NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpustakaan Dan Keraguan Di Hati

Semalaman aku sama sekali tak bisa memejamkan mata.

Setiap kali berusaha terlelap, bayangan kejadian semalam selalu muncul kembali di ingatan—wajah Reza yang memerah padam menahan amarah, suaranya yang menggelegar membelah kesunyian malam, hingga sosok Aldo yang berdiri tegar di antara kami berdua. Ia tampak begitu tenang, kokoh tak tergoyahkan persis seperti tembok pelindung yang tak bisa diruntuhkan oleh badai apa pun.

Namun anehnya, hal yang paling mengganggu pikiranku bukanlah rasa takut pada Reza, meski ia datang dengan kemarahan yang mengerikan.

Yang paling mengganggu justru rasa lega yang terus tumbuh di hatiku.

Lega karena Aldo datang tepat saat aku membutuhkan pertolongan. Lega karena ia berani berdiri di sisiku dan melindungiku. Lega karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, aku tidak lagi sendirian menghadapi segala kesulitan dan ketakutan yang datang.

Dan rasa lega itulah yang membuatku merasa penuh rasa bersalah.

“Kamu baru saja berpisah, Tari. Belum genap seminggu berlalu. Kamu sama sekali tidak boleh merasakan hal seperti ini pada adik kandung mantan kekasihmu,” tegurku berulang kali dalam hati, berusaha menahan segala perasaan yang mulai tumbuh.

Namun hati kecilku seolah tak mau mendengarkan akal sehat. Jantungku selalu berdegup kencang setiap kali aku teringat caranya menatapku dengan pandangan yang teduh, caranya menggenggam tanganku dengan lembut namun mantap, serta janji yang pernah ia ucapkan dengan suara rendah namun meyakinkan: “Kapan pun kau butuh bantuan, aku akan selalu datang kepadamu.”

Aku terus saja berguling‑guling di atas kasur sempitku, memeluk guling erat‑erat seolah benda itu bisa menjadi penenang, dan berusaha sekuat tenaga untuk mengusir segala bayangan tentang Aldo dari kepalaku.

Sayangnya, pikiran itu ternyata sangat keras kepala. Semakin aku berusaha melupakannya, semakin jelas ia terbayang di benakku.

***

Pukul tepat jam delapan pagi, ponselku bergetar perlahan di sisi bantal.

Pesan masuk dari Aldo:

“Selamat pagi, Tari. Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak kah?”

Senyum kecil seketika merekah di bibirku saat membaca tulisan itu—namun aku segera menyadari diri dan berusaha menghapusnya secepat mungkin. Aku merasa tak pantas tersenyum bahagia hanya karena pesan darinya, mengingat keadaan yang sedang kualami.

Aku membalasnya dengan nada yang berusaha biasa saja:

“Selamat pagi. Tidur? Rasanya tidak ada sama sekali. Tapi setidaknya aku masih ada dan masih hidup sampai pagi ini.”

Tak sampai semenit, balasan darinya sudah masuk kembali. Tulisan‑tulisannya seolah ditulis dengan cepat, seakan ia pun sudah lama menunggu kabar dariku.

“Wajar sekali rasanya. Kejadian semalam pasti terasa sangat berat dan melelahkan bagimu.”

“Kamu juga tidak tidur nyenyak ya? Sepertinya ikut begadang juga?” tanyaku balik.

“Iya, benar. Aku masih duduk di depan meja kerja sampai jam dua pagi, memeriksa ulang data‑data penelitian yang belum selesai.”

Aku tersenyum sendiri membaca jawabannya, lalu mengetik lagi:

“Ternyata psikolog forensik pun bisa begadang juga ya? Aku kira hanya kami mahasiswa saja yang sering begadang.”

Balasan datang seketika:

“Psikolog forensik itu manusia biasa juga, Tari. Punya mata yang lelah, punya pikiran yang kadang berantakan, dan butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.”

Kali ini senyumku kembali muncul, dan entah bagaimana rasanya sulit sekali untuk kuhapus lagi dari wajahku.

“Aldo… terima kasih banyak ya, untuk segala hal yang kamu lakukan semalam.”

“Tak perlu berterima kasih. Itu adalah hal yang seharusnya kulakukan.”

“Tapi kamu sama sekali tidak berkewajiban melakukannya. Tidak ada kewajiban apa pun bagimu untuk memihak atau menolongku,” tulisku dengan hati‑hati, berusaha menyampaikan apa yang ada di hatiku.

“Aku sadar betul soal itu. Meski begitu, aku tetap memilih untuk melakukannya.”

Aku menggigit pelan bibir bawahku, bergulat mencari kata‑kata yang pas—kata yang tak akan membuatku terlihat terlalu terbuka, namun tetap bisa menyampaikan apa yang kurasakan. Akhirnya aku memberanikan diri mengetik pertanyaan yang sedari tadi ingin kutanyakan:

“Aldo… apakah kamu bersedia bertemu denganku hari ini?”

Ada jeda beberapa detik sebelum balasan itu muncul. Sepertinya ia pun sedang berpikir panjang, mempertimbangkan segala hal sebelum menjawab.

“Kamu yakin ingin bertemu hari ini? Bukankah kamu butuh waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri?”

“Istirahat saja rasanya takkan ada gunanya. Aku justru lebih butuh sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran dan perasaanku daripada sekadar diam sendirian di kamar,” jawabku jujur.

“Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau jam satu siang nanti? Kita bertemu di depan Perpustakaan Pusat UI?”

Aku sedikit terkejut membaca tempat yang ia sebutkan.

“Di perpustakaan?”

“Iya. Aku belum pernah berkunjung ke sana, dan penasaran sekali mendengar tempat itu sangat indah dan lengkap koleksinya.”

Aku tak bisa menahan tawa kecil. Laki‑laki ini sungguh berbeda dari kebanyakan orang yang kukenal. Di saat orang lain biasanya memilih kafe atau taman untuk bertemu, ia justru memilih perpustakaan.

“Baiklah. Jam satu di depan Perpustakaan Pusat. Aku yang menunggu di sana.”

“Jangan sampai terlambat ya, wahai Mahasiswi.”

Aku membalas pesan itu dengan gambar wajah cemberut, lalu meletakkan kembali ponsel di sampingku.

Di dalam dadaku, bercampurlah berbagai perasaan yang sulit kujelaskan—ada rasa gugup, ada rasa bahagia yang tak terkatakan, namun disertai pula rasa bersalah yang masih menyisakan beban.

“Ini hanyalah pertemuan biasa, Tari,” tegurku pada diri sendiri sekali lagi. “Tak ada maksud lain, tak ada arti khusus. Hanya sekadar bertemu dan mengobrol saja.”

Namun kenyataannya, tanganku sudah sibuk memilih‑memilihkan baju terbaik yang ada di dalam lemari jauh‑jauh sebelumnya, bahkan sebelum sempat aku berpikir panjang.

***

Pukul 12.30 siang, aku sudah tiba di depan gedung Perpustakaan Pusat UI.

Bangunan itu tampak megah dan anggun dengan gaya arsitektur modern yang memikat mata. Dindingnya didominasi kaca besar yang memantulkan terik sinar matahari siang, sementara atapnya menjulang tinggi dengan susunan struktur geometris yang rumit namun indah. Di halaman depan terbentang taman kecil yang asri, lengkap dengan bangku‑bangku batu yang selalu dipenuhi mahasiswa—ada yang duduk membaca buku, ada yang mengobrol santai, ada pula yang sekadar bersantai menikmati udara.

Aku memilih duduk di salah satu bangku batu itu, tepat di bawah pohon besar yang rindang. Daun‑daunnya masih tampak sedikit basah, sisa air hujan yang turun deras semalam. Di sekelilingku, mahasiswa berlalu‑lalang; ada yang berjalan terburu‑buru membawa tumpukan buku tebal, ada yang sibuk menunduk menatap layar ponsel, dan tak jarang terlihat pasangan muda yang duduk berdua di sudut taman sambil saling menggenggam tangan.

Mataku sempat tertuju pada salah satu pasangan itu cukup lama. Laki‑lakinya menggenggam tangan kekasihnya dengan lembut—tidak terlalu erat, tidak memaksa, namun terasa penuh perhatian. Mereka saling tersenyum, berbisik‑bisik pelan, lalu tertawa kecil seolah berbagi rahasia indah yang hanya mereka berdua yang tahu.

“Beginikah rasanya hubungan yang sehat dan bahagia?” pikirku dalam hati. “Hubungan yang tidak penuh tekanan, tidak penuh rasa takut, dan tidak membuatmu merasa harus berubah menjadi orang lain? Sangat berbeda jauh dengan apa yang kualami bersama Reza dulu.”

“Tari?”

Suara panggilan itu membuatku tersentak kaget. Aldo sudah berdiri tepat di hadapanku—mungkin sudah beberapa saat ia ada di sana, namun aku terlalu tenggelam dalam lamunan hingga tak menyadari kedatangannya.

Hari ini ia tampak rapi namun santai. Mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan tali kulit berwarna coklat tua yang sama seperti yang ia pakai kemarin. Dipadukan dengan celana kain berwarna hitam dan sepatu pantofel coklat tua yang bersih. Rambutnya terlihat sedikit basah—mungkin baru saja selesai mandi atau terkena keringat berjalan di bawah terik matahari.

“Kamu sedang melamun jauh sekali ya,” katanya sambil tersenyum tipis.

“Iya… maaf ya. Aku tidak sadar kamu sudah datang,” jawabku sambil segera berdiri dan merapikan rok panjang hitamku yang sedikit kusut karena bersandar di bangku batu.

“Tak apa‑apa. Kadang hal yang ada di dalam lamunan jauh lebih indah daripada kenyataan di sekitar kita,” ucapnya santai.

“Kamu sudah makan siang?” tanyaku berganti topik.

“Belum. Kalau kamu?”

“Belum juga.”

“Bagaimana rencananya? Kita cari makan dulu, atau berkeliling melihat isi perpustakaan lebih dulu?”

“Masuk lihat‑lihat dulu saja. Nanti kalau sudah puas berkeliling, kita baru makan bersama,” jawabku mantap.

Aldo mengangguk setuju, lalu kami berjalan beriringan menuju pintu masuk besar perpustakaan itu.

***

Begitu melangkah melewati pintu kaca yang berat itu, udara sejuk dan nyaman langsung menyambut kami. Terciumlah aroma khas perpustakaan—campuran bau kertas tua, lem buku, dan sedikit debu yang sebenarnya justru terasa akrab dan menyenangkan bagiku. Suasana di dalam sangat hening, hanya sesekali terdengar bisikan pelan dari kelompok mahasiswa yang sedang belajar di sudut ruangan, serta suara halus mesin fotokopi yang terdengar samar dari lantai atas.

“Tolong tunjukkan kartu identitasnya, Mbak, Mas,” sapa petugas di meja depan dengan senyum ramah.

Aku segera mengeluarkan kartu tanda mahasiswaku. Aldo pun melakukan hal yang sama—namun kartu yang ia serahkan adalah kartu identitas tenaga pendidik dari universitas tempatnya bekerja.

“Wah, ternyata Bapak Dosen ya,” ujar petugas itu, matanya sedikit membelalak takjub saat membaca keterangan pada kartu Aldo. “Ada keperluan apa ke sini, Pak?”

“Kebetulan hanya ingin melihat‑lihat saja,” jawab Aldo santai sambil tersenyum. “Saya sering mendengar kabar bahwa Perpustakaan UI ini termasuk salah satu yang terlengkap dan terindah di seluruh Indonesia. Jadi penasaran ingin melihat langsung.”

Wajah petugas itu tampak bersinar bangga mendengarnya. “Betul sekali, Pak. Koleksi kami sangat lengkap, mulai dari buku‑buku umum hingga buku‑buku referensi langka yang sulit ditemukan di tempat lain. Ada juga naskah kuno, tapi untuk melihatnya harus meminta izin khusus terlebih dahulu.”

Aldo mengangguk berterima kasih, lalu kami berdua pun melangkah masuk ke ruang utama perpustakaan yang luas itu.

Langit‑langitnya menjulang tinggi, sebagian terbuat dari kaca bening sehingga membiarkan cahaya matahari masuk secara alami dan menyinari seluruh ruangan dengan lembut. Rak‑rak buku yang menjulang tinggi tersusun dalam barisan melingkar, menciptakan pemandangan yang indah—seperti sebuah katedral besar yang didedikasikan khusus bagi para pencinta ilmu pengetahuan. Di sana‑sana terlihat mahasiswa duduk di kursi empuk yang tersebar; ada yang tekun membaca, ada yang sibuk menulis catatan, bahkan ada yang tertidur pulas dengan buku terbuka di pangkuannya karena terlalu lelah belajar.

“Wah… luar biasa sekali tempat ini,” gumam Aldo pelan, matanya berkeliling takjub mengamati setiap sudut ruangan. “Indah dan damai sekali rasanya.”

“Kamu belum melihat bagian yang paling menarik di lantai dua,” kataku bangga. “Di sana tersimpan koleksi naskah‑naskah kuno. Suasananya pun jauh lebih hening dan tenang.”

“Kalau begitu, tunjukkan jalan ke sana ya.”

Kami menaiki tangga spiral yang terbuat dari besi tempa berwarna hitam. Setiap langkah kaki kami terdengar bergema halus di udara yang hening itu. Sepanjang jalan, aku seolah bisa merasakan pandangan Aldo yang tak lepas dari punggungku—bukan pandangan yang membuat risih, melainkan pandangan yang penuh perhatian dan rasa ingin tahu.

Sesampainya di lantai dua, kami berjalan menyusuri lorong panjang di antara rak‑rak yang berisi naskah‑naskah berharga—tulisan kuno dalam aksara Jawa Kuno, Bali, Sunda, hingga beberapa aksara daerah lainnya yang jarang diketahui orang. Sebagian besar disimpan rapi di dalam kotak kaca agar terlindung dari debu dan kelembapan udara.

“Ini adalah koleksi favoritku di sini,” kataku berhenti di depan salah satu kotak kaca yang berisi tumpukan lembaran daun lontar. “Lihat ini… ini naskah kuno berjudul Sutasoma karya Mpu Tantular. Di dalamnya tertulis kalimat indah yang menjadi dasar semboyan negara kita: Bhinneka Tunggal Ika.”

Aldo mendekatkan wajahnya sedikit ke arah kaca, membaca keterangan yang tertulis di samping kotak penyimpanan itu.

“Kamu bisa membaca tulisan aksara Jawa Kuno ini, Tari?” tanyanya takjub.

“Sedikit saja. Dulu sempat mengambil mata kuliah paleografi saat tingkat dua,” jawabku sambil tersenyum mengenang masa lalu. “Sulit sekali sebenarnya, tapi rasanya sangat seru kalau sudah mulai paham.”

“Paleografi?” ulangnya penasaran.

“Ilmu yang mempelajari cara membaca dan menafsirkan naskah‑naskah kuno. Di situ kita belajar mengenali bentuk huruf lama, cara penulisannya, hingga memahami maknanya menurut konteks sejarah dan budaya saat itu.” Aku tertawa kecil teringat pengalaman belajar itu. “Dosen pengajarnya sangat tegas dan disiplin. Kalau ada satu huruf saja yang salah terbaca, nilai langsung dikurangi banyak.”

Aldo ikut tertawa renyah. “Kedengarannya jauh lebih sulit daripada mata kuliah statistika yang sering aku ajarkan.”

“Jauh lebih sulit, Aldo. Kalau statistika kan berhubungan dengan angka dan rumus yang pasti. Kalau ini… gabungan antara seni dan ilmu pengetahuan sekaligus. Kamu harus paham sejarah, bahasa, budaya, dan kadang butuh dugaan yang matang dan beralasan.”

Kami kembali berjalan perlahan menyusuri lorong rak buku. Sesekali aku berhenti, mengambil satu buku tertentu dari rak, lalu memperlihatkan halaman‑halaman penting kepadanya. Aku bercerita tentang isi buku itu, mengapa buku itu menjadi penting, dan bagaimana tulisan di dalamnya bisa mengubah cara pandangku saat pertama kali membacanya.

Aldo mendengarkan semuanya dengan saksama, tanpa pernah memotong pembicaraan. Matanya terus menatap wajahku lekat‑lekat, seolah‑olah setiap kata yang keluar dari mulutku adalah permata berharga yang tak boleh terlewatkan.

“Kamu berubah menjadi sosok yang berbeda saat berbicara soal buku dan tulisan,” ucapnya tiba‑tiba saat aku baru saja selesai menjelaskan makna mendalam dari novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja.

Aku menoleh bingung ke arahnya. “Maksudnya bagaimana?”

“Matamu terlihat berbinar terang. Gerakan tanganmu menjadi lebih hidup dan bersemangat. Suaramu pun terdengar lebih lantang dan gembira,” jelasnya sambil tersenyum lembut. “Persis seperti orang yang sedang jatuh cinta.”

Wajahku seketika terasa memerah panas hingga ke telinga. Aku berusaha mencari jawaban yang aman. “Ja… jatuh cinta pada buku maksudnya, kan?”

“Tentu saja. Pada buku‑buku indah ini,” jawab Aldo sambil terkekeh pelan. Namun seketika suaranya menjadi lebih rendah dan lembut saat ia menambahkan, “Atau mungkin… jatuh cinta pada sesuatu yang lain?”

Aku segera menundukkan pandangan, tak berani menatap matanya lagi. Jantungku berdegup makin cepat—entah karena suasana perpustakaan yang sunyi dan romantis, atau karena pertanyaannya yang sengaja dibuat samar dan menggugah perasaan.

“Aldo…” panggilku pelan, suaranya hampir hilang tertelan keheningan. “Ingat ya… kita baru saja saling mengenal selama beberapa hari saja.”

“Aku sangat sadar akan hal itu,” jawabnya tenang.

“Dan aku… aku baru saja berpisah dari kekasihku. Belum lama sama sekali.”

“Aku pun paham betul soal itu.”

“Jadi… jangan menggoda aku dengan kata‑kata yang tak pasti.”

Aldo terdiam sejenak. Lalu ia berkata dengan nada yang serius, rendah namun tegas: “Aku tidak sedang menggoda atau bermain‑main, Tari. Apa yang kukatakan itu tulus adanya.”

Aku mengangkat wajah perlahan, berani kembali menatap manik matanya yang coklat dan teduh itu. Dan selama beberapa detik yang terasa panjangnya, dunia di sekelilingku serasa berhenti berputar. Tak terdengar lagi suara mesin fotokopi, tak ada lagi bisikan mahasiswa, tak ada pula suara halaman buku yang dibalik. Hanya ada aku dan Aldo, berdiri berhadapan di tengah ribuan buku, dengan jarak yang begitu dekat hingga aku bisa melihat rona merah samar yang mulai muncul di pipinya.

“Aldo…” bisikku nyaris tak terdengar.

“Tari…” jawabnya, sama pelannya.

Namun tepat sebelum hal lain terjadi—atau sebelum kami melakukan sesuatu yang mungkin akan kami sesali—suara getaran halus terdengar memecah keheningan.

Brrt… Brrt…

Aldo menghela napas panjang, lalu merogoh ponsel dari saku celananya. Wajahnya yang sedari tadi tampak hangat dan ramah berubah seketika—menjadi tegang, lalu perlahan menjadi dingin dan serius saat ia melihat nama yang tertera di layar.

“Aku harus mengangkat telepon ini sebentar,” katanya singkat dengan nada yang berubah drastis. “Maafkan aku ya.”

Ia berjalan menjauh beberapa langkah, lalu mengangkat sambungan telepon dengan suara yang sangat pelan—terlalu rendah hingga tak bisa kudengar sepatah kata pun. Namun aku bisa melihat jelas ekspresi wajahnya dari belakang. Bahunya tampak naik‑turun cepat, seolah ia sedang berjuang menahan gejolak emosi yang kuat. Tangannya yang bebas terkepal erat, lalu melemah kembali, berulang kali.

Beberapa menit berlalu hingga ia kembali menghampiriku. Wajahnya tampak pucat, matanya terlihat sayu dan lelah, serta ada kerutan di dahinya yang tak kunjung hilang.

“Ada apa, Aldo? Ada kabar buruk?” tanyaku cemas melihat perubahannya itu.

Aldo menarik napas panjang, membiarkannya keluar perlahan‑lahan, lalu menatapku dengan pandangan yang sulit kutafsirkan—bercampur antara rasa bersalah, ketakutan, dan kekhawatiran yang mendalam.

“Penelepon tadi… Ibuku,” jawabnya pelan, hampir berbisik. “Ibu sudah tahu soal kita, Tari.”

Jantungku seakan berhenti berdetak sejenak. “Tahu… maksudnya tahu apa?”

Aldo mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan—gerakan yang biasa dilakukan orang saat sedang merasa sangat lelah dan tertekan.

“Ibu tahu bahwa kamu adalah mantan kekasih Reza. Dan Ibu tahu pula bahwa kita sering bertemu dan berbicara berdua.”

“Tapi bagaimana caranya Ibumu bisa tahu begitu cepat?” tanyaku kaget dan bingung.

“Reza yang bercerita sendiri,” jawab Aldo getir. “Tadi malam, sesampainya ia pulang setelah meninggalkan kosanmu, ia langsung menelepon Ibu. Ia mengadu panjang lebar. Berkata bahwa aku berani‑beraninya mendekati mantan kekasihnya, seolah melakukan hal yang terlarang.”

Aku terdiam kaku. Kepalaku terasa pening dan berat. Segalanya berjalan terlalu cepat, persis seperti naik wahana putar yang tak dikendalikan.

“Lalu… Ibumu marah sekali ya?” tanyaku pelan, meski hatiku sudah menduga jawabannya.

Aldo tertawa kecil—suara tawa yang pahit dan sama sekali tak ada rasa gembiranya. “Marah? Tari, kemarahan Ibuku kali ini sungguh luar biasa besarnya. Ia bilang aku tak punya rasa tahu diri. Bilang aku melanggar aturan tak tertulis dalam keluarga. Bilang apa yang kulakukan ini memalukan nama baik keluarga besar kami.”

Aldo menatapku lekat‑lekat. Matanya yang sedari tadi bersinar kini tampak redup dan sayu, persis seperti langit kelabu sebelum turun hujan lebat.

“Ibu meminta dan melarangku untuk berhenti bertemu denganmu mulai saat ini juga.”

Ada rasa nyeri yang tiba‑tiba menusuk tajam di dadaku. Sakit sekali rasanya. Padahal hubungan kami baru saja tumbuh, belum ada ikatan resmi, belum ada janji yang terucap. Namun kenapa rasanya persis seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang bahkan belum sempat kumiliki sepenuhnya?

“Dan… apa keputusanmu?” tanyaku dengan susah payah, berusaha menjaga agar suaraku tetap stabil meski dadaku terasa sesak. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Aldo?”

Aldo menatapku cukup lama. Matanya menyelidiki setiap sudut wajahku, seolah mencari sesuatu—mungkin keraguan, ketakutan, atau harapan yang tersisa di sana.

“Aku… aku belum tahu harus berbuat apa,” jawabnya jujur, tanpa berusaha menutupi keraguannya. “Selama ini aku belum pernah sekalipun berani menentang kehendak Ibu. Tapi di sisi lain… aku sama sekali tidak mau kehilangan apa yang sedang tumbuh di antara kita ini.”

“Apa yang tumbuh di antara kita?” ulangku bingung. “Apa maksudnya?”

Aldo menghela napas panjang, lalu perlahan meraih tanganku. Genggamannya lembut sekali, hati‑hati seolah aku terbuat dari kaca halus yang bisa pecah jika disentuh terlalu kuat.

“Aku belum bisa menjelaskan apa ini sebenarnya,” ucapnya pelan sambil menatap jari‑jemari kami yang saling bertaut. “Tapi satu hal yang aku tahu dengan pasti: aku tidak mau kehilangan momen‑momen bersamamu ini. Aku tidak mau kehilangan kamu, Tari.”

Perlahan, air mata mulai menggenang di sudut mataku—bukan karena sedih atau kecewa, melainkan karena rasa haru yang mendalam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, ada seseorang yang rela mempertaruhkan kedamaiannya, bahkan berani bersiap melawan pendapat keluarganya sendiri, hanya demi tetap ada di sisiku.

“Aldo…” bisikku parau. “Kalau begitu… kita bisa hadapi semuanya ini bersama‑sama, kan? Kita jalani dan selesaikan semuanya berdua.”

Aldo mengangkat wajahnya menatapku. Di balik pandangannya yang sedih, kini mulai bersinar kembali secercah semangat dan tekad yang kuat.

“Bersama‑sama…” ulangnya, seolah mengukir janji di dalam hati. “Berjanjilah padaku, Tari. Kita hadapi semuanya bersama‑sama.”

“Aku berjanji,” jawabku tegas dan mantap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!