NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:505
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tabrakan Takdir dan Ilusi Sebuah Tatapan

Hari pertama perkuliahan adalah sebuah gerbang transisi yang megah. Berbeda dengan masa putih abu-abu di mana jadwal diatur oleh bel sekolah dan belas kasihan wali kelas, dunia universitas adalah rimba kebebasan yang menuntut kemandirian absolut. Udara pagi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pelita Bangsa terasa bergetar oleh antusiasme ribuan mahasiswa baru yang berlalu-lalang mencari ruang kelas mereka.

Anandara melangkah menyusuri koridor gedung fakultas dengan langkah yang anggun dan percaya diri. Penampilannya hari ini sederhana namun memancarkan kelas yang tak bisa diabaikan; ia mengenakan kemeja katun berwarna biru muda yang dimasukkan rapi ke dalam celana bahan hitam lurus, dipadukan dengan sepatu loafers kulit. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai bebas, membingkai wajah cantiknya yang kini dihiasi oleh aura ketenangan yang ramah.

Sinta, Ami, Kiera, Rehan, dan Reza sudah berangkat lebih dulu ke ruang kelas Pengantar Akuntansi I di lantai tiga untuk "mengamankan wilayah" alias mem-booking enam kursi berderetan di barisan tengah. Anandara sendiri harus mampir ke perpustakaan pusat sebentar untuk meminjam buku referensi tebal berjudul Principles of Accounting edisi terbaru yang direkomendasikan silabus mereka.

Dengan buku setebal batu bata itu di pelukannya, Anandara berjalan menuju tangga utama. Sambil berjalan, ia membuka halaman pertama buku tersebut, matanya mulai memindai daftar isi dengan kecepatan membaca yang di atas rata-rata. Ia begitu fokus pada struktur materi yang akan ia hadapi semester ini, mengabaikan keramaian koridor yang penuh sesak oleh mahasiswa yang terburu-buru.

Di saat yang bersamaan, dari arah tikungan koridor yang berlawanan, seorang pemuda bertubuh tinggi tegap sedang berjalan setengah berlari. Pemuda itu mengenakan kaus polos hitam yang dibalut kemeja flanel kotak-kotak yang tidak dikancingkan, serta celana jeans gelap. Tangan kirinya memegang ponsel yang menempel di telinganya, sementara tangan kanannya menenteng sebuah tas ransel dengan asal-asalan.

"Iya, Dimas, bawel banget sih lo. Gue udah di lantai dua ini. Lo booking kursi belakang kan buat gue sama lo?" suara bariton pemuda itu terdengar sedikit tidak sabar menanggapi temannya di ujung telepon. "Gue tadi kesiangan gara-gara... ah, udahlah, nanti gue ceritain. Ini gue jalan cepet ke kelas. Jangan sampai dosennya masuk duluan."

Pemuda itu memutar tubuhnya di tikungan koridor tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.

Di sisi lain, Anandara yang sedang membalik halaman buku tebalnya terus melangkah maju tanpa melihat ke depan.

Kalkulasi fisika paling dasar terjadi: dua objek dengan massa dan kecepatan tertentu bergerak dalam satu lintasan yang berpotongan tanpa adanya gaya pengereman.

Bruk!

Tabrakan itu tidak bisa dihindari. Bahu kanan pemuda itu menghantam keras bahu kiri Anandara.

Karena perbedaan postur dan momentum, Anandara terhuyung ke belakang. Keseimbangannya goyah. Buku Principles of Accounting yang berat itu terlepas dari pelukannya, jatuh menghantam lantai keramik dengan suara braak yang cukup keras hingga membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh.

"Ah..." Anandara merintih pelan, memegangi bahu kirinya yang terasa berdenyut nyeri.

"Astaga, sorry, sorry! Gue nggak lihat jalan," ucap pemuda itu dengan panik. Ia langsung mematikan sambungan teleponnya, mengabaikan omelan Dimas di seberang sana, lalu segera berjongkok untuk mengambil buku tebal yang terjatuh itu.

Anandara yang juga reflek ingin mengambil bukunya, ikut berjongkok.

Tangan mereka terulur di saat yang bersamaan. Ujung jemari Anandara yang dingin tanpa sengaja bersentuhan dengan punggung tangan pemuda itu yang terasa hangat. Sebuah sengatan listrik statis yang sangat kecil, namun cukup untuk membuat keduanya menarik tangan mereka sedetik kemudian.

Anandara mengangkat wajahnya, bersiap untuk memberikan senyum sopan dan mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, sebuah kebiasaan baru yang ia bangun untuk menjadi pribadi yang ramah.

Namun, saat matanya bertemu dengan mata pemuda di depannya, senyum yang sudah berada di ujung bibir Anandara seketika membeku.

Waktu di koridor yang ramai itu seolah kehilangan detakannya. Suara bising mahasiswa yang berlalu-lalang mendadak diredam (dimute) dari telinga Anandara.

Di depannya, berjongkok seorang pemuda dengan wajah luar biasa tampan, garis rahang yang tegas, dan hidung yang mancung. Tapi bukan ketampanan fisiknya yang membuat napas Anandara tercekat. Melainkan sepasang mata pemuda itu. Mata yang sangat tajam, kelam, setajam elang yang sedang mengintai, namun di saat yang bersamaan menyimpan sebuah kedalaman yang tak bisa dijangkau oleh logika mana pun. Mata itu menatap langsung ke dalam jiwa Anandara, seolah sedang membongkar paksa dinding titanium yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, pemuda itu—Angga Raditya—merasakan hantaman yang jauh lebih dahsyat.

Saat gadis itu mendongak dan menatap matanya, jantung Angga seakan berhenti berdetak sesaat. Bola matanya sedikit melebar. Otaknya langsung memanggil ulang sebuah memori dari beberapa bulan yang lalu. Memori di sebuah koridor mall. Memori tentang seorang gadis berblus putih yang tertawa sangat lepas, gadis yang senyumannya telah menyabotase ruang pikirannya setiap malam sejak hari itu.

Angga adalah tipe laki-laki yang sangat rasional, pendiam, dan terkenal sangat sulit jatuh cinta. Ketampanannya dan pembawaannya yang penuh kharisma membuat banyak perempuan secara sukarela mendekatinya sejak ia masih duduk di bangku SMA, namun Angga selalu menolak mereka semua. Ia bukan playboy. Baginya, cinta bukanlah sebuah permainan untuk memuaskan ego; cinta adalah sesuatu yang sakral, sesuatu yang belum pernah ia temukan alasannya, sampai ia melihat senyuman gadis ini di mall waktu itu. Ia telah mencari wajah ini di keramaian kampus selama masa Ospek, dan kini, takdir menabrakkannya tepat ke pelukan gadis itu.

Ini dia, batin Angga berteriak. Ini gadis itu.

Jarak mereka sangat dekat. Anandara bisa mencium aroma peppermint dan samar-samar wangi musk dari tubuh Angga. Di detik itu juga, sebuah anomali medis terjadi di dalam tubuh Nyonya Es itu.

Deg... deg... deg-deg-deg-deg!

Jantung Anandara, yang biasanya selalu berdetak dalam ritme yang stabil dan terkendali, tiba-tiba memompa darah dengan kecepatan yang sangat liar dan tidak beraturan. Ada desiran aneh yang mengalir dari dadanya menjalar ke ujung-ujung jari tangannya. Perutnya terasa seperti dipenuhi oleh ribuan kepakan sayap kupu-kupu yang memberontak ingin keluar. Wajahnya terasa memanas.

Kepanikan absolut seketika melanda otak Anandara.

Apa ini? Penyakit apa ini?! alarm pertahanan di kepalanya meraung keras. Trauma masa lalunya bangkit, berteriak memperingatkan bahwa perasaan aneh yang berdebar ini adalah gejala dari virus mematikan bernama cinta. Virus yang telah membuat ibunya menjadi monster. Virus yang ia benci setengah mati.

Dengan gerakan yang sangat kaku dan tergesa-gesa, Anandara memutuskan kontak mata itu secara paksa. Ia merampas buku tebalnya dari lantai, berdiri dengan cepat hingga sedikit terhuyung mundur, lalu memeluk buku itu erat-erat di dadanya seperti sebuah perisai anti peluru.

"Nggak apa-apa. Saya yang salah karena jalan sambil baca," ucap Anandara dengan nada yang sangat cepat, suaranya kembali datar dan dingin seperti saat ia masih berada di kelas sepuluh SMA. Ia menundukkan pandangannya, menolak untuk menatap mata elang itu lagi.

Angga ikut berdiri, masih tertegun melihat perubahan drastis pada sikap gadis di depannya. Gadis yang di mall terlihat sangat ceria dan hangat itu tiba-tiba berubah menjadi sebongkah es yang sangat kaku.

"Maaf, bahu lo nggak apa-apa?" tanya Angga, suaranya yang berat dan dalam mengalun, entah mengapa membuat dada Anandara semakin sesak. Angga ingin menanyakan namanya, ia ingin bertanya dari jurusan apa gadis ini berasal, ia ingin menahan waktu sedikit lebih lama.

Namun, ponsel di tangan Angga kembali bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Dimas' dengan rentetan pesan beruntun: "Woy! Dosennya udah jalan ke arah kelas! Buruan, anjing!"

Angga mengumpat pelan dalam hati. Ia melihat ponselnya, lalu menatap Anandara dengan raut wajah penuh penyesalan. "Gue beneran minta maaf. Gue harus buru-buru ke kelas, dosennya udah mau masuk. Sekali lagi sorry ya."

Anandara hanya mengangguk kaku tanpa menoleh.

Dengan berat hati, Angga akhirnya berlari menyusuri koridor, meninggalkannya. Namun sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu tangga, Angga menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang sekali lagi, mengunci sosok gadis berbuku tebal itu dalam ingatannya. Ia akan mencarinya lagi nanti. Pasti.

Sepeninggal Angga, Anandara masih berdiri mematung di tengah koridor. Tangan kirinya tanpa sadar naik meremas kemejanya, tepat di atas posisi jantungnya. Detaknya masih berantakan. Napasnya masih sedikit memburu.

Ia memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa sakit. Logika, Nanda. Gunakan logikamu, perintahnya pada diri sendiri. Ini cuma reaksi hormonal akibat adrenalin karena kaget ditabrak orang. Ini refleks fight or flight (lawan atau lari). Bukan apa-apa. Bukan apa-apa!

Ia menarik napas panjang, menahannya selama lima detik, lalu menghembuskannya perlahan untuk menurunkan ritme jantungnya. Ia harus segera membekukan kembali hatinya sebelum ada celah yang terbuka. Setelah dirasa cukup tenang, Anandara mengatur kembali ekspresi wajahnya menjadi biasa, dan melangkah menuju ruang kelas Pengantar Akuntansi I.

Ruang kelas teater berbentuk setengah lingkaran itu sudah terisi hampir penuh. Di barisan tengah, Sinta melambaikan tangannya dengan heboh ke arah Anandara yang baru saja masuk dari pintu depan.

"Nanda! Sini, sini!" panggil Sinta.

Anandara berjalan menghampiri teman-temannya dan duduk di kursi kosong yang diapit oleh Sinta dan Kiera. Rehan dan Reza duduk di barisan depan mereka, sementara Ami duduk di sebelah Kiera.

"Lo ke perpustakaan apa nyetak bukunya sendiri sih, Nan? Lama bener," gerutu Rehan sambil memutar kursinya ke belakang menghadap Anandara. "Gue udah mules nih nungguin dosennya masuk. Katanya Dosen Pengantar Akuntansi I ini galaknya ngalahin ibu tiri."

"Antreannya panjang, Han," bohong Anandara dengan wajah datar, berusaha menyembunyikan insiden tabrakan tadi. Ia meletakkan bukunya di atas meja dan mengeluarkan kotak pensilnya. "Kalian udah baca materi silabus bab satu?"

"Boro-boro baca materi, Nan. Kita dari tadi sibuk cuci mata!" sahut Sinta dengan mata berbinar-binar. "Gila ya, anak-anak jurusan Akuntansi tahun ini tuh visualnya nggak main-main. Tadi ada beberapa cowok cakep yang lewat, rasanya gue pengen pindah circle aja."

"Heh, penghianat lo!" Reza melempar gumpalan kertas kecil ke arah Sinta. "Kita ini cowok-cowok tampan kebanggaan SMA 1! Jangan meremehkan pesona gue dan Rehan."

"Pesona lo berdua mah setara sama pesona tukang parkir depan kampus," cibir Kiera yang langsung disambut tawa oleh Ami dan Anandara.

Obrolan mereka terhenti saat pintu kelas di bagian belakang—yang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa yang datang mepet waktu—terbuka.

Seorang pemuda masuk dengan napas sedikit terengah. Kemeja flanelnya masih tidak dikancingkan, kaus hitamnya terlihat pas di badan. Wajahnya yang kelewat tampan, dipadukan dengan aura misterius dan tatapan mata yang sangat tajam, seketika membungkam obrolan di beberapa barisan belakang. Pemuda itu berjalan dengan tenang, tak memedulikan bisik-bisik kagum dari para mahasiswi yang dilewatinya. Ia menuju ke barisan kursi paling belakang, duduk di sebelah seorang pemuda pendiam berkacamata yang sudah melambaikan tangan padanya—Dimas.

Anandara yang kebetulan sedang merapikan tasnya, menoleh ke arah pintu belakang karena mendengar suara decitan pintu.

Napasnya kembali tercekat. Pensil yang baru saja ia keluarkan dari kotak pensilnya menggelinding jatuh ke lantai.

Di kursi paling belakang sana, berjarak empat baris di belakangnya dan sedikit serong ke kanan, duduk pemuda yang menabraknya tadi.

Dia... dia satu kelas denganku? batin Anandara meronta. Dunia terasa mempermainkannya. Dari ribuan mahasiswa Akuntansi yang terbagi menjadi puluhan kelas, bagaimana probabilitas matematikanya ia bisa satu kelas dengan pemuda yang dalam lima menit berhasil mengacaukan ritme jantungnya? Ini tidak masuk akal.

Di saat yang bersamaan, Sinta, Kiera, dan Ami yang juga menoleh ke belakang langsung terbelalak.

"Sumpah... mati gue," bisik Sinta dengan suara gemetar, tangannya mencengkeram lengan Anandara dengan sangat kuat. "Nan... lo lihat cowok yang baru masuk itu nggak? Yang duduk di pojok belakang? Gila, gantengnya nggak manusiawi! Auranya tuh... cool parah, kayak kulkas dua pintu tapi versi hot!"

"Iya, Sin, gue lihat. Tadi cewek-cewek di barisan depan juga pada bisik-bisik soal dia waktu dia jalan masuk," tambah Ami berbisik heboh.

Anandara menelan ludah dengan susah payah. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, menatap papan tulis kosong seolah itu adalah hal paling menarik di dunia. "Biasa saja. Dia punya mata, hidung, dan mulut. Proporsi anatominya normal. Nggak ada yang istimewa."

"Lo mah emang dari dulu matanya siwer kalau soal cowok cakep!" omel Sinta.

Di kursi belakang sana, Angga yang baru saja duduk dan mengatur napasnya, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Tadi ia tidak sempat melihat jelas dari pintu depan. Kini, matanya yang tajam menyapu barisan demi barisan, mencari sosok berambut hitam panjang yang ia tabrak di koridor tadi.

Tatapan elang Angga bergerak melewati puluhan kepala, hingga akhirnya berhenti dan terkunci pada satu titik di barisan tengah.

Meski gadis itu sedang menghadap ke depan dan hanya terlihat punggung serta profil samping wajahnya, Angga bisa mengenalinya dalam sekejap. Garis rahangnya, rambut hitamnya yang tergerai, dan kemeja biru mudanya. Gadis itu ada di sini. Di kelas yang sama dengannya.

Sebuah senyum sangat tipis—senyum pertama yang ia keluarkan hari itu—tercetak di wajah Angga. Takdir memang sedang berpihak padanya. Ia tidak perlu repot-repot mencari ke seluruh penjuru fakultas, karena semesta meletakkan gadis itu tepat di depan matanya.

Tanpa ragu sedikit pun, Angga memusatkan seluruh atensinya, menatap intens ke arah punggung Anandara. Ia tidak memedulikan mahasiswi lain yang curi-curi pandang ke arahnya. Fokusnya hanya satu. Ia ingin menembus pertahanan es gadis itu.

Sinta, yang masih penasaran dengan pemuda tampan itu, kembali menoleh ke belakang untuk mencuri pandang.

Tepat pada detik itu, mata Sinta beradu dengan arah pandangan Angga.

Karena posisi duduk Sinta dan Anandara yang bersebelahan sangat rapat, dari sudut pandang Sinta, tatapan tajam dan intens yang dipancarkan oleh Angga terlihat seolah-olah ditujukan tepat kepadanya. Sinta melihat mata elang itu tidak berkedip menatap ke arah tempat duduknya.

Tubuh Sinta seketika menegang. Aliran darahnya berdesir hebat, memompa darah ke area wajahnya dengan sangat cepat. Pipi putih Sinta berubah merah merona seperti tomat ceri yang matang. Tangannya secara refleks naik menyentuh pipinya sendiri yang tiba-tiba terasa panas.

Sinta buru-buru memutar tubuhnya menghadap ke depan. Jantungnya berdebar sangat kencang, sebuah debaran khas cinta pada pandangan pertama yang sering ia baca di novel-novel teenlit.

Sinta mendekatkan wajahnya ke telinga Anandara. Tangannya mencengkeram ujung kemeja Anandara dengan gemetar saking excited-nya.

"Nan... Nan..." bisik Sinta dengan napas tertahan, matanya berbinar-binar penuh euforia. "Cowok itu... cowok ganteng di belakang itu... dia ngeliatin gue, Nan. Tatapannya tajem banget, nyaris nembus jantung gue."

Anandara yang sejak tadi berusaha mati-matian menetralkan detak jantungnya sendiri, menoleh ke arah Sinta dengan sedikit kebingungan. "Ngeliatin lo?"

"Iya! Tadi gue nengok ke belakang, dan matanya lurus natap gue, Nan! Nggak berkedip!" Sinta tersenyum malu-malu, menutupi sebagian wajahnya dengan kedua tangannya. "Ya ampun, apa dia love at first sight ya sama gue? Apa jepit rambut pita gue ini ngasih aura cute yang memikat hati cowok cool?"

Mendengar itu, sebuah dorongan rasa penasaran yang aneh memaksa Anandara untuk menoleh sedikit ke arah belakang. Melalui sudut matanya, ia melihat Angga.

Dan pada detik itu juga, tatapan Angga dan Anandara kembali bertabrakan.

Tatapan pemuda itu masih berada di titik yang sama. Lurus, tajam, dan penuh dengan arti yang tak terucapkan. Angga sama sekali tidak melihat ke arah Sinta. Fokus matanya sedari tadi, detik ini, dan seterusnya, secara presisi terkunci pada manik mata hitam legam milik Anandara.

Deg! Jantung Anandara kembali berdetak brutal, seolah ingin menjebol tulang rusuknya. Ia langsung memutus kontak mata itu, memalingkan wajahnya kembali ke depan dengan sangat cepat hingga lehernya terasa kaku. Keringat dingin mulai merembes di telapak tangannya.

Ia baru saja menyadari kenyataan yang mengerikan: Angga tidak sedang menatap Sinta. Laki-laki bermata tajam itu sedang menatapnya.

Namun di sebelahnya, Sinta sedang tersipu malu, dilanda oleh kebahagiaan dan harapan yang membumbung tinggi. Sinta, sahabat yang telah menyelamatkan nyawanya, Sinta, rumah satu-satunya yang ia miliki di dunia ini, telah jatuh cinta pada pemuda yang sama yang tatapannya membuat jantung Anandara kehilangan logikanya.

Tidak, batin Anandara menjerit, membanting pintu hatinya dan menguncinya dengan berlapis-lapis rantai baja secara paksa. Ini salah. Semuanya salah. Laki-laki ini adalah ancaman. Dia akan menghancurkan kami.

Anandara menarik napas dalam-dalam, mengubur hidup-hidup debaran aneh di dadanya jauh ke dasar palung jiwanya yang paling gelap. Ia mengubah raut wajahnya menjadi senyuman palsu yang hangat, menoleh ke arah Sinta, dan meletakkan tangannya di atas tangan sahabatnya yang gemetar itu.

"Mungkin aja, Sin," jawab Anandara dengan suara lembut yang membohongi nuraninya sendiri. "Siapa sih yang nggak tertarik sama cewek seceria dan secantik lo? Kalau dia beneran ngeliatin lo, berarti matanya normal."

Sinta terkikik geli, memeluk lengan Anandara dengan manja. "Lo bisa aja deh, Nan. Doain ya, semoga semester ini status jomblo ngenes gue berakhir di pelukan pangeran es itu."

Anandara memaksakan sebuah anggukan, meski hatinya terasa diremas oleh sebuah firasat buruk yang sangat pekat. Ia telah memutuskan posisinya hari ini. Ia akan berpura-pura tidak melihat apa pun, tidak merasakan apa pun, dan merelakan segalanya demi melindungi kebahagiaan Sinta. Ia rela berbohong pada dunia, pada Sinta, dan pada dirinya sendiri, asalkan rumah persahabatannya tidak runtuh.

Di belakang sana, Angga Raditya masih menatap ke depan, tak menyadari bahwa kesalahpahaman kecil tentang arah tatapannya siang ini telah menjadi bibit dari sebuah luka, kebohongan panjang, dan permusuhan yang akan merobek-robek hati mereka semua di masa depan.

Kisah cinta segitiga yang menyayat hati itu, secara resmi, telah dimulai.

Bersambung...!

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!