Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. JUAL GINJAL
"Sagara Mandala!"
Suara Erina naik hingga dua oktaf saat memanggil anak sulungnya, sementara Saga tetap terpejam di atas ranjang sempit dalam kamarnya yang berantakan dengan earphone menempel di kedua lubang telinganya.
Plak!
Erina sampai harus menepuk keras betis Saga, membuat remaja berusia hampir empat belas tahun itu terlonjak dan akhirnya membuka mata.
"Apaan sih, Ma?!" gerutunya dengan suara serak dan ekspresi kusut khas orang baru bangun tidur.
"Kamu yang apaan--jelasin ke Mama, apa-apaan ini?!"
Erina menyodorkan ponselnya ke bawah hidung Saga--yang seketika mengernyit karena jemari Erina bau terasi dan bawang yang menyengat.
Tetapi netra hitamnya yang malas dan mengantuk melihat apa yang ingin ditunjukkan ibunya--sebuah rekaman video yang diambil dari kamera ponsel yang bergoyang, menayangkan dirinya berkelahi dan menonjok Rudi, teman sekelasnya sendiri, sampai babak belur.
"Oh... itu," Saga menguap panjang, seakan tak peduli. "Mama dikirimin siapa video itu? Bu Lela si Guru BK?"
"KAMU INI HABIS BIKIN ANAK ORANG BONYOK, SAGA! BISA-BISANYA REAKSIMU ENTENG BEGITU?!" jerit Erina berang. "Jelasin ke Mama--kenapa kamu berantem kayak preman pasar begini?! Kamu tahu gara-gara ini, kamu terancam dikeluarkan dari sekolah dan besok Mama harus menghadiri Sidang Komite Disiplin untuk dimintai pertanggungjawaban?!"
"Ya udah tinggal pindah sekolah aja. Ribet amat," balas Saga sambil menutup mata dan membenamkan kepalanya kembali di bantal.
"Saga!" Erina habis sabar dan menjewer telinga anaknya hingga mengaduh dan duduk tegak di kasur. "Jangan bikin Mama ulek kamu bareng cabe dan terasi di dapur ya--jelasin semuanya ke Mama, sejelas-jelasnya, sekarang!"
"Rudi duluan yang mulai!" teriak Saga sambil mengusap telinganya yang merah dengan jengkel. "Dia nampar Nia sampai nangis! Si brengsek yang berani main kasar ke cewek jelas harus dikasih pelajaran!"
Erina tertegun sejenak. Jawaban putranya sungguh tak teduga.
"Nia... itu... siapa?" tanya Erina lambat--otaknya tiba-tiba terasa berkabut.
"Pacarnya Rudi," sahut Saga sebal. "Mereka berantem, terus Rudi nampar Nia. Saga maju dan tegur dia--eh dia nggak terima dan mau mukul Saga. Ya udah Saga lawan."
Erina ternganga sekarang.
"Ini serius--kamu nggak bohong, kan? Nggak lagi ngarang, kan?"
"Buat apa Saga bohong? Saksinya banyak--kalau nggak percaya, tanya aja teman-teman sekelas Saga!" sengit Saga. "Rudi itu emang cowok brengsek--suka kasar dan main tangan ke siapa aja yang bikin dia jengkel! Tapi nggak ada yang berani sama dia karena dia cucunya pemilik yayasan! Bagus kan akhirnya Saga bisa kasih pelajaran ke dia--biar tahu rasa!"
Erina perlahan memijat pelipisnya yang ditempeli koyo untuk menghilangkan pusing membandel sejak semalam--dan jelas sakit kepalanya tak akan sirna dalam waktu dekat.
"Tapi kamu udah bikin hidung cucu pemilik yayasan patah... besok di Sidang Komite kamu bisa aja dikeluarin, atau dituntut ke polisi, atau Mama disuruh ganti biaya rumah sakit... tapi harusnya enggak sih karena orang kaya pasti punya duit dan asuransi kan... eh tapi bisa aja tetap disuruh ganti... orang kaya biasanya pelit dan perhitungan, makanya bisa kaya... ya Allah, Alhamdulillaahirabbil'alamiin... Arrahmaanirrahiim... Maalikiyaumiddiin..."
Erina meracau dan malah lanjut baca potongan ayat Al-Fatihah.
Saga menatap Erina--hafal kebiasaan absurd ibunya yang akan melantur sendiri kalau sedang stress atau sakit kepalanya kambuh. Rasa bersalah pun mulai menghinggapi batinnya.
"Maafin Saga, Ma...," gumam Saga muram.
Erina seakan tak mendengar putranya, dan gumamannya ke diri sendiri berlanjut ke perkiraan biaya rumah sakit, atau untuk menyogok polisi agar Saga tak dipenjara, dan memperkirakan saldo tabungannya yang tak seberapa akan langsung terjun jadi nol rupiah jika harus menambal semua itu.
"Kalau duitnya nggak cukup... jual ginjal aja kali ya..."
Saat Erina sedang mempertimbangkan lebih baik ginjal kanan atau kirinya yang diperdagangkan, tiba-tiba terdengar tepukan tangan cepat dan keras tepat di belakang punggung Erina.
Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!
"Na--Nala?"
Erina menoleh, kaget. Entah sejak kapan, Nala, anak bungsunya, berdiri di sana. Anak perempuan cantik berusia sebelas tahun itu menepuk tangannya cepat dan berulang--tatapannya tertuju ke satu titik di kejauhan, seakan melihat hantu tengah melayang.
"Bau. Aneh. Bau. Aneh. Itu pasti dari api. Api itu CO2, H2O, O2, N."
Celotehan tak biasa Nala menyentak kesadaran Erina, seiring hidungnya mencium aroma hangus dari arah dapur.
"Ma... masakanku gosong!"
***
Surat Kecil dari Penulis:
Dearest Lovely Readers ❤️
Kenken kabare--how are you--ni hao ma--wie geht es dir--apa kabar? Semoga sehat dan jangan lupa senyum cerah ala iklan pasta gigi hari ini, karena senyum adalah ibadah asal jangan berlebihan apalagi ke suami atau istri orang. 🙏🙃
Terima kasih sudah mampir ke salah satu karya La Rumi~~yang kali ini mencoba lebih humoris setelah cerita sebelumnya begitu dar-der-dor. 😂 Tapi dari sinopsisnya aja udah ngasih spoiler ya, novel ini bakalan "deep" dan mungkin mengandung bawang...
Tapi ya namanya fiksi berdasarkan realita, hidup itu tak selamanya pelangi aneka warna. Hidup terasa hidup karena ada badai dan malam terkelam sebelum fajar dan matahari kembali bersinar. 🌞
Jadi... apapun fasenya, mari dinikmati dan disyukuri saja... sambil terus berjuang ya, seperti kisah Erina yang akan kita hayati bersama-sama, dan semoga bisa menginspirasi kita semua. 🙃
Akankah cerita Erina sad ending, atau happy ending...? Kawal runut sampai akhir ya... 😉
Enjoy the book, enjoy the life! 🤍
NB: Jangan lupa subscribe, like, komen, vote kalau suka dan mau dukung ceritanya~~matur suksma, thank you, terima kasih, xie xie, danke ❤️
Yours sincerely,
~La Rumi~
***