Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Saya berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan saya juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seakan Ada Ikatan
Pagi kembali menyingsing menyinari buminya. Dimana setiap pagi orang-orang kembali melakukan kegiatannya masing-masing.
Untuk ibu rumah tangga mereka memasak untuk seluruh keluarganya. Ada pula mereka yang bekerja dan juga belajar disekolah.
Aida mengerjabkan matanya secara perlahan pagi ini. Wanita paruh baya itu perlahan sadar dan mulai terbangun. Seperti biasa sesuatu yang dicari adalah boneka kesayangannya.
"Aksa.. Aksa kamu dimana?" Aida menyingkap selimutnya dengan kasar mencari boneka yang selalu berada dalam gendongannya itu.
"Aksa.. Kamu dimana sayang.. Sini Mama cariin kamu. Jangan bikin Mama bingung dong.. " Aida berkeliling mencari boneka yang selalu ia anggap sang putra itu. Aida mengelilingi kamar tersebut namun tak kunjung menemukannya.
"Aksa! Aksa kamu dimana huhuhu...
"Tante.." Kaivan langsung masuk setelah mendengar suara teriakan dari kamar sebelah. Bahkan pria yang bekerja sebagai bodyguard itu belum menyelesaikan pakaiannya. Mungkin saja Kaivan panik takut terjadi apa-apa pada wanita yang sejak semalam mengganggu pikirannya itu..
Entah mengapa sejak kehadiran Aida dirumahnya. Kaivan merasa ada yang aneh dalam perasaannya, Entah itu apa yang jelas Kaivan tak dapat menafsirkan perasaan tersebut
Masih dengan singlet hitam dan celana bahan hitam yang dipakainya, Kaivan langsung masuk. Pria itu membawa boneka Aida yang semalam ketinggalan diruang tamu.
"Tante.. Tante cari ini?" Aida tersenyum senang melihat bonekanya. Wanita itu berlari lalu meraih bonekanya.
"Aksa.. Kamu kemana aja sih? Mama cariin kamu.." Aida berjalan dengan menimang bonekanya layaknya menimang seorang bayi.
"Den.." Seorang wanita yang merupakan pembantu dirumah itu masuk.
"Bi..
"Den.. Ini bajunya.." Bibi menyerahkan sebuah pakaian baru wanita untuk Kaivan.
"Bibi.. Bibi bisa kan mandiin Tante itu.. Terus disisir rambutnya ya, Pokoknya di make up deh biar cantik..
"Okey Den, Tenang.." Dengan senang hati Bibi mendekat ke arah Aida yang tengah menimang bonekanya itu. Bibi menatapnya dengan seksama, Entah gila atau hanya depresi Bibi juga kurang paham. Tapi disini Bibi merasakan kalau wanita yang dibawa pulang oleh majikannya ini mungkin sedang merasa kehilangan hingga jadi seperti ini.
"Bu.. Kita mandi dulu ya.." Ucap Bibi dengan hati-hati. Aida langsung mundur lalu mengusir Bibi..
"Pergi kamu! Jangan ambil anakku..!!" Katanya galak. Bahkan matanya melotot kearah Bibi.
"Enggak.. Saya gak mau ambil anaknya, Saya mau ajak ibu mandi dulu ya.. Biar ibu bersih dan cantik setelah ini.." Aida menatap bonekanya lalu menatap bibi.
"Mau ya? Biar anaknya tambah seneng nanti kalo ibu mandi.. " Aida menggelengkan kepalanya.
"Enggak mau.. Aku gak mau mandi.. " Melihat itu Kaivan mendekat kemudian berjongkok dihadapan Wanita paruh baya itu.
"Tante.. Tante mandi dulu ya.. Abis ini, Kai antarkan Tante pulang.." Aida kembali menatap Kaivan. Tangannya menyentuh pipi Kaivan dan mengusapnya lembut.
"Puulang..?
"Iya pulang.. Tante ingat kan jalan kerumah tante.." Aida menatap Kaivan dengan mata yang membulat.
"Kamu, Mau antarkan aku pulang?" Kaivan mengangguk tersenyum.
"Iya..
"Jalan kaki?" Kaivan menggelengkan kepalanya.
"Enggak.. Naik mobil.. Tante ingat kan jalan kerumah tante? " Aida tampak sedang berpikir keras.
"Eumm.. Pulang, Kerumah.. Iya iya.. Aku ingat! " Kaivan tersenyum lagi..
"Ya udah sekarang Tante mandi dulu ya. Biar seger biar cantik.. " Aida mengangguk, Hingga tatapan matanya mengarah pada tanda bulat hitam di pundak Kaivan.
Sebelah tangan Aida terangkat mengusap tanda itu. Matanya kembali berkaca-kaca menatap Kaivan.
"Aksa...
"Bu.. Ayo kita mandi dulu.." Bibi pun segera membawa Aida ke kamar mandi. Wanita itu menurut namun matanya tak lepas dari tanda hitam yang berada di pundak Kaivan.
...****************...
Setelah mandi, Kaivan mencoba menyuapi Aida untuk sarapan. Setelah itu, Kaivan akan antarkan Aida pulang. Dengan penuh perhatian Kaivan menggendong Aida lalu membawanya masuk kedalam mobil.
Kaivan menghela nafas panjang. Rasa itu masih ada, Seakan ada rasa yang aneh timbul dengan perasaannya terhadap Aida. Namun ia segera menepis perasaannya itu, Kaivan membuangnya jauh-jauh rasa aneh tersebut. Mungkin saja ini hanyalah perasaan karena dulu dia ditinggal kedua orang tuanya sejak masih kecil.
"Tante, Tante ingat kan jalan pulang kerumah Tante?" Aida menoleh, Lagi-lagi wanita itu terdiam menatap wajah tampan itu.
"Tante.." Aida mengangguk-anggukan kepalanya seperti anak kecil.
"Setelah jalan ini, Kemana lagi Tante? Tante ingat?
"I.. Ingaaat.. Kalau gak salah jalan ini lurus.." Kaivan menurut saja. Siapa tahu memory wanita ini masih ingat.
"Tante tahu jalan ini?" Aida mengangguk lagi.
"Tau... Dari jalan ini, Belok kanan.." Kaivan pun memutar setir. Bahkan dengan lancar Aida menyebutkan setiap tikungan menuju kearah jalan rumahnya.
Kaivan mengikuti saja kemana arah jalan yang ditunjuk oleh Aida. Entah itu benar atau tidak, Bagi Kaivan dia mengikuti saja apa kata wanita itu. Kaivan yakin kalau otak wanita itu masih berfungsi.
"Setelah ini kemana?
"Lurus aja.. Nanti ada rumah beeesaaaarrr.. Itu rumahku.." Kaivan mengangguk sepertinya ucapan wanita ini benar.
"Ya sudah sebentar lagi kita sampai..
"Horeeeee....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Steve marah besar pada orang-orang suruhannya. Bagaimana tidak, Sampai pagi begini tak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukan Mamanya.
"Kerja kalian itu apa sih!! Gak becus!!" Mereka hanya menunduk terdiam mendengar kemarahan Tuan mudanya.
"Yang kalian cari itu hanya Mamaku.. Masa mencari Mama saja kalian tidak bisa? " Steve mengusap wajahnya kasar, Mengacak rambutnya seolah merasa frustrasi.
"Steve.. Sudah..
"Sudah bagaimana Pa! Mereka..
"Maaf Tuan.." Steve semakin menatap tajam mereka.
"Maaf? Pergi! Jangan pulang sebelum kalian membawa Mama.." Mereka semua mengangguk. Baru saja hendak pergi kepala penjaga dari luar masuk untuk melapor.
"Tuan besar.. Tuan muda..
"Ada apa?
"Nyonya besar pulang.." Tama dan Steve langsung tercengang dan berdiri.
"APA!?
Tama dan Steve berlari keluar melihat apakah yang dilaporkan kepala penjaga tadi benar atau tidak.
"Mama...
"Sayang...
Dilihatnya disana Aida berjalan dengan bergelayut manja dilengan Kaivan.
"Itu mereka.." Tunjuk Aida pada Tama dan Steve. Kaivan mengarahkan pandangannya terhadap dua pria yang menyambut Aida itu.
Deg!!
"Kenapa, Wajah pria ini hampir mirip denganku waktu masih muda?
"Loh? Kok mirip foto Papa pas masih muda ya??
Tama dan Steve pun bertanya-tanya, Siapa pria yang telah mengantar wanita yang mereka cintai itu pulang.
"Ayo masuk.. Kamu jangan malu.. " Ucap Aida seraya menggandeng dan menarik lengan Kaivan agar ikut masuk kedalam rumahnya.
"Kamu abis ini tinggal disini ya? Jangan pulang.." Ucapnya dengan terus menarik Kaivan masuk. Bahkan Aida mengabaikan serta melewati Tama dan Steve yang menyambutnya.
"Tante.. Kaivan harus kerja dulu..
"Kerja?
"Iya..
"Kerja.. Apa?
"Jadi bodyguard..
"Bodyguard? Seperti mereka??" Aida menunjuk seorang penjaga yang berdiri tak jauh darinya..
"Iya..." Aida mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti.
"Sayang..." Tama mendekat dan memeluk wanita yang ia cintai itu. Dia tersenyum melihat sang istri yang menghilang kemarin akhirnya pulang. Aida hanya diam saja saat dipeluk.
"Akhirnya kamu pulang.. Kemana aja kamu?" Berulang kali Tama mengecup kening sang istri menunjukkan bahwa pria itu sangat merindukannya.
Tama mengarahkan tatapannya pada Kaivan. Entah kebetulan atau bukan, Wajah Kaivan mirip dengannya saat masih muda dulu. Dan ya.. Tama merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Detak jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Kita masuk dulu.." Kaivan dipersilahkan masuk. Pria itupun menurut, Calon suami Raisha tersebut duduk diruang tamu. Steve pun ikut duduk tapi hanya diam saja.
"Nak.. Kamu yang menemukan Istri saya?" Tanya Tama pada Kaivan.
"Iya Tuan.. Kemarin Tante ini tiba-tiba ada dimobil saya, Dia tertidur.. Karena kasihan jadi saya bawa pulang dulu.." Jelas Kaivan. Tama memerhatikan istrinya yang begitu cantik pagi ini, Sepertinya Kaivan memperlakukan istrinya dengan baik.
"Nak, Kamu tahu rumah ini darimana?
"Tante sendiri yang ngasih petunjuk..
"APA!?
Tama dan Steve saling pandang. Benarkah istrinya ini yang memberikan petunjuk? Bagaimana bisa? Padahal sejak sakit yang Aida ingat hanya Aksa tapi tidak dengan yang lainnya. Bagaimana bisa memberikan petunjuk.
"Terima kasih ya, Kamu sudah menjaga istri saya dan mengantarkannya pulang.. " Kaivan mengangguk tersenyum..
"Iya, Itu memang tugas saya Tuan..
"Ah, Tunggu dulu biar kamu dibuatkan minum..
"Tidak usah Tuan, Saya langsung pamit pulang saja.." Kaivan beranjak..
"Kamu mau kemana, Aksa..." Tama langsung menatap sang istri dan Kaivan secara bergantian.
Aksa??
"Nama saya Kaivan Tante.. Bukan Aksa..
"Iya tapi kamu mau kemana?
"Kaivan pulang dulu ya Tante..
"Gak boleh.. Kamu gak boleh pulang.." Aida merengek meminta Kaivan untuk jangan pulang. Bahkan wanita itu memeluk erat lengan Kaivan.
"Jangan pergi..
"Tapi..
"Nak Kaivan.. Bisakah Nak Kaivan disini dulu sebentar saja.. " Kaivan diam, Tak lama ia mengangguk dan kembali duduk karena merasa tak tega.
"Yeeeyy dia Aksaku..." Aida tersenyum senang memeluk lengan Kaivan. Pria hanya tersenyum bahagia melihat itu.
•
•
•
TBC