NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 :Asisten Sang Masa Lalu

Pagi itu, kantor cabang Kota J terasa lebih dingin dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaanku. Aku berdiri di depan cermin toilet, menatap pantulan wajahku yang tampak kuyu. Lingkaran hitam di bawah mataku tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh concealer. Bekas tangis semalam masih meninggalkan jejak yang nyata bagi siapa pun yang jeli melihatnya.

Aku menarik napas panjang, merapikan kemeja kerjaku, dan keluar menuju ruang rapat. Jam di dinding menunjukkan pukul 08.55.

Begitu pintu ruang rapat terbuka, kulihat Danendra sudah duduk di sana. Ia tidak sendiri, ada Pak Bram dan beberapa senior lainnya. Danendra tampak sangat segar dengan kemeja abu-abu gelap, seolah percakapan emosional di dalam mobil semalam tidak pernah terjadi. Namun, saat matanya bertemu denganku, ada kilatan cepat yang memindai seluruh wajahku—terutama mataku yang sembab.

"Selamat pagi, Azzalia. Pas sekali, silakan duduk," sapa Pak Bram ramah.

Aku mengangguk kaku, lalu meletakkan tumpukan dokumen revisi di depan Danendra. "Selamat pagi. Ini revisi yang Bapak minta."

Danendra tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen itu, jemarinya sengaja menyentuh ujung jariku saat menerima kertas, membuat sengatan listrik yang familiar itu kembali muncul. Ia membolak-balik halaman demi halaman dengan sangat teliti, sementara suasana ruangan menjadi sangat hening. Semua orang menunggu penilaian dari sang utusan pusat.

"Sempurna," ucapnya singkat setelah hampir lima menit mengecek. Ia mendongak, menatapku lurus. "Ketelitian yang luar biasa untuk seorang staf magang. Saya rasa pusat tidak salah memilih mitra di sini."

Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Pujian profesional itu seharusnya membuatku senang, tapi tatapannya yang tajam justru membuatku merasa sedang diawasi oleh predator.

"Terima kasih, Pak," jawabku pelan.

"Karena draf ini sudah selesai, ada pengumuman tambahan," Danendra mengalihkan pandangannya ke Pak Bram. "Mengingat tenggat waktu proyek yang dipercepat, saya akan berkantor di sini selama dua minggu ke depan. Dan saya meminta Azzalia ditugaskan sebagai asisten teknis langsung untuk membantu saya mengoordinasi data dari lapangan."

Ruangan itu seketika riuh dengan bisikan kecil. Pak Bram tampak kaget namun segera tersenyum lebar. "Tentu saja, Pak Danendra. Azzalia memang staf magang terbaik kami bulan ini."

Duniaku serasa runtuh. Dua minggu? Menjadi asisten langsungnya? Itu artinya aku tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi.

"Ada keberatan, Azzalia?" tanya Danendra. Suaranya terdengar sangat tenang, namun aku tahu itu adalah tantangan terbuka. Di balik meja, aku bisa melihatnya memainkan pulpen dengan santai, sementara matanya mengunci pergerakanku.

Aku menatapnya dengan sisa-sisa zirahku yang sudah berdebu. Dia benar-benar melakukan apa yang dia katakan semalam: menjemput paksa takdirnya.

"Tidak ada, Pak. Saya akan menjalankan tugas saya," jawabku akhirnya, meski hatiku berteriak ingin lari.

Setelah rapat bubar, Danendra berdiri dan berjalan melewatiku. Saat jarak kami hanya beberapa senti, dia berbisik sangat rendah, hanya untuk telingaku.

"Mata sembab itu... jangan dipakai besok. Aku nggak suka stafku terlihat seperti habis patah hati padahal orang yang dia tangisi ada di depan mata."

Ia melangkah pergi sebelum aku sempat membalas, meninggalkan aku yang mematung dengan jantung yang berpacu liar. Permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, Danendra tidak memberiku celah untuk mundur satu langkah pun.

Aku mengutuk kecerobohanku sendiri. Selama ini aku terlalu sibuk menutup diri dari dunia luar sampai-sampai tidak memperhatikan struktur organisasi perusahaan tempatku mencari nafkah. Nama perusahaan induk yang terpampang di lobi utama gedung ini seharusnya menjadi peringatan besar, tapi aku justru menganggapnya sebagai deretan huruf tanpa makna.

"Zal! Gila, lo hoki banget!" Nesha tiba-tiba muncul dan menyenggol bahuku, membuyarkan lamunanku. Wajahnya berseri-seri, kontras dengan hatiku yang sedang mendung.

"Hoki gimana, Nesh?" tanyaku lesu.

"Ya hoki lah! Jadi asisten langsung Pak Danendra itu 'jalur langit' buat karier lo. Lo tahu nggak? Banyak staf senior yang ngiri tadi pas denger pengumumannya. Secara, beliau itu aset emas di pusat. Pintar, tegas, ganteng lagi," cerocos Nesha tanpa henti.

Aku hanya tersenyum kecut. Ganteng? Iya. Pintar? Sangat. Tapi Nesha tidak tahu kalau di balik kesempurnaan itu, ada pria yang sanggup meruntuhkan duniaku hanya dengan satu kalimat bisikan.

"Mbak Selly juga tadi bilang, ini kesempatan emas. Jarang-jarang anak magang ditarik langsung buat megang proyek pusat," lanjut Nesha.

Aku terdiam, jari-jariku bermain di atas keyboard yang terasa dingin. Jika saja sebulan lalu aku tidak mengiyakan tawaran Mbak Selly untuk pindah departemen ke lantai ini demi bisa satu tim dengan Nesha, mungkin sekarang aku masih aman di lantai bawah, bersembunyi di balik tumpukan arsip yang membosankan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan memang selalu datang belakangan.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan internal kantor muncul di pojok kanan bawah layar komputerku.

From: Danendra Aditama

Subject: Briefing Asisten Teknis

"Ke ruangan saya sekarang. Bawa draf lapangan yang kamu revisi semalam. Kita berangkat ke lokasi proyek lima belas menit lagi."

Jantungku mencelos. Ke lokasi proyek? Berdua saja?

"Nesh, gue duluan ya," pamitku dengan suara lemas.

"Semangat, asisten kesayangan pusat!" canda Nesha sambil tertawa kecil.

Aku berdiri, meraih tas dan map revisi dengan tangan yang mulai dingin. Aku melangkah menuju ruangan Danendra, merasa seperti terpidana mati yang berjalan menuju tiang gantungan. Setiap langkah kaki di lorong kantor ini terasa seperti beban yang menghimpit dada.

Sesampainya di depan pintu ruangannya, aku berhenti sejenak. Aku merapikan rambut dan memastikan ekspresi wajahku kembali sedatar mungkin. Zirahku mungkin sudah retak, tapi aku belum siap untuk menyerah sepenuhnya.

Tok, tok.

"Masuk," suara bariton itu terdengar tegas.

Aku membuka pintu dan mendapati Danendra sedang berdiri di dekat jendela, sedang mengancingkan jam tangan peraknya. Ia menoleh, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Sudah siap?" tanyanya sambil menyambar kunci mobil di atas meja.

"Siap, Pak. Dokumennya sudah lengkap," jawabku seprofesional mungkin.

Danendra berjalan mendekat, berhenti tepat di depanku. Ia tidak segera berjalan menuju pintu, melainkan menatap mataku lekat-lekat selama beberapa detik yang terasa sangat lama.

"Bagus. Karena mulai detik ini, hidup kamu selama dua minggu ke depan adalah urusan saya, Azzalia. Jangan harap ada waktu buat kamu menghindar lagi."

Ia melangkah keluar lebih dulu, aroma wood-scent miliknya tertinggal di udara, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. Aku menghela napas panjang, lalu menyusul di belakangnya.

Di dalam hati aku bertanya-tanya, apakah dua minggu ini akan menjadi jalan bagi kami untuk berdamai dengan masa lalu, atau justru menjadi cara semesta untuk menunjukkan bahwa kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama, bahkan setelah enam tahun berlalu?

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!