Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16: Perisai dalam Perjalanan
Karya Vian's
Aroma mentol dan kayu cendana yang maskulin langsung menyambut indra penciuman Savya begitu pintu mobil SUV hitam itu dibuka. Kabin mobil Valerius sangat bersih, rapi, dan sejuk—menawarkan ketenangan mutlak yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk area parkir supermarket di luar sana.
Sebelumnya di area parkir, Arka sempat berdiri mematung memegangi troli dengan wajah penuh tanda tanya saat melihat taksi yang mereka pesan dibatalkan begitu saja. Arka melirik Savya, meminta penjelasan lewat kedipan matanya yang heboh, seolah bertanya,
“Mbak Bos, ini siapa? Kok tahu-tahu kita disuruh naik mobilnya?” Namun, senyuman tipis dan anggukan tenang dari Savya sudah cukup untuk membuat Arka patuh. Arka pun dengan sigap memindahkan kardus-kardus susu ke dalam bagasi sebelum akhirnya melesat duduk di kursi belakang.
Kini, mobil mulai melaju membelah jalanan kota yang cukup padat. Savya duduk di kursi penumpang depan, mendekap tasnya dengan lebih santai. Melalui ekor matanya, ia sesekali mencuri pandang ke arah Valerius yang sedang fokus menatap jalanan. Kedua tangan kekar pria itu bergerak tenang di atas kemudi, mengendalikan kendaraan dengan sangat halus.
Perlahan tapi pasti, rasa sesak di dada Savya menguap sepenuhnya.
Namun, keheningan di dalam kabin mewah itu tidak bertahan lama. Dari kursi belakang, Arka yang sedari tadi menahan diri agar bisa bersikap sopan, mulai memajukan tubuhnya ke sela-sela kursi depan. Ia berdehem kencang.
"Ehem! Tes, satu, dua... Mas Sopir Ganteng—eh, maksud saya, Mas Penolong yang budiman," Arka membuka suara dengan nada yang sengaja dibuat selembut mungkin, membuat Savya spontan menoleh ke belakang. "Saya, Arka, kepala divisi angkut barang sekaligus asisten setianya Mbak Bos Savya, mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kalau tadi Mas enggak datang dan masang badan, mungkin saya sudah khilaf buat nge-repro wajah Mbak Maskot tadi pakai kotak susu UHT."
Valerius melirik sekilas melalui spion tengah, menangkap ekspresi Arka yang naik-turun penuh semangat. Wajah Valerius tetap datar, namun ia menyahut pendek, "Sama-sama. Itu hal yang benar untuk dilakukan."
"Waduh, jawabannya singkat, padat, dan berwibawa banget ya, Mbak," bisik Arka pada Savya dengan volume suara yang sama sekali tidak kecil. Arka kembali menatap spion tengah, matanya berbinar penasaran. "Kalau boleh tahu, Mas ini siapanya Mbak Bos, ya? Kok bisa pas banget muncul di pintu keluar kayak pahlawan di film-film aksi? Apa jangan-jangan Mas ini agen rahasia yang lagi menyamar jadi pelanggan kedai kopi kita?"
"Arka, astaga... suaramu," tegor Savya sambil memijat pelipisnya, merasa agak tidak enak pada Valerius. "Jangan mulai aneh-aneh deh. Vale, maafkan Arka ya, dia memang kalau habis emosi energinya suka pindah ke mulut."
Mendengar ruang kemudinya mendadak bising oleh celotehan Arka, Valerius sama sekali tidak terlihat terganggu atau risih. Ekspresi wajahnya tetap setenang air di dalam pelataran. Ia bahkan memutar sedikit tombol volume radio mobilnya, mengecilkan musik instrumen yang sedang berputar agar suara Arka tidak perlu meninggi.
"Tidak apa-apa," jawab Valerius tenang, sudut bibirnya bergerak sangat tipis, hampir tidak terlihat. "Saya hanya seseorang yang kebetulan searah dengan tujuan kalian."
"Ah, jawaban yang sangat diplomatis dan penuh misteri! Saya suka gaya Mas," seru Arka sambil bertepuk tangan pelan di kursi belakang. "Oke, karena Mas Penolong bilang searah, berarti Mas mau mampir ke kedai kan nanti? Tenang, sebagai rasa terima kasih dari pahlawan lokal supermarket, nanti saya buatkan kopi paling premium. Saya kasih free extra shot espresso, biar Masnya makin fokus mengarungi samudra kehidupan!"
Savya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan celotehan asistennya itu, sementara Valerius hanya merespons dengan anggukan kecil yang sopan. Kebisingan yang dibawa Arka anehnya justru membuat atmosfer di dalam kabin mobil menjadi jauh lebih cair, hangat, dan benar-benar mengusir sisa-sisa trauma yang sempat menggelayuti pundak Savya.
Savya kembali membuang pandangannya ke luar jendela kaca. Ia tersenyum kecil, jemarinya menyentuh jepit bunga matahari di rambutnya yang kini sudah terpasang rapi di tempatnya.
Namun, saat mobil berbelok dengan mulus melewati persimpangan jalan menuju area ruko, dahi Savya perlahan berkerut halus. Ia menyadari sesuatu yang janggal. Sejak mereka naik ke dalam mobil di parkiran supermarket tadi, baik dirinya maupun Arka sama sekali belum menyebutkan ke mana tujuan mereka pulang. Valerius pun tidak pernah bertanya alamat mereka.
Mobil SUV hitam itu akhirnya melambat dan berhenti dengan mulus tepat di depan pelataran kedai kopi Thalassa Coffee.
Savya melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah pria di sampingnya. Rasa penasaran tentang bagaimana pria ini tahu jalan pulang masih menggelitik hatinya, namun ia memilih untuk menyimpan pertanyaan itu terlebih dahulu.
"Kita sudah sampai," ucap Savya, mengulas senyum paling tulus yang ia miliki hari ini. "Vale... karena kamu sudah repot-repot mengantar kami, apa kamu mau mampir sebentar?
Setidaknya biarkan kami menyuguhkan kopi sebagai rasa terima kasih."
Valerius menoleh, menatap Savya sejenak sebelum pandangannya beralih ke arah pintu masuk kedai yang tampak mulai bersiap untuk buka. "Terima kasih atas tawarannya, Savya. Tapi hari ini saya masih ada urusan lain."
"Yah, Mas Penolong buru-buru ya? Padahal saya sudah siap meracik kopi dengan cinta dan dedikasi tinggi," timpal Arka dari kursi belakang sambil menghela napas dramatis, berhasil membuat suasana kembali jenaka.
Sebelum Savya sempat membalas, pintu kaca kedai terbuka dari dalam. Sila yang sedang memegang lap langsung melangkah keluar, bersiap menyambut kedatangan bosnya dengan Mika yang berjalan pelan di belakangnya. Namun, begitu mata Sila menangkap sosok yang duduk di balik kemudi mobil mewah itu, langkahnya mendadak terkunci di tempat.
Di balik meja bar, Farel yang ikut melongokkan kepala langsung membelalakkan matanya karena terkejut. Sebagai dua karyawan yang sudah bekerja sejak awal kedai berdiri, mereka langsung mengenali wajah tegas pria di balik kemudi itu.
"Lho? Mbak Savya?!" seru Sila dengan suara tertahan, matanya menatap tidak percaya ke arah Valerius. Ia buru-buru mendekati pintu penumpang, mengabaikan Mika yang kebingungan di belakangnya. "Itu... itu kan cowok ganteng misterius yang waktu itu pernah duduk di pojokan kedai kita beberapa kali, kan? Mbak... kok bisa pulang bareng dia?!"
Mika yang tidak tahu apa-apa karena baru bekerja di sana belakangan ini, berkedip pelan. Ia menatap mobil itu, lalu berbicara dengan nada suaranya yang tenang dan agak lambat, "Eh... pelanggan lama ya? Mbak Sila... kok tahu?"
Dari ambang pintu kedai, Farel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa tidak percaya, "Pantesan Arka lama banget baliknya. Ternyata Mbak Bos dapet tumpangan VIP dari pelanggan paling misterius di kedai kita dulu."
"Lho? Jadi Mas Penolong ini pelanggan lama kita, Mas Farel?" sahut Arka heboh sambil mulai menurunkan kardus susu dari bagasi. "Wah, berati saya doang yang baru tahu di supermarket tadi!"
Wajah Savya seketika merona tipis mendengar kehebohan Sila dan Farel yang langsung mengenali sosok Valerius, sementara Mika hanya memperhatikan dengan senyuman simpul yang lambat karena masih mencoba mencerna situasi. Savya menoleh kembali ke arah jendela mobil Valerius yang perlahan diturunkan sedikit.
"Sekali lagi, terima kasih banyak untuk hari ini, Valerius," bisik Savya setengah menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya dari tatapan jail Sila dan Farel.
Valerius hanya memberikan anggukan kecil yang sarat akan ketenangan mutlak miliknya. "Masuklah. Jaga dirimu baik-baik, Savya."
Kaca mobil kembali tertutup rapat, dan tidak lama kemudian, SUV hitam itu bergerak pelan meninggalkan pelataran ruko. Begitu mobil itu menjauh, Sila langsung menyenggol lengan Savya dengan heboh.
"Mbak! Jadi selama ini Mbak udah saling kenal? Malah udah tahu namanya juga!" cerocos Sila langsung memulai interogasi. "Padahal dulu waktu ke kedai, dia dingin banget kayak es batu!"
Mika mengangguk pelan di sebelah Sila, lalu menambahkan dengan gayanya yang lambat namun menohok, "Iya... namanya... Valerius ya... keren sekali."
Savya hanya bisa menghela napas pasrah sambil tersenyum geli melihat tingkah timnya, sementara Farel dan Arka sibuk membawa kardus susu ke dalam bar, bersiap menanti cerita lengkap dari Mbak Bos mereka di dalam kedai yang hangat.
..."Story by Vian's ."...