Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Bermata Dingin
Hujan turun sejak sore, butiran air membasahi kaca apartemen mewah milik Alessandro.
Jakarta malam itu terasa mati, sunyi, dan dingin. Alessandro berdiri di depan jendela tinggi dengan segelas whiskey di tangan.
Jas hitamnya masih melekat rapi, meski jam sudah melewati tengah malam. Tatapannya kosong, namun pikirannya kacau.
"Tuan Muda Valerio."
Kalimat itu terus berngiang di kepalanya sejak tiga hari terakhir. Seseorang memanggilnya dengan nama itu, nama yang seharusnya sudah dikubur bertahun-tahun lalu. Nama yang selalu membuat Nadira gemetar ketakutan.
Alessandro meneguk whiskey, lalu ponselnya bergetar pelan.
Nomor tidak dikenal, tanpa nama, tanpa identitas. Ia mengangkatnya perlahan.
"Ya?"
Tidak ada jawaban, hanya suara napas pelan, dingin, lalu tak lama sambungan terputus.
Rahang Alessandro mengeras, instingnya mengatakan sesuatu sedang mengawasinya. Dan instingnya tidak bisa pernah salah.
Di sisi lain kota, seorang pria berdiri di bawah lampu jalan yang redup, mantel hitam panjang menutupi tubuh tingginya.
Tatapannya tajam seperti pisau, mata abu-abunya dingin tanpa emosi.
Viktor Karev.
Pria itu menatap layar tablet kecil di tangannya, di sana terpampang foto Alessandro yang berusia dua puluh tujuh tahun.
Pemilik perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara. Wajah tampan, tenang, elegan, namun Viktor tidak melihat Alessandro.
Ia hanya melihat seorang Leonardo, tatapan yang sama, bahkan aura gelap yang sama.
Sudut bibir Viktor terangkat tipis, "Akhirnya, anak monster itu tumbuh juga."
Seorang pria lain mendekat dengan gugup, "Apa kita mulai sekarang?"
Viktor diam beberapa detik, lalu menyalakan rokok. Asap tipis keluar dari bibirnya.
"Belum waktunya."
"Maksud anda?"
"Membunuh Alessandro sekarang, itu terlalu mudah," ucapnya. "Aku ingin melihat, apakah dia akan menjadi lebih buruk dari ayahnya, atau tidak."
Pagi harinya, Nadira terbangun karena suara langkah kaki. Ia keluar dari kamar dengan wajah pucat, Alessandro sedang duduk di meja makan sambil membaca berita di tablet.
Nadira sadar akan satu hal, bahwa ada sesuatu yang berubah sejak surat ancaman itu datang.
"Semalam, apa kamu nggak tidur lagi?" tanya Nadira pelan.
Alessandro mengangkat kepalanya, lalu sedikit tersenyum. "Aku baik-baik saja, Ma."
Tapi Nadira bisa melihat dari mata putranya, bahwa putranya itu sedang berbohong. Tatapan itu, tatapan Leonardo.
Jantung Nadira langsung terasa sesak.
"Ale."
"Hmm?"
"Kalau sesuatu dari masa lalu muncul lagi, kita akan pergi dari kota ini."
Alessandro menatap ibunya beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Kita nggak bisa lari selamanya, Ma. Ada kalanya kita harus hadapi semua masalah ini."
Kalimat itu membuat darah Nadira terasa membeku, karena dulu Leonardo pernah mengatakan hal yang sama.
Siang hari, Alessandro menghadiri pertemuan bisnis di hotel mewah kawasan pusat kota.
Ruang meeting dipenuhi para investor, suasana begitu formal dan tenang. Namun Alessandro merasa ada yang aneh, seseorang sedang memperhatikannya.
Ia bisa merasakannya, tatapannya perlahan bergerak ke sudut ruangan. Dan di sanalah pria itu berdiri, tinggi, mantel hitam, mata abu-abu dingin, dan tidak tersenyum.
Untuk pertama kalinya, Alessandro merasa tidak nyaman. Pria itu sepertimu predator yang sedang mengamati mangsanya.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Alessandro datar, saat mereka akhirnya berpapasan di lorong hotel.
Pria itu tersenyum tipis, "Belum, kita belum pernah ketemu. Tapi aku sangat mengenal ayahmu."
Tubuh Alessandro langsung menegang, tatapannya berubah tajam. "Siapa kamu?"
Pria itu melangkah mendekat, sangat dekat sampai Alessandro bisa mencium aroma tembakau dan hujan dari tubuhnya.
"Nama yang dulu membuat dunia bawah gemetar, Leonardo Valerio."
Deg.
Untuk beberapa saat, napas Alessandro terasa berhenti. Tak ada orang yang berani menyebut nama itu secara langsung di depannya.
"Jawab pertanyaanku," ucap Alessandro dingin.
Pria itu justru tersenyum samar, "Viktor Karev."
Nama itu terasa asing, namun entah kenapa, nama itu terasa sangat berbahaya.
"Apa maumu?" tanya Alessandro tajam.
Viktor memiringkan kepala sedikit, "Aku cuma penasaran, apakah darah monster bisa berubah menjadi manusia normal."
Tatapan Alessandro berubah tajam, suasana di lorong mendadak terasa menyesakkan.
Dia pria itu berdiri saling menatap tanpa bergerak, seperti dua predator yang sedang mengukur satu sama lain.
Lalu Viktor mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah foto lama. Ia menyerahkannya pada Alessandro.
Dan saat melihat foto itu, wajah Alessandro langsung berubah. Foto Leonardo saat masih muda yang berdiri di samping Viktor.
Foto itu penuh dengan darah, dan di belakang mereka ada puluhan mayat.
Tangan Alessandro mengepal kuat.
"Ayahmu bukan orang baik," ucap Viktor tenang.
"Aku tahu itu."
"Tidak. Kamu belum tahu apa-apa," ucapnya dingin. "Kalau kamu tahu siapa Leonardo yang sebenarnya, mungkin kamu akan membenci darahmu sendiri."
Lalu pria itu berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Alessandro yang seakan membeku di tempat.
Malamnya, Alessandro pulang dengan pikiran yang kacau, ia masuk ke ruang kerja pribadi miliknya.
Gelap.
Sunyi.
Hanya ada cahaya lampu kota yang masuk dari balik jendela, foto itu masih ada di tangannya.
Leonardo dan Viktor, dua monster dari masa lalu.
Alessandro menatap lama wajah ayahnya, rahangnya perlahan mengeras.
"Ayah, sebenarnya siapa dirimu?"
Suara notifikasi tiba-tiba muncul dari laptopnya, satu file masuk secara anonim.
Jantung Alessandro berdetak pelan saat membuka file itu, video lama, resolusi buruk. Dua puluh tahun yang lalu.
Dan detik berikutnya, tubuhnya langsung membeku. Leonardo terlihat di layar, duduk du kue gelap sambul menatap kamera.
Wajahnya penuh darah, namun tatapannya tajam dan mengerikan. Lalu pria itu berbicara.
"Kalau kamu menonton video ini," suara Leonardo rendah dan dingin. "Berarti mereka akhirnya sudah menemukanmu, Alessandro."
Napas Alessandro tercekat, matanya tak bisa lepas dari layar.
"Ayahmu adalah monster," ucapnya dengan senyum tipis. "Tapi dunia ini lebih kejam daripada monster."
Video mendadak glitch, layar berkedip, dan sebelum rekaman berhenti, muncul satu simbol merah di layar. Seekor serigala hitam, dengan tulisan.
RED ASHES.
Mata Alessandro melebar, karena simbol itu ada di surat ancaman yang ia terima.
Tiba-tiba lampu ruang kerja mati, semuanya gelap. Dan dari belakang, terdengar suara seseorang yang begitu pelan dan dingin.
"Tuan Muda Valerio."
Tubuh Alessandro langsung menegang, suara itu kembali terdengar.
"Kami sudah menunggumu sangat lama."