NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Tetap di Sini

Kemuning masih setengah tertidur saat jemarinya menggenggam tangan Arkana erat. Napas gadis itu terdengar pelan di tengah kamar yang remang dan tenang. Sedangkan suara lirihnya masih menggantung jelas di telinga Arkana. “Jangan pergi.”

Tubuh Arkana langsung menegang sesaat. Tatapannya perlahan turun ke wajah tidur Kemuning yang terlihat damai di bawah cahaya lampu redup. Rambut panjang gadis itu sedikit berantakan di atas bantal. Dan wajah polos itu terlihat terlalu rapuh untuk ditinggalkan sendiri.

Selama hidupnya, tidak pernah ada seseorang yang meminta dirinya tetap tinggal. Orang-orang biasanya pergi lebih dulu atau menjaga jarak darinya. Arkana Mahendra terbiasa hidup sendirian di tengah rumah besar yang dingin. Namun sekarang gadis desa itu justru memegang tangannya seperti takut kehilangan dirinya.

Dan anehnya, hal itu mengguncang Arkana jauh lebih dalam dari yang seharusnya. Sampai pria itu hanya diam sambil memperhatikan Kemuning beberapa detik terlalu lama. Seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan.

Perlahan, Arkana duduk di sisi ranjang tanpa melepaskan genggaman Kemuning. Jemari kecil gadis itu terasa hangat di tangannya. Sedangkan napas lembut Kemuning terdengar begitu dekat di tengah malam yang sunyi. Dan suasana kamar mulai terasa terlalu intimate.

Arkana mengangkat tangan satunya perlahan ke rambut Kemuning. Jemarinya menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi gadis itu. Sentuhan lembut tersebut dilakukan tanpa sadar. Seolah tubuhnya bergerak sendiri setiap kali dekat dengan Kemuning.

Kemuning sedikit bergerak dalam tidur sambil menggenggam tangan Arkana semakin erat. Dan sesuatu di dada pria itu langsung terasa aneh. Hangat. Tetapi juga berbahaya.

Arkana mulai sadar satu hal yang tidak ingin diakuinya. Kamar itu terasa terlalu sulit ditinggalkan sekarang. Karena ada Kemuning dan Agam di dalamnya. Dan mereka perlahan menjadi bagian dari hidupnya.

Pagi datang bersama cahaya matahari lembut yang masuk dari jendela besar kamar. Kemuning perlahan membuka mata sambil mengerjap bingung beberapa kali. Namun detik berikutnya, tubuhnya langsung membeku. Karena tangannya masih menggenggam tangan Arkana erat.

Wajah Kemuning langsung berubah merah padam. Arkana duduk di kursi dekat ranjang sambil membaca dokumen di tablet dengan tenang. Pria itu terlihat terlalu santai dibanding dirinya yang hampir mati malu. Sedangkan jemari mereka masih saling bersentuhan.

Kemuning langsung buru-buru melepaskan tangan Arkana seperti tersengat. “M-maaf.” Gadis itu refleks meminta maaf sambil menunduk gugup. Dan Arkana perlahan mengangkat tatapannya padanya.

“Kau sendiri yang menyuruhku tetap di sini.” Nada suara Arkana terdengar rendah dan santai.

Namun justru itulah yang membuat wajah Kemuning semakin panas. Karena pria itu terdengar seperti sedang menggoda dirinya.

“Aku nggak sadar.” Kemuning buru-buru berdiri dari ranjang sambil salah tingkah. Namun Arkana justru diam-diam menikmati kepanikan kecil gadis itu. Karena reaksi Kemuning selalu terasa terlalu jujur dan polos.

Beberapa jam kemudian, mansion mulai ramai oleh aktivitas pagi. Kemuning yang mulai merasa sedikit nyaman di rumah besar itu mencoba membantu pekerjaan sendiri. Ia tidak ingin terus merepotkan para pelayan. Meski sebenarnya hampir semua alat di mansion membuatnya bingung.

Di dapur modern mansion, Kemuning berdiri serius di depan mesin kopi otomatis. Ia menekan beberapa tombol sambil membaca tulisan kecil di layar dengan dahi mengerut. Namun beberapa detik kemudian, mesin itu malah mengeluarkan kopi terlalu banyak sampai meluber keluar. Kemuning langsung panik.

“Astaga.” Gadis itu buru-buru mengambil kain sambil mencoba menghentikan mesin kopi tersebut. Namun ia malah menekan tombol lain yang membuat suara mesin semakin keras.

Dan kopi terus tumpah ke meja dapur.

Saat itulah Arkana masuk ke dapur. Pria itu berhenti beberapa langkah sambil memperhatikan Kemuning yang sedang panik sendiri. Rambut gadis itu diikat asal dan wajahnya tampak serius luar biasa menghadapi mesin kopi. Sampai Arkana hampir tersenyum melihatnya.

“Apa lagi yang kamu lawan sekarang?” Suara rendah Arkana membuat Kemuning langsung tersentak malu. Gadis itu buru-buru berdiri tegak sambil memegang kain lap. “Aku cuma mau bikin kopi.”

Namun justru jawaban polos itu membuat Arkana semakin sulit menahan senyum tipisnya. Pria itu berjalan mendekat ke meja dapur. Dan dalam beberapa detik, aroma parfum maskulinnya langsung memenuhi indera Kemuning. Membuat jantung gadis itu kembali tidak tenang.

“Kamu menekan semua tombolnya?” Arkana bertanya sambil memperhatikan layar mesin kopi.

Kemuning langsung menunduk malu. “Kelihatannya.”

Arkana mengembuskan napas pendek sambil meraih kain lap dari tangan Kemuning. Namun saat pria itu membersihkan kopi di meja, jemari mereka beberapa kali bersentuhan. Sentuhan kecil itu langsung membuat tubuh Kemuning menegang gugup. Sedangkan Arkana terlihat terlalu tenang.

“Kamu gugup lagi.” Arkana berkata rendah tanpa mengangkat kepala. Kemuning langsung salah tingkah dan buru-buru menarik tangannya sendiri. Padahal jarak wajah mereka sekarang terlalu dekat.

Kemuning bisa melihat jelas garis rahang Arkana dari dekat. Bahkan bulu mata pria itu terlihat terlalu sempurna di bawah cahaya pagi. Dan semakin lama berada sedekat ini, semakin sulit bagi Kemuning menjaga jantungnya tetap normal. Apalagi Arkana terus terlihat semakin nyaman berada dekat dirinya.

Belum selesai rasa gugupnya, suara langkah kecil terdengar mendekat dari lorong. Agam berjalan sambil membawa guling kecil di tangannya. Anak itu langsung tersenyum kecil melihat Arkana di dapur. Dan hal itu membuat para pelayan diam-diam melirik heran.

“Om Kana.” Agam memanggil pelan sambil mengucek matanya. Kemuning langsung membeku mendengar panggilan itu. Sedangkan Arkana perlahan menoleh pada anak kecil tersebut.

Agam berjalan mendekat lalu mengangkat kedua tangannya kecil-kecil. “Gendong.” Permintaan polos itu membuat dapur langsung sunyi beberapa detik. Karena semua orang tahu Arkana biasanya tidak suka disentuh siapa pun.

Namun tanpa berkata apa-apa, Arkana justru membungkuk dan mengangkat Agam ke pelukannya. Gerakan itu terlihat natural seolah sudah terbiasa. Agam langsung memeluk leher Arkana sambil tertawa kecil. Dan dada Kemuning langsung terasa hangat melihatnya.

Suasana mereka mulai terlihat terlalu seperti keluarga kecil. Arkana di dapur bersama Agam di pelukannya. Sedangkan Kemuning berdiri di dekat mereka sambil menahan senyum malu. Dan pemandangan itu tidak luput dari perhatian Ratih Maharani.

Ratih berdiri di ambang pintu ruang makan sambil memperhatikan dalam diam. Tatapan wanita elegan itu perlahan berubah semakin tajam. Karena ia mulai sadar satu hal yang sangat berbahaya. Arkana tidak lagi menjaga jarak dari Kemuning.

Putranya terlihat nyaman sekarang. Lebih hidup dibanding beberapa tahun terakhir. Dan semua perubahan itu muncul sejak Kemuning datang ke mansion Mahendra. Hal itu justru membuat Ratih semakin takut.

Jika dibiarkan lebih lama, Arkana tidak akan bisa melepaskan gadis itu lagi. Dan Ratih tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Malam harinya, wanita itu diam-diam menghubungi seseorang lewat telepon pribadi. Tatapannya dingin penuh perhitungan.

“Aku ingin kamu datang ke Jakarta.” Ratih berkata tenang di balik sambungan telepon. “Ada sesuatu yang harus segera dibereskan.” Dan senyum tipis perlahan muncul di bibirnya.

Malam kembali turun dengan suasana lebih tenang di mansion. Agam sudah tertidur lebih awal setelah bermain seharian bersama Kemuning. Sedangkan Kemuning duduk sendirian di balkon kamar sambil memandangi langit malam. Angin dingin perlahan menggerakkan rambut panjangnya.

Untuk pertama kalinya sejak orang tuanya meninggal, dirinya merasa tenang. Tidak takut dimarahi. Tidak takut dipukul. Dan tidak takut kehilangan tempat pulang.

Suara langkah kaki membuat Kemuning menoleh perlahan. Arkana datang sambil membawa dua cangkir minuman hangat. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang. Dan jantung Kemuning langsung kembali tidak stabil.

Arkana menyerahkan satu cangkir ke tangan Kemuning. Jemari mereka bersentuhan singkat. Namun sentuhan kecil itu cukup membuat wajah Kemuning memanas lagi. Sedangkan Arkana duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa dulu.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang nyaman. Lalu Kemuning akhirnya bicara pelan sambil memandangi lampu kota di kejauhan. “Rumah ini mulai terasa seperti rumah untukku.”

Kalimat itu membuat Arkana terdiam cukup lama. Tatapan pria itu perlahan beralih pada wajah Kemuning yang terlihat lembut diterpa angin malam. Dan sesuatu di dada Arkana langsung terasa semakin dalam. Karena dirinya juga mulai merasa hal yang sama.

Kemuning dan Agam perlahan menjadi bagian dari hidupnya. Bagian yang mulai sulit dibayangkan hilang. Dan Arkana sadar itu sangat berbahaya untuk seseorang seperti dirinya. Namun pria itu tidak bisa menghentikannya lagi.

Angin malam bertiup lebih dingin beberapa saat kemudian. Kemuning refleks menggigil kecil sambil memeluk lengannya sendiri. Melihat itu, Arkana langsung bergerak mendekat tanpa berpikir panjang. Pria itu menyampirkan cardigan hangat ke pundak Kemuning.

Posisi mereka kembali terlalu dekat. Napas Arkana terasa samar di dekat wajah Kemuning. Tatapan mata pria itu juga terlalu dalam malam ini. Membuat jantung Kemuning kembali kacau tanpa ampun.

Untuk sesaat, suasana terasa seperti pengakuan yang belum terucap. Kemuning bahkan hampir lupa cara bernapas saat Arkana terus menatapnya begitu dekat. Sedangkan Arkana sendiri terlihat seperti sedang menahan sesuatu. Sesuatu yang semakin sulit dikendalikan.

Namun tepat ketika suasana semakin intimate, suara ponsel Arkana tiba-tiba berbunyi. Arkana langsung mengalihkan pandangan sambil mengeluarkan ponselnya. Dan dalam hitungan detik, ekspresi pria itu berubah dingin. Kemuning langsung menyadari perubahan tersebut.

Arkana memandang layar ponselnya beberapa detik sebelum mematikannya perlahan. Namun sebelum layar itu gelap, Kemuning sempat melihat satu nama muncul di sana.

“Selvina Adriani.”

Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di mansion Mahendra, hati Kemuning terasa tidak tenang lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!