*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Usulan Adopsi.
Ruang rapat lantai 40, Ben Holding pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya.
AC dinyalakan penuh, tapi keringat dingin tetap muncul di dahi beberapa Direktur.
Hari ini agenda rapatnya sederhana di atas kertas. Evaluasi kinerja kuartal dan rencana ekspansi.
Tapi semua orang tau, topik sebenarnya ada di luar agenda.
Ben duduk di ujung meja, setelan jas hitam rapi, namun ekspresinya datar.
Di sebelah kanan, Pak Herman sudah berkali-kali melirik Ben, seperti ingin memberi isyarat agar menahan diri.
Pak Surya membuka suara pertama.
“Baik, sebelum kita masuk ke agenda utama, saya ingin menyinggung satu hal yang sudah menjadi pembicaraan di kalangan pemegang saham.”
Dia berhenti sejenak, menatap Ben langsung.
“Perusahaan ini sudah berdiri selama 10 tahun. Stabilitas kepemimpinan dan kesinambungan adalah kunci. Dan sejauh yang kami tau, Pak Ben dan Nyonya Junee belum dikaruniai keturunan. Kami khawatir, ini bisa menjadi risiko reputasi dan suksesi di masa depan.”
Beberapa kepala mengangguk pelan.
Ada yang pura-pura menulis sesuatu di buku catatan, padahal tidak menulis apa-apa.
Ben tidak langsung menjawab.
Ben membuka map di depannya, membalik satu per satu laporan keuangan.
Lalu Ben menutup map itu dengan suara cukup keras hingga semua kepala menoleh.
“Pak Surya.” Ucap Ben pelan tapi jelas.
“Saya paham kekhawatiran Bapak. Tapi saya ingin meluruskan satu hal.”
“Perusahaan ini saya dirikan bukan hanya sekedar untuk di wariskan pada keturunan saya. Saya baru berusia 29 tahun. Kecuali anda mendoakan agar saya pendek umur. Saya masih sanggup memimpin perusahaan ini hingga 50 tahun kedepan.
Kinerja perusahaan tiga tahun terakhir naik 27%. Dividen pemegang saham naik 19%. Itu angka, Pak Surya. Bukan gosip.”
Pak Surya mencoba menyela, “Tapi secara jangka panjang—”
“Secara jangka panjang, saya yang memutuskan.” potong Ben.
“Saya adalah pemegang saham mayoritas dengan 62% kepemilikan. Saya yang menandatangani setiap keputusan strategis.
Dan keputusan saya hari ini tetap sama. Saya tidak akan pernah mengganti Junee. Tidak akan mencari ‘opsi lain’ seperti yang Bapak katakan.”
Suasana ruang rapat seketika membeku.
“Perusahaan ini akan Ben wariskan kepada orang yang Ben pilih.” lanjut Ben.
“Dan pilihan saya tetap Junee Pratama.
Kalau ada pemegang saham yang tidak terima, silakan ajukan penjualan saham sekarang. Saya beli. Tunai. Hari ini juga.” Imbuh Ben.
Tidak ada yang berani bicara selama 1 menit.
1 menit yang terasa seperti satu jam.
Pak Herman akhirnya berdehem pelan. “Baik, kita kembali ke agenda kuartal…”
Rapat dilanjutkan, tapi atmosfernya berubah.
Tidak ada lagi yang berani menyinggung tentang Junee.
Tidak ada lagi bisik-bisik di meja.
Rapat selesai pukul 11.20.
Ben keluar lebih dulu, langkahnya cepat, rahangnya mengeras.
Di dalam ruangannya, Ben baru menghela napas panjang.
Tangan Ben mengepal di atas meja.
Ben marah. Tapi lebih dari itu, Ben takut.
Takut kalau semua tekanan ini membuat Junee mundur lebih jauh.
Takut kalau Junee membaca berita internal ini dan merasa dirinya sumber masalah.
Saat pulang ke penthouse, Ben menemukan Junee duduk di balkon.
Secangkir teh sudah dingin di tangannya.
Junee tidak menoleh.
“Aku pulang.” Ucap Ben pelan.
Junee mengangguk kecil.
“Aku sudah tau, Ben. Mbak Rina tadi mengirim pesan.” Ucap wanita itu.
Ben bersimpuh di lantai, di depan kursi Junee.
“Aku tau kamu pasti tau semuanya.”
Junee menatap lurus ke depan.
“Kamu tidak perlu membela aku sampai seperti itu, Ben. Saham perusahaan taruhannya.”
“Justru karena saham perusahaan taruhannya, aku harus bicara.” jawab Ben.
“Kalau aku hanya diam, artinya aku setuju kalau nilai kamu hanya diukur dari rahim kamu.
Dan aku tidak setuju.” Ucap Ben.
Junee terdiam cukup lama.
Lalu ia berbisik. “Kamu tidak takut mereka benar-benar jual sahamnya?”
“Tidak.” jawab Ben jujur.
“Aku lebih takut kehilangan kamu karena kamu merasa tidak cukup baik untuk berdiri di samping aku.”
Junee menatap sang suami. Matanya merah, tapi tidak ada air mata.
“Kamu yakin? Sama Ben yang sekarang?”
Ben meraih tangan Junee.
“Aku yakin, Junee. Karena wanita yang aku nikahi itu bukan mesin reproduksi.
Wanita itu kamu. Junee Pratama. Dan itu sudah cukup untuk aku.”
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah dua kali gagal, Junee kembali memasak makan malam mereka.
Tidak banyak bicara.
Tapi tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Di luar, rumor masih berjalan.
Di dalam, Ben dan Junee memilih untuk berdiri bersama.
- - -
Dua minggu setelah rapat pemegang saham, suasana di penthouse menjadi lebih tenang.
Rumor di kantor belum berhenti, tapi sudah tidak lagi sampai ke telinga Junee.
Ben memastikan itu.
Setiap kali ada bisik-bisik yang kelewat batas, surat peringatan meluncur ke meja HR.
Malam itu, Bu Patricia datang tanpa pemberitahuan.
Membawa sup ayam dan kue lapis kesukaan Junee.
Sejak kegagalan IVF kedua, Bu Patricia memang sering datang.
Bukan untuk menasehati. Hanya untuk mendengar cerita Junee saat tidak datang ke panti asuhan.
“Kalian kurusan berdua,” kata Bu Patricia sambil meletakkan piring di meja.
“Terutama kamu, Junee. Mata kamu terlihat sayu.” Ucap wanita paruh baya itu.
Junee tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa, Bu. Sudah biasa.”
Bu Patricia menghela napas.
“Ben, Junee… Ibu bukan mau ikut campur. Tapi Ibu sudah tua. Ibu melihat kalian berdua saling menjaga dengan baik. Sayang kalau kebaikan itu tidak disalurkan.”
Ben mengangkat alis.
“Maksud Ibu?”
Bu Patricia menatap keduanya bergantian.
“Ada satu bayi perempuan di panti asuhan Bekasi, Prematur. Ditinggal orang tuanya di rumah sakit dua bulan lalu.
Namanya Dinda. Beratnya waktu lahir hanya tujuh ratus gram. Sekarang sudah sembuh, tapi belum ada yang mau mengurus.
Ibu pikir… kalau kalian berdua mau, kenapa tidak dipertimbangkan untuk mengadopsi?”
Ruangan menjadi sunyi.
Junee menatap Bu Patricia dengan mata melebar.
Ben menatap Junee, menunggu reaksi sang istri.
“Adopsi?” kata Junee pelan.
Suara itu pelan, tapi mengandung penolakan.
Bu Patricia mengangguk.
“Ibu tau itu bukan jalan yang mudah. Tapi Dinda butuh keluarga. Dan kalian berdua butuh seseorang untuk disayangi.”
Junee menggeleng pelan.
“Maaf, Bu. Saya… saya belum siap. Itu bukan darah Ben. Bukan darah keluarga Pratama.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Junee langsung menutup mulutnya. Ia menyesal.
Ben terdiam.
Wajah Ben mengeras, tapi bukan karena marah.
Namun karena kecewa.
“Jadi itu yang kamu pikirkan selama ini?” tanya Ben pelan.
“Kalau anak itu bukan darahku, berarti bukan keluarga?”
Junee menunduk.
“Bukan begitu, Ben. Aku hanya… takut. Takut tidak bisa mencintai anak yang bukan dari rahimku. Takut kamu kecewa.”
Ben menarik napas panjang.
Ben berjalan ke arah Junee dan berjongkok di depannya.
Ben memegang kedua tangan Junee yang dingin.
“Junee.” Ucap Ben pelan.
“Dengarkan aku baik-baik.”
Junee mengangkat wajah.
“Anak yang lahir dari rahim kamu, pasti aku sayangi. Anak yang lahir dari rahim perempuan lain, akan aku sayang juga.
Yang aku butuhkan bukan anak yang mirip denganku. Yang aku butuhkan adalah keluarga. Dan keluarga itu kita yang membentuknya.”
Junee menggigit bibir.
“Aku takut gagal lagi, Ben. Kalau aku gagal jadi ibu untuk bayi, ibu kamu, karyawan Holding… mereka akan benar-benar membenciku.”
“Aku sudah punya keluarga.” jawab Ben.
“Namanya Junee. Sudah cukup untuk aku.”
Bu Patricia mengusap punggung Junee pelan.
“Ibu tidak memaksa, Nak. Ibu hanya menitipkan. Pergi saja sekali ke panti Bekasi. Lihat Dinda.
Kalau hatimu tidak terpanggil, Ibu tidak akan membahasnya lagi.”
Junee tidak menjawab.
pesan 1 kak