"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Topeng Sang Rubah
Sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti tepat di belakang Arumi. Zaviar Ravindra turun dari mobil dengan langkah kaki yang menekan atmosfer menjadi sedingin es. Wajah tampannya yang seperti pahatan dewa Yunani tampak luar biasa kaku dan hitam kelam mendengar namanya disebut-sebut dalam urusan impoten oleh istrinya sendiri di depan puluhan anak buahnya.
"Arumi Calista. Jaga bicaramu," potong Zaviar dengan suara bariton yang berat dan bergetar menahan amarah posesif sekaligus rasa malu yang mendalam.
Arumi menoleh sekilas, menatap Zaviar dengan wajah lempeng tanpa dosa. "Eh, si kaku udah dateng. Pas banget, ini anak buah selingkuhan lu—eh salah, istri kedua lu maksudnya, lagi main drama bisu di sini. Sini dong, bantuin istrinya yang sah ini interogasi!"
Zaviar tidak memedulikan sindiran Arumi. Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping Arumi, mengunci pandangan matanya yang sehitam obsidian pada si Gepeng yang kini sudah gemetar seperti diguyur air es. Aura membunuh yang dipancarkan Zaviar jauh lebih pekat dan mencekik daripada ancaman sekop besi Arumi.
"Katakan siapa yang memesan aksi ini, atau aku akan memastikan seluruh keluargamu kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal di kota ini sebelum matahari terbit," perintah Zaviar mutlak dengan nada dingin yang tidak menerima negosiasi.
Gepeng yang melihat sang penguasa tertinggi distrik bisnis sudah turun tangan langsung kehilangan seluruh keberanian premannya. Ia bersujud di atas tanah becek, menangis histeris. "Ampun, Tuan Besar Zaviar! Ampun! Yang menelepon kami adalah Nyonya Calista! Beliau yang memberikan dana dua ratus juta untuk menyabotase proyek ini dan membuat Nyonya Arumi celaka! Beliau bilang beliau cemburu karena Anda tidak pernah menyentuhnya tapi selalu mengurung Nyonya Arumi di kamar! Kami cuma menjalankan perintah, Tuan!"
Mendengar pengakuan yang meluncur jujur itu, suasana di lapangan proyek mendadak membeku. Arumi melemparkan sekop besinya ke tanah hingga menimbulkan suara dentingan yang nyaring.
Prang!
Arumi melirik ke arah Zaviar, menaikkan satu alisnya dengan senyuman miring yang penuh kemenangan yang kejam. "Tuh, denger kan, kaku? Istri kedua lu yang lemah lembut sewarna salju itu ternyata aslinya psikopat, cemburu buta yang mau bikin wajah cantik gue hancur. Gimana? Masih mau ngebelain dia kayak dua minggu lalu?"
Zaviar merasakan rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol tegang. Rasa cemburu buta, amarah, dan obsesi yang gelap semalam bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Di dalam kepalanya, kesadaran sang alter ego, Varian, kembali bergejolak hebat, menuntut pelepasan karena ada pihak luar yang berani merencanakan pembunuhan terhadap candu manisnya.
Zaviar mencengkeram pergelangan tangan Arumi dengan satu gerakan kuat, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya yang berdegup kencang. "Kita kembali ke mansion sekarang, Arumi. Aku sendiri yang akan memimpin sidang keluarga untuk menyelesaikan urusan Calista di depan matamu."
Arumi tersenyum manis, sebuah senyuman yang sarat akan kelicikan yang jenaka. "Boleh banget, Suamiku yang posesif. Mari kita lihat gimana cara si muka dua itu nangis bombay minta ampun malam ini!
Lampu kristal gantung di lobi utama mansion Ravindra berpijar benderang, namun cahayanya sama sekali tidak mampu mengusir atmosfer sedingin es yang dibawa oleh kepulangan Zaviar dan Arumi. Seluruh pelayan, termasuk Kepala Pelayan Albert dan barisan pengawal elite, sudah berdiri berjejer menundukkan kepala dengan tubuh gemetar halus. Mereka tahu, badai besar malam ini tidak akan menyisakan ampunan bagi siapa pun yang bersalah.
Brak!
Pintu ganda ruang tamu utama dibuka paksa dari luar. Zaviar melangkah masuk dengan kemeja hitam yang berantakan tanpa dasi, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat. Tangan kanannya mengunci pergelangan tangan Arumi, menyeret wanita itu dengan cengkeraman posesif yang tidak melonggar barang satu milimeter pun sejak mereka turun dari mobil SUV tadi.
"Albert," suara Zaviar menggelegar rendah, bergema mematikan di dalam ruangan yang sunyi. "Bawa aku ke kamar Clarissa sekarang. Panggil seluruh pelayan untuk berkumpul di depan kamarnya."
"B-Baik, Tuan Muda Besar," Albert terbata-bata, langsung memimpin jalan menuju koridor sayap kanan mansion, tempat kamar tidur sang istri kedua diisolasi.
Arumi berjalan di samping Zaviar dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia mengibaskan jaket kulit hitamnya yang sedikit terkena cipratan tanah becek dari proyek, lalu melirik Zaviar dengan wajah lempeng tanpa dosa. Sifat bar-bar-nya mendadak meronta ingin mengeluarkan sindiran segar untuk menguji urat saraf suaminya yang kaku.
"Santai dong, Tuan Zaviar yang terhormat. Cengkeraman tangan lu kencang amat, dikira gue ini barang belanjaan diskonan apa?" ceplat-ceplos Arumi dengan nada suara yang sengaja dibuat nyaring, membuat beberapa pelayan wanita di koridor menahan napas syok. "Lagian, lu dandan seram begitu mau melabrak istri kedua atau mau ikut audisi hantu lokal, sih? Kaku amat kayak tripleks baru dijemur."
Zaviar menolehkan wajah tampannya secara perlahan, sepasang manik mata obsidiannya menatap Arumi dengan tatapan yang dipenuhi oleh gejolak rasa bersalah, amarah, dan gairah posesif yang pekat. Candu dari rahasia tubuh Arumi semalam masih membakar aliran darahnya, membuat insting pelindungnya berada di level ekstrem. "Arumi. Diamlah untuk beberapa menit jika kau tidak ingin aku membungkam mulut lancangmu itu dengan caraku sendiri di depan semua orang di sini."
Arumi memutar bola matanya malas, namun ia memilih diam demi menikmati pertunjukan utama yang sebentar lagi akan dimulai.
Mereka akhirnya sampai di depan pintu kayu jati kokoh kamar Calista. Dua pengawal elite yang berjaga di depan pintu langsung membungkuk hormat. Dari dalam kamar yang terkunci rapat itu, suasana tampak sunyi, seolah penghuninya sedang berpura-pura tidur untuk menghindari masalah.
Brak! Brak!
Zaviar menggedor pintu tersebut dengan kasar menggunakan kepalan tangannya. "Calista! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban dari dalam. Melihat hal itu, Arumi langsung maju ke depan, menyingkirkan tubuh besar Zaviar dengan sikutnya secara santai. "Minggir, kaku. Kelamaan kalau nungguin lu ngetok pake tata krama."
Arumi mengambil jarak satu langkah ke belakang, memasang tumpuan kaki kirinya, lalu melepaskan sebuah tendangan lurus bertenaga murni khas pesilat tepat ke arah slot kunci pintu kayu tersebut.
Brak! Krek!
Pintu besar itu terbuka paksa dengan suara engsel yang patah, menampilkan interior kamar mewah bernuansa putih salju yang kini tampak berantakan.
Calista sedang berdiri mematung di dekat laci lemarinya dengan wajah yang pucat pasi. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih yang longgar, membuat tubuhnya tampak begitu rapuh, kurus, dan memancing rasa iba bagi siapa pun yang melihatnya. Rambut panjangnya sengaja diurai sedikit berantakan, dan kedua matanya langsung memerah sempurna akibat air mata yang sengaja ia persiapkan.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.