NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: RUMAH YANG BERHENTI BERPUTAR

Bab 5: Rumah yang Berhenti Berputar

Langkah kaki Revan bergaung pelan saat ia melewati gerbang pagar rumahnya yang berkarat. Matahari sore itu tertutup awan abu-abu yang menggantung rendah, memancarkan sisa cahaya temaram yang membuat fasad bangunan berlantai dua di hadapannya tampak kusam dan dingin. Di halaman, tidak ada motor Ayah yang biasanya terparkir rapi. Sepeda moped milik Arka juga masih bersandar di sudut teras, berdebu akibat jarang disentuh beberapa hari terakhir.

Revan meraba kantung celananya, mengeluarkan seutas kunci serep yang untungnya selalu ia bawa di dalam tas. Begitu anak kunci diputar, suara klik yang nyaring memecah keheningan kompleks yang sepi.

Ia membuka pintu kayu itu perlahan. Bau udara yang pengap dan lembap langsung menyambut indra penciumannya. Tidak ada aroma masakan Ibu dari arah dapur. Tidak ada suara gemercik air dari kamar mandi, dan tidak ada pendar lampu ruang tamu yang biasanya dinyalakan tepat jam lima sore. Rumah ini benar-benar mati, seolah denyut nadinya ikut berhenti berputar semenjak si anak emas dilarikan ke rumah sakit semalam.

Revan melempar tas ranselnya ke atas sofa dengan asal, menimbulkan suara debum pelan. Ia berjalan menuju dapur, berniat mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang sejak siang tadi belum diisi. Namun, saat tudung saji di meja makan dibuka, yang tersisa hanyalah piring-piring kosong yang kering. Bahkan sup ayam kampung khusus untuk Arka yang semalam ia lihat, sudah dibersihkan dan dicuci bersih oleh Ibu sebelum mereka bergegas pergi.

Sebuah tawa sinis kembali lolos dari bibir Revan. "Bahkan buat sekadar nyisain telur ceplok atau mie instan di meja aja, Ibu gak sempat," gumamnya datar.

Ia membuka pintu kulkas, hanya untuk menemukan beberapa botol air mineral dan sekotak susu yang sudah kedaluwarsa. Kepanikan Ibu dan Ayah semalam rupanya benar-benar menyedot seluruh atensi di rumah ini. Revan akhirnya hanya mengambil satu botol air dingin, meneguknya kasar sembari bersandar pada meja dapur yang dingin.

Pikirannya kembali melayang pada kejadian di ruang BK tadi siang. Kata-kata dari Guru BK yang memuji-muji pengorbanan Arka demi nama baik sekolah terus berdengung di telinganya bagai kawanan lebah yang mengganggu. Semua orang menganggap Arka adalah martir, seorang pejuang yang tumbang di medan perang bernama ujian. Sementara Revan, yang berdiri dengan tubuh penuh memar dan memegang surat SP 1, dianggap tak lebih dari sekadar kerikil dalam sepatu yang menyusahkan jalannya sang juara.

"Berjuang sampai sakit-sakitan katanya?" Revan mendengus, menatap pantulan dirinya di pintu kaca kulkas. "Kalau fisik lo selemah itu, gak usah sok kuat kejar nilai, Bang. Ujung-ujungnya, satu rumah yang repot. Gue yang kena getahnya."

Karena tidak menemukan makanan, Revan memutuskan untuk naik ke lantai dua. Di undakan tangga, ingatannya kembali berputar pada momen di mana Arka ambruk semalam. Noda merah yang keluar dari hidung kakaknya kembali terlintas di bayangannya. Revan sempat tertegun sejenak di tengah tangga. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menusuk ulu hatinya—sebuah insting purba yang membisikkan bahwa ada sesuatu yang salah. Namun, ego dan rasa cemburu yang sudah mengakar kuat dalam dirinya dengan cepat menepis perasaan itu.

Ah, paling dia cuma anemia karena kurang tidur. Dasar manja, hibur Revan pada egonya sendiri, meng

unci rapat pintu empati yang hampir terbuka.

Saat sampai di koridor lantai dua, langkah Revan terhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna putih bersih yang tertutup rapat. Itu adalah pintu kamar Arka. Berbeda dengan pintu kamar Revan yang penuh dengan stiker band rock dan coretan spidol, pintu kamar Arka tampak sangat rapi, dengan sebuah papan nama kecil bertuliskan 'Arkael Dirgantara' yang diukir dengan font formal.

Entah dorongan dari mana, tangan Revan perlahan bergerak meraih kenop pintu tersebut. Ia memperkirakan pintu itu pasti dikunci, karena Arka adalah tipe orang yang sangat menjaga privasinya. Namun, saat kenop itu ditekan ke bawah, suara klek halus terdengar. Pintu itu tidak dikunci.

Revan mendorong pintu tersebut, melangkah masuk ke dalam teritori musuh bebuyutannya dengan perasaan waswas.

Kamar Arka terasa jauh lebih dingin. Udara di dalamnya berbau seperti minyak kayu putih dan wangi sisa pengharum ruangan rasa lavender yang menenangkan. Semuanya tertata dengan tingkat kerapian yang nyaris gila. Di sisi kiri, sebuah rak buku besar menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit, penuh sesak dengan piala-piala berkilauan, medali perak dan emas yang digantung rapi, serta deretan buku-buku tebal berbahasa Inggris tentang sains dan matematika.

Di sudut meja belajar Arka, sebuah lampu meja masih menyala redup, menerangi sebuah kalender duduk yang penuh dengan lingkaran merah. Setiap lingkaran diberi catatan kecil

: 'Try Out Akbar', 'Bimbingan Intensif Olimpiade', 'Ujian Nasional'.

Revan berjalan mendekati meja belajar itu, jemarinya mengusap permukaan kayu yang halus. Pandangannya terjatuh pada sebuah buku catatan tebal bersampul kulit hitam yang tergeletak di samping laptop Arka. Revan sempat tergoda untuk membukanya, mengira itu mungkin buku catatan rumus atau buku harian tempat Arka menuliskan kesombongannya sebagai anak emas.

Namun, tepat sebelum jemari Revan menyentuh sampul kulit itu, suara getaran ponsel yang nyaring di saku celananya mengejutkannya.

Revan menarik tangannya kembali dengan cepat, seolah baru saja tersetrum listrik. Ia merogoh saku dan melihat nama 'Ibu' berkedip di layar ponselnya. Jantung Revan sempat berdegup lebih kencang. Apakah Ibu menelepon untuk menanyakan apakah ia sudah makan? Atau Ibu ingin bertanya tentang luka memar di wajahnya akibat jatuh dari motor semalam?

Dengan ibu jari yang agak bergetar, Revan menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Bu?"

"Revan," suara Ibu terdengar di seberang sana. Suara wanita itu terdengar sangat serak, letih, dan dilatarbelakangi oleh suara bising mesin monitor rumah sakit yang berbunyi teratur. "Ibu sama Ayah gak pulang malam ini. Kondisi Abangmu masih lemas setelah dipindah ke ruang perawatan. Dokter bilang dia butuh istirahat total dan gak boleh stres dulu."

Rasa hangat yang sempat muncul di dada Revan seketika menguap, digantikan oleh rasa dingin yang membekukan hatinya. "Oh. Terus?"

"Kamu di rumah jangan kelayapan lagi! Kunci semua pintu dan jendela. Di kulkas ada susu, kamu minum itu aja kalau lapar. Ibu gak sempat masak karena harus nebus obat Arka yang banyak banget," lanjut Ibu, nadanya terdengar terburu-buru, seolah berbicara dengan Revan adalah hal sekunder yang membuang waktunya. "Oh ya, satu lagi. Pihak sekolah tadi nelpon Ibu soal surat SP 1 kamu. Revan... Ibu mohon sama kamu, sekali aja, jangan bikin Ibu tambah pusing. Ibu udah capek urus Abangmu yang sakit, jangan kamu tambah lagi dengan kelakuan kamu yang berandalan itu!"

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Ibu, bahkan sebelum Revan sempat mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri.

Revan perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Kamar Arka yang rapi kini terasa seperti mengejeknya dari segala sudut. Kalimat terakhir Ibu bagaikan paku panas yang menancap telak di harga dirinya. 'Capek urus Abangmu yang sakit...'

Revan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Kemarahan yang sempat mereda kini meledak kembali, lebih besar dan lebih pekat dari sebelumnya. Di matanya, Arka tidak hanya merebut kasih sayang Ibu, tapi juga berhasil menggunakan kondisi "sakit kecapekan"-nya untuk membuat Ibu membenci Revan dari jarak jauh.

"Sakit... sakit... dan selalu sakit," desis Revan tajam, menatap ke arah tempat tidur Arka yang kosong. "Lo hebat banget, Bang. Cuma dengan modal tiduran di kasur rumah sakit, lo bisa bikin Ibu makin benci sama gue, tanpa lo perlu keluarin tenaga sedikit pun."

Dengan emosi yang meluap, Revan berbalik badan dan melangkah lebar-lebar keluar dari kamar Arka, membanting pintu putih itu dengan kekuatan penuh hingga debu-debu di langit-langit koridor berjatuhan. Ia bersumpah dalam hati, mulai detik ini, ia tidak akan pernah sudi lagi menganggap Arka sebagai kakaknya. Di kepala Revan, Arkael Dirgantara adalah sosok anak emas manipulatif yang menggunakan kelemahan fisiknya sebagai senjata terbaik untuk memonopoli segalanya.

.

.

.

.

.

Bersambung.....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!