"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Tiga
Sinar mentari pagi menyelinap dengan lembut di antara celah-celah daun Pohon Memori, menciptakan bintik-bintik cahaya perak yang menari-nari di atas meja kayu Kedai Teh Kedamaian. Pagi ini, udara di Desa Jinan terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena kebisingan pasar atau hiruk-pikuk konstruksi, melainkan karena suara lantang anak-anak desa yang sedang mengeja huruf di bawah bimbingan Li Wei, sang mantan pustakawan dimensi. Di samping bangunan sekolah yang baru, perpustakaan kayu yang megah berdiri dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke arah sungai. Aroma kertas tua yang wangi dan tinta kristal menguar dari sana, menciptakan suasana intelektual yang sangat kontras dengan bau lumpur irigasi di kejauhan.
Zhou Ji Ran duduk bersandar di kursi goyangnya, kakinya disilangkan dengan santai sambil memegang cangkir teh yang hari ini berisi seduhan Pucuk Anggur Bintang. Ia baru saja melakukan eksperimen kecil dengan mengeringkan beberapa pucuk daun anggur hitamnya, dan hasilnya adalah teh dengan rasa sedikit asam namun segar, mampu menyegarkan sirkulasi energi di dalam tubuhnya. Di sampingnya, sepotong roti gandum yang dilapisi keju kambing lembut buatan Suan Ji sudah setengah habis.
"Li Wei sepertinya benar-benar menemukan panggilannya sebagai pendidik," gumam Zhou Ji Ran. Ia memperhatikan bagaimana Li Wei sedang menunjukkan sebuah ilustrasi hologram tentang pembentukan awan kepada anak-anak desa menggunakan pena bulu ayamnya. Li Wei tidak lagi terlihat seperti pengarsip yang kaku; ada binar kebanggaan di matanya setiap kali seorang anak berhasil memahami penjelasannya.
"Tuan, apakah benar-benar tidak apa-apa membiarkan Li Wei mengajarkan sejarah multisemesta kepada anak-anak itu?" tanya Lin Xiaoqi yang sedang menyiram bunga-bunga di sekitar teras. "Kemarin saya mendengar seorang anak kecil bertanya tentang bagaimana cara membelah planet. Bukankah itu sedikit terlalu dini untuk mereka?"
Zhou Ji Ran tertawa pelan. "Biarkan saja, Xiaoqi. Pengetahuan tidak pernah berbahaya selama ia disertai dengan kebijaksanaan untuk menanam padi. Jika mereka tahu betapa sulitnya membangun sebuah dunia, mereka akan lebih menghargai setiap butir nasi yang mereka makan. Lagipula, Li Wei cukup pintar untuk membelokkan pertanyaan itu menjadi pelajaran tentang struktur tanah."
Di bagian lain desa, Jenderal Lu Xing terlihat sedang memimpin kawanan kambing gunungnya melintasi Jembatan Pertumbuhan. Jembatan itu kini telah menjadi landmark paling indah di desa, dengan pagar logam yang diukir motif padi dan naga oleh Huo Fen. Setiap langkah kambing-kambing itu di atas jembatan mengeluarkan suara denting halus yang menyenangkan. Di belakang mereka, Suan Ji mengikuti dengan papan hitungnya, mencatat berat badan setiap kambing dengan ketelitian yang obsesif.
"Kambing nomor tujuh belas! Kau terlalu banyak makan rumput es di lereng utara! Beratmu naik dua ratus gram lebih banyak dari target pertumbuhan mingguan!" teriak Suan Ji, membuat kambing itu mengembik protes.
"Suan Ji, biarkan dia menikmati hidupnya sedikit! Dia adalah kambing, bukan variabel data!" Lu Xing menyahut sambil tertawa, ia kini terlihat jauh lebih santai dengan jubah penggembalanya.
Namun, di tengah harmoni pagi yang indah itu, Zhou Ji Ran merasakan sebuah perubahan frekuensi yang sangat mendadak. Bukan getaran tanah atau cahaya yang menyilaukan, melainkan sebuah "Keheningan yang Menusuk". Suara anak-anak yang belajar tiba-tiba terhenti, gemericik air sungai terdengar seperti gerakan lambat, dan bahkan burung-burung di langit seolah-olah membeku di posisi mereka.
Sebuah kabut berwarna hitam pekat, sehitam tinta yang paling kelam, mulai merayap dari arah hutan timur. Kabut ini tidak membawa hawa dingin atau panas, melainkan membawa aura "Penghakiman". Di dalam kabut tersebut, suara langkah kaki yang berat dan berirama terdengar, disertai dengan suara gemerincing rantai logam yang bergesekan dengan tanah.
Zhou Ji Ran meletakkan cangkir tehnya dengan sangat perlahan. Matanya menyipit, menatap ke arah pintu masuk desa. "Hama yang satu ini tidak datang untuk bernegosiasi atau menghitung. Mereka datang untuk melakukan eksekusi. Sepertinya pihak pusat benar-benar marah karena aku telah mengubah pustakawan mereka menjadi guru sekolah."
Dari balik kabut hitam, muncul dua belas sosok pria dengan zirah berwarna perak kusam yang tidak memantulkan cahaya. Wajah mereka tertutup topeng besi berbentuk tengkorak yang tidak memiliki mata. Di tangan masing-masing, mereka memegang sebuah sabit besar yang bilahnya terbuat dari kristal jiwa yang berdenyut ungu. Mereka adalah "Legiun Keheningan", unit eksekutor khusus yang hanya dikirim untuk menghapus individu-individu yang dianggap sebagai kanker bagi stabilitas sistem utama.
Di depan mereka, berdiri seorang pria yang jauh lebih tinggi, mengenakan jubah hitam panjang yang dipenuhi dengan segel penyegel roh. Tangannya yang kurus memegang sebuah lonceng kecil yang setiap kali digoyangkan, mengeluarkan gelombang yang mematikan saraf motorik siapa pun yang mendengarnya. Namanya adalah Zhao Kang, Sang Hakim Kematian, sosok yang dikenal tidak pernah meninggalkan satu pun saksi hidup dalam setiap misinya.
"Penyimpangan takdir di koordinat ini telah mencapai tahap kritis," suara Zhao Kang terdengar datar dan tanpa emosi, namun mampu membuat udara di sekitarnya bergetar hebat. "Zhou Ji Ran, kau telah menodai kesucian hukum dengan menjadikan para pelaksana sebagai buruh fana. Atas nama Pencetus Utama, seluruh wilayah ini akan dinyatakan sebagai 'Zona Terlarang' dan setiap jiwa di dalamnya akan dihapus dari catatan keberadaan."
Zhao Kang menggoyangkan loncengnya sekali.
*TING!*
Gelombang hitam yang sangat kuat meluncur dari lonceng tersebut, bermaksud untuk menghentikan detak jantung setiap makhluk hidup dalam radius satu kilometer. Para penduduk desa seketika jatuh berlutut, wajah mereka membiru karena kesulitan bernapas. Li Wei mencoba melindungi anak-anak dengan penghalang kertas energinya, namun penghalang itu seketika retak karena tekanan suara lonceng.
Zhou Ji Ran berdiri dari kursi goyangnya. Wajahnya yang biasanya malas kini menunjukkan ekspresi yang sangat bosan. Ia berjalan menuruni tangga teras, tangannya merogoh saku celana rami dan mengeluarkan sebutir buah anggur hitam yang baru saja ia petik pagi tadi.
"Dengar, Zhao Kang," ucap Zhou Ji Ran sambil berjalan santai menembus gelombang hitam yang mematikan itu seolah-olah itu hanya angin sepoi-sepoi. "Aku baru saja mulai menikmati teh pagiku. Dan kau baru saja membuat anak-anak itu ketakutan. Di desaku, ada satu aturan yang tidak tertulis: siapa pun yang merusak suasana sarapan, harus bersiap untuk mencuci piring selamanya."
Zhao Kang tertegun. Ia belum pernah melihat seseorang yang bisa berjalan menembus gelombang 'Lonceng Kematian' tanpa perlindungan apa pun. "Mantan Pemilik Sistem... kau benar-benar telah menyatu dengan kehampaan hingga kau tidak lagi terpengaruh oleh hukum kematian. Tapi Legiun Keheningan tidak mengenal rasa takut. Eksekusi dimulai!"
Dua belas eksekutor itu melesat maju seperti bayangan hitam, sabit-sabit besar mereka diayunkan secara sinkron, menciptakan jaring pemotong ruang yang akan mencincang Zhou Ji Ran menjadi jutaan keping data yang tidak bisa diperbaiki lagi.
"Gerakan kalian terlalu kaku. Terlalu banyak fokus pada kehancuran, kurang fokus pada keindahan," komentar Zhou Ji Ran.
Ia melakukan satu gerakan yang sangat sederhana: ia melemparkan butiran anggur hitam di tangannya ke arah pemimpin eksekutor.
Butiran anggur itu meluncur di udara, namun di tengah jalan, ia tiba-tiba meledak menjadi jutaan benang cahaya ungu yang sangat halus namun sangat kuat. Benang-benang cahaya ini, yang merupakan manifestasi dari energi murni Padi Surgawi yang telah dikompresi, seketika melilit sabit-sabit kristal para eksekutor. Bukan hanya melilit, benang-benang itu seolah-olah "memakan" energi ungu dari sabit tersebut dan mengubahnya menjadi energi pertumbuhan.
*PRAAAK!*
Dua belas sabit kristal itu hancur bersamaan, berubah menjadi butiran pasir yang tidak berbahaya. Para eksekutor terlempar ke belakang, zirah perak mereka retak dan melepaskan uap hitam yang merupakan esensi kekuatan mereka.
Zhao Kang gemetar hebat, ia mencoba menggoyangkan loncengnya berkali-kali, namun lonceng itu tidak lagi mengeluarkan suara. Lonceng itu kini telah ditumbuhi oleh tanaman rambat kecil yang mendadak muncul dari udara kosong, mengikat lidah lonceng tersebut sehingga tidak bisa lagi berbunyi.
"Apa yang kau lakukan pada senjataku?! Ini adalah alat suci dari Paviliun Penghakiman!" teriak Zhao Kang dengan nada panik yang mulai muncul.
"Aku hanya memberikan dia sedikit nutrisi agar dia berhenti berisik," jawab Zhou Ji Ran. Ia kini sudah berdiri tepat di depan Zhao Kang. "Kau bilang kau ingin menghapus desa ini? Masalahnya adalah, desaku ini sekarang memiliki sistem drainase yang sangat baik berkat bantuan para jenderalmu kemarin. Dan aku masih butuh banyak orang untuk proyek pembangunan dinding benteng di sekitar area peternakan baru agar harimau dari gunung tidak bisa masuk."
Zhou Ji Ran menangkap lonceng di tangan Zhao Kang dan meremukkannya dengan satu jari. Dari sisa-sisa lonceng tersebut, ia membentuk sebuah peluit kecil berwarna emas.
"Kau punya suara yang sangat kuat dan kemampuan koordinasi tim yang sangat disiplin," ucap Zhou Ji Ran. "Kebetulan sekali, dengan semakin banyaknya pekerja dan penduduk, sistem keamanan desa kita agak kacau. Kita butuh seorang 'Kepala Keamanan dan Ketertiban' yang bisa mengatur patroli malam dan memastikan tidak ada keributan di pasar saat hari raya."
Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya ke arah Zhao Kang dan dua belas eksekutornya. Seketika, jubah hitam mereka berubah menjadi seragam penjaga keamanan berwarna biru gelap yang kokoh, lengkap dengan lencana perak berbentuk daun sawi di dada kiri. Sabit-sabit mereka yang hancur berubah menjadi tongkat bambu yang ujungnya dilapisi karet, alat yang sangat efektif untuk menertibkan tanpa harus membunuh.
"Mulai hari ini, kau adalah Kepala Keamanan Desa Jinan," perintah Zhou Ji Ran mutlak. "Tugasmu adalah memimpin dua belas anak buahmu ini untuk berpatroli setiap malam, memastikan setiap lampu lampion menyala, dan menjaga agar kambing-kambing Lu Xing tidak dicuri oleh pencuri dimensi. Jika aku mendengar ada satu insiden pencurian saja, aku akan memintamu untuk berdiri di atas satu kaki di puncak Jembatan Pertumbuhan selama tujuh hari tujuh malam sambil memegang spanduk 'Saya Gagal Menjaga Ketertiban'."
Zhao Kang merasakan seluruh hukum 'Penghakiman' yang selama ini menjadi jati dirinya kini telah berganti menjadi hukum 'Perlindungan'. Ia menatap tongkat bambunya, lalu menatap desanya yang kini kembali berwarna-warni. Ada sebuah dorongan aneh di dalam hatinya—dorongan untuk memastikan bahwa ketenangan ini tidak akan terusik lagi.
"Saya... saya menerima tugas ini, Tuan Zhou," ucap Zhao Kang sambil membungkuk dalam, diikuti oleh dua belas anak buahnya. "Ketertiban desa ini adalah harga diri saya."
"Bagus. Sekarang pergi ke restoran Chen Long. Katakan padanya kau butuh porsi makan untuk tim keamanan baru. Dan pastikan kau tidak menakuti pelanggan dengan topeng tengkorakmu itu. Buka topengmu dan tunjukkan wajah manusiamu," tambah Zhou Ji Ran sambil berbalik menuju kursinya.
Sore harinya, pemandangan di Desa Jinan menjadi jauh lebih aman. Zhao Kang, dengan wajah aslinya yang ternyata adalah seorang pria paruh baya yang tampak tegas namun tenang, terlihat sedang berjalan berkeliling desa. Ia memberikan pengarahan pada timnya tentang rute patroli yang efisien. Penduduk desa awalnya merasa takut, namun setelah melihat Zhao Kang membantu seorang nenek menyeberangi jembatan, mereka mulai merasa nyaman.
"Lihat! Kita punya polisi desa yang sangat gagah!" puji seorang warga sambil memberikan sebuah apel kepada salah satu eksekutor yang kini sedang membantu membenarkan pagar yang miring.
Di Kedai Teh Kedamaian, Wu Tie mencatat penambahan departemen baru tersebut di buku besarnya. "Divisi Keamanan: Zhao Kang dan dua belas eksekutor. Biaya Operasional: Tiga belas porsi makan besar dan satu kuintal buah apel per minggu. Manfaat: Keamanan aset meningkat hingga sembilan puluh sembilan persen."
Zhou Ji Ran kembali bersantai di kursi goyangnya, kali ini ditemani oleh Lin Xiaoqi yang sedang membawa nampan berisi camilan baru buatan Chen Long—bola ubi manis yang diisi dengan keju kambing.
"Tuan, setiap kali musuh datang, desa kita menjadi semakin lengkap," ucap Lin Xiaoqi sambil menyuapkan satu bola ubi ke mulutnya. "Tapi saya khawatir, jika Pencetus Utama tahu bahwa unit eksekutor terbaiknya kini menjadi penjaga malam, dia akan benar-benar turun tangan sendiri."
"Biarkan dia turun, Xiaoqi," jawab Zhou Ji Ran santai. "Jika dia datang, aku rasa aku butuh seseorang untuk menjadi kepala desa atau penasihat urusan luar dimensi. Aku sudah mulai bosan menangani tamu-tamu yang datang setiap minggu."
Ye Hua yang sedang mengasah sapu lidinya di dekat sana ikut tertawa. "Tuan benar-benar ingin mempensiunkan seluruh sistem Dunia Atas ke sini."
Namun, di balik suasana damai tersebut, Zhou Ji Ran merasakan adanya sebuah riak yang sangat besar dari arah Pegunungan Barat. Riak itu bukan lagi dari sistem, melainkan dari sebuah peradaban kuno yang sudah lama terkubur, sebuah peradaban yang memuja "Dewa Perang Tanpa Akhir". Sepertinya kemakmuran Desa Jinan yang memancarkan cahaya hingga ke dimensi terjauh telah membangunkan makhluk-makhluk yang hanya mengenal peperangan sebagai bahasa mereka.
"Besok pagi, aku akan meminta Huo Fen untuk membuat lebih banyak alat pertanian yang juga bisa digunakan untuk menahan benturan," gumam Zhou Ji Ran. "Hama berikutnya ini sepertinya adalah tipe yang keras kepala dan sangat menyukai keributan."
Ia berdiri, menatap ke arah ladang sawinya yang kini sudah mulai berbuah kecil. Ia menyentuh tanah dengan lembut, merasakan detak jantung bumi Jinan yang kini telah menjadi pusat dari segala sesuatu yang nyata.
"Tidurlah yang nyenyak, desa kecilku," bisik Zhou Ji Ran. "Selama aku masih memegang cangkul ini, tidak ada satu dewa perang pun yang akan menyentuh sehelai daun sawi di sini."
Malam mulai turun menyelimuti Desa Jinan. Lampu-lampu lampion bergoyang ditiup angin malam, memberikan pendaran cahaya yang hangat di sepanjang sungai. Zhao Kang dan timnya mulai menjalankan patroli pertama mereka, langkah mereka yang teratur memberikan rasa aman yang luar biasa bagi setiap penghuninya. Di bawah Pohon Memori, Zhou Ji Ran memejamkan matanya, menikmati kebebasan yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Tanpa perintah sistem, tanpa misi yang memaksa, ia telah menciptakan sebuah surga di dunia fana. Setiap hari adalah penemuan baru, setiap musuh adalah keluarga baru, dan setiap tantangan adalah cara untuk membuat dunianya semakin indah. Ia bukan lagi sang legenda penguasa multisemesta; ia adalah Zhou Ji Ran, sang petani yang memastikan dunianya tumbuh dengan penuh cinta dan kedamaian.
"Besok kita akan mulai panen buah anggur bintang pertama kita," bisik Zhou Ji Ran pada angin malam sebelum akhirnya ia terlelap dalam tidurnya yang damai.
Perjalanan ini terus berlanjut, selangkah demi selangkah, di atas tanah Jinan yang subur. Sebuah kisah tentang seorang pria yang membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kekuasaan, melainkan dalam kemampuan untuk menumbuhkan kehidupan. Dan di Desa Jinan, kehidupan telah menang secara mutlak.
Segalanya berjalan dengan perlahan, penuh makna, dan sangat memuaskan di bawah bimbingan sang penguasa yang hanya ingin menjadi manusia biasa yang bahagia. Malam semakin larut, dan di bawah sinar rembulan yang jernih, sang petani legenda terus bermimpi tentang masa depan yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Sebuah masa depan yang tidak ditentukan oleh sistem, melainkan ditentukan oleh rasa syukur dan kasih sayang pada bumi yang ia injak setiap hari. Kehidupan ini memang sangat indah. Tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun, ia telah mengubah wajah multisemesta, satu benih dan satu keamanan pada satu waktu.
Fajar esok akan membawa lebih banyak cerita, dan Zhou Ji Ran akan siap untuk menjadikannya bagian dari legenda hidup desanya. Semuanya berjalan sesuai rencana, menuju kedamaian abadi yang ia dambakan. Kehidupan di Desa Jinan adalah sebuah lagu syukur yang tak akan pernah berakhir, selamanya tertanam di dalam setiap jengkal tanah yang subur. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa. Tanpa instruksi apa pun, ia telah menemukan rumah yang paling indah di seluruh multisemesta. Dan ia akan memastikan tidak ada yang bisa merusaknya.
gak balik jadi orang2ngan sawah soalnya..🤣🤣