Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 | Mata-mata di Dekat
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Di ruang perpustakaan sekolah yang sepi, Siska duduk sendirian di depan komputer desktop yang terhubung ke jaringan pusat sekolah. Tidak ada ekspresi di wajahnya, namun di dalam pikirannya, sistem canggih sedang bekerja dengan sangat cepat.
Tanpa diketahui oleh siapapun, Siska memanfaatkan koneksi jaringan lokal tersebut. Matanya menatap layar monitor, namun pandangannya seolah menembus jauh ke dalam kode biner yang berjalan di balik layar.
"Akses terhubung... Mem-bypass sistem keamanan firewall... Mengabaikan protokol enkripsi," gumam Siska pelan dalam hati.
Berkat kemampuan peretasan yang otomatis terunduh ke dalam basis datanya, Siska dengan mudah menembus pertahanan server sekolah yang seharusnya hanya bisa diakses oleh pihak administrasi. Dalam sekejap mata, ia berhasil masuk ke dalam basis data utama.
"Cari data siswa bernama Iris Astridewi," perintah batinnya.
Di layar monitor, berbagai data mulai bermunculan. Mulai dari data pribadi, alamat tempat tinggal, riwayat kesehatan, catatan akademik, hingga jadwal keberadaannya di sekolah. Siska mengunduh semua data tersebut ke dalam perangkat penyimpanan pribadinya tanpa meninggalkan jejak atau riwayat akses yang mencurigakan.
"Data lengkap telah didapatkan. Sekarang tinggal mencari celah yang tepat untuk melaksanakan perintah eliminasi," batin Siska sambil menatap layar komputer dengan tatapan dingin. Setelah itu, ia keluar dari sistem tersebut seolah tidak pernah menyentuhnya sama sekali.
................
Sementara itu, di ruang kerja apartemen mewahnya, Iris sedang duduk di hadapan Kim yang menampilkan berbagai data di layar hologram. Iris baru saja menyelesaikan sesi pelatihan rutinnya di Shelter dan melaporkan semua kejadian yang ia alami di sekolah hari ini.
"Begitulah, Paman Kim. Siska benar-benar berubah 180 derajat. Tidak hanya sikapnya yang dingin, tapi juga kecerdasan dan kekuatan fisiknya yang tiba-tiba melonjak drastis. Aku curiga ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya, tapi setiap kali aku gunakan fitur analisis, hasilnya selalu menyatakan normal," jelas Iris dengan nada khawatir.
Kim mengangguk paham sambil menganalisis data yang Iris laporkan. "Data yang kamu berikan memang menunjukkan anomali, Nona Iris. Perubahan mendadak seperti itu pada manusia normal sangat jarang terjadi kecuali ada faktor eksternal yang mempengaruhinya."
Kim berhenti sejenak, lalu menatap Iris dengan tatapan serius. "Meskipun hasil pemindaianmu menyatakan normal, insting kamu sebagai pengguna sistem ini mungkin lebih peka. Sebaiknya kamu tetap waspada dan berhati-hati di dekatnya. Jangan sampai lengah, dan hindari situasi berbahaya jika memungkinkan. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kepribadian barunya itu."
"Iya, aku mengerti, Paman. Aku akan lebih berhati-hati," jawab Iris mantap.
................
Di laboratorium bawah tanah milik Aegis Corporation, Stella berdiri tegak di depan mesin portal yang kini terlihat lebih stabil dan canggih dibandingkan percobaan pertamanya. Ia telah melakukan berbagai perbaikan dan penyesuaian material agar kompatibel dengan teknologi masa depan.
"Kali ini harus berhasil. Aku tidak boleh membuang sumber daya percuma," gumam Stella sambil menekan beberapa tombol di panel kontrol.
Bzzzzzt! Wusss!
Suara dengungan energi terdengar lebih halus dan teratur. Portal berbentuk lingkaran di tengah ruangan itu menyala dengan cahaya ungu yang stabil. Tidak seperti sebelumnya yang memanggil unit robot utuh, kali ini Stella memodifikasi panggilannya.
Dari dalam pusaran portal itu, keluar lah puluhan bola-bola kecil berwarna hitam pekat yang berputar perlahan dan melayang turun ke lantai laboratorium. Bola-bola itu adalah bentuk murni dari teknologi Nano Machine yang telah disederhanakan dan disesuaikan untuk penyusupan.
"Bagus. Dengan bentuk seperti ini, mereka lebih mudah disembunyikan dan bisa memilih inang yang lebih strategis tanpa menarik perhatian," ujar Stella puas.
................
Sore harinya, saat Stella berjalan keluar dari gedung kantor Aegis Corporation menuju tempat parkir mobil pribadinya, matanya tertuju pada seorang satpam yang sedang bertugas di gerbang utama.
Satpam itu bertubuh tegap, berwajah tampan namun memiliki tatapan mata yang jujur dan ramah. Ia terlihat sangat rajin, membantu seorang warga kantor yang kesulitan membawa barang bawaan, lalu dengan sigap mengatur lalu lintas kendaraan di depan gerbang. Semua orang di sekitarnya tampak menyukainya karena sifatnya yang suka menolong dan disiplin.
"Itu dia... Kandidat yang sempurna. Tampan, disukai banyak orang, dan memiliki akses keamanan di gedung ini," gumam Stella sambil tersenyum tipis penuh rencana.
Malam harinya, saat suasana kantor sudah mulai sepi dan semua pegawai sudah pulang, satpam yang bernama Bram itu bersiap untuk menyelesaikan shift tugasnya. Ia berjalan menuju tempat parkir kendaraan karyawan untuk mengambil sepeda motornya.
Namun, saat ia membuka pintu mobil dinas yang kebetulan terbuka sedikit karena sedang diperbaiki, matanya menangkap sesuatu yang aneh di atas kursi pengemudi. Sebuah bola hitam kecil berkilauan di dalam sana.
"Eh, benda apa ini? Sepertinya bukan barang kantor," gumam Bram penasaran sambil menjulurkan tangannya.
Begitu kulit tangan Bram menyentuh permukaan bola itu, benda itu tiba-tiba bergerak cepat, pecah menjadi partikel hitam halus dan langsung menyusup masuk ke dalam tubuh Bram melalui pori-pori kulit.
"Arghhh! Sakit... Panas..." Bram berusaha berteriak, namun suaranya terhenti. Tubuhnya kaku, matanya melotot lebar, lalu seketika itu juga tubuhnya terkulai lemas tak bernyawa di atas kursi mobil.
Namun, sesaat kemudian, tubuh Bram bergerak lagi. Perlahan-lahan, Bram bangkit berdiri tegak di tempatnya. Matanya yang tadinya hangat dan ramah kini berubah menjadi dingin, tajam, dan kosong. Sebuah suara mekanis terdengar di dalam kepalanya.
[Integrasi Selesai.]
[Mengunduh Memori dan Data Inang...]
[Identitas Inang: Bramantyo, Dipanggil Bram. Usia 26 Tahun. Pekerjaan: Satpam/Keamanan.]
[Status: Siap Bertugas.]
Bram merapikan seragamnya dengan gerakan yang tegap namun kaku. Ia berjalan keluar dari tempat parkir dengan langkah yang mantap. Di sana, Stella sudah menunggunya sambil bersandar di mobil mewahnya.
Melihat kedatangan Stella, Bram langsung menghentikan langkahnya, memberi hormat dengan gaya militer yang sempurna, lalu menundukkan kepalanya rendah dengan tatapan penuh kesetiaan mutlak.
"Selamat malam, My Queen. Bram telah siap melaksanakan perintah Anda," ucap Bram dengan nada suara yang sama persis seperti aslinya, namun terdengar jauh lebih berwibawa dan tanpa emosi.
Stella tersenyum puas melihat kesetiaan bawahannya yang baru. "Bagus. Mulai besok, lanjutkan tugasmu seperti biasa. Tapi ingat, mata dan telingaku sekarang ada di tempat itu. Laporkan semua hal yang mencurigakan atau berharga kepadaku."
"Siap, My Queen," jawab Bram singkat.
................
Di tempat yang berbeda, di ruang kerja apartemen milik Iris, Kim masih duduk di depan deretan layar komputernya hingga larut malam. Ia tidak beristirahat dan terus berusaha mencari jejak sosok bernama 'Falcon' di dunia maya.
Dengan kemampuan peretasan tingkat tinggi yang dimilikinya, Kim menyusup masuk ke dalam server kepolisian dan lembaga keamanan nasional untuk mencari catatan jejak digital yang tersembunyi.
"Server kepolisian memiliki sistem arsip data yang cukup lengkap. Jika dia pernah melakukan pelanggaran atau menyisakan jejak sedikitpun, pasti ada rekamannya di sini," gumam Kim.
Jari-jarinya bergerak sangat cepat di atas papan ketik, memecahkan kode demi kode yang melindungi data tersebut. Tiba-tiba, mata Kim berbinar melihat sebuah berkas tersembunyi yang hampir terhapus.
"Akhirnya ketemu juga... Jejak aktivitas peretasan dengan pola kode yang sama persis dengan yang saya cari. Dia pernah terdeteksi melakukan akses ilegal ke data pemerintah beberapa tahun lalu sebelum menghilang. Ini membuktikan bahwa dia memang ada," ujar Kim dengan nada lega namun tetap waspada.
"Berbekal petunjuk ini, pencarian selanjutnya akan menjadi lebih mudah. Tinggal menunggu waktu saja sampai kita bisa berhadapan langsung," tambah Kim pelan.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...