NovelToon NovelToon
SISTEM KEADILAN ABSOLUT

SISTEM KEADILAN ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tania berbicara dengan nada tegas dan penuh keyakinan seolah-olah dia paling benar di antara semua orang di ruangan itu.

"Yang Mulia, saya tegaskan sekali lagi, saya sama sekali tidak merasa bersalah! Saya berbicara atas nama jutaan perempuan di luar sana! Saya menolak untuk meminta maaf kepada Bimo! Memang benar saya menulis tulisan yang menyebut dia mesum, tapi sampai detik ini saya tetap merasa tulisan saya tidak salah sedikit pun! Apapun keputusan hari ini, saya tidak akan pernah minta maaf sama dia! Waktu saya cek HP Bimo, memang saya tidak nemu foto saya yang diambil diam-diam, tapi ada banyak foto perempuan lain di galerinya! Bukankah itu juga termasuk memotret diam-diam?"

"Jadi apa salahnya kalau saya bilang Bimo itu mesum? Ada foto orang asing di HP-nya, foto perempuan pula, menurut saya itu tindakan yang sangat tidak pantas! Makanya saya tulis tulisan itu buat mengkritik dia! Dan sampai sekarang, saya tetap berpendapat tidak ada alasan buat minta maaf ke seorang pengintip. Mau hakim putuskan apa pun, saya enggak akan menyesal! Saya berdiri di sini demi membela hak-hak perempuan yang jumlahnya tak terhitung banyaknya!"

Tania tampak bangga dengan ucapannya itu, merasa argumennya sangat kuat dan sulit dibantah.

Arga hanya diam mendengarkan, sampai-sampai ia tak tahu harus berkata apa lagi. Bimo di sisi penggugat juga merasa heran dan kesal. Dia cuma memotret pemandangan umum, tapi tiba-tiba dicap sebagai mesum oleh kedua wanita ini.

Sampai saat ini, Laras dan Tania sama sekali tidak merasa mereka berbuat salah. Di pikiran mereka, sekadar menulis tulisan di media sosial mana mungkin sampai harus masuk penjara?

Penonton yang mengikuti siaran langsung pun sudah tak tahan lagi melihat kelakuan mereka.

[Dua orang ini mulutnya terus saja bersuara, nggak habis-habis ya?]

[Hakim, tolong segera jatuhkan vonis! Hukum saja dua orang ini seberat-beratnya!]

[Terus saja menuduh orang lain jadi mesum. Memotret pemandangan umum dibilang mesum? Padahal dulu mereka berdua yang diam-diam memotret orang banyak di MRT, kan?]

[Dasar women yang sok suci! Benar-benar menjijikkan!]

[Pengacara Arga, tolong bertindak tegas! Masukin saja mereka berdua ke penjara biar kapok!]

Di sisi terdakwa, Rina Wijaya berdiri berdampingan dengan mantan Ketua Hakim Yuliana. Wajah Rina sudah pucat pasi sejak tadi. Mendengar Laras dan Tania masih saja keras kepala dan menolak minta maaf, ia menggelengkan kepala berkali-kali sambil menghela napas panjang.

Rina pun akhirnya angkat bicara dengan suara lemah dan putus asa.

"Saudara Bimo, kamu kan juga masih mahasiswa, sama seperti Laras dan Tania. Mereka ini duta muda bangsa, harapan masa depan, masa depan mereka masih panjang. Saya mohon, kiranya kamu berbesar hati untuk mengeluarkan surat pernyataan damai. Biarkan masalah ini selesai, jangan sampai mereka masuk penjara. Mereka masih sangat muda, anggap saja ini kesalahan anak muda yang belum paham dunia. Jangan diteruskan lagi ya... Saya minta maaf atas segala perbuatan mereka, saya minta maaf mewakili mereka berdua."

Padahal, tulisan-tulisan yang disebarkan Laras dan Tania, serta gelombang perundungan yang ditimbulkannya, sudah melukai hati banyak orang dan itu sudah masuk ranah tindak pidana.

Kalau Bimo tetap menuntut, hukuman penjara pasti akan mereka dapatkan. Tapi kalau Bimo bersedia mengeluarkan surat damai, besar kemungkinan hukuman bisa diringankan atau bahkan dibebaskan cukup dengan permintaan maaf dan ganti rugi saja, tanpa harus merasakan dinginnya sel tahanan.

Rina Wijaya sendiri sudah tahu nasibnya sudah hancur. Tidak ada jalan keluar baginya lagi, dia pasti akan dihukum. Tapi di detik-detik terakhir ini, dia masih berusaha mati-matian melindungi Laras dan Tania yang dulu dia bela habis-habisan.

Arga segera menyahut dengan nada tegas dan tak tergoyahkan.

"Klien saya, Saudara Bimo, sudah menyerahkan sepenuhnya urusan ini ke tangan saya. Mengeluarkan surat damai? Itu hal yang mustahil. Bimo tidak butuh permintaan maaf dari mereka berdua, apalagi surat damai. Dia cuma ingin hukum berlaku tegas dan adil terhadap kedua terdakwa ini! Kalau mereka dibiarkan bebas begitu saja, besok-besok mereka akan kembali mencemarkan nama baik laki-laki lain, terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa pernah sadar dan bertobat."

"Keadilan hukum harus ditegakkan! Berbuat salah itu tidak cukup cuma dengan kata maaf, pelaku wajib menanggung konsekuensi hukum yang setimpal dengan perbuatannya!"

"Yang Mulia, saya ingin bertanya...kalau Laras dan Tania tidak dihukum hari ini, siapa lagi yang berani memegang HP dan memotret di dalam MRT? Kalau mereka tidak divonis, besok-besok siapa saja yang lewat di jalanan bisa sembarangan dituduh sebagai mesum oleh mereka!"

"Kalau dua orang ini lolos dari hukuman, di mana letak keadilan dan kepastian hukum di negeri ini?!"

Arga mengakhiri kalimatnya dengan tegas dan berwibawa.

Rina Wijaya menunduk dalam, penuh penyesalan yang tak terhingga. Dia sadar... semuanya sudah berakhir.

Dulu dia berpikir kasus ini cuma remeh dan bisa dia manfaatkan buat meraup puluhan juta rupiah dari Bimo. Tapi sekarang, semuanya berakhir buruk, bahkan dia sendiri yang harus masuk jeruji besi.

Dia sudah tidak mampu lagi melindungi Laras dan Tania. Namun, Rina masih berdiri kaku di tempat, menatap tajam ke arah Bimo, lalu perlahan berlutut di lantai ruang sidang.

"Bimo... saya mohon sama kamu. Tolong keluarkan surat damai itu. Saya tidak apa-apa kalau harus masuk penjara, saya sudah siap. Tapi mereka berdua masih anak-anak... mereka masih sangat muda... Apa pantas masa depan mereka hancur cuma gara-gara kesalahan yang dianggap sepele begini?"

Sementara itu, Laras dan Tania hanya menatap Rina dengan wajah bingung dan tak mengerti.

Di pikiran mereka: Kita cuma nulis tulisan di medsos, emangnya seberat itu konsekuensinya? Apa Rina sampai kena gangguan jiwa sampai berlutut begini?

Bimo menjawab dengan suara dingin namun penuh penekanan.

"Dulu, mereka sudah memfitnah orang lain, sampai dua mahasiswa baru terpaksa berhenti kuliah karena tekanan batin. Mereka juga menyebar fitnah ke mahasiswa baru, yang akhirnya nekat mengakhiri hidupnya karena tak tahan disalahkan terus-menerus! Sekarang, giliran saya yang jadi korban. Padahal awalnya saya sudah berniat baik, mau maafin asalkan mereka minta maaf... tapi apa jawaban mereka? Penolakan keras dan makin sombong!"

"Kamu bilang mereka masih anak-anak? Bukannya almarhum Bagas juga anak-anak, juga mahasiswa baru, juga harapan bangsa? Hidup orang yang tidak bersalah hilang sia-sia gara-gara gosip dan fitnah kosong mereka. Dan sampai detik ini, Laras dan Tania sama sekali belum merasa bersalah sama saya. Kamu pikir saya akan menulis surat damai?"

"Saya sangat berterima kasih sama Pengacara Arga. Kalau bukan karena dia, mungkin sampai sekarang tidak ada yang berani membela saya dan hak saya. Terima kasih banyak, Pengacara Arga..."

"Oleh karena itu, Yang Mulia... saya menuntut hukuman seberat-beratnya buat Laras dan Tania!"

"Mereka tidak boleh diistimewakan atau dihukum ringan cuma karena mereka perempuan!"

"Di mata hukum, semua orang itu sama kedudukannya!"

"Demi keadilan dan kepastian hukum! Demi melindungi hak-hak saya dan orang lain di masa depan! Mereka harus bertanggung jawab penuh atas segala pelanggaran hukum yang sudah mereka perbuat!"

Tepuk tangan riuh terdengar dari bangku penonton. Di layar siaran langsung, komentar dukungan berjatuhan tanpa henti.

Hanya Laras dan Tania yang saling pandang bingung, merasa semua orang di sini seperti bicara bahasa asing yang tak mereka pahami.

Tania masih tetap santai, tapi Laras mulai terlihat sedikit takut. Ia berbisik pelan ke arah Tania.

"Kita... kita nggak bakal dipenjara kan?"

Tania menggeleng yakin. "Mana mungkin? Mereka cuma mau menakut-nakuti biar kita minta maaf saja. Kita cuma nulis tulisan biasa, mana mungkin sampai masuk penjara? Tenang saja."

Laras mengangguk setuju, napasnya sedikit lega. "Oalah... ya sudah, kalau begitu aku tenang."

Pada akhirnya, sampai detik terakhir pun, Laras dan Tania masih yakin mereka akan baik-baik saja.

Tak lama kemudian, sidang masuk ke bagian pembacaan putusan akhir.

Hakim Santoso bangkit berdiri, suaranya lantang memenuhi ruangan.

"Putusan untuk kasus ini dibacakan sekarang!"

"Dengan ini kami putuskan dan nyatakan..."

"Pertama: Perusahaan MRT terbukti dengan sengaja menghapus rekaman pengawasan demi menutupi fakta. Berdasarkan pertimbangan hukum, Perusahaan MRT dijatuhi denda sebesar 7,23 miliar rupiah, wajib membayar ganti rugi tekanan batin kepada Bimo sebesar 30 juta rupiah, serta wajib memublikasikan permintaan maaf resmi yang dipasang di papan pengumuman seluruh stasiun MRT selama lima hari berturut-turut!"

"Kedua: Terdakwa Laras dan Tania terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana fitnah, pencemaran nama baik, serta mengadu domba dan mengarahkan opini publik demi menjatuhkan orang lain. Perbuatan ini sangat melanggar hak privasi, hak nama baik, dan hak pribadi lainnya milik Bimo, serta menimbulkan dampak sosial yang sangat serius. Terbukti pula selama tiga tahun terakhir, keduanya berulang kali menyebar informasi palsu dengan jangkauan penyebaran lebih dari sepuluh juta kali tayang, yang merusak nama baik banyak pihak dan sangat merugikan korban."

"Laras dijatuhi hukuman penjara selama 7 tahun!"

"Tania dijatuhi hukuman penjara selama 7 tahun!"

"Selain itu, keduanya diwajibkan meminta maaf secara terbuka kepada Bimo di media massa nasional, serta membayar ganti rugi kerusakan mental sebesar 100 juta rupiah kepada Bimo!"

1
Yuliana Tunru
ayo arga waktu x beraksi hancurkan
ラマSkuy
wah makin penasaran dengan kelanjutannya Thor aku tunggu up berikutnya 👍
ラマSkuy
👍
ayrhte
cepetin dong. lngsng ruang pengadilan, males baca komentar netizennya
semangat author/Determined/
ayrhte
di fitnah² saya diam, di hina² saya diam
tapi kali ini, saya akan lawan💪
ayrhte
kemarin tempo, skrng kompas. saya lapor mas aiman kamu ya thor/Sob/
Iyyan Kasela
bagus
Orimura Ichika
kalau up banyakin Thor 😄
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭
ayrhte
watak cwe yg gk pnya logika😁
Yuliana Tunru
sulit tp bkn.mustahil.kan ayo arga 💪💪 smoga hakim ketua orang jujur dan punya empati yg besar
Fajar Fathur rizky
bongkar kebusukan orang itu thor
ラマSkuy
ditunggu upnya Thor aku sangat penasaran dengan kelanjutannya👍
ラマSkuy
sumpah sampai mau nangis saya baca bab ini
ラマSkuy
related sekali sih woman standar toktok 🤣 suka bet bikin drama
ラマSkuy
buset aku baca kalimat "Demi Tuhan" jadi keingat kasus perseteruannya Adi Bing Slamet, Arya Wiguna dan eyang subur ditahun 2013 🤣🤣🤣
Yuliana Tunru
smoga arga berhasil banding jg dapat bukti2 x jgn sampai yunita dan.klga x kelar krn mafia.kampung biadab bgt
Orimura Ichika
KEREN THOR UP YG BANYAK YA AKU KASIH 2 KOPI DULU BIAR SKIN SEMANGAT👍🤩
Yuliana Tunru
ayo sitem. bantu argacari bukti jg sepak terjang surya ..jika hari itu kamera x rusaktpkan kebejatan x sdh lama dan oasti byk bukti2 lainx yg terekam jgn sampe lolos ya jgn lupa kasih huiuman drnda 1 oo milyar buat semua oenderitaan klga yunita 💪💪💪 arga
ayrhte
seandainya pengadilan hukum di konoha bisa gitu/Shy/
ラマSkuy: bisa saja kak jikalau hakim dan jaksanya menjujung tinggi keadilan untuk semua, bukannya memihak yang punya kekuasaan
total 1 replies
ayrhte
hakim yg nonton pengacara adu bacot "lanjut aja kalian, atur sendiri. gw mau mokel aja"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!