NovelToon NovelToon
Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Syawal Musa

Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Umpan Yang Terlihat Menggoda

Keesokan harinya, suasana di Narendra Cosmetics terasa berbeda. Ada angin segar yang membawa aroma bahaya. Semua karyawan tampak lebih sibuk dari biasanya, dan tatapan mata mereka penuh tanda tanya.

Kedatangan Rian Narendra sebagai Wakil Presiden Direktur baru menjadi topik utama di setiap sudut kantor. Pria itu tahu betul cara memainkan perannya. Ia tampil sangat ramah, menyapa karyawan, memberikan senyum menawan, dan terlihat sangat peduli.

Namun, di balik topeng ramah itu, matanya terus mengawasi. Ia mencari celah, mencari informasi, dan mencari cara untuk mendapatkan kepercayaan Arkan dan Kiara—atau setidaknya berpura-pura mendapatkannya.

Di area Laboratorium Sentral, Kiara sedang memeriksa beberapa data formulasi ketika pintu kaca geser terbuka.

"Wah, ini dia tempat paling rahasia di seluruh perusahaan ya?" suara khas Rian terdengar ceria.

Kiara tidak menoleh, tangannya tetap sibuk mengetik di layar sentuh.

"Selamat pagi, Tuan Rian. Maaf, di sini area terlarang. Hanya staf riset yang boleh masuk," ucap Kiara dingin tanpa memandang wajah kakak iparnya itu.

Rian terkekeh, berjalan santai mendekati meja kerja Kiara.

"Ya ampun, Kiara... Aku ini Wakil Presiden Direktur lho. Berarti aku bosnya semua orang di sini, termasuk kau juga kan?" Rian bersandar di meja, posisinya sangat dekat hingga membuat Kiara merasa tidak nyaman. "Lagipula, sebagai keluarga, wajar dong aku tahu apa saja aset berharga perusahaan ini. Termasuk formula ajaib yang bikin orang berbaris mau beli itu."

Kiara akhirnya berhenti mengetik. Ia mendongak, menatap Rian dengan senyum tipis yang sulit dibaca.

"Tentu saja, Tuan. Kalau untuk urusan laporan keuangan atau produksi, silakan cek ke divisi terkait. Tapi untuk formulasi... ini aset paling sensitif. Bahkan Arkan sendiri jarang masuk ke sini tanpa alasan penting demi keamanan data."

Rian mengerutkan kening, sedikit kesal karena ditolak halus, tapi ia tidak bisa marah karena alasan Kiara masuk akal.

"Tenang saja, aku tidak akan mencuri rumusnya," Rian menyeringai, mencoba terlihat santai. "Aku cuma ingin melihat seberapa berharganya benda ini sampai-sampai Kakek dan organisasi itu rela berkorban banyak hal."

Ia sengaja menekan kata 'Kakek' dan 'organisasi' untuk melihat reaksi Kiara. Tapi Kiara tetap tenang, tidak terkejut sedikitpun.

"Kalau Tuan Rian sudah tahu segalanya, mestinya Tuan juga paham... semakin berharga sesuatu, semakin berbahaya juga menjaganya," balas Kiara santai. "Tapi... karena Tuan bilang kita keluarga dan Tuan ingin membantu..."

Kiara mengetik cepat beberapa perintah di keyboard. Layar besar di dinding langsung menyala menampilkan grafik rumit dan kode-kode panjang.

"Ini adalah proyek tahap lanjut yang sedang kami kembangkan. Kode namanya Project Phoenix," jelas Kiara dengan wajah serius. "Formula ini jauh lebih kuat dari Golden Essence. Konsepnya adalah regenerasi sel kulit permanen. Kalau ini berhasil, kita bisa kuasai pasar dunia."

Mata Rian seketika berbinar cerah. Tatapannya tertuju lekat pada layar monitor, napasnya sedikit memburu karena antusiasme dan keserakahan.

"Project Phoenix..." gumam Rian, tangannya terulur ingin menyentuh layar. "Jadi ini harta karun sesungguhnya?"

"Betul," Kiara mengangguk, menyembunyikan seringai jahat di balik wajah tenangnya. "Tapi sayang, formulanya belum stabil. Masih butuh banyak penyesuaian. Aku baru saja menyelesaikan versi finalnya tadi malam, tapi belum ada backup. Data ini hanya ada di server lokal ini saja."

Itu adalah umpan yang paling menggoda. Rian adalah pemangsa, dan dia baru saja melihat daging segar tersaji di hadapannya.

"Benarkah? Hanya ada di sini?" tanya Rian memastikan, matanya menyelidik wajah Kiara mencari kebohongan.

"Silakan cek sendiri kalau tidak percaya," Kiara membuka akses panel kontrol. "Karena data ini sangat rahasia, aku tidak mengunggahnya ke cloud utama. Takut diretas. Jadi kalau Tuan mau lihat detailnya, silakan. Tapi tolong jangan ubah apapun, karena rumusnya sangat sensitif."

Rian tersenyum lebar, senyum kemenangan. Ia pikir dia berhasil memperdaya Kiara. Ia pikir wanita ini polos dan mudah dipercaya.

"Bagus... sangat bagus, Kiara. Kau memang cucu kakek yang patuh," bisik Rian pelan, mengira Kiara tidak mendengar.

Rian segera duduk di depan komputer, jemarinya mulai bergerak cepat mencoba menyalin data ke perangkat pribadinya. Wajahnya tampak sangat fokus dan bersemangat.

Sempurna.

Di dalam hati, Kiara tertawa puas. Data yang dilihat Rian memang terlihat sempurna, rumit, dan sangat meyakinkan. Tapi itu semua hanyalah cangkang kosong. Di dalamnya sudah ditanam 'virus pelacak' buatan Kiara.

Begitu Rian menyalin data ini dan mencoba membukanya di perangkat lain, atau mengirimkannya ke Kakek... lokasi mereka akan langsung terlacak dengan akurasi tinggi di server Arkan.

Dan yang lebih jahat lagi... jika formula palsu ini dipaksakan diproduksi, bahan-bahannya akan bereaksi membentuk senyawa kimia yang beracun bagi kulit, bukan menyembuhkan.

"Terima kasih untuk kerjasamanya, Kiara," ucap Rian setelah selesai, wajahnya tampak sangat puas. Ia menyembunyikan flashdisk-nya kembali dengan aman. "Aku akan bantu cek dari sisi manajemen agar proyek ini cepat disetujui dan didanai."

"Sama-sama, Kakak Ipar," jawab Kiara manis. "Semoga lancar ya."

Begitu Rian keluar dari laboratorium dengan langkah gembira, Kiara segera mengeluarkan alat komunikasi kecil dari sakunya.

"Langkah satu selesai. Burung sudah memakan umpan," bisik Kiara ke alat itu.

Dari seberang, suara Arkan terdengar rendah dan puas.

"Bagus. Biarkan dia membawa hadiah itu ke sarangnya. Malam ini juga kita akan tahu di mana Kakek bersembunyi. Permainan sudah masuk babak akhir, Kiara. Bersiaplah."

Kiara menatap layar monitor yang kini kembali menampilkan data asli yang tersembunyi.

"Aku siap, Arkan. Kali ini... tidak ada ampun."

1
Syawal Musa
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!