Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Aldo
Jangan lupa transfer
1467-xxxxx
Sarah membaca pesan itu lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku rok nya. Kini ia berjalan tanpa arah ke tengah kota. Mobil yang dikendarainya, ia tinggalkan di hotel. Sepertinya membawa mobil dalam keadaan seperti ini tidak baik untuk keselamatan nya sehingga ia memilih untuk berjalan kaki.
Hari sudah semakin malam. Tidak peduli sudah berapa lama Sarah berjalan, ia tidak merasakan apapun. Setelah puas menangis, asmanya kembali kambuh sehingga lagi-lagi ia harus bergantung pada inhalernya.
Kini Sarah hanya berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah.
Di tengah perjalanan mata sebabnya dan tak sengaja menangkap sebuah iklan yang terpampang jelas di balik kaca sebuah toko. Iklan itu sedang mempromosikan produk alat pemanggang yang biasa digunakan keluarga saat berlibur.
Sarah tersenyum kecut, ia ingat beberapa minggu yang lalu sebelum ia pergi berlibur ke villa. Orang tuanya sudah berjanji akan mengajaknya berlibur bersama. Saat itu ia merasa sangat bahagia dan menantikan janji itu terpenuhi, tapi sekarang tidak lagi.
Gadis itu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Kayla di sana.
"Halo, Sarah." Siapa Kayla di seberang sana.
"Halo, Kay. Lo lagi ngapain?" Cara berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja. Sembari membalas ucapan Kayla kakinya pun kembali melangkah.
"Gue lagi kerja nih. Kenapa? Tumben banget."
Sarah tidak menjawab.
",,,Lo ada masalah?" Terdengar nada khawatir di sana. Sarah segera menggelengkan kepalanya meskipun kaya tidak bisa melihat itu.
"Ah, enggak kok. Gue lagi bosen nih, tadinya gue mau ajak jalan. Tapi ternyata lo lagi kerja. Ya udah deh lo lanjut aja, Maaf ya kalau gue ganggu Lo."ucap Sarah.
"Oh iya, nggak apa-apa kok. Maaf juga ya gue nggak bisa nemenin lo jalan. Nanti deh kapan-kapan kita jalan, oke?"
"Oke."
Telepon pun terputus, setelahnya dia kembali mencari kontak Tamara untuk menelepon gadis itu.
"Halo Sar, maaf nih lo telepon lagi nanti ya. Gue lagi di rumah sakit, kakak sepupu gue mau lahiran."
"Oh iya, maaf ya gue ganggu." Ucap Sarah tidak enak.
"Gak apa-apa kok. Nanti gue telepon lagi ya. Bye."
Sarah memutuskan sambungan teleponnya, cimarinya ke Bali bergerak berniat akan menghubungi nomor Fabian, tapi dia urungkan. Rasanya iya masih merasa canggung karena kejadian tadi pagi.
Kini Sarah tidak tahu harus menelepon siapa lagi, ia bahkan tidak memiliki teman selain mereka. Menelpon Marvin pun sepertinya percuma, laki-laki itu tidak pernah mengangkat telepon darinya.
Langkah Sarah pun terhenti, tanpa dia sadari kakinya membawanya ke depan sebuah kedai ramen. Gadis itu tersenyum kecut, bisa-bisanya tanpa sadar dia malah melangkah ke tempat ini.
Sarah pun berbalik, berniat untuk pergi dari sana, namun baru saja akan melangkah seseorang memanggilnya.
"Sarah?"
Sarah pun menoleh ke belakang, ia dapat melihat Marvin berdiri di depan kedai dengan tangan yang membawa kantong sampah.
Marvin berjalan mendekat ke arah Sarah, kemudian kantor sampah yang dia bawa diletakkan di samping tempat sampah tak jauh dari tempat di mana Sarah berdiri sekarang.
"Mau masuk?" Tawarnya, tentu dengan wajah datarnya seperti biasa.
Sarah mendongak, ia pun mengintip ke dalam kedai yang sudah sepi." Bukannya Udah mau tutup?"
Marvin menyentuh hidungnya yang tidak gatal." Belum."
Sarah masih terdiam, ragu-ragu untuk menerima tawaran Marvin. Tanpa diduga perutnya tiba-tiba berbunyi sehingga ia harus menekan perutnya. Sarah menunduk malu, bisa-bisanya hal memalukan ini terjadi lagi di depan laki-laki itu.
"Masuk aja, gue masakin makanan buat lo."ucap Marvin kemudian berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam kedai.
Sarah pun akhirnya pasrah mengekor di belakang Marvin, ia kemudian duduk di tempat yang pernah ia tempati saat pertama kali makan di sini.
"Loh, kok masih ada pelanggan?"tanya seseorang yang salah tahu adalah seorang pramusaji di kedai itu, orang itu baru saja keluar dari arah dapur dengan pakaian rapi sepertinya bersiap untuk pulang.
"Maaf ya Kak, katanya sudah mau tutup."
Marvin berdahak menginterupsi ucapan orang itu. Kemudian Marvin dan pramusaji itu pun saling bertatapan.
"Ah, temannya Marvin ya? Ya udah deh kak lanjut aja, saya pamit duluan ya."ucap pramusaji itu lalu keluar dari kedai.
"Lu bilang tadi katanya belum tutup?"katanya Sarah mau nantab Marvin untuk meminta penjelasan, Tapi laki-laki itu pura-pura tidak mendengar, dia malah fokus melanjutkan aktivitas memasaknya.
Tidak lama makin menyajikan semangkok keramian yang sama persis seperti yang pernah dia pesan dulu.
"Makan."suara yang terdengar seperti perintah itu mampu membuat tangan Sarah terangkat untuk mengambil sumpit.
Tapi lagi-lagi Sarah terdiam, sumpit yang dipegangnya berhenti di atas ramen itu. Lalu beberapa detik kemudian Sarah akhirnya menyantap ramen di depannya itu.
"Panas,,," ucap gadis itu lalu tangan kirinya terangkat mengipasi lidahnya yang terasa panas. Tanpa sadar air matanya juga ikut menetes bersamaan dengan rasa panas yang masih menjalar di area mulutnya.
"Duh, gue ceroboh banget sih," guman gadis itu, kemudian mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya. Menyadari air matanya yang ikut menetes, Sarah buru-buru menghapusnya berharap Malvin tidak melihatnya.
Sarah segera menghabiskan makanan itu dan langsung menegak habis minumannya.
"Gue udah selesai, semuanya berapa?" Tanya Sarah sembari mengeluarkan dompetnya.
"Gak perlu,"jawab Martin sembari membersihkan sisa-sisa sampah di dapur.
"Nggak bisa gitu dong, gue kan udah makan di sini dan harusnya gue bayar."
"Gua bilang nggak usah," ucap Marvin lagi.
Sarah pun terdiam, ia kemudian mengucapkan terima kasih pada Martin kemudian mangkat dari kursinya.
"Tunggu, gue anter Lo pulang."
Sarah baru saja ingin membantah tapi ucapan laki-laki itu selanjutnya membuatnya langsung terdiam."jangan buat gue ngomong untuk yang kedua kalinya."
Beberapa saat kemudian, saat Marvin sudah selesai dengan pekerjaannya. Keduanya pun berjalan ke arah parkiran belakang tempat di mana motor Marvin terparkir.
"Gue nggak mau pulang,"ucap Sarah tiba-tiba setelah sampai di depan motor Marvin.
"Kenapa?" tanya Marvin seraya meletakkan kembali helmnya.
Sarah tidak menjawab.
"Terus lu maunya ke mana?"katanya Marvin lagi.
Sarah tidak menjawab.
"Gue antar pulang ya,"ucap Marvin kemudian.
"Gak mau."
"Sarah."suara Martin semakin berat, menekankan bahwa sara sebaiknya menurut padanya.
"Kalau lo tetap maksa anterin gue pulang, lebih baik lo tinggalin gue aja di sini,"ucap Sarah memalingkan lalu wajahnya.
Marvin menghela napas, ia lalu mencoba menarik lengan Sarah supaya naik ke atas motor tapi langsung ditepis oleh gadis itu.
"Gue bilang gue nggak mau pulang! Kenapa sih lo maksa?!"
Dada gadis itu naik turun menahan emosi, nafasnya memburu, tidak lama air matanya kembali turun. Tubuh gadis itu bergetar, berusaha menahan tangisnya. Ia lalu mencoba menghapus air matanya dengan punggung tangan tapi air mata itu tidak ingin berhenti.
"Sial! Sial!"guman Sarah tak henti-henti dengan suara bergetar. Gadis itu sangat kesal, Sarah paling tidak ingin menangis di depan laki-laki ini. Dan sialnya sekarang dia malah menangis di hadapan Marvin.
"Gara-gara lo,, kalau aja lo nggak maksa gue-"ucapan gadis itu tertahan karena isakannya yang semakin terdengar.
Marvin kemudian mendekat selalu mengelus kepala Sarah secara perlahan, sedetik kemudian tangan itu lagi-lagi ditepis oleh Sarah. Gadis itu menatap Marvin dengan tatapan bingung karena tindakan tidak terduganya.
Marvin lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal." Biasanya kalau Kayla nangis pasti bakal lebih tenang kalau kepalanya diusap kayak gitu." Ucap laki-laki itu.
"Tapi gue nggak butuh itu." Ucap Sarah masih berusaha mengatur nafasnya karena sesak.
"Terus?"
"Peluk boleh?" Tanya gadis itu tanpa menatap ke arah Marvin. Sejujurnya ia menyesal menanyakan hal itu karena laki-laki itu pasti akan menolaknya. Tapi tanpa diduga kangen Martin meraih tangannya dan menarik tubuhnya masuk ke dalam dekapan laki-laki itu.
"Maksudnya kayak gini?"bisik laki-laki itu pelan. Lalu tangannya menepuk-nepuk pelan punggung sarang seakan memberi kenyamanan.
Sarah terkejut dengan gerakan laki-laki itu yang tiba-tiba, dekapan hangat yang benar-benar membuat Sarah merasa lebih nyaman. Tanpa Sarah sadari ia berhenti menangis, entah karena dirinya shock dengan perlakuan Martin yang tiba-tiba atau memang rasa nyaman yang diberikan laki-laki itu membuatnya merasa tenang.
"Beneran berhenti ternyata,"ucap laki-laki itu tanpa melepaskan pelukannya.