Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 18.
Sejak hari evaluasi bersama Kikan, suasana di akademi berubah drastis. Para trainee mulai merasakan tekanan yang berbeda, pengumuman resmi keluar dua hari kemudian.
UJIAN AKHIR UNTUK MENENTUKAN KURSI KAPTEN PILOT AKAN DIMULAI.
Dari lima puluh trainee, hanya tiga puluh yang mengikuti ujian menjadi Kapten pilot. Mereka mengukur kemampuan diri sendiri, dan separuhnya tidak terpilih karena poin yang kurang.
Dari total tiga puluh trainee pilot, hanya 15 orang yang akan lolos dan menjadi kapten pilot. Sisanya yang tidak lolos ujian kapten, akan ditempatkan bersama tiga puluh lima yang lainnya. Mereka biasanya akan ditempatkan sebagai First Officer yaitu co-pilot... atau menjadi Flight Instructor dan kedudukan lainnya di maskapai.
Pagi itu ruang briefing penuh, semua trainee duduk dengan wajah tegang.
Kepala Instruktur berdiri di depan layar besar.
“Mulai minggu ini, kalian akan menjalani serangkaian ujian akhir. Simulator, navigasi, emergency procedure. Hingga penerbangan langsung secara terus-menerus.“
Tak ada yang berbicara, semua tahu ini bukan ujian biasa. Ini adalah penentuan masa depan mereka.
Leya duduk seperti biasa di barisan tengah, wajahnya tenang tapi tangannya menggenggam pulpen cukup erat. Di sampingnya, Kaisar bersandar santai di kursi.
“Leya, kau keliatan tegang?"
“Siapa yang nggak tegang?"
“Aku tidak.“ Kaisar mengangkat bahu. “Aku lebih penasaran siapa yang bakal jatuh di tahap pertama.“
Di sisi lain ruangan, Rafi dan Viola memperhatikan mereka berdua.
“Mereka pikir, mereka sudah pasti mendapatkan kursi kapten.“ Rafi menatap Leya dan Kaisar dengan pandangan dingin
Ujian pertama dimulai dua hari kemudian, yaitu simulator. Setiap trainee yang ikut ujian harus menyelesaikan skenario darurat, dengan kehilangan satu mesin saat cuaca buruk.
Satu per satu dari 30 orang trainee masuk ke ruang simulator, beberapa keluar dengan wajah pucat. Ketika giliran Leya tiba, ruang simulator terasa lebih sunyi.
Instruktur itu menatap Leya dari belakang, dia bukan Arkana. Kaisar sudah menggunakan wewenangnya untuk melarang Arkana ikut memberikan penilaian. Ujian ini benar-benar dinilai murni dari kemampuan para peserta.
Bahkan Kaisar sendiri tidak memberi arahan apapun agar Leya diloloskan, ia tak ingin mengotori hasil ujian itu. Ia ingin Leya mampu lolos dengan usahanya sendiri.
“Siap?" Tanya instruktur.
“Siap." Jawab Leya.
Simulator menyala, beberapa menit pertama berjalan normal. Lalu alarm berbunyi, mesin kini mati disertai angin kencang. Instrumen mulai bergetar. Leya langsung bekerja, tangannya bergerak cepat di panel.
“Stabilkan heading." Ucap Leya.
Instruktur memperhatikan tanpa bicara.
Simulator terus memberi tekanan, beberapa trainee sebelumnya panik di titik ini. Namun Leya tetap fokus. Lima menit kemudian, simulator berhenti.
Instruktur menutup catatan. "Keluar."
Leya keluar tanpa tahu hasilnya.
Di koridor Kaisar sudah menunggu. "Gimana?"
“Normal."
Kaisar tertawa kecil. "Kalau buat kamu normal, berarti bagus.“
Ujian demi ujian berjalan, hari-hari di akademi terasa lebih panjang. Simulator, navigasi malam, produser darurat, hingga penerbangan jarak jauh telah dilalui.
Banyak trainee mulai gugur, nama-nama mulai dicoret dari daftar.
Leya duduk di tangga hanggar, ia tampak kelelahan. Kaisar datang membawa dua botol air .
“Nih, minum.“ Kaisar menyodorkan satu botol kemasan yang sudah ia buka tutupnya.
Leya mengambilnya. "Makasih.“
Kaisar duduk di sampingnya. “Besok, ujian terakhir."
“Hm.“ Leya mengangguk.
"Takut, nggak?"
Leya menggeleng, "Cuma capek."
“Kau pasti lolos, karena aku melihat sendiri kemampuanmu. Maskapai ini akan rugi jika kehilangan kapten pilot sehebat dirimu.“
Leya hanya tersenyum.
Seminggu kemudian, hari pengumuman tiba. Tiga puluh trainee berdiri di aula akademi, menunggu hasil pengumuman.
Di depan ruangan, kepala akademi memegang daftar.
“Dari tiga puluh trainee, hanya 15 yang akan lolos menjadi kapten pilot."
Semua menahan nafas. Lalu, nama mulai dibacakan satu persatu. Beberapa trainee yang sudah disebut namanya, bersorak kegirangan. Beberapa yang tidak lolos, menunduk kecewa.
"Nomer tujuh... Kataleya."
Leya terdiam, seperti tak percaya. Kaisar menepuk bahu wanita itu.
“Aku sudah yakin, kamu lolos. Selamat, Leya.“ Ucap Kaisar, suaranya benar-benar terdengar bahagia.
Leya menarik nafas lega.
Beberapa nama lagi disebut.
“Nomer sebelas, Kaisar.“
Rafi mengepalkan tangan saat namanya tidak muncul sampai nomor terakhir, Viola juga tampak kesal. Beberapa waktu terakhir ini, mereka berdua memang kurang fokus saat latihan. Keduanya terlalu sibuk memikirkan cara mengalahkan Leya.
Akibatnya, mereka justru masuk dalam kandidat daftar yang gagal menjadi kapten pilot. Padahal sejak awal, nilai Rafi selalu yang terbaik. Namun karena iri hati, semuanya akhirnya hancur.
Setelah semua nama selesai disebut, ruangan mulai ramai. Leya bergabung dengan para trainee yang lolos menjadi kapten. Akhirnya, sekarang dia resmi menjadi kapten pilot.
Di hari yang sama, dua jam kemudian di gedung pengadilan, Hakim mengetuk palu.
“Perceraian antara Kataleya dan Arkana dinyatakan sah."
Leya menghela nafas lega, semuanya akhirnya selesai. Enam tahun pernikahan itu benar-benar sudah berakhir. Dan hari ini, ia mendapatkan dua kabar baik sekaligus.
Seminggu kemudian...
Para lulusan akademi resmi bergabung dengan Maskapai Penerbangan Nusantara.
Leya berdiri di hanggar dengan seragam pilot barunya. Empat garis di pundaknya, tanda Kapten Pilot. Ia menatap pesawat besar di depannya dengan rasa takjub. Sebentar lagi ia akan menerbangkannya, membawa banyak penumpang di dalamnya.
“Masih nggak percaya, ya?" Tanya Kaisar.
Leya tersenyum, "Sedikit."
“Kau pantas mendapatkannya. Oh iya, jangan lupa besok malam... ada acara pesta penyambutan untuk para kapten pilot baru. Aku harap, kau mau datang bersamaku.“
Leya hanya mengangguk pelan. “Kita lihat besok."
Di belakang mereka beberapa kapten pilot senior sedang berbincang, salah satunya Arkana. Pria itu berdiri diam memperhatikan Leya, tatapannya dipenuhi penyesalan yang dalam.
Malam itu, Arkana menunggu Leya di parkiran maskapai. Ketika wanita itu keluar dari gedung, ia memanggilnya.
“Leya..."
Wanita itu berhenti, ia menatap Arkana dengan ekspresi datar. “Ada apa, kapten Arkana?"
Leya berbicara dengan nada formal, seperti sedang berbicara dengan rekan kerja.
Arkana terlihat ragu. “Aku ingin bicara sebentar."
“Kita sudah tidak punya urusan pribadi apapun untuk dibicarakan, kecuali urusan pekerjaan." Jawab Leya tenang.
"Aku tau." Arkana menarik nafas panjang. “Leya... aku menyesal. Perceraian kita, kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu yakin, kamu akan kembali padaku."
Leya tersenyum tipis. “Perceraian itu memang sudah seharusnya, aku tak bisa mentolerir perselingkuhanmu.“
“Tapi aku benar-benar ingin memperbaikinya. Bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi? Aku mohon..."
"Terlambat!" Leya menggeleng, lalu ia berbalik pergi.
Arkana hanya bisa pasrah, matanya menyiratkan penyesalan yang dalam.
biasa ny kn benci jd berubah jd cinta ,,
eeeits tp anda bukan tokoh utama dsni ,, mending kerja aj yg professional yx rafii ,, jgn menghancurkn apa yg sudh km miliki skrang ,, jgn kaya si arkana2 tu ,, 😒😒😒😒
perlu berendam di kawah gunung merapi ni shanaz biar otak ny rileks🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣