NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Cemburu pada Bi Ani & Semangkuk Bakso Pinggir Jalan

​"Jadi, Tuan David, untuk target kuartal kedua ini, kami memproyeksikan keuntungan naik sekitar lima belas persen. Bagaimana menurut Anda, Tuan?"

​Suara Direktur Pemasaran menggantung di udara, mengakhiri presentasi panjang yang membosankan. Di ujung meja marmer, Calix David tidak bergeming. Sepasang netra elangnya menatap kosong ke layar proyektor. Tangannya sibuk memutar-mutar pena Montblanc mahal. Pikirannya sama sekali tidak berada di ruang rapat utama David Group siang itu. Pikirannya tertinggal di paviliun belakang mansion, pada sosok Mireya.

​"Tuan David?" panggil Direktur Pemasaran lagi, mulai berkeringat dingin. Seisi ruangan menahan napas cemas.

​Calix berdehem berat. Ia meletakkan penanya dengan ketukan pelan yang terdengar intimidatif, lalu memajukan tubuhnya. "Rencana kalian membosankan."

​Para direktur saling pandang, menelan ludah.

​"Tapi," Calix menjeda kalimatnya, melirik bawahannya satu per satu dengan ekspresi yang mendadak canggung. "Ehem. Di luar urusan proyek ini... aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian semua."

​Direktur Keuangan memberanikan diri bertanya, "Ada... ada yang bisa kami bantu, Tuan Besar? Soal regulasi baru atau—"

​"Aku punya seorang teman," potong Calix cepat dengan wajah datar tanpa kedip. "Dia baru saja menikah. Namun, belakangan ini istrinya berubah sikap menjadi sangat dingin, datar, dan pasrah setelah mengalami duka. Temanku ini... dia bingung. Menurut kalian, apa tips terbaik untuk melunakkan kembali hati wanita yang berubah menjadi sedingin es seperti itu?"

​Keheningan total melanda ruang rapat. Beberapa direktur paruh baya yang sudah kenyang asam garam berumah tangga saling melempar kode mata. Mereka harus menahan senyum sekuat tenaga. Tidak ada 'teman' yang berani curhat soal masalah domestik kepada seorang Calix David yang terkenal kejam.

​"Oh, kalau untuk urusan itu, Tuan..." Direktur Pemasaran berdehem, mencoba menyelamatkan suasana. "Wanita biasanya luluh jika diberikan perhatian spontan. Berikan dia hadiah mewah yang tidak terduga, seperti tas bermerek edisi terbatas atau perhiasan berlian."

​"Hanya itu?" tanya Calix, menaikkan sebelah alisnya.

​"Tentu tidak, Tuan. Yang paling penting adalah mengajak dia pergi ke tempat-tempat yang dia sukai. Tempat yang bisa membuatnya nyaman dan merasa dihargai, bukan karena kewajiban."

​Calix terdiam, mencatat kata-kata itu di dalam kepalanya, meski wajahnya tetap dibuat ketus. "Begitu ya. Bagus. Nanti akan kusampaikan pada temanku itu. Rapat selesai, kalian boleh keluar."

​Begitu ruangan kosong, Calix langsung meraih ponselnya. Jemarinya yang kaku mengetik sebuah pesan teks.

​Calix: Apakah kamu sudah meminum obat dan vitamin rahimmu siang ini? Jangan berani-berani melewatkannya.

​Sepuluh menit berlalu. Tidak ada balasan.

​"Sial," umpat Calix rendah. Karena tidak sabar, ia membuka aplikasi khusus di ponselnya—akses langsung ke kamera CCTV real-time paviliun belakang mansion.

​Begitu layar menampilkan visual taman belakang, napas Calix mendadak tertahan. Di sana, di dekat rumah kaca kecil, Mireya sedang duduk menghadap sebuah kanvas lukis besar. Namun yang membuat dada Calix mendadak terasa terbakar adalah pemandangan di sampingnya. Mireya sedang tertawa lepas. Tertawa begitu lebar, begitu cantik hingga matanya membentuk bulan sabit, sembari mengobrol riang bersama Bi Ani yang memegang nampan jus.

​Calix mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Rahangnya mengatup rapat. Selama bersamanya, Mireya tidak pernah sekali pun tertawa setulus dan seindah itu. Di depannya, gadis itu selalu memasang wajah datar, ketakutan, atau penuh kebencian.

​"Masa aku harus cemburu pada Bi Ani? Gengsi dong," geram Calix pada dirinya sendiri. Ia mematikan layar ponselnya dengan gusar, lalu berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang.

​"Doni!" teriaknya ke arah pintu.

​Doni, sang asisten pribadi, langsung masuk dengan sigap. "Ya, Tuan Besar?"

​"Siapkan mobil. Kita pulang sekarang."

​"Tapi Tuan Besar, jadwal Anda tiga puluh menit lagi ada pertemuan dengan—"

​"Tunda semuanya sampai besok pagi!" potong Calix mutlak. "Dan di jalan nanti, berhenti di depan butik mewah di kawasan elit. Aku harus membeli... sesuatu."

​Sore harinya, Rolls-Royce hitam Calix mendarat di pelataran mansion jauh lebih cepat dari biasanya. Calix melangkah masuk ke ruang tengah dengan tangan yang menyembunyikan kotak-kotak belanjaan mewah di balik punggungnya.

​Di sana, ia mendapati Mireya sedang merapikan benang sulam di atas meja. Gadis itu menoleh pelan saat mendengar langkah kaki suaminya.

​"Tuan Calix? Anda sudah pulang jam segini?" tanya Mireya. Nada suaranya kembali seperti biasa—datar, tenang, tanpa emosi.

​Calix merasa dadanya kembali bergejolak mengingat tawa Mireya di CCTV tadi. Ia berdehem kaku, melangkah mendekat, lalu melemparkan sebuah tas branded edisi terbatas dan kotak perhiasan berlian ke atas meja di hadapan Mireya.

​Brak.

​"Ini untukmu," ketus Calix sambil membuang muka ke arah lain.

​Mireya mengernyitkan dahi. "Apa ini?"

​"Tadi di jalan... aku tidak sengaja lewat di depan toko itu," bohong Calix dengan gaya tsundere andalannya. "Karena barangnya menumpuk dan tidak ada yang beli, aku membelinya saja daripada memenuhi toko orang. Jangan berpikir aku sengaja membelikannya khusus untukmu."

​Di ambang pintu lobi, Doni yang mendengar ucapan itu hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ia meratapi gengsi bosnya yang setinggi langit, padahal tadi siang Calix sampai membuat seisi divisi pemasaran pusing setengah mati hanya untuk mencari tas edisi terbatas tersebut dalam waktu satu jam.

​Mireya membuka kotak beludru itu perlahan. Ia menatap set perhiasan berlian yang berkilau mewah, lalu beralih menatap tas di sampingnya. Alih-alih berbinar senang seperti wanita kota pada umumnya, Mireya justru menutup kembali kotak itu dengan tenang.

​"Terima kasih, Tuan Calix," ucap Mireya lembut namun jujur. "Tapi barang mewah seperti ini tidak cocok dipakai untuk menyulam di paviliun."

​"Kamu menolaknya?" suara Calix meninggi, merasa harga dirinya agak tersengat.

​Mireya terdiam sejenak. Ia menatap pakaian kerja Calix yang masih rapi, lalu sebuah ide mendadak terlintas di kepalanya. "Daripada perhiasan ini... bolehkah aku meminta hal lain sebagai gantinya?"

​Calix mengernyitkan dahi, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Apa yang kamu inginkan? Katakan saja. Uang tunai? Berapa?"

​"Bukan uang," Mireya tersenyum tipis. Itu adalah senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan pada Calix hari ini, dan sedetik kemudian, jantung Calix berdesir hebat. "Aku mendadak mengidam... rindu rasa makanan di kampung."

​"Kamu mau makanan apa? Biar kusuruh koki bintang lima memasaknya sekarang."

​"Aku ingin makan bakso di ruko pinggir jalan sore ini," jawab Mireya lugas. "Ada tukang bakso langgananku yang baru buka cabang di pinggiran ruko kota ini. Aku ingin makan langsung di sana."

​"Makan... apa? Bakso pinggiran jalan?" beo Calix dengan wajah melongo. Ia seolah baru saja mendengar kata asing yang tidak ada dalam kamus bisnisnya. "Mireya, jangan gila. Dokter Januar sudah menyusun menu nutrisi steril di rumah ini! Bagaimana bisa kamu meminta makanan rendah gizi di pinggir jalan yang penuh debu dan asap kendaraan seperti itu? Tidak boleh."

​"Tuan Calix, Anda sendiri yang bilang kalau suplemen mahal itu tidak akan bekerja kalau psikologisku tertekan," balas Mireya sengit. Ia menggunakan ucapan Dokter Januar tempo hari untuk memojokkan suaminya. "Dan saat ini... memakan semangkuk bakso hangat di pinggir ruko itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuat suasana hatiku membaik."

​Calix tertegun, kehilangan kata-kata.

​Mireya melangkah satu tindakan lebih dekat, menatap langsung ke mata elang suaminya dengan binar menantang yang sudah lama tidak Calix lihat. "Jadi, apa Tuan Besar yang terhormat ini tidak sudi mengantarku hanya karena tempatnya di pinggir jalan?"

​Calix menatap lekat-lekat mata bulat itu. Gengsi di dadanya yang setinggi gunung mendadak runtuh berkeping-keping hanya oleh keinginan sederhana dari gadis di hadapannya.

​"Hanya semangkuk bakso, kan?" ketus Calix akhirnya. Ia segera berbalik memunggungi Mireya agar gadis itu tidak melihat rona merah yang mendadak muncul di pipinya. "Cepat ganti pakaianmu. Aku tidak mau menunggu lama. Lima belas menit, atau kita batalkan."

​Mireya tersenyum lebar—jenis tawa yang sama dengan yang ia berikan pada Bi Ani tadi siang. "Baik, tunggu sebentar!"

​Gadis itu langsung berbalik dan menaiki tangga dengan langkah yang jauh lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Sementara itu, Calix tetap berdiri di ruang tengah, sibuk merapikan dasinya yang sebenarnya sudah rapi, mencoba meredam debaran manis yang kian tak menentu di dalam dadanya.

1
Aditya Rian
mantap
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Aditya Rian: matap👍
total 2 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!