Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BURUK DARI BIK RETNO
Sore itu, bias cahaya matahari yang mulai meredup mengiringi kepulangan Naya. Langkah kakinya yang terseret di atas lantai teras rumah terasa berkali-kali lipat lebih berat ketimbang pagi tadi. Rasa lelah yang teramat sangat menyergap seluruh sendi tubuhnya, seolah menguras habis sisa-sisa energi batin yang ia miliki. Rasa lelah yang bukan sekadar karena tuntutan pekerjaan dan lingkungan yang selalu harus diterimanya, melainkan karena hantaman kenyataan pahit bahwa Zaki tidak akan lagi mengikuti kegiatan belajar mengaja di kelasnya.
Hal ini jelas menjadi sebuah pertanda buruk. Naya tahu pasti, hari-hari ke depannya di sekolah akan terasa semakin hambar, dingin, dan buruk tanpa kehadiran pemuda itu.
Tidak akan ada lagi senyum khas Zaki yang sopan namun sarat akan arti rahasia di ambang pintu kelas. Bahkan, harapan untuk sekadar mencuri pandang di kafe tempat Zaki bekerja paruh waktu pun kini pupus total, sebab seluruh waktu pemuda itu pasti telah tersita oleh tanggung jawab barunya sebagai karyawan di perusahaan besar tersebut. Zaki telah melangkah maju ke dunia orang dewasa, meninggalkan Naya yang masih terjebak di dalam rutinitas sekolah yang menjemukan.
Sesampainya di kamar, Naya langsung merebahkan tubuhnya yang letih di atas ranjang tanpa sempat mengganti pakaian dinasnya. Kamar yang sepi itu terasa begitu mencekam. Dengan gerakan perlahan, ia mengambil ponsel dari dalam tas. Seperti sebuah ritual magis yang biasa ia lakukan saat merindu, jemarinya bergerak membuka aplikasi pesan, menuju ruang obrolan dengan kontak bernama 'Zaki'. Naya menatap nanar baris demi baris pesan terakhir di antara mereka beberapa bulan lalu, membaca ulang kata demi kata seolah ingin meresapi kembali kehangatan yang pernah ada di sana.
Cukup lama ia memandangi layar yang menyala itu, hingga sebuah dorongan nekat muncul di benaknya. Jemarinya mulai bergerak di atas papan ketik virtual, mengetikkan bait kata yang mengalir dari sudut hatinya yang paling sunyi.
Assalamu'alaikum Zaki. Ini aku...
Ibu jarinya menggantung di atas tombol kirim. Detik demi detik berlalu, menyisakan keheningan yang panjang di dalam kamar. Naya menarik napas dalam-dalam, menatap kalimat itu dengan mata berkaca-kaca. Logikanya tiba-tiba berputar, mengingatkannya akan status dan batasan yang ada. Rasa ragu yang teramat besar mendadak menyergap batinnya. Untuk apa aku mengirim ini? Apakah aku tidak membebankannya yang sedang berjuang di tempat kerja baru?
Akhirnya, dengan hati yang berat, Naya menekan tombol backspace berulang kali. Pesan itu dihapusnya lagi sampai bersih tanpa pernah sempat terkirim. Menyisakan ruang obrolan yang kembali sunyi.
Drrrt... Drrrt...
Tepat saat Naya hendak melempar ponselnya ke atas kasur, benda pipih itu tiba-tiba bergetar hebat di telapak tangannya. Sebuah panggilan masuk memecah keheningan. Jantung Naya sempat berdegup kencang, berharap sebuah nama yang barusan ia pikirkan muncul di layar. Namun, binar itu meredup saat melihat nomor tak dikenal tertera di sana.
Naya menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo?" tanggap Naya, mencoba menetralkan suaranya yang terdengar sedikit parau.
"Halo, Non Naya? Ini Bik Retno, Non..." Suara seorang wanita paruh baya di seberang telepon terdengar bergetar, menyiratkan nada panik dan cemas yang teramat sangat.
Naya langsung menegakkan posisi duduknya, firasatnya mendadak tidak enak saat mendengar suara asisten rumah tangga keluarga suaminya tersebut. "Iya, Bik. Ada apa?" tanya Naya dengan nada suara yang ikut meninggi, bersiap mendengarkan kabar apa pun yang akan meluncur dari bibir Bik Retno.
"Non. Ibu sama Bapak kecelakaan."
"A-APAAA?!" jerit Naya membelalakan bola matanya.
Suara itu seperti petir yang menyambar di siang bolong, membuat napas Naya tercekat seketika.
"Bibi jangan bercanda! Di-dimana Hana sama Reno sekarang? Bagaimana keadaan mereka, Bik?!"
"Menurut warga yang ada di lokasi kejadian, Ibu sama Bapak tak sadarkan diri di tempat. Katanya sekarang mereka dibawa ke rumah sakit, Non. Kondisinya... kondisi mereka kritis."
Dunia Naya seakan jungkir balik. Kakinya mendadak lemas. Air mata yang tadi sudah berhenti, kini kembali menderas tanpa permisi sampai menghalangi pandangannya. "Kirim! Kirim alamat rumah sakitnya ke saya sekarang juga, Bik! Jangan matikan dulu teleponnya!"
"Baik, Non... ini Bibi kirim alamat rumah sakitnya sekarang juga."
Dalam kepanikan yang mencapai ubun-ubun, sebuah pesan notifikasi masuk di ponselnya. alamat rumah sakit yang dimaksud Bik Retno sudah Naya terima.
Naya pun segera menyambar tas selempangnya dengan tangan gemetar, napasnya memburu di sela-sela rasa takut yang mencekik. Kemudian, ia berlari kecil menuju pintu depan, langkah kakinya tidak beraturan di atas lantai ruang tamu.
"Aku sekarang ke sana, Bik!" seru Naya dengan suara parau kepada Bibi yang masih terdengar khawatir di ujung telepon.
"Baik, Non. Bibik tunggu."
Tuuuut.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri