Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ultimatum Isolde
Tiga hari telah berlalu sejak Caspian tiba di Mobelle. Kehidupan di Gudang Lama berjalan dengan ritme yang tenang namun tegang. Caspian menghabiskan harinya mempelajari tanaman obat lokal bersama Julian, sementara Arsen bolak-balik antara istana sebagai "tahanan model" dan gudang sebagai kakak yang waspada.
Namun, ketenangan itu hancur pada pagi hari ketiga.
Seorang herald kerajaan Aethelgard, mengenakan jubah merah darah dengan lambang naga emas yang menjulang tinggi, berdiri di gerbang utama Istana Kristal Mobelle. Dia tidak sendirian. Di belakangnya, berbaris dua puluh ksatria elit dengan armor mengkilap, membawa panji-panji perang. Suasana di alun-alun kota menjadi hening. Warga menahan napas, merasakan ketegangan yang menusuk kulit.
Floren menerima utusan tersebut di Aula Takhta. Dia duduk di singgasananya, posturnya tegak, wajahnya datar tanpa emosi. Di sisi kanannya berdiri Kaelia, tangan di gagang pedang. Di sisi kirinya, Julian, dengan ekspresi analitis yang dingin.
Herald itu tidak membungkuk. Dia melemparkan gulungan perkamen ke lantai marmer. Gulungan itu terbuka, menampilkan segel lilin hitam raksasa bertanda mahkota duri—segel pribadi Ratu Isolde.
"Dengar dan taatilah!" seru herald, suaranya bergema di aula yang luas. "Atas nama Yang Mulia Ratu Isolde dari Aethelgard, Penguasa Tunggal Darah Biru!"
Floren tidak bergerak. Matanya menatap herald itu dengan tatapan membosankan. "Lanjutkan."
Herald itu mengambil napas, lalu membacakan isi surat dengan lantang:
"Kepada Pengkhianat Floren,
Kami mengetahui bahwa kau menyembunyikan harta benda milik Kerajaan Aethelgard: Pangeran Arsen dan Pangeran Caspian. Tindakan ini adalah penculikan tingkat tinggi dan pelanggaran kedaulatan.
Kami memberimu ultimatum:
Serahkan kedua pangeran tersebut dalam keadaan hidup dan sehat kepada utusan kami dalam waktu 24 jam.
Bayarkan denda sebesar 10.000 koin emas sebagai kompensasi atas gangguan diplomatik.
Tutup semua institusi pendidikan pria di Mobelle, karena mereka adalah sarang pemberontakan dan sihir hitam.
Jika syarat-syarat ini tidak dipenuhi, Kerajaan Aethelgard akan menganggap ini sebagai deklarasi perang. Armada laut kami sudah bersiap di perbatasan selatan. Pasukan darat kami akan menyerbu dalam tiga hari.
Pilihlah: Kedamaian dengan penyerahan, atau kehancuran total.
Tertanda,
Ratu Isolde"
Herald itu menatap Floren dengan senyum sinis. "Well, Yang Mulia? Apa jawabanmu?"
Kaelia melangkah maju, tangannya sudah menggenggam erat gagang pedangnya. Matanya menyala dengan amarah. "Berani sekali kau datang ke sini dan mengancam Ratu kami di tanahnya sendiri."
Julian menahan lengan Kaelia. "Tenang, Jenderal. Biarkan Ratu berbicara."
Floren berdiri perlahan. Gaun sutranya berdesir halus saat dia turun dari anak tangga takhta. Dia berjalan mendekati herald itu, hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. Aura kewibawaannya begitu kuat hingga herald itu secara tidak sadar mundur selangkah.
"Ultimatum," kata Floren pelan, suaranya dingin seperti es. "Kata yang menarik. Biasanya digunakan oleh pihak yang merasa superior."
Dia mengambil gulungan perkamen itu dari lantai, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya.
"Sampaikan pada Isolde," lanjut Floren, matanya menatap tajam ke mata herald. "Bahwa Mobelle bukan lagi kerajaan yang bisa diintimidasi oleh ancaman kosong. Pangeran Arsen dan Caspian berada di bawah perlindungan hukum Mobelle sebagai pencari suaka politik. Mereka bukan 'harta benda'. Mereka adalah manusia dengan hak asasi."
Herald itu tertawa meremehkan. "Hak asasi? Itu konsep lemah. Kekuatan adalah satu-satunya hukum yang diakui dunia."
"Mungkin dulu," balas Floren. "Tapi dunia berubah. Dan jika Isolde ingin perang... kami siap menerimanya."
Wajah herald itu memucat. "Kau... kau berani menolak?"
"Aku tidak menolak," koreksi Floren. "Aku menantang. Katakan pada ibumu, bahwa jika satu saja pasukan Aethelgard menginjakkan kaki di tanah Mobelle tanpa izin, kami akan menghancurkan mereka. Bukan dengan jumlah, tapi dengan strategi. Dengan sihir. Dan dengan rakyat yang sekarang punya alasan untuk bertarung."
Floren berbalik, punggungnya menghadap utusan itu. "Kaelia, antarkan tamu kita keluar. Pastikan dia meninggalkan batas kota dalam satu jam. Jika dia masih ada setelah itu... anggap dia mata-mata musuh."
Kaelia tersenyum tipis, senyum yang mengerikan. "Dengan senang hati, Yang Mulia."
Herald itu gemetar. Dia ingin protes, ingin meneriakkan kemarahan, tapi tatapan Kaelia yang mematikan membuatnya kehilangan nyali. Dia berbalik dan lari keluar aula, diikuti oleh pengawalnya yang tampak kurang yakin.
Saat pintu aula tertutup, keheningan kembali turun.
Julian menghela napas. "Itu bluf yang berbahaya, yang mulia Floren. Armada Aethelgard adalah yang terbesar di benua. Kita tidak bisa mengalahkan mereka dalam perang konvensional."
"Aku tahu," kata Floren, berjalan kembali ke takhtanya. Wajahnya lelah, tapi matanya berkilat dengan determinasi besi. "Itu sebabnya kita tidak akan berperang secara konvensional."
Dia menoleh pada Julian. "Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mengaktifkan Protokol 'Badai Diam'?"
Julian terkejut. Matanya melebar. "Protokol itu... itu teori. Belum pernah diuji. Dan risikonya... jika gagal, itu bisa menghancurkan seluruh sistem sihir di Mobelle."
"Lakukan," perintah Floren tegas. "Kita butuh keunggulan asimetris. Isolde mengandalkan kekuatan lautnya. Kita akan melawannya dengan kecerdasan dan kejutan."
Dia menoleh pada Kaelia. "Siapkan jaringan intelijen. Saya ingin tahu setiap pergerakan pasukan Aethelgard. Setiap suplai makanan. Setiap titik lemah komandan mereka. Kita tidak akan menunggu mereka menyerang. Kita akan memotong urat nadi mereka sebelum mereka sempat mengangkat pedang."
Kaelia membungkuk hormat. "Seperti perintah Anda."
Floren menatap langit-langit aula yang tinggi. Jantungnya berdebar kencang. Dia baru saja mempertaruhkan nasib seluruh kerajaannya. Jika dia salah langkah, Mobelle akan hancur. Ribuan orang akan mati.
Tapi dia tidak punya pilihan. Menyerahkan Arsen dan Caspian berarti mengakui bahwa tirani Isolde benar. Itu berarti mengembalikan dunia ke masa kegelapan.
"Tidak ada jalan mundur," bisik Floren pada dirinya sendiri.
Di luar, awan hitam mulai berkumpul di langit. Badai politik telah berubah menjadi badai perang. Dan di tengah badai itu, Floren berdiri sendirian, memegang kendali atas takdir negaranya.