Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka di Dalam Mimpi
---
Pulau Bira Tengah. Rumah Kakek Samin dan Nenek Darmi.
Dua minggu telah berlalu sejak Florence terdampar. Lukanya di kaki dan lengan sudah mengering. Berat badannya mulai kembali meski perlahan. Setiap pagi, Nenek Darmi menyuapinya bubur sumsum. Setiap sore, Kakek Samin mengajarinya merajut jaring ikan di teras rumah panggung mereka.
Damai. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Florence merasakan apa itu damai.
Namun, damai itu hanya milik siang hari. Malam hari adalah milik Lucifer.
Malam pertama, Florence terbangun dengan jeritan tertahan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Nenek Darmi yang tidur di sebelahnya segera memeluk.
“Mimpi buruk, Nak? Nggak apa-apa. Di sini aman.”
Florence hanya mengangguk. Ia tidak sanggup bercerita. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa dalam mimpinya, ia kembali berada di kamar penjara itu? Dindingnya masih bergaris tiga puluh tiga goresan. Jendelanya masih terkunci.
Bedanya, di mimpi itu, pintunya terbuka. Dan Lucifer berdiri di sana.
Malam ketujuh, mimpinya semakin nyata.
Lucifer berjalan mendekat. Langkahnya tidak bersuara. Mata birunya tidak sedingin biasanya. Ia kosong. Hampa. Seperti mayat yang berjalan.
“Kamu pikir bisa kabur dari aku, Florence?” suaranya bergema di seluruh kamar, padahal bibirnya tidak bergerak.
Florence mencoba berlari, tetapi kakinya terpaku di lantai. Ia mencoba berteriak, tetapi suaranya hilang.
Lucifer berhenti tepat di depannya. Jaraknya hanya sejengkal. Ia mengangkat tangan, bukan untuk mencengkeram dagunya, melainkan untuk menyentuh pipi Florence. Sentuhannya dingin. Sedinding mayat.
“Aku bilang, kan? Utang nyawa dibayar nyawa. Kamu hidup karena aku. Jadi kalau kamu mati... harus di tanganku.”
Dingin itu menjalar dari pipi ke jantungnya. Florence merasa paru-parunya membeku. Ia tidak bisa bernapas.
“Kamu milikku. Di dunia nyata, di dunia mimpi, di neraka sekalipun. Kamu tidak akan pernah bebas, Florence Beatrix.”
Florence terbangun dengan tersengal. Napasnya putus-putus. Tangannya meraba leher, memastikan tidak ada bekas cekikan. Dadanya naik turun dengan cepat.
“Kakek... Nek...” lirihnya.
Kakek Samin yang sedang salat malam segera menghampiri dengan lampu teplok di tangan. “Mimpi lagi, Nak?”
Florence mengangguk. Air matanya jatuh tanpa suara. Bukan air mata sedih. Air mata frustrasi. Ia sudah lari sejauh ini, sudah bersembunyi di tempat yang tidak akan pernah Lucifer temukan, tetapi iblis itu masih berhasil menyiksanya. Lewat mimpi.
“Orangnya... masih nyari saya, Kek,” bisik Florence. “Di mimpi... dia bilang saya nggak akan pernah bebas.”
Nenek Darmi mengusap punggung Florence dengan telapak tangannya yang kasar namun hangat. “Orang jahat, Nak, kekuasaannya cuma sampai bangun. Kalau sudah tidur, yang kuasa itu cuma Tuhan. Baca doa, Nduk. Minta dijaga.”
Florence mengangguk. Ia menggenggam salib kayunya yang berhasil ia selamatkan dari pulau itu. Ia berdoa. Lama. Memohon agar Tuhan menjaga alam bawah sadarnya.
Tetapi semakin ia berdoa, semakin ia merasa bersalah. Karena di sela-sela mimpi buruk itu, ada satu bagian yang tidak pernah ia ceritakan kepada Kakek dan Nenek.
Di akhir setiap mimpi, setelah Lucifer mengucapkan kalimat kejamnya, pria itu selalu berhenti sejenak. Menatapnya. Dan sorot mata birunya... bukan marah. Bukan benci.
Melainkan... terluka. Kosong. Seperti anak kecil yang kehilangan mainan satu-satunya.
Dan setiap kali terbangun, selain rasa takut, ada rasa sesak yang lain di dada Florence. Rasa yang ia benci. Rasa kasihan.
Tidak. Dia monster. Dia yang bikin aku begini. Dia yang bilang orang tuaku mati.
Florence memaksa dirinya tidur lagi. Namun, ia tahu. Malam besok, dan besoknya lagi, neraka itu akan datang kembali. Menagih utang yang tidak pernah ia akui.
---
Di pulau seberang, pada jam yang sama.
Lucifer terbangun dari tidurnya. Ia juga berkeringat. Di tangannya, remasan sprei yang robek.
Ia bermimpi. Mimpi yang sama selama tujuh hari terakhir.
Dalam mimpinya, ia berhasil menemukan Florence. Gadis itu berdiri di tepi pantai, punggungnya menghadap ke arahnya. Ketika Lucifer memanggil namanya, Florence menoleh.
Tetapi sebelum Lucifer bisa menyentuhnya, sebelum ia bisa memastikan Florence nyata, gadis itu hancur menjadi debu. Seperti kelopak mawar yang ia remas. Hilang tertiup angin. Dan yang tersisa hanya hampa.
Lucifer bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan ke jendela, menatap laut yang gelap.
“Di mana kamu?” bisiknya. “Kenapa di mimpi pun kamu masih kabur dari aku?”
Dua orang yang saling menyiksa. Satu terjaga karena takut ditemukan. Satu lagi terjaga karena takut tidak bisa menemukan.
Neraka itu ternyata bukan tempat. Neraka itu adalah jarak di antara mereka.
---