perut dan menutup mulutnya. Ekspresi wajahnya pun semakin memerah.

Jay mengulum senyum, melihat Shiva menghentak-hentakan kakinya memasuki rumah. Untung saja Sistem nya tadi memberi kan misi ciuman terhadap Shiva. Kalau tidak, dia sendiri mungkin dalam bahaya saat ini juga.

Dengan perasaan campur aduk, Jay pun akhirnya berjalan dengan gontai mengikuti Shiva masuk kedalam rumah.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!