Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Iblis di Atas Lumpur Darah
Tiga orang pemburu rendahan itu bergerak maju serentak, sepatu bot mereka menginjak lumpur hutan dengan bunyi ceipak-cepok yang berat. Senjata-senjata murahan di tangan mereka—pedang berkarat dan tombak kayu berujung besi—diacungkan dengan niat membunuh yang kasar.
Yang Chen tidak bergerak dari posisinya di samping bangkai Babi Hutan Besi. Yang Chen berdiri dengan bahu rileks, tangan kanannya memegang pisau belati berlumuran darah dengan pegangan terbalik.
Pemburu pertama, seorang pria kurus dengan gigi tonggos, adalah yang paling tidak sabar. Pemburu Kurus itu melompat melewati akar pohon, mengayunkan pedang panjangnya ke arah leher Yang Chen dengan gerakan menebas horizontal.
"Mati kau, Bocah!" teriak Pemburu Kurus.
Ayunan itu kuat, didorong oleh tenaga Body Tempering Tingkat 2. Angin berdesing mengikuti bilah pedang.
Di mata orang biasa, serangan itu cepat. Di mata Yang Chen, serangan itu penuh celah.
Yang Chen melihat otot bahu Pemburu Kurus menegang setengah detik sebelum pedang bergerak. Yang Chen melihat pijakan kaki musuh yang tidak seimbang karena tanah licin.
Yang Chen tidak menangkis. Menangkis akan merusak pisau belati kecil yang dipegangnya.
Yang Chen hanya menekuk lututnya, merendahkan tubuhnya sepuluh sentimeter.
Wush!
Bilah pedang berkarat itu lewat tepat di atas kepala Yang Chen, memotong beberapa helai rambut hitam Yang Chen yang mencuat.
Sebelum Pemburu Kurus sempat menarik kembali pedangnya, Yang Chen sudah meledak ke atas.
Kaki Yang Chen menendang tanah. Tubuh Yang Chen melesat masuk ke dalam pertahanan terbuka musuh (In-fighting).
Tangan kiri Yang Chen, yang kini dilapisi aura kuning samar dari teknik Kulit Batu, menghantam dada Pemburu Kurus dengan telapak tangan terbuka.
Palm Strike.
BUKK!
Hantaman itu bukan pukulan biasa. Yang Chen menyalurkan getaran Earth Qi langsung ke dalam rongga dada musuh.
Mata Pemburu Kurus melotot keluar. Napasnya terhenti seketika. Tulang rusuknya tidak patah, tapi jantungnya mengalami shock akibat getaran itu.
Pemburu Kurus itu terlempar ke belakang, menabrak temannya yang ada di belakang.
"Sialan! Serang bersamaan!" teriak Si Botak yang masih menonton dari belakang, kaget melihat anak buahnya dipukul mundur dalam satu gebrakan.
Dua pemburu lainnya—satu memegang tombak, satu memegang pentungan besi—menyerang dari kiri dan kanan. Pincer attack (Serangan Menjepit).
Yang Chen terjebak di tengah. Di belakang Yang Chen ada bangkai babi hutan. Di depan ada Pemburu Kurus yang sedang mencoba bangun. Kiri dan kanan tertutup serangan.
Situasi mati langkah? Tidak bagi Yang Chen.
Yang Chen menjatuhkan tubuhnya ke belakang.
Bukan jatuh karena kalah, tapi jatuh terkontrol. Punggung Yang Chen mendarat di atas perut bangkai Babi Hutan Besi yang empuk dan kenyal.
Tombak dari kiri dan pentungan dari kanan bertemu di titik kosong di mana kepala Yang Chen tadi berada.
Tang!
Senjata kedua pemburu itu beradu satu sama lain, memercikkan bunga api. Getaran benturan membuat tangan kedua pemburu itu kesemutan.
"Apa?!" seru Pemburu Tombak kaget.
Yang Chen memanfaatkan momen kebingungan itu. Dalam posisi telentang di atas bangkai babi, Yang Chen menendang dengan kedua kakinya.
Target Yang Chen adalah lutut.
Kaki kanan Yang Chen menghantam tempurung lutut Pemburu Tombak. Kaki kiri Yang Chen menghantam tulang kering Pemburu Pentungan.
KRAK!
Suara ligamen putus terdengar nyaring dan mengerikan di keheningan hutan.
"AAAAHHH!" Pemburu Tombak menjerit, kakinya tertekuk ke arah yang salah—belakang. Pemburu itu jatuh berguling di lumpur, memegangi kakinya yang hancur.
Pemburu Pentungan tidak sempat berteriak. Yang Chen menggunakan momentum tendangan tadi untuk melentingkan tubuhnya bangkit kembali (Kip-up).
Yang Chen mendarat dengan jongkok di atas bangkai babi hutan itu. Posisi Yang Chen sekarang lebih tinggi dari musuh.
Yang Chen melompat turun, pisau belati di tangan kanan Yang Chen mengarah ke leher Pemburu Pentungan yang sedang kehilangan keseimbangan.
Sret.
Gerakan Yang Chen efisien. Dingin. Tanpa keraguan.
Pisau itu menyayat arteri karotis di leher Pemburu Pentungan. Darah merah segar menyembur keluar seperti air mancur, membasahi wajah dan jubah hitam Yang Chen.
Pemburu Pentungan itu menjatuhkan senjatanya, tangannya mencengkeram leher sendiri, mencoba menahan darah yang tidak akan pernah berhenti. Tubuhnya kejang-kejang, lalu ambruk ke tanah.
Satu tewas. Satu lumpuh. Satu sesak napas.
Hanya dalam sepuluh detik.
Yang Chen berdiri tegak di tengah kekacauan itu. Darah menetes dari ujung dagu Yang Chen. Mata Yang Chen menatap lurus ke arah Si Botak, pemimpin kelompok itu.
Si Botak mundur dua langkah. Wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi. Kapak besar di tangannya tiba-tiba terasa sangat berat.
"Kau... Kau bukan manusia..." gagap Si Botak. "Kau kultivator aliran sesat! Mata itu... mata itu kuning!"
Yang Chen tidak menjawab tuduhan itu. Yang Chen mengibaskan darah dari pisaunya dengan satu sentakan pergelangan tangan.
"Giliranmu," kata Yang Chen pelan.
Si Botak meraung, mencoba mengusir rasa takutnya sendiri. "Aku Tingkat 3! Aku punya Iron Skin (Kulit Besi) tingkat dasar! Kau cuma bocah Tingkat 2!"
Si Botak mengaktifkan Qi-nya. Kulit Si Botak berubah warna menjadi sedikit abu-abu metalik—teknik pertahanan standar prajurit rendahan.
Si Botak berlari menerjang, mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi untuk membelah kepala Yang Chen.
Serangan itu penuh tenaga, tapi lambat. Sangat lambat dibandingkan serudukan Babi Hutan Besi tadi.
Yang Chen tidak lari. Yang Chen maju menyambutnya.
Saat kapak itu mulai turun, Yang Chen melangkah ke samping kiri (Side-step). Jaraknya sangat tipis. Angin dari ayunan kapak itu menampar pipi Yang Chen.
DUAR!
Mata kapak menghantam tanah lumpur, menancap dalam hingga setengah bilahnya terkubur.
Itu adalah kesalahan fatal pengguna senjata berat: Over-commitment. Jika serangan meleset, butuh waktu lama untuk menarik senjata kembali.
Yang Chen tidak menyia-nyiakan celah itu.
Yang Chen membuang pisau belatinya. Pisau itu tidak akan menembus Iron Skin Si Botak. Yang Chen butuh dampak tumpul.
Tangan kanan Yang Chen mengepal. Energi kuning dari Inti Rock Python dipompa maksimal ke kepalan tangan itu. Tinju Yang Chen menjadi sekeras batu granit.
Yang Chen meninju siku lengan kanan Si Botak yang sedang memegang gagang kapak.
KRAK!
"ARGH!" Si Botak menjerit. Sikunya patah. Sendi itu bengkok ke arah yang tidak wajar.
Yang Chen tidak berhenti. Yang Chen berputar, mengirimkan tendangan memutar (Roundhouse Kick) ke arah kepala Si Botak yang tidak terlindungi.
Kaki Yang Chen menghantam pelipis Si Botak.
BUKK!
Iron Skindi wajah Si Botak retak. Kepala Si Botak terpelanting ke samping. Tubuh besarnya terhuyung, lalu jatuh bergedebuk seperti pohon ditebang.
Si Botak tidak mati, tapi otaknya terguncang hebat. Dia pingsan dengan mata terbalik.
Pertarungan selesai.
Yang Chen berdiri di tengah empat tubuh yang bergelimpangan. Napas Yang Chen sedikit memburu. Pertarungan ini menguras sisa stamina Yang Chen yang belum pulih total.
Yang Chen merasakan sakit di otot-ototnya. Tubuh Zhao Wei ini belum terbiasa dengan gerakan eksplosif berturut-turut.
"Terlalu banyak gerakan sia-sia," evaluasi Yang Chen pada dirinya sendiri. "Seharusnya aku bisa membunuh Pemburu Pentungan itu tanpa harus melompat ke atas babi."
Yang Chen berjalan mendekati Si Botak yang pingsan.
Yang Chen tidak membunuhnya. Belum.
Yang Chen berjongkok, mulai menjarah.
Pertama, Kapak Besar. Yang Chen mencabut kapak itu dari tanah. Beratnya sekitar lima belas kilogram. Terbuat dari baja hitam kasar. Keseimbangannya buruk, tapi daya hancurnya lumayan.
"Ini akan jadi senjata sementaraku," putus Yang Chen. Dia butuh senjata berat untuk melawan monster berkulit keras. Pisau belati terlalu lemah.
Kedua, Kantong Uang. Yang Chen merogoh saku Si Botak. Ada kantong kulit berisi 30 keping perak dan beberapa butir obat penyembuh luka kualitas rendah. Yang Chen mengambil semuanya.
Ketiga, Perbekalan. Yang Chen mengambil kantong air dari pinggang Si Botak. Yang Chen membukanya, mencium isinya. Air biasa. Bagus. Yang Chen meminumnya sampai habis untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.
Yang Chen juga mengambil bungkusan dendeng kering dari saku Pemburu Kurus.
Setelah selesai menjarah, Yang Chen berdiri.
Yang Chen menatap ketiga pemburu yang masih hidup (Si Botak pingsan, Pemburu Tombak merintih kesakitan, Pemburu Kurus pingsan). Pemburu Pentungan sudah mati karena kehabisan darah.
Yang Chen tidak punya belas kasihan, tapi Yang Chen juga pragmatis. Membunuh mereka semua akan meninggalkan terlalu banyak mayat yang bisa memancing monster karnivora besar datang sebelum Yang Chen sempat pergi.
Yang Chen menendang Si Botak tepat di rusuknya agar pemburu itu sadar sebentar karena rasa sakit.
"Ugh..." Si Botak mengerang, matanya membuka samar.
"Dengar," kata Yang Chen dingin, menatap mata Si Botak dari atas. "Jika kau ingin hidup, bawa teman-temanmu yang sampah ini pergi dari sini sekarang. Dan tinggalkan semua senjata kalian."
Si Botak mengangguk lemah, ketakutan setengah mati melihat wajah berdarah Yang Chen.
Yang Chen berbalik.
Yang Chen berjalan kembali ke bangkai Babi Hutan Besi. Yang Chen memotong paha belakang babi itu—potongan daging seberat sepuluh kilogram—dan mengikatnya dengan tali tanaman.
Yang Chen memanggul daging itu di bahu kiri, dan menyeret kapak besar di tangan kanan.
Tanpa menoleh lagi, Yang Chen berjalan masuk lebih dalam ke hutan, meninggalkan para pecundang yang merintih itu.
Yang Chen butuh tempat bersembunyi untuk mengolah daging ini dan menstabilkan kultivasinya ke Tingkat 2 Puncak.
Matahari mulai meninggi di atas Hutan Kabut, menyinari jejak darah yang ditinggalkan oleh Sang Kaisar Tirani dalam langkah pertamanya menaklukkan dunia ini.