Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Tebakan Anna Tidak Pernah Meleset
"Anak kamu manja banget ya," keluh Anna lirih.
"Kamu harus terbiasa ya!" pinta Arya dengan senyum tipis. "Di masa depan anak-anak aku juga akan jadi anak kamu kan," ucapnya mengingatkan.
"Iya juga sih."
"Semoga kamu bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak."
"Aamiin," sahut Anna sok agamis. "Aku pasti bakalan jadi ibu yang baik untuk anak-anak kamu, Mas."
"Makasih ya, Sayang," cup, Arya mencium kening Anna.
"Oh iya, terus perhiasan yang ingin aku beli hari ini gimana, Mas?" ucap Anna mengingatkan. "Masa aku gagal dapetinnya," rajuk Anna manja.
"Kamu tenang aja. Kamu nggak bakalan gagal untuk dapetin semua perhiasan yang kamu mau karena sekarang kita akan langsung otw ke sana," cakap Arya yang membuat hati Anna berbunga-bunga dan melonjak kesenangan.
Tubuh Arya pun dipeluk oleh Anna secara refleks, "Makasih, Sayang."
"Iya, sama-sama. Yuk sekarang kita pergi ke Toko Perhiasan yang pengen kamu beli!" ajak Arya.
"Ayo sayang," angguk Anna yang langsung mengiyakan saja. "Eh tapi, bukannya hari ini kita ada meeting sama klien ya?" ucap wanita itu mengingatkan.
"Halah cuma klien kecil doang," remeh Arya. "Yang butuh jalinan kerja sama itu mereka bukan kita. Jadi ya kita ga perlu mentingin mereka lah. Cuma klien kecil doang juga."
"Ya udah deh kalau gitu. Ayo!" senyum Anna merekah.
Mereka berdua pun mulai melangkah menuju ke pintu keluar ruangan ini dengan langkah Anna yang masih sedikit tertatih-tatih.
Saat mereka berdua sudah hampir dekat dengan pintu keluar, Anna menghentikan langkahnya dan juga langkah Arya yang sedang memapahnya.
"Ada apa, An? Kok berhenti?" kernyit Arya dengan kepala yang menoleh pada Anna.
"Itu, Mas." tunjuk Anna pada jendela kaca ruang kantor ini.
"Itu jendela kan. Emang kenapa, Sayang?" tanya Arya bingung.
"Tirai jendela ruang kerja kamu kapan terbuka seperti itu?" Anna menatap ke arah Arya.
Lelaki dewasa itu pun mulai mengingat-ngingat lagi kapan tirai jendela kantornya terbuka.
"Kayaknya udah dari pagi deh," jawab Arya.
"Astaga," Anna berseru kaget.
"Memangnya kenapa, Sayang? Kok kamu keliatan kaget gitu?" bingung Arya yang masih belum paham dengan apa yang terjadi atau hal yang dicurigai oleh Anna.
"Mas, kayaknya kita udah ketahuan selingkuh deh sama istri kamu," ungkap Anna yang sangat tepat sekali tebakannya itu.
"Kamu jangan ngaco deh, An, hahaha," gelak Arya. "Mana mungkin Nisa sudah tahu tentang perselingkuhan kita. Kamu ada-ada aja sih kalau ngomong."
"Aku nggak lagi mengada-ada, Mas," yakin Anna. "Apa kamu nggak merasa curiga dengan perubahan sikap istrimu yang tadi sedikit mengesalkan. "Bukankah biasanya dia itu selalu manut apa katamu."
Arya pun terdiam dan mulai merenungkan perkataan selingkuhannya itu.
"Benar juga sih apa katamu, An," ucap lelaki itu yang akhirnya sepakat dengan pendapat Anna. "Tapi ... dari mana Nisa tahu tentang perselingkuhan kita?" tanya Arya yang masih belum paham dari mana sebabnya.
"Dari jendela, Mas." tunjuk Anna mantap. "Aku yakin banget, pasti istri kamu tadi ngintipin kita dari jendela itu dan kemungkinan besar dia pasti ngerekam adegan panas kita," tebak Anna.
"Tapi kenapa dia nggak langsung ngelabrak kita, Sayang?" heran Arya. "Biasanya itu kalau kita tertangkap basah sedang melakukan enak-enak, istri mana pun pasti akan langsung melabrak dan menangkap basah kita."
"Aku yakin dia ...." Anna menggantung kalimatnya.