NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:66.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Di halaman depan rumah Anderson, suasana pagi masih cukup sibuk. Dua orang pelayan membawa koper hitam milik Nathan keluar dari rumah. Mereka berjalan hati-hati menuju mobil yang sudah menunggu di depan.

"Tuan, koper seperti biasa sudah kami siapkan," ujar salah satu pelayan.

Nathan yang berdiri di samping mobil menoleh sekilas.

"Semua pakaian dari lemari bawah dan pakaian dinas sudah dimasukkan."

Nathan mengangguk singkat. "Masukkan ke mobil."

"Baik, Tuan." Kedua pelayan segera melaksanakan perintahnya.

Tak jauh dari sana, Ara berdiri di teras rumah sambil memperhatikan semuanya. Begitu Nathan hendak masuk ke mobil, Ara melambaikan tangannya.

"Hati-hati di jalan!"

Nathan menoleh, tatapan mereka bertemu sesaat.

Pria itu hanya mengangguk pelan. "Hm." Lalu masuk ke dalam mobil.

Pintu tertutup dan mesin mobil menyala. Perlahan kendaraan mewah itu meninggalkan halaman rumah. Ara masih melambaikan tangan sampai mobil benar-benar keluar dari gerbang.

Begitu mobil menghilang dari pandangan,

"Yes!" Ara langsung melompat kecil penuh kemenangan.

Kedua tangannya terangkat ke udara. "Bebas!"

Beberapa pelayan langsung membeku. Salah satu bahkan hampir menjatuhkan nampan yang sedang dibawanya.

Sementara itu, di dalam mobil. Nathan yang sempat melihat tingkah Ara melalui kaca belakang langsung memejamkan mata beberapa detik.

Lalu menghela napas panjang.

"Apa aku salah menikahi orang?" Gumamnya.

Di kursi depan, Mohan langsung menahan tawa.

Nathan menatap ke luar jendela.

"Kalau dibilang anak TK..." Ia berhenti sejenak.

"Sudah tidak cocok lagi."

Mohan akhirnya gagal menahan senyum. "Setidaknya rumah jadi lebih ramai, Tuan."

Nathan hanya menggelengkan kepala. Sementara itu, setelah memastikan mobil Nathan benar-benar pergi, Ara langsung berbalik menuju garasi.

Senyumnya semakin lebar. Hari itu ia berencana kembali membuka warung. Sudah dua hari warungnya tutup. Pasti banyak pelanggan yang mencari-carinya.

Begitu masuk ke garasi, matanya langsung berbinar melihat sepeda listrik kesayangannya.

"Nah, ini dia." Ara berjalan mendekat. Lalu menaikinya dengan percaya diri. Ia menekan tombol power tidak ada respons.

Ara mengernyit. "Jangan bercanda." Gumamnya. Ia melihat indikator baterai, lalu membeku.

"Astaga!" Teriaknya.

Salah satu pelayan yang lewat langsung terkejut.

"Nyonya kenapa?"

"Baterainya habis!"

Pelayan itu berkedip bingung. Ara memegangi kepalanya.

"Kenapa aku lupa ngecas?!"

Kini seluruh rencana indahnya berangkat menggunakan sepeda listrik hancur seketika. Ara turun dari sepeda dengan wajah kesal.

"Pengkhianat." Gumamnya sambil menepuk-nepuk stang sepeda.

Padahal jelas-jelas yang lupa mengisi daya adalah dirinya sendiri. Setelah beberapa menit menggerutu tidak jelas, Ara akhirnya mengeluarkan ponselnya.

Dengan berat hati ia membuka aplikasi transportasi online.

"Terpaksa pesan taksi." Ujarnya sedih.

Baginya naik taksi terasa jauh lebih menyakitkan daripada membayar tagihan listrik. Begitu pesanan diterima, Ara berjalan keluar dari garasi sambil terus menggerutu.

"Hari yang buruk, luar biasa buruk. Semoga pelanggan warung hari ini banyak."

Menjelang siang, warung sarapan milik Ara yang biasanya mulai sepi justru masih ramai.

Beberapa pelanggan masih duduk memenuhi meja-meja sederhana di bawah tenda. Aroma nasi goreng, mie rebus, dan kopi hangat bercampur di udara.

Ara sendiri sibuk mondar-mandir membawa pesanan.

"Bu Ara, satu es teh lagi!"

"Siap!"

"Tambah gorengan dua!"

"Datang!"

"Bu Ara, bayar!"

"Tunggu sebentar!" Ara menjawab semuanya tanpa berhenti bergerak.

Meski terlihat kewalahan, wajahnya tetap ceria. Setidaknya dibanding duduk diam di rumah besar Anderson, mengurus warung jauh lebih menyenangkan. Sementara itu, di seberang jalan, sebuah kelompok siswa SMA berdiri di dekat minimarket.

Di antara mereka ada Theo. Topi hitam menutupi sebagian wajahnya. Tangannya dimasukkan ke saku celana sambil mengawasi warung Ara dari kejauhan.

Salah satu temannya memperhatikan arah pandang Theo.

"Ngapain lo?"

Theo langsung berdehem. "Nggak ngapa-ngapain."

"Bohong!"

Temannya ikut melirik warung itu.

"Lagi lihat siapa?"

"Nggak ada." Theo cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Temannya justru semakin curiga.

"Laper nggak?" Tanyanya.

"Ayo makan."

Theo menggeleng. "Nggak."

"Lah kenapa?"

"Aku makan di rumah aja."

Temannya langsung membulatkan mata.

"Kok rajin?"

Theo hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.

"Apa maksud lo?"

"Maksud gue biasanya lo paling males pulang."

Theo berdehem lagi. "Ada urusan." Jawab Theo singkat.

Temannya mengangguk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

"Oh iya, nanti malam jadi balapan nggak?"

Theo menoleh. "Balapan?"

"Iya."

"Anak-anak sudah nunggu jawaban lo."

Theo menyeringai tipis, "tentu saja jadi."

Balapan malam sudah seperti kegiatan wajib bagi kelompok mereka.

"Kita ketemu jam sembilan malam." Ujarnya santai.

"Di tempat biasa."

Mata teman-temannya langsung berbinar. "Serius?"

Theo mengangguk. "Serius."

"Siap!"

"Gas malam ini!"

"Jangan telat!"

Mereka langsung bersemangat.

Beberapa menit kemudian satu per satu pergi meninggalkan lokasi. Tak lama, Theo tinggal sendirian. Pemuda itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah warung.

Dari balik tiang listrik, ia memperhatikan Ara yang sedang melayani pelanggan.

"Kok kerja beneran sih?" Gumamnya heran.

Sejak pagi ia sudah menduga wanita itu akan bertemu pria misterius yang kemarin meneleponnya. Atau setidaknya melakukan sesuatu yang mencurigakan setelah mendapat kabar dari pelayan kalau ibu tirinya pergi dari rumah dari pagi.

Ara hanya terlihat berjualan, melayani pelanggan dan mencuci piring.

Theo menyipitkan mata. "Mustahil." Ia tidak percaya penyelidikannya akan berakhir secepat ini.

Tanpa Theo sadari, dari dalam warung, Ara yang sedang mengangkat tumpukan piring sempat melihat sosok yang bersembunyi di balik tiang listrik.

Keningnya langsung berkerut.

"Itu..." Matanya menyipit. "Bukankah itu Theo? Ngapain anak itu berdiri di sana seperti maling jemuran?"

Saat Ara sibuk membungkus beberapa pesanan pelanggan ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan berhenti tepat di depan warungnya.

Mesin mobil itu nyaris tidak bersuara. Namun, tampilannya langsung menarik perhatian banyak orang. Beberapa pelanggan menoleh. Bahkan, ada yang sampai menghentikan aktivitas makannya.

"Wah..."

"Itu mobil baru, kan?"

"Kalau nggak salah keluaran terbaru."

"Orang kaya mana lagi itu?" Bisik mereka.

Di balik tiang listrik seberang jalan, Theo yang masih menjalankan misi penyelidikannya langsung menyipitkan mata.

Mobil itu tidak asing baginya. "Buset..." Gumam Theo. "Itu mobil siapa?" Matanya membesar.

"Kalau nggak salah baru ada dua unit di kota ini." Rasa penasarannya langsung meningkat berkali-kali lipat.

Pintu mobil terbuka.

Seseorang turun dari sana. Seorang pria tinggi dengan jas rapi dan wajah tampan yang dingin. Begitu melihat sosok itu, Ara yang sedang membawa nampan langsung berhenti.

Wajahnya berubah cerah. "Kak!" Serunya.

Theo langsung membelalakkan mata saat melihat Ara menghampiri pria itu, tetapi dirinya nggak tahu apa yang Ara bicarakan sama pria tersebut.

Pria itu menoleh, tatapan dinginnya langsung melunak saat melihat Ara. Ara buru-buru menghampiri pria tersebut. Sebelum mendekat, matanya sempat melirik ke arah tiang listrik tempat Theo bersembunyi. Tempat itu kosong Theo sudah berpindah tempat. Ara menghela napas lega.

'Semoga anak itu nggak muncul tiba-tiba dan bikin kekacauan.' Batinnya.

Sementara itu Kenzi memperhatikan adiknya dari atas sampai bawah.

"Kamu sehat?" Tanyanya singkat.

Ara tersenyum lebar. "Sehat."

"Kurus banget ..."

"Tidak!" Ara mendengus kesal.

"Kakak datang cuma buat ngatain aku kurus?"

Kenzi tidak menjawab. Sebagai gantinya ia mengulurkan sebuah kantong belanja besar.

Ara langsung melotot. "Apa ini?"

"Buka..."

Ara membuka kantong itu. Detik berikutnya matanya berbinar. Isinya penuh camilan favoritnya.

"Cokelat!"

Kenzi hanya mengangguk. Ara langsung memeluk lengan kakaknya.

"Kakak terbaik sedunia.

"Kemarin katanya Kenzo..."

Ara pura-pura tidak dengar. Kenzi menggeleng pelan melihat tingkah adiknya. Kemudian matanya mengamati warung sederhana itu.

Kenzi menghela napas.

Sementara itu, beberapa meter dari sana Theo kini bersembunyi di balik mobil pelanggan lain. Matanya tidak lepas dari Ara dan pria misterius tersebut. Ketika melihat Ara merangkul lengan pria itu, rahangnya langsung jatuh.

"Astaga..." Bisiknya. "Mereka pegangan tangan!"

Theo buru-buru mengeluarkan ponselnya. Tiga foto langsung berhasil diambil. Matanya berbinar seperti detektif yang baru menemukan petunjuk besar.

"Akhirnya..." Gumamnya penuh kemenangan.

"Aku dapat bukti."

Theo sama sekali tidak tahu kalau pria yang sedang dipotretnya adalah kakak kandung Ara.

Di matanya saat ini, yang terlihat hanyalah seorang pria kaya raya, tampan, dan misterius yang sedang bertemu diam-diam dengan ibu tirinya.

Sementara Ara yang merasa Theo sudah pergi dengan tenang menarik Kenzi masuk ke dalam warung.

"Ayo masuk, kamu pasti belum makan."

Kenzi nurut.

"Kamu jadi pandai masak, nggak rugi dulu ikut les memasak saat sama Kakek Vasillo di London," Ujar Kenzi, Ara tertawa kecil.

"Tapi sayangnya kamu hanya buka warung kecil, aturannya restoran,"

"Itu terlalu besar," Ara langsung mengatakan kakaknya ke meja.

Theo menghubungi ayahnya, tetapi nomor Nathan tak aktif, Theo tahu kalau ayahnya lagi dinas pasti ponsel pribadi di matikan. Lalu, dia menghubungi Mohan, panggilan langsung terangkat.

"Paman Mohan, katakan pada ayah aku menelpon. Suruh ayah hubungi aku saat nggak lagi sibuk,"

[Baik, Tuan muda.]

Panggilan terputus, tatapan Theo penuh kemenangan melirik warung Ara.

1
seribu nama
Ayolah biar Tahu Rena si pacar Alya itu dapat pelajaran dari mamah Ara dan si Alya ga deket lagi sama si Reno😠
Retno Palupi
oh Kenzo yg punya arena balap?
Ariany Sudjana
semoga Theo lekas mendapatkan penanganan yang terbaik, dan pasti Arabelle yang akan mengurusnya
Jaya Fandi
menegangkan,,mksh ka,,banyak " up nya,, semangat 💪🏽💪🏽
Jaya Fandi
terserah otornya lah yg menang siapa,,misal nnti theo kalah psti ada hikmahnya,,💪💪
T&K
Heeeeey Reno! kamu kira akan lolos dr Kenzo? tunggulah penyelidikannya
Lisa Halik
semoga saja nathan tidak akan menyalahkan arabelle.....lepas ini kamu sadarlah theo
Les Tary
jgn sampai nanti nathan menyalahkan ara
Ita rahmawati
bengek sih kamu elang malah mikir nti setelah sadar Theo bakal diamuk emak tiri 🤦🤣🤣🤣
yumna
reno licik ara pasti dapet bukti bwat jeblosin reno k pnjraa....bukti d lintasin cctv.....abis lah kau reno...dan kau theo d amuk m ara
Aditya hp/ bunda Lia: puas juga ntar sama si Alya dia nanti jadi tau kalo si Reno emang berengsek
total 2 replies
Fia Ayu
🤣🤔🤣🤣
Fia Ayu
Awalnya aku ragu mau baca nie novel, kaga taunya asik banget
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣
seribu nama
Kalau Thei tahu pacarnya Alya itu Reno musuhnya gimana ya pasti marah banget. Plis Theo hati" jangan sampai dengan kamu celaka rahasia ibu tirimu terbongkar
Ariany Sudjana
Theo kecelakaan, Arabelle yang akan turun tangan untuk merawatnya
Ita rahmawati
tuh kan Theo kuwalat udh ngelawan SM ibu tiri sih 😂😂
Ariany Sudjana
wah kakaknya Arabelle jadi pengelola lintasan balap 😄
Ita rahmawati
owalah Kenzo toh
Ita rahmawati
ikut sedih ih aku 😔
Les Tary
harus dikasih pelajaran itu si reno dari segalanya kelakuan buruk
Angga Gati
semoga theo bisa mengatasi jebakan yg dbuat reno & menangin pertandingan lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!