Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Mahkota Dua Dunia – Lamaran di Pelataran Luoyang
Guruh yang membelah langit Luoyang pada pagi itu bukanlah pertanda badai, melainkan raungan mesin dari peradaban yang melampaui zaman. Di ufuk barat, titik-titik hitam muncul membelah awan, diikuti oleh jejak putih vapor trails yang panjang. Penduduk Luoyang, yang telah menyaksikan keajaiban Yudi saat penaklukan Tibet, tetap saja terkesima. Namun kali ini, skalanya jauh lebih masif. Ini bukan sekadar kepulangan seorang pangeran; ini adalah parade kekuatan dari penguasa hegemoni baru Asia.
Iring-iringan darat Yudi Rahmad dipimpin oleh 5.000 Kavaleri Bermotor pilihan yang mengenakan zirah hitam taktis dengan baret hitam tegak. Suara knalpot motor trail militer mereka menciptakan simfoni mekanis yang menggetarkan fondasi jalanan batu Luoyang. Di tengah barisan, sepuluh unit Kendaraan Lapis Baja (Armored Car) yang terlihat sangat futuristik mengawal limusin lapis baja khusus yang membawa Sang Kaisar. Di atas langit, jet-jet tempur varian Interseptor terbang rendah dalam formasi V-shape, melakukan sonic boom terkendali sebagai penghormatan saat mereka melintasi gerbang utama kota.
Sepanjang jalan menuju istana, karpet merah telah digelar tanpa putus. Rakyat Zhou berdiri di sisi jalan, menundukkan kepala bukan karena paksa, melainkan karena rasa hormat yang bercampur dengan rasa ngeri yang sangat dalam. Mereka tahu bahwa di dalam kendaraan besi itu duduk seorang pria berusia 17 tahun yang baru saja menghapus tiga kerajaan besar India dari peta sejarah hanya dalam hitungan minggu.
Gerbang Istana Dinasti Zhou
Di pelataran luar Istana Agung Luoyang, Maharani Wu Lin telah menunggu di atas podium kehormatan. Ia mengenakan jubah kebesaran naga berwarna emas yang sangat megah. Di sampingnya berdiri Menteri Besar, ayah dari Yue Qing, yang wajahnya tampak pucat meski berusaha tetap tenang. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah Yue Qing. Ia berdiri dengan anggun, mengenakan gaun sutra berwarna merah delima yang dihiasi benang emas murni. Kecantikannya yang dewasa dan matanya yang merah delima berkilat penuh penantian.
Saat limusin Yudi berhenti tepat di depan tangga istana, suasana mendadak sunyi. Pintu terbuka, dan Yudi Rahmad melangkah keluar. Ia mengenakan seragam militer kaisar berwarna hitam pekat dengan aksen emas di bahu, pedang Swordsman legendarisnya tergantung di pinggang sebagai simbol tradisi. Wibawanya kini telah matang sepenuhnya; ia tidak lagi terlihat seperti pemuda, melainkan seorang penakluk dunia yang memiliki tatapan mata sedalam samudera.
Yudi berjalan perlahan menaiki tangga. Setiap langkahnya diikuti oleh dua pengawal elit yang membawa kotak hantaran yang memancarkan cahaya redup. Saat ia tiba di depan Wu Lin, Yudi berhenti dan menundukkan kepala dengan hormat, namun punggungnya tetap tegak—sebuah gestur yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak yang berbakti namun juga seorang Kaisar yang berdaulat.
"Putraku, Kaisar Yudi Rahmad," suara Wu Lin bergetar bangga, bergema di seluruh pelataran istana. "Luoyang bersinar lebih terang hari ini dengan kepulanganmu."
Yudi tersenyum tipis. "Ibunda Maharani, aku pulang bukan hanya untuk membawa kabar kemenangan dari India, tetapi untuk menuntaskan takdir yang telah kita bicarakan di Lhasa. Islamabad kini telah berdiri, dan aku membutuhkan permaisuri untuk memerintah di sampingku."
Prosesi Lamaran Agung
Yudi kemudian berbalik ke arah Yue Qing. Suasana di Hall of Supreme Harmony, tempat upacara inti berlangsung, menjadi sangat sakral. Ribuan pejabat Zhou dan perwakilan diplomatik dari Bagdad serta kerajaan-kerajaan kecil India yang kini menjadi vasal Rahmad menyaksikan dengan napas tertahan.
Yudi memberi isyarat kepada Galuh. Secara ajaib, dari dimensi Inventory Sistem yang hanya bisa diakses olehnya, Yudi memanifestasikan hantaran utama yang belum pernah dilihat oleh mata manusia di abad ke-8. Di tengah aula, muncul sebuah kotak kaca kristal besar yang berisi mahkota permaisuri yang terbuat dari material komposit masa depan yang bercahaya seperti bintang, bertahtakan berlian murni yang dipotong dengan laser hingga memiliki ribuan faset.
Tidak hanya itu, Yudi mengeluarkan perangkat teknologi medis masa depan berbentuk kapsul kecil yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit kronis sebagai hadiah bagi rakyat Zhou melalui Wu Lin. Namun, fokus utama tetap pada Yue Qing.
Yudi melangkah maju, berdiri tepat di hadapan wanita yang telah lama menunggunya. Ia mengeluarkan sebuah cincin yang juga diambil dari sistemnya—sebuah cincin dengan teknologi enkripsi biometrik yang hanya akan bercahaya jika dikenakan oleh Yue Qing.
"Yue Qing," suara Yudi tenang namun penuh otoritas. "Dunia telah aku taklukkan. Dari puncak Himalaya hingga pesisir Kanyakumari, semuanya kini berada di bawah panji Dinasti Rahmad. Namun, kekaisaran tanpa permaisuri bagaikan malam tanpa bulan."
Yudi mengambil tangan Yue Qing, yang terasa sedikit dingin karena gugup. "Aku, Yudi Rahmad, Kaisar Dinasti Rahmad, Penguasa Islamabad, secara resmi melamarmu untuk menjadi Permaisuri Agung dari kekaisaran yang membentang luas ini. Apakah kau bersedia berdiri di sampingku, bukan sebagai bayang-bayang, melainkan sebagai pasangan yang setara untuk memerintah dua perrdaban besar ini?"
Aula itu menjadi sangat hening. Yue Qing menatap mata Yudi, mencari jejak keraguan, namun yang ia temukan hanyalah tekad baja dan kasih sayang yang tulus. Air mata haru menggenang di mata merah delimanya. Baginya, momen ini adalah puncak dari segala ambisi dan cintanya.
"Kaisar Yudi," jawab Yue Qing dengan suara yang jernih dan tegas sehingga terdengar hingga ke sudut aula. "Aku telah menunggumu sejak hari pertama kau menunjukkan kekuatanmu di Lhasa. Aku tidak menginginkan pria lain di bawah langit ini selain dirimu. Dengan sepenuh jiwaku, aku menerima lamaranmu. Aku akan menjadi permaisurimu, menjadi pendampingmu dalam suka maupun duka, dan memastikan bahwa nama Rahmad akan terus bergema hingga akhir zaman."
Saat cincin itu melingkar di jari manis Yue Qing, cincin tersebut memancarkan cahaya biru terang yang menyinari seluruh aula. Suara sorak-sorai pecah di seluruh Luoyang. Di luar istana, pasukan kavaleri bermotor Yudi serentak menyalakan mesin mereka dan meraungkannya sebagai bentuk perayaan, sementara jet-jet tempur di atas melakukan manuver flypast dengan melepaskan asap berwarna merah dan emas di langit biru.
Perjamuan dan Implikasi Politik
Malam itu, Luoyang berpesta. Perjamuan agung digelar dengan makanan dan minuman terbaik yang dibawa Yudi langsung dari stok sistemnya. Para menteri Zhou yang tadinya skeptis kini hanya bisa mengangguk kagum. Mereka menyadari bahwa pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan penyatuan dua kekuatan ekonomi dan militer terbesar di dunia.
Maharani Wu Lin duduk berdampingan dengan Yudi dan Yue Qing di panggung utama. Wu Lin menyadari bahwa dengan pernikahan ini, posisi Dinasti Zhou akan aman untuk berabad-abad ke depan. Aliansi Bulan-Matahari (Rahmad-Zhou) kini secara praktis menguasai seluruh Asia Timur dan Selatan.
"Ibunda," bisik Yudi di tengah perjamuan. "Setelah pernikahan ini diresmikan di Islamabad, aku akan membuka jalur perdagangan bebas antara Luoyang dan ibu kotaku yang baru. Teknologi yang aku miliki akan mulai aku bagikan secara bertahap kepada Zhou agar rakyatmu bisa menikmati kemakmuran yang sama."
Wu Lin mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Kau telah melampaui semua harapanku, Yudi. Kau bukan hanya seorang penakluk, kau adalah pembawa cahaya."
Di sisi lain, Yue Qing menyandarkan kepalanya di bahu Yudi. Ia merasa sangat aman dan dicintai. "Yudi," bisiknya, "kapan kita berangkat ke Islamabad? Aku ingin melihat kota yang kau bangun di atas tanah yang kau taklukkan."
Yudi mengecup keningnya dengan lembut. "Segera, Permaisuriku. Tapi malam ini, biarkan dunia merayakan bahwa Sang Matahari telah menemukan Bulannya."
Statistik Kerajaan Dinasti Rahmad (Setelah Lamaran Luoyang)
Ibu Kota: Islamabad (Pusat Pemerintahan Baru)
Ibu Kota Sekutu: Luoyang (Dinasti Zhou)
Total Luas Wilayah Pengaruh: 5.200.000 Km² (Rahmad) + 4.000.000 Km² (Zhou - Wilayah Pengaruh)
Total Populasi Terintegrasi: 72.000.000 (Rahmad) + 50.000.000 (Zhou) \= 122.000.000 Jiwa.
Populasi Muslim: 13.875.600 Jiwa (Terus bertumbuh pesat di wilayah India dan Tibet).
Kekuatan Militer Bersama: Hegeomi mutlak darat, laut, dan udara.
Malam itu, sejarah mencatat bahwa Asia tidak lagi terbagi. Di bawah bayang-bayang jet tempur dan dentuman mesin, sebuah imperium keluarga yang paling kuat dalam sejarah manusia telah lahir. Yudi Rahmad telah membuktikan bahwa dengan sistem di tangan dan keadilan di hati, ia bisa menyatukan dunia yang tercerai-berai. Perjalanan menuju pernikahan agung di Islamabad akan menjadi babak baru bagi perdamaian dunia.