NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:859
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Baru Untuk Sarang Burung Walet

Yang membuat masyarakat terkesan bukan hanya karena Ami berbicara di depan Bupati, tetapi karena ia menyampaikan semuanya dengan tepat. Tidak dilebih-lebihkan demi mencari perhatian, dan tidak pula dikurangi demi menjaga citra. Ia berbicara sebagaimana warga benar-benar hidup dan merasakan masalah itu setiap hari.

Rasyid sendiri lebih banyak mendengarkan sambil sesekali mencatat hal-hal penting. Ia memperhatikan bagaimana Ami mengenal hampir setiap sudut kampung dan memahami persoalan warganya dengan sangat dekat. Beberapa kali masyarakat bahkan lebih dulu menyampaikan keluhan kepada Ami sebelum akhirnya diteruskan kepada Rasyid, seolah mereka merasa lebih nyaman karena tahu suara mereka tidak akan dipelintir atau dijadikan sekadar formalitas kunjungan.

Melihat itu semua, banyak warga mulai tersenyum puas. Untuk pertama kalinya mereka merasa benar-benar memiliki jalur yang jujur untuk menyampaikan aspirasi mereka. Tidak ada bahasa rumit, tidak ada pencitraan berlebihan, hanya percakapan yang terasa dekat dan nyata.

Di sela kunjungan, seorang ibu tua bahkan berkata sambil tersenyum haru, “Sekarang kami tenang, Pak Bupati. Ada Bu Bupati yang ngerti kehidupan kami.”

Rasyid menoleh ke arah Ami dan tersenyum kecil mendengar itu. Dalam hati ia sadar, memilih Ami bukan hanya keputusan cinta dalam hidupnya, tetapi juga keputusan yang membuatnya tetap dekat dengan kenyataan hidup masyarakat yang dulu menjadi alasan utama ia berjuang sampai sejauh ini.

Di sela kunjungan itu, ketika masyarakat mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing dan mereka berjalan menyusuri jalan kecil di pinggir sawah Lembah Embun, Rasyid memandang Ami cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan sambil tersenyum, “Aku beruntung jatuh cinta padamu.”

Ami yang sejak tadi sibuk membahas berbagai persoalan kampung langsung menoleh dengan wajah sedikit malu. “Tapi aku cuma gadis desa,” jawabnya lirih, seolah masih sulit percaya bahwa hidupnya kini berjalan berdampingan dengan seorang Bupati.

Rasyid tertawa kecil mendengar itu lalu menggeleng pelan. “Aku nggak menyesal mengejar cinta gadis desa kalau ujungnya seperti ini,” katanya sambil menatap Ami lebih dalam. “Justru dari kamu aku belajar banyak hal, tentang hidup sederhana, tentang mendengar orang lain, dan tentang tetap bertahan waktu semua orang mulai pergi.”

Ami terdiam mendengar itu. Angin sore bergerak pelan di antara hamparan sawah, sementara langkah mereka melambat tanpa sadar.

“Kalau dulu aku memilih jalan yang lebih mudah,” lanjut Rasyid pelan, “Mungkin aku memang tetap bisa jadi Bupati. Tapi aku belum tentu punya hidup seperti sekarang.”

Mata Ami mulai melembut. Ia tahu betul berapa banyak hal yang sudah dikorbankan Rasyid demi mempertahankan pilihannya, dukungan politik, relasi keluarga, bahkan peluang menang yang dulu nyaris hilang.

Dengan senyum kecil, Ami akhirnya berkata, “Berarti keputusan Bapak mengejar saya nggak sia-sia ya?”

Rasyid langsung tertawa pelan. “Sangat nggak sia-sia. Malah rasanya aku yang paling untung.”

Dan sore itu, di kampung sederhana yang dulu menjadi awal tumbuhnya harapan kecil mereka, keduanya berjalan berdampingan bukan lagi sebagai dua orang yang sedang bertahan dari tekanan hidup, melainkan sebagai pasangan yang perlahan mulai menikmati hasil dari perjuangan panjang yang mereka lalui bersama.

***

Pagi itu suasana ruang kerja Bupati masih tenang ketika Paman Badri datang dengan langkah cepat dan wajah yang jelas menahan amarah. Begitu pintu tertutup, tanpa banyak basa-basi ia langsung meletakkan map dokumen di meja Rasyid dengan keras.

“Kenapa izin pengolahan sarang burung waletnya dihentikan?” tanyanya tajam.

Rasyid yang sejak tadi membaca beberapa laporan hanya mengangkat pandangan dengan tenang. “Bukan dihentikan, Paman,” jawabnya pelan namun tegas. “Saya mengalihkan pengelolaannya ke masyarakat.”

Paman Badri langsung mengernyit tidak percaya. “Maksudnya apa, Syid? Mana bisa masyarakat mengolah sendiri? Kamu nggak akan dapat untung apa-apa.”

Rasyid bersandar pelan di kursinya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya sudah jauh berbeda dibanding dulu, lebih mantap dan tidak lagi mudah ditekan oleh nama besar keluarga atau ancaman modal. “Tidak masalah, Paman,” katanya singkat. “Itu memang hak mereka.”

Kalimat itu justru membuat emosi Paman Badri naik. “Kau menyalahi kontrak kerja sama kita di awal saat kami mendukungmu, Syid!”

Rasyid menatap pamannya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar, “Dukungan mana yang paman maksud? Bukannya dukungan itu sudah ditarik?”

Ruangan langsung menjadi hening sesaat. Paman Badri tampak semakin kesal karena sadar Rasyid tidak lagi berbicara sebagai keponakan yang bisa ditekan dengan rasa sungkan, tetapi sebagai seorang pemimpin yang sudah menentukan arah kebijakannya sendiri.

“Rasyid!” suara Paman Badri meninggi. “Pemodal bisa marah!”

Namun Rasyid tetap duduk tenang. “Kalau mereka marah karena masyarakat kecil mulai mendapatkan haknya sendiri,” ucapnya perlahan, “Berarti memang dari awal tujuan kita berbeda.”

Paman Badri menatapnya tajam, seolah tidak percaya lelaki yang dulu mereka anggap terlalu keras kepala itu kini benar-benar berani menentang kepentingan besar secara terbuka.

Sementara Rasyid sendiri tahu keputusan itu akan membawa konsekuensi panjang. Akan ada tekanan baru, ancaman ekonomi, dan mungkin serangan politik berikutnya. Tapi kali ini ia tidak lagi takut kehilangan dukungan para pemodal, karena ia sudah memahami sesuatu sejak awal perjuangannya: kekuasaan yang dibangun di atas utang kepentingan akan selalu meminta balasan yang lebih mahal di kemudian hari.

Paman Badri berjalan mondar-mandir di depan meja kerja Rasyid, mencoba menahan emosinya yang semakin memuncak. “Kamu terlalu idealis, Syid,” katanya dengan nada tajam. “Dunia ini nggak berjalan cuma dengan niat baik. Pemerintahan perlu uang, perlu jaringan, perlu orang-orang kuat di belakangmu.”

Rasyid mendengarkan tanpa memotong. Ia tahu pamannya tidak sepenuhnya salah. Politik dan pemerintahan memang dipenuhi kepentingan yang saling bertaut. Tapi justru karena itu ia tidak ingin memulai masa kepemimpinannya dengan menyerahkan sumber daya masyarakat kepada segelintir orang yang hanya mengejar keuntungan.

“Paman,” jawab Rasyid akhirnya dengan suara tenang, “selama ini masyarakat di daerah penghasil walet cuma jadi penonton. Lingkungan mereka dipakai, hasil alam mereka diambil, tapi keuntungan besarnya pergi ke luar.”

Paman Badri langsung menyela, “Karena mereka nggak punya kemampuan mengelola!”

“Kalau begitu tugas pemerintah membantu mereka punya kemampuan itu,” balas Rasyid cepat namun tetap terkendali. “Bukan malah terus membuat mereka bergantung.”

Ruangan kembali hening beberapa detik.

Rasyid kemudian membuka beberapa dokumen di mejanya dan mendorongnya perlahan ke arah pamannya. “Saya sudah siapkan pelatihan, koperasi masyarakat, dan pendampingan pengelolaan. Hasilnya akan masuk langsung ke desa-desa penghasil walet.”

Paman Badri membaca sekilas lalu tertawa pendek penuh sindiran. “Kamu pikir cara seperti ini bisa bikin kamu bertahan lama?”

Rasyid tersenyum tipis. “Saya tidak sedang membangun kekuasaan untuk bertahan lama, Paman. Saya sedang membangun pemerintahan yang suatu hari nanti tetap bisa berdiri meski saya sudah tidak menjabat.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!