NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:21.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

***

Sinar matahari pagi menyelinap masuk ke dalam ruang makan Mansion Hadiwinata yang megah, memantul pada peralatan makan perak yang tertata rapi. Nadia duduk di sana, menyandarkan punggungnya pada kursi ukiran jati. Meskipun semalam ia baru saja melahap mie nyemek buatan suaminya, pagi ini rasa lemas khas kehamilan masih menggelayuti tubuhnya. Wajahnya sedikit pucat, namun matanya berkilat tajam, tidak ada lagi ketakutan yang biasanya menyelimuti sosok Nadia yang lama.

Di atas meja, bukan bubur atau roti gandum yang tersaji. Melainkan dua buah durian kupas yang aromanya menyeruak ke seluruh penjuru ruangan.

"Ibu... apa tidak apa-apa makan durian pagi-pagi begini? Tuan Raditya dan Nyonya Besar sangat melarang ini," bisik Bi Sum cemas sambil meletakkan segelas air hangat.

Nadia tersenyum miring, menyuapkan seulas daging durian yang legit ke mulutnya. "Bi, bayi ini sedang ingin yang beraroma kuat. Dan tenang saja, durian ini justru akan menjadi senjata yang bagus untuk tamu yang sebentar lagi datang."

Baru saja Nadia hendak menyuap potongan ketiga, suara langkah kaki yang angkuh dan ketukan pantofel yang nyaring bergema dari lobi. Tanpa ketukan, pintu ruang makan terbuka lebar secara paksa.

Nyonya Sekar melangkah masuk dengan setelan blazer sutra berwarna gading, memancarkan aura old money yang intimidatif. Di belakangnya, seorang pria paruh baya berkacamata dengan wajah kaku menenteng tas medis mengikuti dengan patuh.

"Astaga! Bau busuk apa ini?! Apa tidak ada pelayan yang becus membersihkan sampah di rumah ini?" teriak Nyonya Sekar sambil menutup hidungnya rapat-rapat dengan sapu tangan sutra berinisial namanya.

Matanya membelalak lebar saat melihat Nadia sedang tenang menikmati durian tersebut. "Nadia! Kamu sudah kehilangan akal sehat? Kamu sedang mengandung pewaris tunggal Hadiwinata, dan kamu memakan makanan sampah berbau menyengat ini di pagi hari? Apa kamu ingin meracuni cucu saya?!"

Nadia menelan duriannya perlahan, lalu menatap mertuanya dengan tatapan sayu yang dibuat-buat, persis seperti bumil yang kelelahan. "Selamat pagi, Mama. Suara Mama pagi-pagi begini... merdu sekali, sampai cucu Mama kaget di dalam."

Nadia mengelus perutnya dengan lembut. "Maaf kalau Mama terganggu baunya. Tapi cucu Mama yang minta. Dia sepertinya bosan dengan makanan sehat rumah sakit yang terasa hambar. Dia ingin sesuatu yang... menantang dan dominan, persis seperti Papanya semalam yang tidak memberikan saya jeda untuk bernapas."

Wajah Nyonya Sekar seketika memerah padam, perpaduan antara malu karena disindir soal urusan ranjang anaknya dan amarah yang meledak. "Jaga bicaramu, Nadia! Kamu benar-benar tidak berpendidikan! Saya ke sini bukan untuk mendengar bualanmu."

Nyonya Sekar mengibaskan tangannya ke arah pria di belakangnya. "Saya membawa Dokter mumpuni di bidang kandungan, Dokter Wijaya. Dia adalah dokter kepercayaan keluarga besar kami selama puluhan tahun. Saya tidak percaya dengan dokter muda yang kamu pilih secara mandiri itu. Saya curiga kamu sengaja menyembunyikan sesuatu tentang janin itu, atau mungkin... kamu hanya berakting hamil?"

Dokter Wijaya melangkah maju, memperbaiki posisi kacamatanya dengan sikap dingin. "Permisi, Nyonya Nadia. Mari kita lakukan pemeriksaan menyeluruh di kamar. Saya perlu memastikan tidak ada komplikasi atau kelainan akibat pola makan dan aktivitas Anda yang... tidak teratur."

Nadia sama sekali tidak bergeming dari kursinya. Ia justru menyandarkan tubuhnya lebih dalam, memegangi pinggangnya yang masih linu. Senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya.

"Dokter Wijaya?" Nadia menggantung kalimatnya, seolah sedang mengingat-ingat. "Ah, nama yang sangat familiar di telinga saya. Bukankah Anda dokter yang juga sering menangani pemberesan masalah-masalah medis yang bersifat pribadi bagi para kolega dan petinggi di firma hukum Leksana & Co?"

Gerakan Dokter Wijaya terhenti seketika.

Wajahnya yang kaku mendadak berubah sedikit pucat. Nyonya Sekar mengerutkan kening, rahangnya mengeras. "Apa maksudmu membawa-bawa firma hukum sepupu saya, Nadia? Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!"

Nadia menyesap air hangatnya dengan anggun, lalu dari balik serbet makan yang menutupi pangkuannya, ia mengeluarkan sebuah tablet tipis. Jari-jarinya menggeser layar dengan lincah.

"Mama, saya tahu keluarga Mama sedang sangat prihatin dengan isu korupsi yang sedang menyerang Kakek Atmaja. Tapi yang saya tidak habis pikir..." Nadia memutar tabletnya, memperlihatkan deretan data dan aliran komunikasi digital di layar. "...kenapa firma hukum milik sepupu Mama, Leksana & Co, justru menjadi pihak pertama yang membocorkan dokumen palsu yang sudah dimodifikasi itu ke meja redaksi media massa?"

Suasana di ruang makan mendadak mencekam. Aroma durian yang tajam seolah-olah menjadi gas beracun yang menyesakkan dada Nyonya Sekar.

"Kamu... dari mana kamu mendapatkan informasi internal itu?" desis Nyonya Sekar, suaranya merendah namun penuh ancaman.

"Siapa yang membantumu? Raditya?"

Nadia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat cerdas, meremehkan, dan penuh kuasa. "Mama lupa siapa saya? Darah Atmaja itu darah politik, Ma. Kami terbiasa hidup di antara serigala. Saya mungkin terlihat lemas, pucat, dan hanya bisa diam di mansion karena kaki saya lemas dibuat anak Mama, tapi mata dan telinga saya ada di mana-mana. Jika Mama ingin menjatuhkan Kakek saya hanya untuk merebut asetnya lewat tangan Raditya, Mama sudah membuat perhitungan yang sangat salah."

Nadia kemudian mengalihkan pandangannya pada Dokter Wijaya yang kini mulai berkeringat dingin di bawah AC ruang makan yang sejuk.

"Dan Dokter Wijaya... saya sarankan Anda angkat kaki dari sini sekarang juga. Sebelum saya membeberkan laporan malpraktik terkait pengguguran kandungan ilegal seorang artis lima tahun lalu yang Anda lakukan, yang filenya ditutupi dengan sangat rapi oleh firma hukum tersebut. Saya tidak sudi tangan kotor yang penuh darah itu menyentuh perut saya dan anak saya."

"NADIA! Kamu benar-benar berani mengancam tamu saya di rumah anak saya sendiri?!" Nyonya Sekar berteriak histeris, suaranya melengking karena panik yang luar biasa.

Nadia berdiri dengan perlahan. Meskipun kakinya terasa sedikit gemetar karena kelemasannya yang nyata, ia tetap memaksakan diri berdiri tegak. Ia melangkah mendekat ke arah Nyonya Sekar, aroma durian yang menyengat dari tubuhnya kini benar-benar mengintimidasi sang mertua secara fisik.

"Saya tidak sedang mengancam, Mama. Saya hanya sedang melakukan tugas saya; melindungi milik saya," bisik Nadia tepat di telinga Nyonya Sekar dengan suara sedingin es. "Semalam Mas Raditya bilang berkali-kali di bawah guyuran shower bahwa saya adalah miliknya. Dan sebagai miliknya, saya punya kewajiban untuk memastikan tidak ada kutu busuk yang mencoba merusak rumah ini dari dalam, termasuk mereka yang bermarga sama dengan Mama."

Nadia kembali duduk dengan tenang, wajahnya seketika berubah kembali menjadi mode "bumil lemas" yang pucat. Ia memegangi dahinya.

"Duh, Ma... bicara panjang lebar begini membuat saya mual lagi. Aura negatif di ruangan ini terlalu kuat. Bi Sum! Tolong antar Mama dan Dokternya keluar. Oh ya, durian yang tersisa tolong dibungkus saja untuk oleh-oleh Dokter Wijaya. Sepertinya beliau butuh sesuatu yang manis untuk menenangkan sarafnya yang tegang."

Nyonya Sekar mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih dan menembus kulit telapak tangannya. Ia menatap Nadia dengan tatapan benci yang tak terbendung, namun untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang nyata. Nadia yang ada di depannya sekarang bukanlah Nadia "si yatim piatu pendiam" yang bisa ia injak-injak.

"Ayo pergi, Dokter! Tempat ini sudah terkontaminasi bau sampah!" ucap Nyonya Sekar ketus sambil berbalik pergi dengan langkah seribu, nyaris berlari keluar dari lobi.

Begitu pintu besar itu tertutup dentuman keras, Nadia langsung menghela napas panjang. Seluruh tubuhnya merosot di kursi, energinya terkuras habis.

"Hah... gila... akting jadi detektif sambil nahan mual bau durian itu susah juga ya, Bi," keluh Nadia sambil memijat lehernya yang linu.

Bi Sum mendekat dengan wajah cemas sekaligus kagum. "Ibu... Ibu hebat sekali. Saya sampai merinding melihat Nyonya Besar gemetar begitu."

Nadia hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, jiwa Aurelia tertawa puas. Satu ular keluar, tinggal nunggu naga besarnya pulang kantor, batinnya.

Bi Sum mendekat dengan cemas. "Ibu tidak apa-apa? Wajah Ibu pucat sekali."

"Hanya butuh tidur, Bi. Tapi setidaknya, satu ular sudah pergi dengan ekor terjepit," gumam Nadia sambil tersenyum puas.

Di kantornya, Raditya yang sedang memantau CCTV mansion melalui tabletnya, terdiam. Ia melihat seluruh kejadian di ruang makan tadi. Sebuah senyum bangga yang langka muncul di bibir sang CEO.

"Bumil Barbar..." gumam Raditya pelan. "Ternyata kamu jauh lebih berbahaya dari yang saya bayangkan."

Bersambung...

1
partini
hhh pasti ada orang lain itu
Heresnanaa_: stay tune beb 🫶
total 1 replies
MARWAH HASAN
di tunggu kelanjutannya 🤭
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
Heresnanaa_: happy reading yaa 🫶
total 2 replies
MARWAH HASAN
aku suka yg cerita model begini
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
Heresnanaa_: aaa maaciw kaka😍🤭😚🥹🫂
total 1 replies
partini
wah tumben mafia bermain dulu bisa sikat tebas biarpun itu ibu ayah sodara ga penting,keren bang Radit
partini
wow
aku
sangat jelas..... 🤣🤣🤣🤣
partini
ahhh ternyata mafia juga Thor,masih di dalam perut aja aktif luar biasa gimana kalau dah lahir bisa lebih sadis dari ayahnya tu baby
MOZZA AUDYA
sikattt trussssssssss Thor buat nyaaaa seru bat drama siang yang di buat nadia 🤭
partini
itu baru di semprot kalau pakai jurus 10 tinju dan tendangan apa ko langsung 😂
MOZZA AUDYA
lanjut thorrr.... gk sabar nih nunggu drama di kantor nyaaa🤭
partini
ulet kadut itu,ayo nak bantu mommy buat hempas uler kadut 😂😂
tunggu aksi luar biasa bumil thor
𝐀⃝🥀Weny
si kulkas jadi bucin😁
MOZZA AUDYA
wahhhhh nampak aada drama baru yang akan di main kn nihh🤭
partini
Thor sekali pakai lingerie bagus deh perut Belendung uhhhh
partini
see main masuk aja kata ga berani wkwkwk
partini
lah masa udah ketauan aja sih ,roh nya Nadia ganti yg tau orang lain pula 🤦
MOZZA AUDYA
aduhh nadia jiwa barbar nya gk bisa di tahan sihhh 🤭
partini
good story 👍👍👍👍👍
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!