"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pengadilan Dunia
Langkah kaki Adrian dan Elena saat melangkah keluar dari jet pribadi medis milik Arsa Group di landasan pacu bandara privat langsung disambut oleh kilatan lampu blitz kamera yang membabi buta. Meskipun jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, puluhan awak media korporat dan jurnalis internasional ternama ternyata sudah berkerumun di balik barikade pengamanan super ketat. Area perimeter tersebut telah dijaga oleh seratus personel tim keamanan internal bersenjata lengkap. Kabar mengenai ledakan misterius di fasilitas Pulau Karang Hitam dan keterkaitannya dengan konspirasi bayangan global rupanya telah bocor ke permukaan, memicu kehebohan luar biasa di kalangan publik faksi pusat.
Adrian berjalan dengan aura intimidasi yang sangat pekat, khas seorang penguasa tertinggi yang tak tersentuh. Kaos taktis hitamnya yang basah semalam kini sudah diganti dengan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan balutan perban putih baru yang membungkus luka di lengan kanannya.
Tangan kiri Adrian menggenggam sangat erat jemari tangan Elena, seolah menegaskan kepada dunia bahwa tidak ada satu pun orang yang boleh menyentuh, mendekati, atau mengusik wanita di sisinya.
Di sampingnya, Elena berjalan dengan kepala tegak, anggun dan tenang. Wajahnya yang menyiratkan kelelahan fisik setelah bertaruh nyawa di tengah laut sama sekali tidak mengurangi binar kemenangan di sepasang mata indahnya. Di dalam tas kulit hitam yang didekapnya dengan sangat rapat, tersimpan sebuah map berisi dokumen cetak dan flash disk taktis yang berhasil mereka rebut dari ruang server Syndicate.
"Tuan Adrian! Apakah benar Arsa Group terlibat dalam operasi pembersihan pangkalan ilegal di perairan bebas?"
"Bu Elena! Apakah dokumen yang Anda bawa berkaitan dengan kematian mantan CEO Luminous Beauty sepuluh tahun lalu?"
Berondongan pertanyaan dari para wartawan itu sama sekali tidak digubris oleh mereka berdua. Adrian terus menuntun Elena masuk ke dalam kabin mobil sedan mewah antipeluru yang sudah menunggu dengan mesin menyala. Begitu pintu mobil ditutup rapat dari luar, kebisingan publik langsung lenyap, digantikan oleh kesunyian yang sarat akan ketegangan strategis.
"Kita langsung menuju gedung Komisi Tindak Integritas dan Otoritas Pengawas Finansial," kata Adrian kepada Hendra yang duduk di kursi kemudi dengan kepala yang juga masih dibalut perban ringan. "Pastikan tim hukum kita dan perwakilan perserikatan pers global sudah berkumpul di ruang konferensi utama. Kita lakukan ini dalam satu kali pukulan telak."
"Siap, Tuan Adrian," jawab Hendra tegas, langsung menginjak pedal gas membelah jalanan kota faksi pusat yang padat.
Elena menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, mengembuskan napas panjang yang teramat berat untuk melepaskan sisa ketegangan. Ia menoleh ke arah Adrian, menatap perban di lengan kanan suaminya yang mulai sedikit memerah karena rembesan darah baru akibat pergerakan fisik yang terlalu dipaksakan sejak mendarat tadi.
"Jahitanmu harus dijahit ulang setelah ini, Adrian," bisik Elena lembut, jemari kecilnya perlahan menyentuh tepian perban Adrian dengan rasa cemas yang tidak bisa disembunyikan. "Kamu sudah terlalu banyak menumpahkan darah untuk urusanku sejak kita berangkat."
Adrian menoleh, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Elena. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sangat hangat, sebuah ekspresi langka yang hanya ia perlihatkan khusus untuk istrinya. Adrian membalikkan telapak tangan kirinya, lalu menggenggam jemari Elena dan membawanya ke depan lipatan bibir, mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut namun sarat akan emosi posesif yang kuat.
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu, Elena, ini bukan cuma urusanmu lagi. Ini adalah urusan kita," ucap Adrian dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam. "Darah yang keluar dari lengan ini tidak ada artinya dibanding melihat organisasi bajingan itu berlutut di bawah kakimu hari ini. Mari kita selesaikan apa yang sudah dimulai oleh ayahmu."
Satu jam kemudian, atmosfer di dalam ruang konferensi pers utama gedung Otoritas Pengawas Finansial benar-benar terasa panas seperti ruang pengadilan dunia. Ratusan jurnalis dari berbagai penjuru wilayah sudah memenuhi ruangan, saling berdesakan dengan lensa kamera yang siap membidik. Di meja pembicara utama, telah duduk jajaran petinggi Komisi Tindak Integritas, ketua otoritas keuangan, serta tim pengacara elit gabungan Arsa Group dan Luminous Beauty.
Begitu Adrian dan Elena melangkah masuk dan mengambil posisi duduk di tengah meja utama, keheningan total langsung tercipta dalam hitungan detik. Ketegangan di dalam ruangan itu begitu padat.
Elena memajukan tubuhnya, menyesuaikan posisi mikrofon di depannya. Tanpa ada basa-basi atau kepalsuan retorika bisnis yang berbelit-belit, ia langsung membuka map hitam yang dibawanya dan meletakkan flash disk taktis tersebut di atas meja.
"Selamat pagi semuanya," suara Elena bergema dengan sangat lantang, tenang, dan dipenuhi oleh otoritas mutlak seorang pemimpin tertinggi. "Hari ini, saya, Elena Alexander, selaku CEO dari Luminous Beauty, bersama dengan suami saya, Adrian Arsa selaku pemilik tunggal Arsa Food Group, berdiri di sini bukan untuk mengumumkan perkembangan nilai saham atau rincian teknis dari merger perusahaan kami."
Elena menjeda kalimatnya sejenak, melemparkan tatapan lurus dan tajam ke arah lensa kamera utama yang sedang menyiarkan acara ini secara langsung ke seluruh jaringan televisi bisnis dunia.
"Kami berdiri di sini untuk menyerahkan seluruh bukti fisik dan digital mengenai eksistensi sebuah organisasi kejahatan finansial bawah tanah global yang selama ini bergerak di balik bayang-bayang dunia bisnis kita, yang dikenal dengan nama Syndicate."
Bisik-bisik hebat langsung pecah di antara para wartawan. Layar proyektor raksasa di belakang meja Elena mendadak menyala, menampilkan ribuan baris dokumen hitam, bagan aliran dana pencucian uang senilai ratusan triliun yang melintasi berbagai sektor wilayah internasional, hingga manifes pengiriman komoditas ilegal yang melibatkan puluhan nama pengusaha papan atas serta oknum pejabat korup.
"Di dalam dokumen ini," lanjut Elena dengan nada suara yang makin dingin dan tajam, "terdapat bukti konkret mengenai sabotase terhadap aset logistik pangan milik Arsa Group beberapa waktu lalu, dan yang paling utama... bukti absolut mengenai konspirasi pembunuhan berencana terhadap ayah kandung saya, Alexander, sepuluh tahun yang lalu di perairan internasional bebas."
Di samping Elena, Adrian mengambil alih mikrofon sekunder. Aura kepemimpinannya yang absolut langsung menekan mental siapa saja di dalam ruangan.
"Mulai detik ini, seluruh data ini telah terintegrasi secara hukum dengan Komisi Tindak Integritas dan badan intelijen keuangan internasional," kata Adrian, suara baritonnya yang berat terdengar bagai vonis mati yang tidak bisa diganggu gugat. "Kami juga telah membekukan total seluruh pergerakan saham, rekening taktis, dan sisa aset milik Bramantyo serta faksi-faksi sekutu lokal yang terbukti menjadi kaki tangan organisasi ini. Tidak ada ruang untuk negosiasi, tidak ada celah untuk melarikan diri. Siapa pun yang namanya tertulis di dalam daftar hitam ini... Anda semua sudah selesai."
Pengumuman mutlak dari Adrian itu seketika memicu gelombang kejutan yang luar biasa di lantai bursa efek faksi pusat. Hanya dalam hitungan menit sejak konferensi pers disiarkan, saham puluhan korporasi besar yang terindikasi menjadi bagian dari Syndicate langsung terjun bebas ke titik terendah hingga mengalami penangguhan perdagangan total. Kepanikan massal melanda para investor hitam yang selama ini merasa tidak tersentuh oleh hukum.
Di bawah sorotan lampu kamera dan kehebohan yang sedang melanda ruang konferensi, Elena perlahan menurunkan pandangannya. Di bawah meja, tangan kiri Adrian kembali meraih tangan kanannya, meremasnya pelan untuk memberikan kekuatan fisik yang nyata. Elena menoleh ke arah suaminya, dan di dalam hati ia berbisik dengan lega: Ayah... dendammu selama sepuluh tahun ini akhirnya terbayar lunas hari ini.
Konflik pertama melawan sabotase fisik dan pengkhianatan keluarga resmi berakhir dengan kemenangan telak di tangan sang power couple. Mereka telah berhasil menyeret musuh dari kegelapan menuju pengadilan dunia di bawah sinar hukum yang terang benderang. Namun, baik Adrian maupun Elena tahu, dengan terungkapnya data ini ke publik, mereka baru saja mendeklarasikan perang terbuka yang jauh lebih besar. Sisa-sisa petinggi faksi atas Syndicate dipastikan akan mengamuk dan menyiapkan badai pembalasan yang jauh lebih licik daripada sebelumnya.
......BERSAMBUNG......