Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
“memang benar aku memiliki tunangan sejak kecil. Tapi kami belum pernah bertemu.”
Entah mengapa, Arlo merasa dirinya perlu menjelaskan hal itu pada Zoya.
“Aku khawatir dia akan menyebarkan rumor tentang kesalahpahaman tadi,” katanya pelan. “Tapi kamu tidak perlu cemas. Aku akan membereskannya.”
Zoya sebenarnya memang ingin menanyakan soal tunangan itu. Namun ia tidak menyangka Arlo justru membahasnya lebih dulu.
“Mengapa kalian tidak pernah bertemu?” tanyanya hati-hati.
Arlo menjawab tanpa curiga sedikit pun.
“Karena pertunangan itu hanya kesepakatan lisan antara kakekku dan kakek pihak tunanganku,” jelasnya tenang. “Dan kabarnya… tunanganku sangat keras kepala. Dia tidak menyukai perjodohan ini dan selalu menolaknya.”
Tatapan Arlo sedikit menurun.
“Jadi aku juga berpikir untuk melepaskan pertunangan itu. Aku tidak ingin mengikat seseorang yang tidak menginginkannya. Hanya saja, aku belum pernah menemukan kesempatan untuk bertemu dengannya. Kabarnya dua tahun lalu dia pergi ke luar negeri, dan sejak itu masalah ini terus tertunda.”
Mendengar jawaban itu, hati Zoya perlahan merasa lega.
Selama Arlo tidak menyukai tunangannya, berarti dirinya masih punya kesempatan.
Lagipula, jika tunangan itu sendiri juga tidak menyukai Arlo, maka seharusnya tidak ada yang salah jika ia mencoba mendekati pria itu.
Namun jika Arlo benar-benar mencintai tunangannya, Zoya tahu dirinya pasti akan mundur.
Ia tidak ingin menjadi orang ketiga.
Setelah Arlo pergi malam itu, Zoya berdiri di depan jendela sambil menatap mobil pria itu yang perlahan menjauh.
Tangannya mengelus dagu pelan.
Siapa sebenarnya pria tadi? pikirnya.
Mengapa tatapannya berubah begitu dingin saat melihatku? Dan kenapa dia sengaja menyebut soal tunangan itu sambil terus memandangku seperti sedang memprovokasi?
Yang lebih membuatnya penasaran adalah…
Siapa sebenarnya tunangan Arlo… sampai membuat pria setenang itu terlihat cemas?
Meskipun Arlo selalu tampak tenang saat bersamanya, Zoya bisa melihat dengan jelas bahwa gerakan tubuh pria itu sejak tadi dipenuhi ketegangan.
Keesokan harinya, Zoya kembali ke lokasi syuting.
Selama dua hari ketidakhadirannya, proses syuting difokuskan pada adegan para pemeran pendukung. Karena sebagian besar dari mereka adalah aktor veteran, suasana syuting berjalan cukup santai dan lancar.
Begitu melihat Zoya datang, Rahengga langsung menyapanya dengan senyum lebar.
“Wah, sudah kembali?”
Zoya mengeluarkan dua kantong plastik dari dalam tasnya lalu menyerahkannya kepada Rahengga dan Claeton.
“Ini cemilan pedas cumi buatan saya sendiri. Untuk di campur dengan nasi kotak, sangat enak.”
Mata Rahengga langsung berbinar.
Ia membuka salah satu toples sambil tertawa, “Wah, Zoya… kau bukan cuma jago bela diri, tapi juga jago masak. Pantas saja blog memasakmu sangat terkenal. Aku harus mencicipinya sekarang.”
Tanpa menunggu lama, Rahengga mengambil sepotong cumi dan langsung memasukkannya ke mulut.
Detik berikutnya, matanya membelalak.
Rasa pedas sambalnya begitu khas, aroma cuminya harum, dan sama sekali tidak memiliki rasa pengawet ataupun bau makanan lama. Rasanya segar dan sangat menggugah selera.
Sebagai seorang foodie sejati, Rahengga hampir langsung menghabiskan seluruh bagiannya dalam sekejap.
Lalu…
Tatapannya perlahan beralih ke kantong plastik di tangan Claeton.
Tatapan itu begitu penuh arti.
Claeton yang menyadarinya langsung bergerak cepat menyembunyikan miliknya ke balik jaketnya.
“Ini bagian saya.”
Rahengga: “…”
Melihat tidak ada harapan merebut milik Claeton, Rahengga segera menoleh pada Zoya dengan ekspresi serius.
“Begini saja,” katanya penuh harap, “kebetulan dua hari ini kau tidak punya jadwal penting. Bagaimana kalau aku memberimu libur dua hari lagi? Kau pulang dan buatkan lagi untukku. Aku suka udang, jadi lain kali buat yang rasa udang juga.”
Zoya: “…”
Sudut bibir Zoya berkedut kecil.
“Sutradara Engga… kalau Anda suka, lain kali akan saya buatkan lagi.”
Mendengar jawaban itu, Rahengga tampak kecewa karena rencananya gagal. Namun ia sadar tidak mungkin memaksa seseorang pulang hanya demi memasak makanan ringan untuknya.
Ia hanya bisa menghela napas penuh penyesalan sebelum buru-buru menambahkan,
“Tapi lain kali buat yang banyak, ya! Satu kantong plastik begini mana cukup? Ini bahkan cuma cukup nyangkut di sela gigiku.”
Zoya: “…”
Rahengga terkenal sebagai sutradara besar baik di dalam maupun luar negeri.
Namun siapa sangka…
Di balik wajah serius dan temperamennya yang keras kepala, ia ternyata seorang pecinta makanan tingkat akut.
Benar-benar tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya.
Hari ini, sebagian besar adegan pemeran pendukung sudah hampir selesai. Jadwal yang tersisa hanyalah pengambilan gambar adegan romantis antara Adira yang diperankan Meilan dan Marlon.
Meilan baru datang ketika syuting hampir dimulai.
Namun yang membuat Zoya tercengang bukanlah Meilan…
melainkan pria yang datang bersamanya.
Pria itu memiliki wajah yang begitu indah hingga bahkan terasa lebih cantik daripada seorang wanita.
Dan saat pria itu menyadari sebuah tatapan menatapnya tajam, ia menoleh. Tepat saat itu matanya membulat terkejut lalu gembira, tidak ada yang menyadarinya hanya Zoya.
Sebelumnya ia bertanya-tanya orang di belakang Meilan pasti sangat kuat sekarang ia mengerti setelah melihat orang ini.