NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Sore itu taman kota tampak ramai oleh orang-orang yang menikmati akhir pekan. Anak-anak berlarian di dekat air mancur, beberapa pedagang kaki lima sibuk menawarkan makanan ringan, sementara pasangan muda duduk berjejer di bangku taman sambil menikmati udara yang mulai sejuk. Langit perlahan berubah jingga, menciptakan suasana hangat yang biasanya cocok untuk percakapan manis. Ironis sekali manusia sering memilih tempat indah justru untuk menghancurkan hubungan mereka sendiri. Semacam tradisi emosional yang aneh.

Di salah satu bangku taman, duduk sepasang kekasih yang sudah bersama selama tiga tahun.

Shinta Aprilia menatap lurus ke depan dengan wajah tegang. Rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin sore. Sementara di sampingnya, Andika Rahman duduk dengan kedua tangan saling bertaut, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak.

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Hanya suara kendaraan dari jalan raya dan tawa kecil anak-anak yang terdengar samar.

Shinta akhirnya memecah keheningan.

“Aku capek seperti ini terus, Andika.”

Andika menghela napas pelan.

“Kita cuma sedang beda pendapat, bukan berarti semuanya harus dibesar-besarkan.”

“Beda pendapat?” Shinta menoleh cepat. “Setiap kali aku bicara soal masa depan, kamu selalu menghindar.”

“Aku tidak menghindar.”

“Kamu bilang belum siap. Selalu itu jawabannya.”

Andika menatap wajah kekasihnya cukup lama sebelum berbicara.

“Karena memang belum siap.”

Jawaban itu membuat Shinta tersenyum tipis, tetapi penuh rasa kecewa.

“Tiga tahun hubungan kita ternyata belum cukup buat kamu yakin.”

Andika mengusap wajahnya kasar. Ia sebenarnya sudah lelah dengan perdebatan yang terus berulang selama beberapa bulan terakhir.

“Ini bukan soal yakin atau tidak yakin.”

“Lalu soal apa?”

“Soal kehidupan setelah menikah.”

Shinta tertawa pelan, tetapi terdengar hambar.

“Kamu selalu bicara seolah pernikahan itu sesuatu yang menakutkan.”

“Karena memang bukan hal sederhana.”

“Andika, aku tidak pernah meminta hidup mewah.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa semuanya terasa sulit buat kamu?”

Andika menatap keramaian taman di depan mereka sebelum akhirnya berbicara dengan suara lebih rendah.

“Karena aku tidak mau suatu hari nanti menyesal.”

Kalimat itu membuat dahi Shinta berkerut.

“Menyesal menikah denganku?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Lalu apa?”

Andika menarik napas panjang.

“Aku ingin punya karier yang jelas dulu. Aku ingin semuanya lebih stabil sebelum kita menikah.”

“Kamu terlalu terobsesi dengan pekerjaanmu.”

“Aku realistis.”

Shinta langsung menatap tajam.

“Dan aku tidak realistis begitu?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi itu yang kamu pikirkan.”

Andika mulai merasa emosinya naik perlahan. Ia sebenarnya sudah mencoba menjelaskan berkali-kali, tetapi Shinta tetap menganggap dirinya hanya mencari alasan.

“Aku kerja keras bukan buat diriku sendiri saja,” ucap Andika. “Kalau nanti kita menikah, hidup kita bukan cuma tentang jalan-jalan atau unggah foto bahagia di media sosial.”

Shinta memotong cepat.

“Aku tidak pernah memikirkan itu.”

“Tapi kamu terlalu fokus pada kebahagiaan sesaat.”

Mata Shinta langsung berubah dingin.

“Kebahagiaan sesaat?”

“Iya.”

Shinta tertawa kecil karena kesal.

“Menikah dengan orang yang aku cintai sekarang jadi disebut kebahagiaan sesaat?”

Andika mengusap pelipisnya.

“Kamu tidak mengerti maksudku.”

“Karena kamu tidak pernah menjelaskan dengan jelas.”

“Aku sudah menjelaskan berkali-kali.”

“Tidak. Kamu hanya terus bicara tentang karier, uang, masa depan, dan kesiapan. Seolah hubungan kita cuma proyek bisnis.”

Andika mulai kehilangan kesabarannya.

“Karena pernikahan memang butuh persiapan.”

“Kita bisa menikah dulu lalu menata hidup bersama.”

“Tidak semudah itu.”

“Banyak orang melakukannya.”

“Dan tidak semuanya berhasil.”

Kalimat itu membuat Shinta terdiam sesaat.

Namun Andika melanjutkan sebelum suasana kembali tenang.

“Kamu cuma melihat teman-temanmu yang terlihat bahagia setelah menikah.”

“Karena mereka memang bahagia.”

“Andaikan kamu tahu berapa banyak yang sebenarnya sedang kesulitan.”

“Kamu bahkan belum mencoba.”

“Aku sedang mencoba mempersiapkan semuanya.”

“Tidak,” balas Shinta cepat. “Kamu hanya takut.”

Andika menoleh tajam.

“Aku takut?”

“Iya. Kamu takut kehilangan kebebasanmu.”

Andika tersenyum tipis penuh rasa lelah.

“Kalau aku takut, aku tidak akan bertahan selama tiga tahun.”

“Tapi kamu juga tidak pernah benar-benar serius.”

“Andika langsung menatapnya dalam.

“Jangan asal bicara.”

“Kalau serius, kamu pasti sudah punya keputusan.”

“Aku punya rencana.”

“Rencana yang tidak pernah jelas kapan terjadinya.”

Andika menghela napas berat. Angin sore yang tadinya terasa menenangkan kini justru membuat suasana semakin dingin.

“Aku sedang membangun karierku, Shinta.”

“Dan aku harus terus menunggu?”

“Aku tidak pernah memintamu menunggu tanpa arah.”

“Tapi itu yang terjadi.”

Shinta menunduk beberapa detik sebelum kembali berbicara dengan suara lebih pelan.

“Aku cuma ingin kepastian.”

“Aku sudah bilang aku ingin menikah denganmu nanti.”

“Nanti kapan?”

Andika terdiam.

Shinta tertawa kecil lagi. Kali ini matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

“Nah. Kamu sendiri tidak tahu jawabannya.”

“Aku cuma ingin semuanya matang.”

“Tidak ada yang benar-benar matang dalam hidup.”

“Aku tidak mau gegabah.”

“Kadang hidup memang harus dijalani, bukan dihitung terus.”

“Andika menatapnya serius.

“Dan setelah menikah nanti? Saat kebutuhan makin banyak? Saat tekanan datang dari keluarga? Saat anak lahir? Apa cinta saja cukup?”

Shinta langsung menjawab tanpa ragu.

“Kita bisa menghadapi semuanya bersama.”

“Semua pasangan juga berpikir begitu di awal.”

“Kamu terlalu pesimis.”

“Aku realistis.”

“Kamu dingin.”

“Kamu terlalu emosional.”

Kalimat itu membuat Shinta langsung berdiri dari duduknya.

Beberapa orang di sekitar mulai melirik mereka diam-diam. Konflik pasangan memang selalu menarik perhatian manusia. Mereka suka menonton drama orang lain selama bukan hidup mereka sendiri yang berantakan.

“Aku emosional?” ulang Shinta pelan.

Andika ikut berdiri.

“Aku tidak bermaksud menyerangmu.”

“Tapi itu yang kamu lakukan.”

“Aku cuma ingin kamu berpikir lebih dewasa.”

Shinta menatapnya tidak percaya.

“Kamu bilang aku tidak dewasa?”

“Aku bilang kamu terlalu terburu-buru.”

“Aku memikirkan masa depan kita.”

“Aku juga.”

“Tidak. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri.”

Andika langsung tertawa pendek karena kesal.

“Kalau aku memikirkan diriku sendiri, aku tidak akan capek bekerja setiap hari buat masa depan.”

“Masa depan yang bahkan belum tentu ada.”

“Karena kamu terus menekanku.”

Shinta memalingkan wajahnya beberapa saat sebelum kembali menatap Andika.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”

Andika diam.

“Aku tidak pernah merasakan keseriusan dari kamu.”

“Andika langsung mengernyit.

“Setelah tiga tahun, kamu masih berpikir seperti itu?”

“Iya.”

“Aku selalu ada buat kamu.”

“Tapi kamu tidak pernah benar-benar memilih aku.”

Kalimat itu membuat Andika terdiam sesaat.

Ia sebenarnya ingin membantah, tetapi sebagian dirinya sadar bahwa selama ini ia memang lebih fokus mengejar kariernya.

Namun bukan berarti ia tidak mencintai Shinta.

Ia hanya takut gagal.

Takut suatu hari nanti mereka saling menyalahkan karena hidup tidak berjalan sesuai harapan.

Takut menjadi pasangan yang awalnya penuh cinta lalu berubah dingin karena tekanan ekonomi.

Ia sudah terlalu sering melihat itu terjadi.

“Aku ingin semuanya dipersiapkan dengan baik,” ucap Andika akhirnya.

“Dan aku lelah menunggu persiapan yang tidak selesai-selesai.”

“Kamu tidak mengerti tekanan yang aku rasakan.”

“Lalu kamu mengerti perasaanku?”

Andika terdiam lagi.

Shinta mengusap matanya cepat.

“Aku cuma ingin merasa dipilih.”

“Aku memilihmu.”

“Tidak cukup.”

“Andika mulai merasa emosinya pecah perlahan.

“Kamu selalu menuntut kepastian sekarang juga.”

“Karena aku perempuan, Andika. Aku juga punya ketakutan.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu tidak tahu.”

Shinta menatapnya dengan mata penuh kecewa.

“Kamu bahkan tidak pernah benar-benar membicarakan kehidupan rumah tangga dengan serius.”

Andika langsung tertawa kecil sinis.

“Aku justru terlalu serius memikirkannya.”

“Tidak terlihat seperti itu.”

“Aku memikirkan biaya hidup, pekerjaan, rumah, masa depan anak.”

“Kamu bahkan belum siap membicarakan pernikahan.”

“Karena aku tidak mau semuanya berakhir berantakan.”

“Kamu pikir semua hal buruk bisa dihindari hanya dengan persiapan?”

“Setidaknya bisa diminimalkan.”

Shinta menggeleng pelan.

“Kamu terlalu sibuk menghitung kemungkinan gagal sampai lupa cara menjalani hubungan.”

“Andika menatapnya tajam.

“Dan kamu terlalu sibuk mengejar gambaran indah sampai lupa kenyataan.”

“Setidaknya aku masih punya keberanian.”

“Keberanian tanpa persiapan itu nekat.”

“Dan hidup tanpa keberanian itu kosong.”

Keduanya kembali terdiam.

Suasana di antara mereka terasa semakin jauh meskipun berdiri hanya beberapa langkah.

Andika sebenarnya ingin memeluk Shinta dan mengakhiri pertengkaran itu. Namun egonya terlalu tinggi untuk mengalah lebih dulu.

Sementara Shinta sudah terlalu lelah merasa dirinya terus menunggu sesuatu yang tidak pasti.

“Tiga tahun ternyata cuma buang waktu,” ucap Shinta pelan.

Andika menatapnya tanpa ekspresi.

“Kalau menurutmu begitu, aku tidak bisa memaksamu berpikir lain.”

Jawaban itu membuat hati Shinta terasa semakin sakit.

Ia berharap Andika akan menahannya.

Berusaha mempertahankan hubungan mereka.

Namun pria itu justru terlihat tenang.

“Aku ingin kita putus.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Angin sore berembus pelan melewati mereka.

Beberapa daun kering jatuh di dekat bangku taman tempat mereka tadi duduk bersama.

Andika menatap Shinta cukup lama.

Tidak ada keterkejutan besar di wajahnya.

Hanya rasa lelah.

“Kalau itu yang kamu mau,” jawabnya pelan.

Mata Shinta langsung memerah.

“Kamu bahkan tidak mencoba menahanku.”

“Aku capek bertengkar terus.”

“Jadi semudah itu buat kamu?”

“Aku hanya tidak ingin kita saling menyakiti lebih jauh.”

Shinta tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca.

“Aku pikir aku orang paling penting dalam hidupmu.”

“Kamu penting.”

“Tapi tetap bukan prioritas.”

Andika menggeleng pelan.

“Kamu tidak pernah mengerti sudut pandangku.”

“Karena kamu tidak pernah membiarkanku masuk ke dalam hidupmu sepenuhnya.”

Andika memalingkan wajahnya beberapa detik.

Ia sadar mungkin memang ada benarnya.

Selama ini ia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum pasti sampai lupa menjaga perasaan orang yang selalu ada di sampingnya.

Namun di sisi lain, ia juga yakin bahwa cinta saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga.

Dan keyakinan itu tidak pernah berubah.

“Aku tidak menyesal pernah bersama kamu,” ucap Andika pelan.

“Tapi kamu juga tidak terlihat sedih kehilangan aku.”

Andika tersenyum tipis.

“Aku sedih.”

“Tidak terlihat.”

“Aku cuma tidak ingin menahan seseorang yang sudah tidak percaya padaku.”

Shinta menggigit bibir bawahnya pelan.

Air matanya akhirnya jatuh juga.

Tiga tahun hubungan mereka berakhir di taman kota saat matahari hampir tenggelam. Tidak ada pelukan dramatis. Tidak ada tangisan besar seperti dalam film-film romantis yang terlalu suka berbohong tentang cinta.

Hanya dua orang yang sama-sama keras kepala.

Dua orang yang sebenarnya saling mencintai, tetapi memiliki cara berpikir berbeda tentang masa depan.

Dan terkadang, perasaan memang kalah oleh ketakutan, ambisi, dan ego manusia sendiri. Makhluk yang aneh. Mereka ingin dicintai sepenuh hati, tetapi juga takut menerima risiko dari cinta itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!