NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 22

Mahesa sedikit bergeser, membiarkan tubuhnya tidak lagi menghalangi pandangan sang ibu menuju ruang makan. Di sana, Inara masih duduk tenang, meski tangannya sedikit gemetar saat memegang sendok. Dia mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Mama Karina, dan entah mengapa, mendengar pembelaan itu membuat dadanya terasa lebih sesak daripada saat Clarissa meneriakinya tadi.

Mama Karina tidak membuang waktu. Dengan langkah anggun namun mantap, wanita paruh baya itu berjalan melewati Mahesa, mengabaikan putranya sepenuhnya, lalu berhenti tepat di samping kursi Inara.

"Inara, Sayang," suara Mama Karina berubah drastis menjadi hangat dan lembut, kontras dengan nada tajam yang dia gunakan pada Mahesa dan Clarissa tadi.

Inara meletakkan sendoknya, mencoba berdiri untuk memberi hormat, namun Mama Karina segera menahannya dengan satu tangan di bahu Inara.

"Duduklah. Kamu masih pucat," perintah Mama Karina dengan nada khawatir. Ia memperhatikan wajah Inara yang sembab dan matanya yang masih menyisakan jejak air mata. Ia beralih menatap Mahesa dengan tatapan penuh tuntutan.

"Mahesa, apa yang sudah kamu lakukan pada menantuku sampai dia terlihat seperti ini?"

Mahesa hanya diam, rahangnya kembali mengeras. Dia tidak membela diri, namun juga tidak berniat memberikan penjelasan apa pun di hadapan ibunya.

"Aku baik-baik saja, Ma," jawab Inara pelan, suaranya parau. Dia berusaha tersenyum, namun bagi Mama Karina, senyum itu justru terlihat lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Kamu tidak baik-baik saja, Inara. Mama tahu itu," potong Mama Karina tegas.

Dia menarik kursi di sebelah Inara dan duduk di sana, mengabaikan keberadaan Mahesa yang masih berdiri kaku di tengah ruangan.

"Mahesa, pergi ke dapur. Buatkan teh hangat untuk istrimu, dan setelah itu, ambilkan obat yang harus diminumnya. Jangan biarkan dia terus memikirkan drama tidak penting tadi."

Mahesa sempat tertegun. Diperintah oleh ibunya di rumahnya sendiri bukanlah hal yang biasa, namun melihat kondisi Inara yang memang masih lemah, dia akhirnya menurut tanpa membantah. Dia berbalik dan melangkah menuju dapur.

Sepeninggal Mahesa, suasana di ruang makan menjadi hening. Mama Karina menggenggam jemari Inara yang dingin.

"Inara," panggil Mama Karina pelan.

"Mama tahu apa yang terjadi. Mama tahu bagaimana perilaku Mahesa selama ini. Jangan pikir Mama tidak tahu tentang wanita itu."

Inara menunduk, tak mampu menatap mata sang mertua yang begitu tajam namun penuh pengertian.

"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, Ma. Semuanya membingungkan."

"Tapi dengar, Inara. Kamu tidak perlu menjadi penonton dari kekacauan ini selamanya. Jika Mahesa tidak bisa memberikan kepastian dan terus menarikmu ke dalam duri-duri Clarissa, Mama tidak akan membiarkanmu tinggal di sini untuk disakiti lebih jauh."

Mendengar kata-kata itu, hati Inara bergetar. Apakah ini saatnya untuk menyerah? Haruskah dia berhenti berharap pada pria yang kemarin menghinanya, namun hari ini mengompres keningnya dengan begitu tulus?

Tepat saat itu, langkah kaki Mahesa terdengar kembali. Dia membawa nampan berisi teh hangat dan obat. Dia meletakkannya di meja dengan hati-hati, lalu menatap Inara dan Mama Karina secara bergantian.

"Ini obatnya," ucap Mahesa singkat. Dia menatap Inara, sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak menyiratkan sesuatu yang dalam sesuatu yang sulit diartikan oleh Inara.

"Inara, setelah ini, aku ingin bicara berdua denganmu. Hanya kita berdua."

Mama Karina menatap putranya dengan sinis.

"Pastikan pembicaraanmu kali ini bukan lagi tentang melukai perasaannya, Mahesa. Karena kalau sampai Mama dengar Inara menangis lagi, tidak ada lagi yang bisa kamu gunakan untuk menahan Mama agar tidak membawanya pergi dari rumah ini."

Mahesa tidak menjawab. Dia hanya fokus menatap Inara, menunggu reaksi wanita itu. Inara sendiri merasa napasnya tertahan. Dia menatap Mahesa, lalu pada teh hangat di depannya, lalu kembali menatap suaminya.

"Apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?" tanya Inara pelan. "Apakah ini tentang Clarissa lagi? Atau tentang aku?"

Mahesa terdiam sejenak. Dia menarik kursi di depan Inara, duduk, dan untuk pertama kalinya, dia meraih tangan Inara di atas meja, tidak membiarkan wanita itu menariknya pergi.

"Tentang kita," jawab Mahesa berat.

"Mama akan tunggu di sini. Mama akan pastikan kamu tak menyakiti hati Inara! Dan mama mau memberitahukan kalau Tiga hari lagi ada undangan dari rekanan Papa yang menikahkan anaknya. Kalian harus hadir. Dan pastikan Inara sehat dan tidak kamu tambah dengan beban sakitnya!"

"Satu lagi mama ingatkan! Tinggalkan wanita itu, atau kalau mama dan papa sampai tahu kamu masih bersama dengan Clarissa. Sampai kapanpun Mama tak akan pernah merestui untuk kedua kalinya!"

"Aku mengerti, Ma," jawab Mahesa dingin, meski ada penekanan kuat di setiap katanya.

"Aku akan mengurusnya."

Mama Karina berdiri, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh peringatan sebelum akhirnya melangkah pergi menuju ruang tengah, meninggalkan mereka dalam privasi yang menyesakkan. Suara langkah sepatunya yang menjauh seolah menjadi penanda bahwa durasi "waktu tenang" yang diberikan sang ibu sangatlah terbatas.

Keheningan menyelimuti meja makan. Inara membiarkan tangannya tetap dalam genggaman Mahesa, meski hatinya berkecamuk hebat.

"Minumlah dulu tehnya, Inara," bisik Mahesa pelan. Dia melepaskan tangan Inara, lalu mendorong cangkir itu sedikit lebih dekat ke arah istrinya.

Inara menuruti. Hangatnya teh itu sedikit meredakan gemetar di tangannya, namun tidak dengan hatinya. Dia menatap Mahesa yang kini menunduk, tampak sedang berperang dengan pikirannya sendiri.

1
nely_48
Gavin kau bantu lindungi inara ya, sampe keadaan inara tenang n pulih dr trauma nya
Muft Smoker
waaaah ada apa niih ,,
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Dew666
🩵🩵🩵
sunaryati jarum
Harus sabar melihat kejutan untuk Mahesa
sunaryati jarum
Setelah lepas dari tekanan Mahesa kau menemui kebahagiaan,Insra
Mundri Astuti
Alhamdulillah ada Gavin, lega aqoh 😄
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuuut maaak 😘😘😘😘
Hary Nengsih
lanjut penasaran apa yg terjadi d gedung
Oma Gavin
up lagi kak pengen lihat mahesa nangis darah ngga diangkat jadi direktur utama dan dicoret dari ahli warisnya pak raharja
Anisa Nur
pasti gak jadi di angkat deh Mahesa sama papanya biar di tau rasa
Arin
Sekarang tinggal tunggu penyesalan Mahesa setelah Inara meninggalkannya
hasana
wah keterlaluan ini mahesa
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭
Hary Nengsih
jahat manget mahesa jngn sampe balikan m inara
nely_48
apa coba maksudnya s mahesa menyiksa lahir batin inara salama d nikahi oleh nya❓ edan boa s mahesa teh
Ambu Rinddiany Thea
selamat menikmati kehancuran mu mahesa , 😤😤😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
akhirnya semua berjalan bagai mana mestinya
Diana Dwiari
ah....ternyata Inara punya perusahaan sendiri....wah,bakal bumerang buat si kerbau tuh..... perusahaan Inara bakalan lebih maju
Rieya Yanie
bagus inara..
pergi yang jauh mulai kehidupan baru dengan ibumu😍
Marni Marlina
lnjutan nya mna
Ambu Rinddiany Thea
kudu d warah hela s mahesa mah beh mikir sampe ka usus buntu na .. 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!