NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Protokol Isolasi

Malam itu, kostan gua rasanya nggak sedamai biasanya. Suara cicak di tembok aja bikin gua loncat saking parnonya.

Gua duduk di balik jendela kamar yang gordennya gua tutup rapat, ngeliat ke arah bawah. Di sana, di bawah lampu jalan yang remang, ada motor bebek butut yang gua kenal banget parkir.

Dedik beneran ada di sana, duduk di atas motornya sambil mangku laptop, ngetik kodingan dengan tenang seolah-olah dia lagi nggak jadi target orang-orang berjaket kulit tadi sore.

Gua nggak tahan. Gua ambil jaket dan turun ke bawah. Begitu gua buka gerbang, hawa dingin malem langsung nyergap.

"Ded, lo gila ya? Ini udah jam satu malem. Lo bisa tipes kalau begadang di luar begini," bisik gua sambil nyamperin dia.

Dedik nengok sebentar, benerin kacamatanya yang melorot, terus balik lagi ke layar. "Secara statistik, risiko gua kena tipes lebih rendah daripada risiko lo diculik kalau gua nggak di sini."

"Gua udah pasang sensor gerak nirkabel di radius sepuluh meter dari gerbang kost lo. Kalau ada yang mendekat, laptop gua bakal bunyi."

Gua cuma bisa geleng-geleng. "Tapi lo juga butuh tidur, Ded."

"Gua udah tidur tadi pas nunggu lo mandi. Lima belas menit cukup buat reboot otak gua," sahutnya enteng. Dia nutup laptopnya, terus natap gua serius. "Rey, besok pagi kita pergi."

"Pergi? Ke mana? Kuliah gimana?"

"Gua udah dapet izin dari Pak Dekan. Beliau juga ngerasa kampus nggak sepenuhnya aman karena orang-orang sponsor itu punya akses ke beberapa 'orang dalam' di bagian keamanan."

"Kita bakal balik ke Desa Pinus. Kita butuh isolasi total buat nyelesein prototipe ini tanpa gangguan frekuensi atau fisik."

Gua diem sebentar. Kembali ke tempat di mana semuanya dimulai. Tempat di mana motor mogok, tempat di mana kita kedinginan di gubuk, dan tempat di mana gua sadar kalau cowok kaku di depan gua ini punya hati yang luas.

"Oke. Gua ikut lo," kata gua mantap.

***

Besok paginya, dengan persiapan seadanya yang dimasukin ke ransel, kita berangkat. Kali ini perjalanannya beda. Nggak ada lagi debat soal "kenapa gua harus ikut".

Yang ada cuma keheningan yang nyaman. Gua meluk pinggang Dedik lebih erat karena angin gunung mulai nusuk kulit, dan dia nggak protes sama sekali.

Nyampe di Desa Pinus sore hari, suasananya masih sama. Bau tanah basah dan kabut tipis yang mulai turun. Tapi kali ini, kita nggak nginep di penginapan warga.

Pak Dekan udah nyiapin satu kabin kecil milik universitas yang letaknya lebih masuk ke arah hutan bambu, jauh dari keramaian warga desa.

Kabin itu mungil, cuma ada satu ruang tengah yang penuh alat kabel, dapur kecil, dan dua kamar tidur yang dipisah sekat kayu tipis.

"Taruh tas lo. Gua mau pasang penguat sinyal dulu buat alat rekam kita," kata Dedik begitu kita masuk.

Gua ngerapiin barang-barang, terus gua ke dapur buat masak mie instan, satu-satunya hal yang bisa gua masak selain air.

Pas gua lagi nunggu air mendidih, Dedik masuk ke dapur. Dia kelihatan capek banget, tapi matanya tetep fokus.

"Nih, makan dulu. Lo belum makan dari pagi kan?" gua nyodorin semangkok mie instan ke dia.

Dedik duduk di kursi kayu kecil. Dia makan dengan lahap, tapi matanya sesekali ngelirik ke arah jendela, mastiin keadaan di luar.

"Ded," panggil gua.

"Hm?"

"Lo beneran yakin kita aman di sini? Maksud gua, mereka kan punya banyak orang."

Dedik naruh sendoknya pelan. "Logikanya, Rey... mereka bakal nyari kita di tempat-tempat yang punya akses internet stabil dan fasilitas umum."

"Di sini, sinyal cuma bisa lewat pemancar yang gua bikin sendiri. Secara digital, kita itu nggak ada di peta."

Dia natap gua sebentar, terus lanjut ngomong dengan nada yang agak lebih rendah. "Dan selama gua ada di sini, variabel keselamatan lo adalah prioritas utama gua."

"Lo fokus aja sama latihan vokal lo buat pengambilan data puncak besok lusa."

Gua senyum tipis. "Masih aja pake bahasa 'variabel'. Sekali-kali kek ngomongnya agak manusiawi dikit."

"Gua sedang menggunakan bahasa yang paling akurat, Rey. Akurasi adalah bentuk kepedulian paling tinggi dalam ilmu teknik," jawabnya lempeng.

Malam itu, di tengah hutan yang sunyi, gua duduk di teras kabin bareng Dedik. Dia lagi nyetem gitarnya, nyari nada yang paling pas buat resonansi bambu kuning di sekitar kabin.

Suasana bener-bener sunyi, cuma ada suara jangkrik dan gesekan daun.

"Gak kerasa ya, Ded," kata gua sambil meluk lutut. "Dari berantem soal colokan di perpus, sampe nyasar ke kabin tengah hutan kayak gini."

Dedik berhenti metik senar gitarnya. Dia natap langit yang penuh bintang. "Dunia ini penuh sama kejadian acak yang nggak bisa diprediksi, Rey.

Tapi kalau dipikir-pikir, frekuensi pertemuan kita itu punya pola yang konsisten. Mungkin emang udah jalannya sistem kita harus sinkron."

Gua nengok ke dia. "Sinkron ya? Tapi kita masih sering berantem."

"Berantem itu cuma distorsi sinyal. Yang penting output-nya tetep satu tujuan," jawab Dedik. Dia ngelirik gua, terus ngelepas jaket flanelnya dan dilempar ke arah gua.

"Pake. Suhu di sini turun dua derajat tiap jam. Gua nggak mau frekuensi suara lo jadi serak besok."

Gua pake jaketnya. Wanginya masih sama, wangi yang sekarang bikin gua ngerasa tenang. Gua nggak bilang "makasih", gua cuma nyengir ke arah dia.

"Besok kita mulai jam enam pagi. Jangan telat, atau gua bakal nulis denda di laporan pengeluaran riset lo," ancamnya sambil berdiri dan masuk ke dalem kabin buat lanjut koding.

Gua ketawa kecil. "Dasar Partner Sialan!"

Gua duduk sebentar lagi di teras, ngeliatin punggung Dedik dari balik jendela yang lagi serius di depan laptop. Kita emang belum jadian, nggak ada kata-kata manis atau janji cinta.

Tapi berada di tempat terpencil ini, cuma berdua, saling jaga di tengah ancaman... rasanya udah lebih dari sekadar status di atas kertas.

Gua tau, badai di luar sana masih nunggu. Tapi untuk malam ini, di kabin Desa Pinus ini, semuanya kerasa pas.

***

Protokol isolasi dimulai dengan tenang. Tapi saat Dedik lagi asik koding di tengah malam, layarnya mendadak merah. Muncul notifikasi di sistem keamanannya:

"PERIPHERAL BREACHED - 500M SOUTH". Ada sesuatu atau seseorang yang baru saja masuk ke radius radar Dedik.

Apakah tim pencari sponsor sudah menemukan mereka, atau ada tamu tak diundang dari dalam hutan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!