Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lani dengan fokus tinggi mulai membuka dan memeriksa beberapa berkas dokumen di atas meja kerjanya.
Baru beberapa menit ia berkonsentrasi, telepon kantor di kubikelnya berdering nyaring.
Dengan sigap dan profesional, Lani mengangkat gagang telepon tersebut.
"Selamat pagi, dengan Lani sekretaris Pak Afrain. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Lani dengan nada suara yang ramah dan sopan.
Di seberang telepon, terdengar suara bariton seorang pria paruh baya yang terdengar tegas.
Pria itu adalah Pak Firman, yang ternyata merupakan salah satu klien penting di perusahaan Afrain.
Pak Firman tentu saja tidak tahu jika suara lembut di telepon itu adalah milik Lani, mantan istri dari Alex.
"Selamat pagi. Saya Firman. Tolong sampaikan kepada Pak Afrain, saya meminta agar beliau bisa datang ke kantor saya jam sebelas siang ini untuk tanda tangan kontrak pekerjaan yang sempat tertunda," ujar Pak Firman dari balik sambungan telepon.
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan segera kepada Pak Afrain. Terima kasih, Pak," jawab Lani dengan tenang sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.
Lani bangkit dari kursi kerjanya, merapikan blazernya sedikit, lalu berjalan mengetuk pintu dan melangkah menuju ke meja kerja Afrain yang berada di dalam ruangan utama.
Afrain mendongak dari laptopnya, menatap sekretaris barunya itu dengan lembut. "Ada apa, Lan?"
"Barusan Pak Firman menelepon, Mas. Beliau meminta Anda datang jam sebelas siang nanti untuk tanda tangan kontrak kerja," lapor Lani menyampaikan pesan sang klien.
Afrain menganggukkan kepalanya paham, lalu melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan masih ada waktu satu jam untuk bersiap.
"Baiklah. Siapkan dokumen yang diperlukan, ya. Nanti kita berangkat bersama ke perusahaan Pak Firman," perintah Afrain dengan nada profesionalnya sebagai seorang pimpinan.
"Baik, Mas," sahut Lani sembari menganggukkan kepalanya patuh.
Ia pun berbalik kembali ke mejanya untuk menyiapkan draf kontrak.
Lani sama sekali tidak tahu dan tidak menyadari, bahwa Pak Firman yang dimaksud oleh Afrain adalah Pak Firman yang sama—atasan sekaligus orang yang mengetahui persis seluk-beluk kehancuran rumah tangganya dengan sang mantan suami.
Lani menyiapkan semua dokumen yang diperlukan dengan sangat cekatan.
Setelah memastikan tidak ada berkas penting yang tertinggal dalam map, tepat jam sepuluh mereka berdua langsung berangkat membelah jalanan kota menuju lokasi pertemuan.
Sesampainya di halaman sebuah gedung perkantoran yang cukup megah, Afrain memarkirkan mobilnya.
Lani mendongak melihat logo besar yang terpajang di bagian depan gedung.
Seketika itu juga, napasnya tertahan dan tubuhnya mendadak kaku.
"M-mas, bukankah ini kantornya Pak Firman?" tanya Lani dengan suara bergetar menahan gejolak di dadanya.
Gedung ini terlalu familiar baginya karena dulu ia sering mengantarkan bekal atau sekadar menjemput mantan suaminya di sini.
Afrain mematikan mesin mobil, lalu menoleh dan menatap Lani dengan pandangan yang teramat teduh namun sarat akan kekuatan.
Afrain menganggukkan kepalanya dengan tenang.
"Benar, Lan. Ini juga kantor mantan suamimu, kan?"
Lani meremas tali tasnya erat-erat, kilasan rasa sakit masa lalu sempat melintas di benaknya.
Namun, sebelum ketakutan itu menguasai Lani, Afrain mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Lani dengan lembut namun pasti.
"Ayo kita masuk," ajak Afrain, menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki kepada wanita di sampingnya. "Dan tunjukkan pada mereka kalau Lani yang sekarang sudah berubah. Kamu bukan lagi wanita yang bisa mereka injak-injak."
Mendengar kalimat penguat dari Afrain, Lani menarik napas dalam-dalam.
Ketakutan di matanya perlahan sirna, digantikan oleh binar ketegasan.
Ia mengangguk mantap, siap melangkah masuk mendampingi Afrain tanpa ada lagi rasa minder atau takut.
Dengan langkah kaki yang anggun dan penuh percaya diri, Lani berjalan beriringan bersama Afrain memasuki lobi kantor.
Aura berwibawa dari Afrain yang bersanding dengan penampilan baru Lani yang sangat elegan seketika menyedot perhatian beberapa karyawan yang berlalu-lalang di koridor lantai utama.
Mereka berdua berjalan menuju ruang rapat utama yang dindingnya terbuat dari kaca transparan.
Di salah satu sudut ruangan kubikel, Alex sedang sibuk mencatat sesuatu. Namun, pergerakan di dekat pintu masuk ruang rapat membuat matanya melirik.
Dari kejauhan, Alex menjatuhkan penanya begitu saja ke atas meja.
Matanya membelalak bulat, jantungnya berdegup kencang menyaksikan pemandangan di depannya. Lani—mantan istrinya yang baru beberapa hari lalu ia usir—kini berdiri di sana dengan pakaian bermerek yang sangat cantik, bersanding mesra dengan Afrain yang tampak seperti seorang konglomerat.
"Alex, ayo masuk," ajak Pak Firman yang kebetulan lewat di dekat kubikel Alex, membuyarkan lamunan pria itu. Pak Firman meminta Alex ikut masuk untuk membawa beberapa berkas pendukung rapat.
Dengan tangan gemetar, Alex memungut penanya dan berjalan mengekor di belakang Pak Firman dengan sisa syok yang masih memenuhi dadanya.
Begitu pintu ruang rapat terbuka, Pak Firman melangkah masuk dengan senyuman ramah.
Namun, langkahnya sempat tertahan sejenak. Pak Firman terkejut dengan keberadaan Lani yang berdiri anggun di samping Afrain.
Sebagai atasan Alex, ia tentu tahu betul bagaimana rupa mantan istri karyawannya itu yang dulu sering datang dengan pakaian sederhana.
Afrain yang menyadari perubahan ekspresi Pak Firman serta kedatangan Alex di belakangnya, langsung mengulas senyum tipis penuh kemenangan.
Ia sengaja merangkul pinggang Lani dengan lembut sebelum memperkenalkan wanita itu secara resmi.
"Perkenalkan, ini sekretaris pribadi saya, Lani," ucap Afrain dengan suara bariton yang lantang, memecah keheningan ruangan.
Mendengar penuturan Afrain, Pak Firman langsung mengangguk dengan pandangan kagum dan menjabat tangan Lani dengan penuh rasa hormat.
Sementara itu, di ambang pintu, Alex hanya bisa mematung dengan wajah pucat pasi.
Dadanya terasa sesak seolah dihantam batu besar, menyaksikan mantan istrinya kini telah berada di level yang jauh lebih tinggi dan sama sekali tidak bisa ia jangkau lagi.
"Ayo kita mulai, dan sebelum tanda tangan, saya minta Alex untuk kembali menjelaskan tentang proyek kita," ucap Afrain tenang namun sarat akan penekanan, matanya melirik tajam ke arah Alex yang masih berdiri kaku.
Pak Firman menganggukkan kepalanya setuju. "Baik, Pak Afrain. Silakan, Alex. Presentasikan poin-poin utama dari proposal kerja sama kita."
Dengan langkah ragu dan telapak tangan yang mulai dingin, Alex maju ke depan ruang rapat.
Ia membuka laptopnya dan menyambungkannya ke proyektor.
Suaranya terdengar agak bergetar saat mulai menjelaskan halaman pertama tentang estimasi anggaran dan target perluasan pasar yang telah ia susun bersama timnya.
Namun, baru beberapa menit Alex berbicara, penjelasannya langsung di-stop oleh Lani.
"Maaf, bisa tolong jelaskan mengapa di halaman tiga bagian analisis risiko, Anda memasukkan inflasi bahan baku sebesar lima persen, padahal tren pasar kuartal ini sedang melonjak hingga dua belas persen? Bukankah itu artinya perhitungan profit bersih yang Anda tawarkan ke perusahaan kami menjadi tidak realistis dan berisiko defisit?" tanya Lani dengan nada suara yang tenang, tegas, dan sangat profesional.
Mendengar pertanyaan yang begitu teknis dan tajam itu, Alex seketika bungkam.
Mulutnya setengah terbuka, namun tak ada satu pun kata yang keluar.
Ia kebingungan dan gugup setengah mati, karena jujur saja, selama ini yang mengurus detail laporan keuangan dan analisis pasar yang rumit di rumah adalah Lani, sementara ia hanya tahu beres.
Melihat mantan suaminya hanya termangu bodoh, Lani bangkit dari duduknya.
Ia melangkah mendekati layar proyektor dengan pembawaan yang sangat berwibawa, lalu mengetuk dokumen di tangannya.
"Saya meminta penjelasan tentang kalkulasi anggaran operasional ini, Alex. Jika Anda tidak bisa mempertanggungjawabkan angka-angka yang Anda tulis di sini, bagaimana perusahaan kami bisa memercayakan investasi sebesar miliaran rupiah kepada Anda?" lanjut Lani, menatap lurus ke dalam manik mata Alex yang kini memancarkan rasa panik dan malu yang luar biasa di depan atasannya sendiri.
"S-saya bisa menjelaskannya," jawab Alex dengan terbata-bata, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Ia mencoba membolak-balik kertas panduannya dengan tangan gemetar, berusaha keras merangkai kata-kata demi menyelamatkan harga diri di depan atasannya dan juga di depan Lani.
Dengan suara yang tidak selantang tadi, Alex mencoba menjelaskan ulang poin kalkulasi tersebut, meskipun argumennya terdengar dipaksakan dan sedikit berputar-putar.
Lani mendengarkan penjelasan itu dengan saksama tanpa memotong lagi.
Setelah Alex selesai berbicara dengan napas yang memburu karena gugup, Lani kembali duduk di kursinya dengan anggun.
Ia memeriksa kembali lembaran berkas di depannya, lalu menoleh ke arah Afrain yang sejak tadi memperhatikannya dengan tatapan bangga.
Akhirnya, Lani menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia menerima penjelasan tersebut meski dengan catatan kecil untuk revisi ke depan.
"Baik, Pak Afrain. Semuanya sudah lancar dan sesuai dengan kualifikasi mendasar perusahaan kita. Anda bisa menandatangani kontraknya sekarang," ucap Lani dengan nada profesional yang mantap.
Mendengar keputusan dari sekretaris pribadinya, Afrain mengulas senyum tipis yang penuh kemenangan.
Ia meraih pulpen mahal dari saku jasnya, lalu membubuhkan tanda tangan di atas materai dokumen kontrak kerja sama bernilai miliaran tersebut, disaksikan oleh Pak Firman yang bernapas lega, dan Alex yang hanya bisa menunduk dalam-dalam menahan rasa malu yang teramat sangat.
Setelah prosesi tanda tangan kontrak yang menegangkan itu selesai, suasana di dalam ruang rapat berangsur-angsur mencair.
Pak Firman tampak sangat puas dengan kesepakatan bernilai miliaran rupiah yang baru saja sah di atas kertas.
Ia merapikan berkas-berkasnya, lalu berdiri sambil mengancingkan jasnya dengan senyum lebar.
"Akhirnya kita selesai juga, dan kerja sama ini resmi berjalan."
Pak Firman kemudian menoleh ke arah Afrain dan Lani dengan sikap yang sangat ramah.
"Sebagai perayaan kecil atas kerja sama baru kita, saya mengundang Pak Afrain dan Ibu Lani untuk makan siang bersama di tempat yang sudah disiapkan oleh tim kami di restoran. Mari kita ke sana sekarang," ajak Pak Firman sembari mengulurkan tangannya, mempersilakan tamunya untuk berjalan lebih dulu.
Afrain mengulas senyum profesionalnya, lalu menganggukkan kepalanya dengan berwibawa.
"Tentu, Pak Firman. Terima kasih atas undangannya."
Sebelum melangkah keluar, Afrain melirik ke arah Lani dengan tatapan yang sangat lembut, lalu beralih memberikan pandangan dingin kepada Alex yang masih sibuk merapikan laptopnya dengan wajah lesu dan terpukul.
Tanpa sepatah kata pun untuk pria dari masa lalu Lani itu, Afrain menuntun sekretaris cantiknya melangkah keluar ruang rapat, meninggalkan Alex yang hanya bisa menatap punggung mereka dengan dada yang terasa sesak oleh penyesalan.