NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Temani

Di dalam kamar, Enyak menyelimuti Collins. Ia kemudian merapikan rambut anak muda itu. Belum lama Enyak mengenal Collins, tapi hatinya sudah terlanjur sayang.

Collins walau tak banyak bicara tapi cepat membuat orang akrab dengannya. Apalagi ia hampir tak pernah membantah tugas yang diberikan, bahkan walau hanya untuk sekedar menemaninya belanja ke pasar.

Collins meraih tangan Enyak. "Enyak jangan marah-marah lagi. Capek 'kan, Nyak," ucapnya dengan suara lembut.

Enyak hanya menghela napas. Ia kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap Collins. "Cuma elu yang bisa ngambil hati enyak." Matanya kembali berkaca-kaca.

"Maaf ya, Nyak. Bikin enyak, khawatir." Collins menggenggam tangan Enyak. Ia tak tega melihat wanita ini mengeluarkan air mata. Baginya, Enyak seperti mengisi posisi ibunya yang sudah lama meninggal. Memang keduanya tak mirip, tapi kasih sayangnya tetap sampai ke hati.

"Untung Tuhan nolong elu. Kalo enggak, gimane nanti ...." Enyak tak bisa meneruskan kalimatnya karena air matanya sudah terlanjur mengalir. Ia berusaha menghapusnya.

"Sst ... udah, Nyak. Bara 'kan masih di sini. 'Kan udah gak ada rampok lagi, Nyak, " bujuk Collins lirih.

"Ya, udah. Lu, jangan aneh-aneh lagi!" omel Enyak mengusap air matanya di pipi dengan kasar. "Lu mau makan, kagak? Bukannye si Nana katenye nganterin bubur buat elu?" Ia mulai bicara lembut.

"Udah ... buat Enyak aja."

"Lah, terus elu ... makan ape?" Kedua mata Enyak melebar.

"Makan masakan enyak lah." Collins berkata lembut sambil tersenyum.

Sedikit senang tapi Enyak berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia berdiri dan merapikan kembali selimut Collins. "Ya udeh deh, enyak masak dulu, tapi. Hari enih enyak masak semur daging."

"Makasih, Nyak." Senyum Collins tak lepas, bahkan sumringah.

Sekali lagi, diperhatikannya wajah Collins. Wajahnya tidak mirip dengan dirinya, memang, tapi keberadaan Collins lebih dari sekadar menggantikan anaknya yang dulu meninggal karena sakit. Anak lelakinya dulu sakit-sakitan hingga tak pernah bisa membantunya melakukan apapun, bahkan sebaliknya, ia yang harus sering membantu.

Padahal ia mengidam-idamkan punya anak lelaki yang sehat seperti anak orang lain dan itu semua bisa terpenuhi ketika bertemu Collins. Walau Enyak tak tahu Collins anak siapa, tapi di rumah ia serasa punya anak laki-laki kembali. Collins pun tergolong sangat patuh pada orang tua sehingga bukan hanya Enyak, tapi Babe dan Ipah pun juga menyayanginya.

Setelah Enyak pergi, Collins kembali teringat permintaan Aida sebelum ia masuk kamar. 'Kenapa dia ngontrak ya. Apa itu bukan rumahnya? Tapi syukurlah dia pindah. Aku lihat daerah rumahnya agak rawan dan terlalu sepi. Berbahaya untuk perempuan tinggal di sana sendirian. Tapi bagaimana dengan sepupunya? Apa mungkin karena dia mau menikah dengan pacarnya itu? Hh ....'

Pikirannya kemudian melayang ke hal lainnya. 'Apa ... Mbak Aida mau aku jadi tukang ojeknya lagi?' Tiba-tiba Collins tersenyum kecil. 'Dia belum bilang sih, tapi rasanya dia akan melakukannya.' Perasaannya begitu berbunga-bunga membayangkan mereka kembali naik motor bersama. 'Kamu bikin aku gak bisa tidur, Mbak, tapi kamu memang cantik sekali hari ini. Hah ....' Ia menerawang lebih jauh. 'Apa harapanku tidak sia-sia? Kau memberiku kesempatan, jadi jangan bilang aku tidak bisa menikahimu lagi ya, Mbak ....' Seketika Collins menahan tawa menertawakan dirinya sendiri karena pikirannya bergerak terlalu jauh. Ia menghela napas panjang. 'Ya Allah, dia kembali padaku. Jangan biarkan dia pergi lagi, ya Allah.' Ia membayangkan kebahagiaan yang akan datang menjelang.

****

Beberapa hari berlalu. Aida pindah ke daerah kontrakan dekat toko Babe dengan bantuan Babe dan Ipah. Seminggu kemudian, Collins mulai bekerja lagi di toko.

Sore itu Collins duduk di depan toko ketika sebuah angkot berhenti tepat tak jauh darinya. Sosok Aida turun dari angkot. Bukan main senangnya Collins melihatnya. "Mbak!"

Aida yang hafal suara sang pria, menoleh mencari sumber suara. "Bang Bara?" Ia menggerakkan tongkatnya ke arah Collins, tapi pria itu datang lebih dulu. Tongkatnya menyentuh sendal Collins. "Kamu sudah sehat, Bang?"

"Alhamdulillah."

"Alhamdulillah." Ada haru yang menggetarkan dada Aida. Setidaknya itu mengurangi rasa bersalahnya karena pernah ragu pada pria ini.

"Mau pulang, Mbak?"

"Iya, sekarang aku ngontrak dekat sini."

"Boleh aku temani jalan sampai kontrakan?"

Tawaran yang manis. Aida tersipu mendengarnya.

"Eh, maksudku, hanya ingin tahu tempat tinggalmu. Eh ... kalau boleh." Collins mengusap belakang kepalanya karena canggung. 'Apa terlihat sekali aku ingin bersama Ustadzah? Ah, peduli apa, dia juga pasti mau.'

"Eh ...."

Collins terlihat bingung ketika Aida menegakkan tubuhnya menghadap Collins.

"Apa Abang bisa anterin aku ke sekolah lagi seperti dulu?"

"Eh, iya, boleh." Senyum Collins mengembang.

Keduanya tersenyum dan melangkah ke arah gang. Mereka tak lagi bicara apa-apa tapi raut wajah mereka menceritakan semuanya. Sesekali Collins melirik Aida yang tampak berseri-seri. Babe hanya menonton saja dari dalam toko. Ia pun ikut tersenyum bahagia.

****

Pagi itu suasana pasar ramai seperti biasanya. Motor Collins baru saja sampai. Enyak turun dari motor.

"Nyak, nanti dulu, Nyak. Masih jauh. Ini motornya belum masuk." Collins bingung karena ia baru sampai di pintu pagar tapi Enyak udah tak sabar untuk turun.

"Lu gak liat antrian panjangnye kayak ape? Mending enyak masuk duluan dah, daripada gosong. Panas gini."

Udara memang mulai terik dan antrian untuk masuk ke dalam pasar juga panjang karena banyaknya motor yang ingin parkir si dalam. Collins akhirnya memilih keluar dari antrian dan menepi di seberang yang lumayan teduh, di bawah sebuah pohon beringin besar yang sudah tua. Ada beberapa motor dan mobil parkir di sana. Collins memarkir motornya dekat toko peralatan sekolah.

Sebuah mobil berwarna abu-abu muda ikut parkir di sana. Seorang pria keluar dan melihat sekeliling. Ia melihat Collins dan mendatanginya. Collins yang hampir membuka helmnya, dikejutkan dengan selembar foto yang disodorkan padanya.

"Bang, permisi. Pernah lihat orang ini gak ya, di sekitar sini?"

Mata Collins membulat sempurna. 'Ini 'kan fotoku?' Ia menoleh pada pria itu. 'Ah, untung aku belum buka helmnya. Dia tidak mengenaliku, kan?' Collins melirik mobil itu. 'Apa Daddy menyewa orang untuk mencariku?' Ia memang tidak mengenali mobil itu.

Collins merubah suaranya sedikit serak. Apalagi kulitnya sedikit kecoklatan sejak sering naik motor. "Eh, sepertinya bukan orang sini. Saya belum pernah melihat orang ini selama Saya ngojek di sini." Ia mengembalikan foto itu.

"Oh, begitu ya? Terima kasih." Pria itu sekilas melihat ke arah Collins. Buru-buru Collins menunduk. Pria itu kemudian kembali ke mobil. Sempat ia bicara sebentar dengan pria yang menyetir mobil sebelum mobil itu pergi.

Collins menghela napas lega. 'Apa kira-kira mereka percaya ya? Ck, bagaimana ini, mereka sudah sampai di sini.' Ia ingin menggaruk-garuk kepala tapi ada helm di kepalanya!

****

Collins tengah melayani pembeli di warung Babe ketika menyadari ada Aida ikut mengantri. Wanita itu berada di belakang seorang ibu yang berbadan gemuk. Ketika ibu itu bergeser ke belakang, Collins dengan cepat meraih tangannya. "Ibu, di belakang ada orang!"

Ibu itu memutar wajahnya ke belakang. Saat itulah, pria itu melepasnya. Aida yang tidak tahu ada apa, hanya diam menunggu.

"Oh, Ustadzah Aida?" sahut ibu itu.

"Iya, bu?"

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!