Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Cahaya matahari pagi Los Angeles menyelinap masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis-garis emas di atas sprei abu-abu yang kini tampak seperti medan perang. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan selimut sutra itu melilit tubuh mungil Nyx Morrigan yang masih terlelap.
Nyx mengerang pelan saat kesadarannya perlahan pulih. Tubuhnya terasa berat, ada rasa pegal yang asing namun hangat di pinggang dan paha bagian dalamnya—sebuah pengingat bisu tentang badai gairah yang melanda kamar ini hingga fajar menyingsing. Ia mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan terangnya ruangan.
Suara gemericik air dari kamar mandi baru saja berhenti. Tak lama kemudian, pintu kaca buram itu terbuka, mengeluarkan uap panas yang tipis dan aroma sabun maskulin yang sangat familiar.
Knox keluar hanya dengan handuk putih yang melilit pinggang rendahnya, memperlihatkan otot perutnya yang keras dan sisa-sisa tetesan air yang mengalir di dada bidangnya. Rambut pirangnya basah kuyup, berantakan namun justru menambah kesan liar yang mematikan.
Mata biru Knox langsung tertuju pada ranjang, dan senyum seringai nakalnya mekar seketika saat melihat Nyx sudah membuka mata.
"Sudah bangun, Sayang?" suara Knox terdengar serak, jauh lebih dalam dan lembut dibandingkan biasanya.
Nyx menarik selimut hingga ke dagu, mendadak merasa malu meskipun semalam ia sudah menyerahkan setiap jengkal tubuhnya pada pria ini. "Jam berapa sekarang?"
Knox berjalan mendekat, setiap langkahnya terlihat seperti predator yang sedang mengagumi mangsa kesayangannya. Ia duduk di tepi ranjang, membuat kasur itu amblas karena berat tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi Nyx yang berkeringat.
"Hampir jam sepuluh. Kau tidur seperti orang mati setelah 'ronde tambahan' itu," goda Knox sambil mencium kening Nyx dengan lama. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?"
Wajah Nyx memerah padam. Ia menyembunyikan separuh wajahnya di balik selimut. "Kau... kau terlalu berlebihan semalam, Knox. Aku merasa seperti ditabrak truk teknik mu."
Knox tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang renyah memenuhi kamar yang masih hangat itu. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Nyx yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Itu bukan truk, Sayang. Itu cinta yang intens. Dan aku tidak menyesal sedikit pun."
Knox menatap wajah Nyx yang tampak sangat cantik di bawah sinar matahari pagi. Tanpa riasan, tanpa penyamaran pria, hanya Nyx yang murni. Ia bisa melihat tanda-tanda merah yang ia tinggalkan di leher dan bahu Nyx—tanda kepemilikan yang membuatnya merasa sangat protektif.
"Mau mandi?" tanya Knox lembut.
Nyx mencoba bergerak untuk duduk, namun ia langsung meringis saat merasakan otot-ototnya memprotes. "Aku ingin, tapi rasanya kakiku seperti jeli. Aku tidak yakin bisa berjalan ke sana."
Melihat itu, mata Knox berkilat. Ia berdiri, melepaskan handuknya tanpa ragu (membuat Nyx memekik dan menutup mata), lalu dengan cepat mengenakan celana pendek santai. Ia kembali ke arah Nyx dan merentangkan kedua tangannya.
"Mau ku gendong, Tuan Putri?" tawarnya dengan nada jenaka namun tulus.
"Knox, jangan bercanda. Aku bisa merangkak kalau perlu."
"Tidak ada pelayanku—maksudku, wanitaku—yang boleh merangkak di rumah ini," Knox tidak menerima penolakan. Ia menyibakkan selimut, memperlihatkan keindahan tubuh polos Nyx yang seketika membuat napas pria itu tertahan sejenak. Namun, ia menahan diri. Ia dengan lembut mengangkat tubuh Nyx ke dalam dekapan bridal style-nya.
Nyx terpekik kecil, secara refleks mengalungkan lengannya di leher Knox. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu, menghirup aroma sabun dan kulit Knox yang segar.
"Kau sangat ringan, Nyx. Kau harus makan lebih banyak mulai sekarang," gumam Knox sambil melangkah menuju kamar mandi yang luas.
"Aku makan cukup banyak, kau saja yang terlalu kuat," balas Nyx pelan, wajahnya bersandar di dada Knox, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil namun kuat.
Di dalam kamar mandi, Knox tidak langsung menurunkan Nyx. Ia mendudukkan gadis itu di pinggiran bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat beraroma lavender—entah kapan pria itu sempat menyiapkannya.
"Kau menyiapkan ini?" tanya Nyx terkejut.
"Aku tahu kau akan merasa pegal. Ini teknik pemulihan dasar," jawab Knox sambil mengedipkan sebelah mata.
Knox membantu Nyx masuk ke dalam air hangat. Saat tubuhnya tenggelam dalam kehangatan, Nyx mendesah lega. Rasa pegalnya perlahan mulai luntur. Namun, Knox tidak pergi. Pria itu justru berlutut di samping bathtub, mengambil spons dan sabun cair.
"Aku bisa sendiri, Knox," protes Nyx, meski suaranya tidak terdengar meyakinkan.
"Diamlah. Aku ingin melakukannya," Knox mulai menggosok bahu Nyx dengan lembut. Gerakannya sangat hati-hati, seolah Nyx adalah porselen mahal yang bisa pecah kapan saja. "Tadi malam aku sudah cukup kasar, biarkan pagi ini aku menebusnya."
Suasana di kamar mandi itu menjadi sangat intim namun tenang. Tidak ada godaan mesum yang berlebihan, hanya ada perhatian yang tulus. Knox membasuh punggung Nyx, memijat otot-otot lehernya, dan sesekali mencium bahunya.
"Knox..." panggil Nyx pelan.
"Ya, Sayang?"
"Kenapa kau begitu baik padaku?" Nyx menoleh, menatap mata biru itu. "Aku hanya gadis bermasalah yang tiba-tiba muncul di hidupmu. Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu selain... ini."
Knox menghentikan gerakannya. Ia meletakkan spons, lalu menangkup wajah Nyx dengan kedua tangannya yang besar. Matanya menatap Nyx dengan intensitas yang bisa meluluhkan baja.
"Kau memberikan segalanya, Nyx. Kau memberikan keberanianmu, kejujuranmu, dan semalam... kau memberikan kepercayaanmu yang paling dalam," ucap Knox serius. "Bagiku, itu lebih berharga daripada semua koleksi mobil sport di garasiku. Aku tidak peduli kau anak siapa, Morrigan atau Beckham. Di mataku, kau adalah gadis yang membuatku ingin pulang ke apartemen ini setiap hari."
Nyx merasakan matanya memanas. Ia meraih tangan Knox dan mencium telapak tangannya. "Aku mencintaimu, Knox. Aku tidak pernah mengira akan mengatakannya pada siapa pun, tapi aku benar-benar mencintaimu."
Knox tersenyum, kali ini senyumannya begitu tulus hingga mencapai matanya. Ia membungkuk, menyatukan kening mereka. "Aku juga mencintaimu, Nyx. Dan aku berjanji, mulai hari ini, tidak akan ada lagi air mata kesedihan. Hanya ada air mata nikmat jika kau memintanya," goda Knox kembali ke mode aslinya.
"KNOX!" Nyx menyipratkan air ke wajah Knox, memecah suasana haru itu menjadi tawa.
"Hei! Kau membasahi calon suamimu!" Knox tertawa, menyeka air dari wajahnya.
Setelah selesai mandi, Knox kembali menggendong Nyx keluar, membungkusnya dengan jubah mandi handuk yang tebal dan empuk. Ia mendudukkan Nyx di kursi rias, lalu mengambil hairdryer. Dengan telaten, Knox mengeringkan rambut pendek Nyx, jemarinya menyisir helai demi helai dengan lembut.
Nyx menatap pantulan mereka di cermin. Seorang pria tangguh yang biasanya memegang kunci inggris atau mengepalkan tinju, kini sedang sibuk mengeringkan rambut seorang gadis dengan penuh kesabaran. Pemandangan itu membuat Nyx sadar bahwa ia telah menemukan dunianya.
"Sudah kering," ucap Knox, mematikan alat itu dan mencium puncak kepala Nyx. "Sekarang, ayo kita ke dapur. Aku sudah memesan sarapan mewah—karena jujur saja, aku tidak ingin kau memasak hari ini. Kau harus menghemat tenagamu."
"Menghemat tenaga untuk apa?" tanya Nyx curiga.
Knox menyeringai nakal sambil menggendong Nyx sekali lagi menuju ruang makan. "Untuk ronde nanti malam, tentu saja. Aku tidak bilang kita hanya akan melakukannya sekali seumur hidup, kan?"
Nyx hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Knox, tertawa kecil sambil menikmati setiap detik keromantisan pagi ini. Hidupnya mungkin masih penuh teka-teki tentang keluarga Morrigan dan ancaman Beckham, tapi selama ia berada dalam gendongan Knox, ia tahu ia akan selalu aman.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂