NovelToon NovelToon
My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Balas Dendam
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Rosemary Mary

Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.

Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.

Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode #18

"Eh, eh, pak lepasin saya bisa jalan sendiri kok," kata Clara kaget dengan perbuatan Zidan.

"Diam kamu, saya tidak mau kamu merepotkan saya lagi, cepat pegangan," kata Zidan memegang tangan Clara dan menuntun nya untuk memaut bahu nya.

"Tapi pak gimana kalau ada yang lihat? Mereka bakal salah paham," ungkap Clara lagi.

"Salah paham apanya? Kenyataan nya kami istri saya," kata Zidan lagi.

Setelah itu tidak ada yang keluar dari mulut nya, ia menggendong Clara keluar dari UKS menuju parkiran mobil, suasana sekolah sudah sangat sepi tidak ada orang kecuali Clara dan Zidan.

Tips butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di mobil, Zidan membuka pintu mobil dan meletakkan Clara ke dalam. Lalu ikut masuk melalui pintu sebelah nya.

Jantung Clara berdegup kencang, aroma parfum khas Zidan menempel di tubuh nya belum lagi hangat nya nafas Zidan yang menyapa rambut nya masih terasa begitu jelas.

Mobil bergerak keluar dari gerbang sekolah dan melaju pulang kembali ke villa.

"Masih sakit?" ungkap Zidan sambil melirik lutut Clara.

"E-engak kok," jawab Clara sambil menatap lutut nya.

"Mulai besok saya akan suruh kepala pelayan menyiapkan seragam sekolah baru untuk kamu," kata Zidan sambil kembali fokus menyetir mobil nya.

"Apa? Seragam sekolah baru? Maksud bapak apa ya? Seragam saya kan masih bagus dan bisa di pakai sampai saya lulus, ngak pokoknya saya gak mau ganti seragam," kata Clara kembali memasang tetapan kebencian.

"Tidak bisa, seragam kamu terlalu pendek dan mini, kamu tidak sadar kalau bentuk tubuh kamu itu bisa mengundang nafsu laki-laki?" ungkap Zidan.

Jujur saja sebagai laki-laki normal saat melihat Clara yang begitu membuat Zidan merasa sedikit gerah, setiap hari ia mengunakan pakaian sekolah pas-pasan dengan lekuk tubuh nya, rok pendek sepaha, dan baju sekolah yang sedikit ketat entah kenapa Zidan jadi tidak rela melihat nya, meksipun yang seperti itu di sekolah bukan hanya Clara saja.

"Pokoknya gak mau, masa cuma itu alasan nya, saya bisa jaga diri saya sendiri pak jadi jangan terlalu mengatur," kata Clara tak peduli.

Zidan tidak ingin bertengkar lagi dengan Clara ia memilih untuk diam namun bukan berarti dirinya harus menyetujui ketidak mauan Clara.

Perjalanan terus berlangsung, melewati gedung-gedung tinggi kota, suasana kini jadi hening.

Namun tiba-tiba saja Zidan memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran.

"Ngapain berhenti pak?" tanya Clara sambil mengerutkan keningnya.

"Mau makan,"ucap nya lagi.

"Tapi saya sudah kenyang,"

"Kamu, saya kan belum," kata Zidan yang kemudian berjalan keluar dari mobil.

"Zidan sialan!" batin Clara yang kemudian mengikuti Zidan keluar dari mobil.

Ia mengikuti Zidan masuk ke dalam restoran tersebut sambil melihat sekeliling banyak pasang mata menatap ke arah nya dengan tatapan berbeda.

Beberapa menit kemudian.

"Mau makan apa?" tanya Zidan setelah mereka duduk di kursi pojok restoran.

"Apa aja," jawab Clara singkat.

Zidan pun memesan makanan untuk mereka berdua.

"Kenapa kamu melihat saya sampai segitunya?" tanya Zidan menyadari kalau Clara sedang memperhatikan dirinya.

"Gak ada, bapak PD banget ya, orang saya gak lihat ke bapak kok," kata Clara seketika mengalihkan pandangannya.

Zidan tersenyum miring dan kemudian memainkan ponselnya. Bukan ponselnya melainkan ponsel Clara.

"Eh balikin hp saya pak," kata Clara yang reflek hendak mengambil ponsel tersebut dari tangan Zidan.

"Makan dulu, nanti saya kembalikan," kata Zidan kembali menyembunyikan ponsel milik Clara karena kebetulan makanan mereka pesan telah sampai.

"Tua bangka ngeselin," batin Clara sambil melirik Zidan kesal.

"Lah makanan macam apa sih yang bapak pesan ini? Kok kayak nya hijau-hijau semua saya kan bukan kambing pak," kata Clara melihat makanan untuk nya yang terdiri dari banyak sayur-sayuran.

"Makan saja," kata Zidan sambil menikmati makanan nya yang semuanya adalah makanan pedas dan terlihat sangat mengiurkan.

"Gak mau, saya maunya yang sama kayak bapak," kata Clara menujuk makanan milik Zidan.

"Tidak boleh, ini punya saya, kamu tidak akan bisa memakan nya karena pedas, bukan kah kamu sedang sakit perut? Jadi saya pesankan kamu makanan yang sehat yang banyak mengandung vitamin, cepat makan jika saya sudah selesai kamu akan saya tinggal," ujar Zidan yang kemudian kembali menikmati makanan nya.

Mau tidak mau sekarang Clara hanya bisa menuruti apapun yang Zidan katakan, tak ada celah untuk nya menolak ucapan laki-laki tersebut.

Satu jam berlalu, suasana sore sudah semakin memperlihatkan kepada Zidan dan Clara kalau mereka pasti akan tiba di villa saat malam hari.

"Ah kenyang banget, rasanya pengen muntah makan sayuran," kata Clara sambil memegang perut nya dan kemudian masuk ke dalam mobil mendahului Zidan.

Sementara itu Zidan hanya menggeleng kepala melihat tingkah Clara yang bar-bar.

"Malam ini kamu lanjut belajar," kata Zidan sambil melajukan mobilnya.

"Apa? Gak mau, bisa gak sih pak kita itu belajar nya pas malam Minggu aja, saya capek banget ni kepala gak bisa muat lagi sama pelajaran," oceh Clara yang mulai tak sungkan lagi melawan Zidan.

"Otak kamu itu kecil, tapi harus tetap belajar setiap malam karena kamu harus naik kelas seminggu lagi ada ujian naik kelas kamu lupa ya?" jelas Zidan sambil fokus mengemudi mobil.

"Hadeh, capek banget sama pak tua ini, belajar mulu," kata Clara dengan suara kecil.

"Saya dengan kamu Clara," ujar Zidan lagi.

Sementara itu di sisi lain.

"Ibu," kata Yuna menghampiri ibunya yang saat ini sedang memasak di dapur rumah kediaman mama Reina dan papa Ferguson.

"Eh, Yuna kenapa kamu datang ke sini nak?" tanya sang ibu yang kemudian menarik Yuna ke sudut lain untuk bicara berdua dengan sang anak.

"Ibu, aku pengen ketemu sama Clara, apa ibu bisa bantuin?" tanya Yuna lagi dengan suara yang sedikit pelan.

"Apa? Mau apa kau ingin bertemu dengan nona muda? Yuna jangan bikin masalah lagi ibu mohon, nona muda sudah sangat sulit karena hukuman dari kedua orang tua nya," kata ibunya Yuna yang tau bagaimana sikap anak nya itu.

"Ibu, aku itu cuma pengen ngobrol sama dia, ini kak Brayen yang minta tolong," ujar Yuna lagi.

Sang ibu terdiam, ia tidak tau harus berkata apa lagi kepada anak nya itu, namun rahasia tenang Clara yang di nikahkan oleh kedua orang tua nya tidak boleh sampai tersebar jika tidak mereka akan kehilangan pekerjaan.

"Maaf Yuna kali ini Ibu tidak bisa membantu mu karena nona muda sudah tidak tinggal di sini lagi," jelas sang ibu.

"Apa? Clara ngak tingal di rumah ini lagi? Terus dia tinggal di mana Bu? Gak mungkin kan gara-gara insiden kemarin Clara di usir dia kan anak satu-satunya?" kata Yuna seketika kaget dengan pernyataan sang ibu.

"Ya ibu hanya pelayan di sini Yuna, ibu juga tidak tau hukuman apa yang diberikan tuan dan nyonya, intinya sekarang nona muda sudah tidak tinggal di sini lagi, tolong jangan banyak bertanya ibu mau kerja dulu kau pergi lah dan katakan kepada Brayen apa yang ibu katakan," setelah mengatakan itu sang ibu pun meningalkan Yuna dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.

Yuna masih mematung dengan pernyataan ibunya barusan, dalam hatinya tidak mungkin mama dan papa Clara sampai segitunya menghukum Clara, namun Yuna harus segera pergi karena jika dia berlama-lama di sini pasti akan ada aja cerocosan para pelayan lain yang tidak suka dengan nya karena selalu bertengkar dengan Clara.

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!