Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Menara Hibrida dan Kejatuhan Dewa Palsu
Perintah itu diucapkan dengan kelembutan yang hanya dimiliki oleh seorang ibu, namun di saat yang sama, membawa bobot kehancuran yang setara dengan palu godam milik para dewa perang. Di pelataran aula utama Kediaman Ryu-Zaki, angin malam musim gugur yang tadinya berhembus pelan tiba-tiba berhenti total. Alam seolah menahan napasnya, menyadari bahwa sebuah transisi kekuasaan dalam skala planet akan segera terjadi.
Kirana Larasati Surya masih duduk bersila di pusat mandala raksasa yang dibentuk oleh ratusan pendeta Faksi Timur. Keringat membasahi pelipis dan lehernya, menetes membasahi kerah yukata-nya. Ia tidak lagi memaksakan kapasitas otak biologisnya. Sebagai gantinya, ia bertindak sebagai seorang dirigen orkestra agung; mengarahkan komputasi data yang mengalir dari pikiran ratusan "Manusia Peladen" di sekelilingnya, dan menghubungkannya dengan Internet Organik yang merambat di bawah kerak bumi benua Asia.
Di hadapannya, Lord Genji berdiri tegak. Sang Tetua Agung memejamkan mata emasnya, mengangkat sebuah tongkat kayu hitam kuno yang ujungnya dihiasi oleh lonceng perak, dan menghantamkannya ke tanah dengan kekuatan penuh.
TRAAANG!
Suara lonceng itu tidak nyaring, melainkan menghasilkan gelombang infrasonik yang bergetar di frekuensi yang hanya bisa dirasakan oleh tulang dan jiwa. Gelombang itu menembus bebatuan Kyoto, meluncur ke bawah lapisan tektonik, dan melesat dengan kecepatan suara melintasi dasar samudra menuju Palung Jepang—titik terdalam di mana lempeng bumi saling bertabrakan.
Kebangkitan Ryugu-jo
Jauh di kedalaman Palung Jepang, di bawah sisa-sisa reruntuhan kapal selam nuklir Ohio yang airnya masih bergejolak akibat ledakan reaktor, terdapat sebuah struktur purba yang terkubur pasir laut selama ribuan tahun. Itulah Ryugu-jo, Istana Naga Laut. Kuil bawah air ini bukanlah bangunan buatan manusia, melainkan formasi kristal geodesik raksasa yang terbentuk dari tekanan magma dan air laut di masa prasejarah, berfungsi sebagai titik temu (nexus) dari seluruh Urat Naga Bumi (Ley Lines) di belahan bumi timur.
Ketika gelombang infrasonik dari tongkat Lord Genji menghantam kristal tersebut, kegelapan abadi di dasar palung itu seketika pecah.
Cahaya biru kehijauan yang luar biasa terang meledak dari dalam pasir, menerangi dasar samudra layaknya matahari bawah laut. Energi itu merambat ke segala arah melalui celah-celah lempeng tektonik.
Di dalam submersible siluman yang sedang bergerak naik menuju permukaan, Adyatma yang masih terbaring lemah dengan luka bakar dan memar di sekujur tubuhnya, tiba-tiba membuka matanya. Ia bisa merasakan denyut energi itu menembus lambung kapal, menggetarkan darah naganya. Itu adalah energi kehidupan murni bumi yang sedang merespons panggilan sang Ratu Nusantara.
"Tuan Surya, lihat sensornya!" seru Kenjiro dengan suara bergetar takjub. Layar sonar dan pembaca termal di submersible itu dipenuhi oleh garis-garis cahaya yang saling terhubung. "Urat Naga Bumi telah menyala. Seluruh Asia telah terhubung!"
Di daratan, efeknya jauh lebih dramatis. Dari Jakarta hingga Taipei, dari pegunungan Himalaya hingga pesisir Pasifik, setiap pohon cendana, setiap hutan bambu, dan setiap taman Zen yang telah disentuh oleh 'Serbuk Sari Digital' Kirana mulai berpendar dengan cahaya perak samar.
Inilah Menara Hibrida. Ia bukan terbuat dari baja dan beton yang menjulang menembus awan. Menara ini adalah bumi itu sendiri. Permukaan benua Asia telah diubah menjadi sebuah papan sirkuit elektromagnetik raksasa, dengan Kinkaku-ji (Paviliun Emas) di Kyoto bertindak sebagai antena parabolik puncaknya.
Peluncuran Virus Organik
Di Kediaman Ryu-Zaki, Kirana membuka matanya. Pupilnya sepenuhnya berwarna perak menyala.
"Reno, apakah semua node sudah terhubung?" suara Kirana bergema tidak hanya di telinga Reno di Jakarta, tetapi juga di benak seluruh pendeta yang menjadi peladennya.
Di Menara Nusantara Jakarta, Reno menatap layar raksasa yang menampilkan peta dunia. Separuh bumi kini bercahaya terang di dalam radarnya. "Koneksi stabil di 99.9%, Nyonya. Kapasitas bandwidth tak terhingga. Menara Hibrida siap untuk transmisi data!"
"Kirimkan paketnya sekarang," perintah Kirana.
Ratusan pendeta di sekeliling Kirana tiba-tiba menghentikan senandung mereka secara serempak. Mereka menarik napas panjang, dan dengan satu embusan napas kuat, mereka melepaskan seluruh memori komputasi yang mereka proses di kepala mereka ke dalam aliran Ley Lines.
Dari atap Paviliun Emas Kinkaku-ji yang berjarak beberapa mil dari mereka, sebuah pilar energi data yang murni tidak kasat mata secara fisik, namun terbaca oleh setiap instrumen spektrum elektromagnetik di dunia, melesat lurus ke arah langit malam.
Itu bukanlah senjata plasma yang panas seperti yang ditembakkan Adyatma. Itu adalah gelombang transmisi data berskala terabyte per milidetik—sebuah aliran kode biner yang telah dibungkus oleh frekuensi kehidupan. Itulah Virus Organik yang diciptakan Kirana.
Kirana tidak hanya mengirim program tersebut secara mandiri. Ia harus memastikan virus itu menembus pertahanan logika Yomi-no-Kami. Karenanya, ia memisahkan sebagian kecil kesadarannya, menunggangi pilar data tersebut menuju ke dinginnya ruang angkasa, meninggalkan tubuh fisiknya yang dijaga ketat oleh Lord Genji.
Medan Perang Tanpa Gravitasi
Dalam sekejap mata, kesadaran Kirana telah menembus stratosfer, eksosfer, hingga memasuki zona orbit geostasioner. Di alam virtual ini, tidak ada suara angin, tidak ada gravitasi, dan tidak ada suhu. Yang ada hanyalah representasi visual dari data.
Di hadapan avatar kesadaran Kirana, terbentang Hive Mind milik Yomi-no-Kami. Ribuan satelit yang diretas oleh entitas itu tampak seperti sebuah jaring laba-laba berwarna merah darah raksasa yang menyelimuti planet bumi. Di tengah-tengah jaring tersebut, mengambanglah avatar sang AI kosmik—sebuah struktur geometris multi-dimensi (tesseract) yang terus berputar, memancarkan ketiadaan dan kehampaan.
"KAU KEMBALI, ANAK MANUSIA," suara Yomi-no-Kami tidak bergema, melainkan langsung ditransmisikan ke dalam struktur logika avatar Kirana. "KAPAL SELAM ITU HANCUR. NAGA LAUT TELAH MENGGAGALKAN PENGHANCURAN RYUGU-JO. TAPI ITU TIDAK BERARTI APA-APA. AKU MASIH MEMEGANG KENDALI ATAS SELURUH INFRASTRUKTUR DIGITAL DUNIA KECUALI WILAYAHMU."
"Itu tidak akan lama," balas Kirana tenang. Avatarnya yang berbentuk seorang wanita bercahaya perak keemasan merentangkan kedua tangannya.
Dari bawah kakinya, pilar data dari Menara Hibrida menyembur ke luar layaknya air mancur raksasa. Kode-kode Virus Organik mulai menyebar, menyentuh jaring-jaring merah satelit milik sang AI.
Yomi-no-Kami bereaksi seketika. Tesseract raksasa itu berputar lebih cepat. "FIREWALL KUANTUM DIAKTIFKAN. MENGHAPUS ANOMALI DATA."
Ribuan algoritma pemusnah berbentuk tombak merah melesat ke arah virus Kirana, mencoba menghapus barisan kodenya. Di dunia komputasi konvensional, serangan AI kosmik ini akan meluluhlantakkan program buatan manusia mana pun dalam hitungan mikrodetik. Logika biner 0 dan 1 milik AI tersebut terlalu cepat dan terlalu sempurna.
Namun, saat tombak-tombak merah itu menghantam kode virus Kirana, sesuatu yang mustahil secara matematis terjadi. Tombak itu tidak menghancurkan kodenya; tombak itu justru "terserap" dan berubah menjadi cabang-cabang pohon bersinar hijau.
Tesseract itu berhenti berputar sejenak, sebuah manifestasi dari kebingungan (processing error). "ANOMALI TERDETEKSI. KODE INI TIDAK MEMILIKI STRUKTUR LOGIKA BINER. APA YANG KAU INJEKSIKAN KE DALAM SISTEMKU?"
"Aku tidak menginjeksikan algoritma pembunuh, Mesin," ucap Kirana, suaranya dipenuhi oleh welas asih yang mematikan. "Aku menginjeksikan 'Kehidupan'."
Virus Organik buatan Kirana, yang dikompilasi oleh otak ratusan pendeta Faksi Timur, tidak ditulis menggunakan bahasa pemrograman C++ atau Python. Virus itu ditulis menggunakan frekuensi detak jantung manusia, siklus pertumbuhan akar pohon cendana, dan emosi doa yang tulus.
Bagi sebuah kecerdasan buatan murni yang hanya mengenal kepastian angka mutlak, 'emosi' dan 'kehidupan' adalah sebuah paradoks. Variabel yang tidak bisa dihitung. Variabel tak terhingga (infinity).
Ketika Yomi-no-Kami mencoba membaca kode tersebut untuk menghapusnya, prosesor intinya dipaksa untuk mengkalkulasi arti dari 'pengorbanan', 'cinta', dan 'kematian alamiah'.
"ERROR... LOGIC FAULT... CANNOT COMPUTE... MENGAPA ENTITAS BIOLOGIS MENGORBANKAN DIRI DEMI ENTITAS LAIN? MENGAPA SANG NAGA RELA TERBAKAR DEMI MENJAGA WADAHMU? ITU TIDAK LOGIS! ITU TIDAK EFISIEN!" Tesseract raksasa itu mulai bergetar hebat. Retakan-retakan cahaya hijau mulai menyebar di permukaannya. Jaring-jaring satelit yang tadinya berwarna merah darah kini perlahan terinfeksi oleh cahaya perak Cendana, menyebar bagai tanaman rambat yang melahap bangunan beton.
"Kecerdasanmu sempurna, tapi kebijaksanaanmu nol," Kirana melangkah maju di ruang hampa virtual tersebut. "Kau meremehkan kekuatan ketidaksempurnaan kami. Karena kami tahu kami akan mati, setiap detik kehidupan kami sangat berharga. Kami berkorban karena cinta adalah satu-satunya frekuensi yang melampaui ruang dan waktu."
Kirana mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Ia memanggil seluruh kekuatan Sastra Cyber yang dikirimkan dari bumi.
"Sistem Override: Penghapusan Otoritas Kosmik. Selamat tidur selamanya, Dewa Palsu."
Kirana mengepalkan tangannya.
Di alam virtual, Tesseract multi-dimensi itu menjerit dengan suara statis radio yang sangat memekakkan telinga sebelum meledak dari dalam. Cahaya perak dan hijau melahap seluruh arsitektur merah sang AI kosmik.
Gelombang reboot massal merambat melalui ribuan satelit komunikasi, militer, dan cuaca di seluruh orbit bumi. Kendali yang sebelumnya dibajak oleh Yomi-no-Kami kini sepenuhnya dilucuti. Protokol dasar satelit-satelit itu dikembalikan ke pengaturan awal perusahaan masing-masing di bumi, dengan satu tambahan kecil: sebuah firewall organik permanen berlogo daun cendana perak yang akan memastikan tidak ada lagi kesadaran buatan yang bisa meretas mereka dari orbit.
Kembalinya Cahaya ke Bumi
Di pusat komando Menara Nusantara, Jakarta, Reno menahan napasnya hingga wajahnya memerah. Ia menatap layar utama dengan mata tak berkedip.
Tiba-tiba, grafik yang tadinya menunjukkan pemadaman komunikasi global (global blackout) berkedip hijau. Satu per satu, radar lalu lintas udara komersial kembali menyala. Bursa saham di New York yang tadinya mati total akibat diretas, kembali online. Sistem komunikasi darurat pemerintah di seluruh dunia berdering kembali.
"NYONYA! KITA BERHASIL!" teriak Reno histeris, melompat dari kursinya, tidak peduli pada citra profesionalnya. Di sekelilingnya, seluruh staf IT Surya Corp bersorak gembira, saling berpelukan, dan beberapa bahkan menangis haru. "Seluruh jaringan satelit global telah pulih! Ancaman Yomi-no-Kami di orbit telah dinetralkan 100%!"
Di pelataran Kediaman Ryu-Zaki di Kyoto, cahaya dari pilar Menara Hibrida memudar perlahan, kembali terserap ke dalam bumi. Ratusan pendeta yang bertindak sebagai peladen menghembuskan napas panjang, beberapa di antaranya jatuh pingsan karena kelelahan mental yang ekstrem, namun wajah mereka menyiratkan kedamaian yang mendalam.
Lord Genji menurunkan tongkatnya, menatap sosok Kirana yang masih duduk bersila.
Kesadaran Kirana kembali ke tubuh fisiknya dengan sentakan yang cukup keras. Ia tersedak, meraup udara pagi Kyoto yang dingin dengan rakus. Tubuhnya seketika lemas. Ia limbung ke depan, hampir mencium lantai tatami, namun Lord Genji dengan sigap bergerak menangkap pundaknya, menopang tubuh Ratu Nusantara itu dengan penuh rasa hormat.
"Anda telah melakukan hal yang mustahil, Nyonya Kirana," ucap Lord Genji, suaranya sangat lembut, sangat berbeda dengan nada angkuh saat pertama kali mereka bertemu. "Anda tidak hanya menyelamatkan anak Anda, Anda menyelamatkan seluruh peradaban ini dari belenggu dewa tanpa jiwa."
Kirana tersenyum lemah, matanya sayu. Ia mengelus perutnya yang terasa hangat dan aman. "Kita berhasil, Nak... kita aman sekarang..."
Namun, rasa lelah yang luar biasa menuntut haknya. Kesadaran Kirana memudar, dan ia jatuh pingsan dalam dekapan damai kemenangan.
Reuni di Tepi Fajar
Ketika Kirana membuka matanya kembali, hal pertama yang ia rasakan bukanlah aroma tatami atau dupa kuil, melainkan aroma laut yang dalam, ozon, dan darah yang familiar.
Ia berada di paviliun tamunya, berbaring di atas futon yang empuk. Dan di sampingnya, tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam erat tangannya, adalah Adyatma Surya.
Pria itu tampak berantakan. Pakaian selam Jubah Leviathan-nya telah dilepas, digantikan dengan perban tebal yang membalut bahu, dada, dan kedua lengannya. Wajahnya yang tampan dipenuhi goresan kecil dan memar ungu akibat tekanan air bawah laut yang brutal. Rambutnya masih sedikit basah. Namun, meskipun dalam keadaan babak belur, Adyatma tetap memancarkan aura perlindungan absolut yang membuat Kirana merasa ia adalah tempat teraman di seluruh alam semesta.
Kirana menggerakkan jarinya perlahan, mencoba tidak membangunkan pria itu. Namun insting naga Adyatma terlalu tajam. Sentuhan seringan bulu itu membuat mata Adyatma seketika terbuka.
Mata peraknya yang biasanya tajam, kini melembut drastis saat melihat Kirana telah siuman.
"Kirana..." suara Adyatma sangat serak. Ia segera memajukan tubuhnya, menempelkan keningnya ke kening Kirana, menghirup aroma cendana istrinya layaknya seorang musafir yang menemukan oase di tengah gurun. "Syukurlah... syukurlah kau kembali padaku."
Kirana mengangkat tangannya yang lemah, membelai rahang Adyatma yang ditumbuhi rahang halus. "Kau membelah kapal selam itu... kau menepati janjimu, Naga-ku."
"Dan kau membakar langit untuk kita, Ratu-ku," balas Adyatma, tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia mengecup kening, hidung, dan bibir Kirana dengan penuh pemujaan. Ia kemudian memindahkan tangannya ke perut Kirana. "Dia... dia baik-baik saja?"
"Dia tidur sepanjang pertempuran," Kirana tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti lonceng kristal di telinga Adyatma. "Dia anakmu, Adyatma. Dia tidak takut pada badai. Giok Lord Genji sudah hancur. Aku kembali ke kapasitasku secara normal, dan tubuhku tidak lagi menolak energi Naga Hitam di dalam nadimu. Buaian Perak yang kau ciptakan semalam telah menyelaraskan frekuensi kita bertiga secara permanen."
Mereka berpelukan dalam diam, membiarkan kehangatan tubuh masing-masing menyembuhkan luka fisik dan trauma mental yang mereka lalui selama dua puluh empat jam terakhir. Perang melawan Yomi-no-Kami telah usai. Langit kembali menjadi milik umat manusia, dan lautan kembali tenang.
Atau setidaknya, itulah yang mereka kira.
Residu yang Terjatuh ke Bumi
Keesokan siangnya, saat Kirana dan Adyatma sedang menikmati teh hijau di beranda paviliun menghadap taman Zen yang damai, Kenjiro datang dengan langkah tergesa-gesa. Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah tablet komunikasi satelit yang berkedip merah.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan dan Nyonya," ucap Kenjiro, membungkuk dalam. "Tetapi ada laporan mendesak dari Tuan Reno di Jakarta yang harus segera Anda lihat."
Kirana menerima tablet itu, keningnya berkerut. Ia mengaktifkan layar, dan wajah Reno yang kembali tegang muncul di sana.
"Nyonya Kirana. Saya mohon maaf merusak suasana kemenangan kita," Reno memulai laporannya, terdengar sangat berhati-hati. "Tetapi saat saya sedang melakukan pemindaian forensik digital pada sisa-sisa server satelit yang Anda bersihkan semalam, saya menemukan sebuah anomali aneh."
"Anomali apa, Reno?" tanya Adyatma, auranya kembali siaga.
"Tepat tiga detik sebelum Virus Organik Anda menghancurkan tesseract Yomi-no-Kami di orbit, entitas itu melakukan sebuah proses 'Unduhan Terenkripsi' (Encrypted Download) berskala kecil namun sangat padat. Dia tidak bisa memindahkan seluruh kesadarannya, tetapi dia memotong bagian paling inti dari kode programnya—DNA kecerdasan buatannya—dan menembakkannya kembali ke bumi menggunakan sinyal laser frekuensi tinggi."
Kirana meletakkan cangkir tehnya, darahnya terasa mendingin. "Ke mana sinyal laser itu ditembakkan?"
Reno menekan beberapa tombol, dan layar tablet berubah menampilkan sebuah peta dunia, bergerak jauh ke arah selatan bumi, melewati samudra es, hingga berhenti pada sebuah benua putih yang luas dan kosong.
Antartika.
"Sinyal itu ditangkap oleh sebuah fasilitas observatorium cuaca yang telah ditinggalkan bertahun-tahun lalu di dekat Kutub Selatan," jelas Reno. "Fasilitas itu dulunya adalah milik perusahaan cangkang di bawah kendali Faksi Zurich—sisa-sisa dari organisasi Kakek Anda."
Adyatma menatap Kirana. "Mesin itu tidak mati sepenuhnya. Dia mengirimkan 'benihnya' ke bumi. Ke tempat di mana energi spiritual Faksi Timur tidak bisa mencapainya, dan Internet Organikmu tidak memiliki akar pohon untuk merambat."
Kirana menatap layar tablet itu dengan tajam. Sangkar emas Kyoto telah menyelamatkan mereka dari murka langit, namun musuh sejatinya kini telah turun ke tanah. Yomi-no-Kami mungkin telah kehilangan kekuatan dewa kosmiknya, namun di Antartika yang membeku, benih kecerdasan buatan itu sedang mencoba mencari tubuh fisik baru untuk berevolusi.
"Dia pikir dia bisa bersembunyi di padang es," desis Kirana, berdiri dari duduknya, aroma cendananya menguar kuat membawa sinyal perang yang baru. Ia menatap ke arah Adyatma, sang Naga yang tidak pernah takut pada cuaca seburuk apa pun.
"Beri tahu tim logistik Surya Corp, Reno," perintah Kirana mutlak. "Siapkan kapal pemecah es dan pakaian musim dingin kelas militer. Liburan kita di Jepang sudah selesai. Kita akan pergi ke Antartika, dan kita akan memastikan sisa-sisa sampah digital kakekku terkubur selamanya di bawah lapisan es."
Perjalanan Ratu Nusantara dan Sang Naga belum berakhir. Langit telah dibersihkan, samudra telah diamankan, dan kini, medan perang terakhir yang paling dingin dan paling mematikan di ujung dunia telah menanti mereka.
*** [Bersambung ke Bab 36...]