Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Langkah Kaki di Ruang Sunyi
Malam itu, jam dinding analog di lobi utama Vancort Tower sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Sebagian besar lampu koridor utama sudah dipadamkan oleh petugas kebersihan, menyisakan pendar lampu darurat berwarna putih redup di langit-langit gedung. Cahaya minimalis itu membuat bayangan pilar-pilar kaca lantai empat puluh lima kelihatan memanjang dengan suram di atas lantai marmer, menciptakan keheningan yang mencekam. Gedung perkantoran yang biasanya bising oleh lalu lintas data dan langkah kaki ratusan karyawan itu kini senyap seutuhnya.
Di dalam ruang server pusat yang kedap suara, sebuah siluet tubuh berjalan mengendap-endap di antara barisan rak komputer raksasa yang bergemuruh pelan. Pria itu adalah Tuan Sastro, direktur operasional baru yang dua minggu lalu diangkat oleh dewan komisaris atas rekomendasi rahasia dari sisa-sisa kelompok pendukung Harlan Vancort. Tangannya yang memegang sebuah diska lepas berlapis baja khusus tampak gemetar hebat di bawah sorotan lampu indikator peladen yang berkedip hijau teratur.
Sastro baru saja menerima telepon bernada ancaman dari Bianca setengah jam yang lalu di area parkir bawah tanah yang sepi. Wanita dari Paris itu menjanjikan perlindungan hukum penuh di Eropa dan pasokan dana segar ke rekening Singapura miliknya, asalkan Sastro nekat menyalin seluruh kode enkripsi inti milik sistem operasi Zhaklyn OS v2.0 malam ini juga, sebelum Gala Dinner dimulai minggu depan. Jika sistem ini bocor ke pasar gelap teknologi, Zhaklyn Mobile akan kehilangan hak paten eksklusifnya dan hancur berantakan dalam semalam.
Klik.
Dengan napas memburu, Sastro memasukkan diska lepas itu ke dalam slot pemindai komputer utama. Layar monitor langsung berkedip, mengubah kegelapan ruangan menjadi pendar cahaya biru terang yang mengekspos wajah tuanya yang dipenuhi keringat dingin. Di layar, barisan angka persentase pengunduhan data mulai berjalan cepat: 10%... 25%... 40%...
"Kerja bagus, Tuan Sastro. Ternyata harga diri Anda sebagai direktur operasional di perusahaan ini cuma senilai janji kosong dari wanita yang asetnya bahkan sudah membeku di Eropa."
Sebuah suara merdu, jernih, namun sedingin es kutub mendadak bergema dari arah sudut kegelapan ruangan, memecah deru konstan mesin peladen. Sastro tersentak hebat, jantungnya mencelos hingga tubuhnya refleks tersentak ke belakang, hampir saja menjatuhkan badannya ke lantai marmer karena syok yang teramat sangat.
Lampu utama ruang server mendadak menyala serentak dengan benderang, menyilaukan mata. Kirei sudah berdiri di sana, bersandar santai di dekat pintu baja keluar yang tebal. Penampilannya malam ini sangat kasual—hanya mengenakan kemeja tenun ikat biru indigo siang tadi yang lengannya masih digulung asal sampai ke siku, tanpa blazer kerja yang kaku. Namun, pandangan matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Sastro tanpa menyisakan sedikit pun celah untuk melarikan diri.
Di sebelah Kirei, Maya berdiri tegak sambil memegang tablet digital yang menampilkan grafik pelacakan aktivitas komputer secara langsung. Jebakan ini sudah dipasang Kirei sejak dia mendeteksi lalu lintas data asing dari hotel Menteng kemarin malam; dia sengaja membiarkan Sastro bergerak untuk mendapatkan bukti fisik yang tidak bisa diganggu gugat.
"No-Nona Kirei..." Sastro gagap, suaranya tercekat di tenggorokan dan wajah tuanya memucat pasi seperti mayat. Tangannya refleks bergerak maju, ingin mencabut paksa diska lepas dari komputer utama sebelum data selesai tersalin.
"Jangan disentuh, Tuan Sastro," kata Kirei, langkah kakinya yang mengenakan bot kulit melangkah maju dengan santai namun menuntut kepatuhan seutuhnya. "Jika Anda mencabutnya sekarang, sistem pertahanan sekunder Zhaklyn OS akan otomatis mengirimkan seluruh berkas spionase industri ini langsung ke server utama Polda Nusantara. Dan saya rasa, tim penyidik tindak pidana tertentu sudah menunggu Anda di lobi bawah sejak sepuluh menit yang lalu."
Pembalasan yang dijatuhkan Kirei dengan begitu tenang membuat seluruh persendian Sastro lemas. Lututnya gemetar hebat hingga dia terpaksa berpegangan pada pinggiran meja server demi menahan badannya agar tidak ambruk bersimpuh di lantai.
Brak!
Pinto baja ruang server terbuka penuh dari luar, menghantam dinding dengan suara dentuman yang mantap. Vaxerion melangkah masuk dengan langkahnya yang kokoh, berat, dan berwibawa tinggi. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memancarkan aura dominasi yang sangat kuat begitu melihat Sastro berdiri gemetaran di pojok ruangan. Vaxerion baru saja menyelesaikan koordinasi hukum internasional untuk memastikan seluruh gerak-gerik perbankan Bianca terkunci total malam ini.
Vaxerion tidak melirik Sastro sama sekali, menganggap pengkhianat itu tidak lebih dari seonggok kerikil kotor yang mengotori jalannya. Pria itu berjalan lurus menghampiri Kirei, mengambil posisi berdiri tepat di sebelahnya, pasang badan sepenuhnya untuk memastikan wanitanya aman seutuhnya dari segala potensi bahaya fisik.
"Tim keamanan Mahendra Motors sudah mengamankan gerbang digital luar kantor, Kirei," suara berat Vaxerion mengalun rendah, baritonnya terdengar begitu hangat saat berbicara pada Kirei, sangat kontras dengan hawa dingin yang dia bawa masuk tadi. Pria itu kemudian menoleh ke arah Sastro dengan kilat mata yang mematikan. "Bawa dia keluar, Maya. Serahkan pada tim hukum. Biar pengacara keluarga Mahendra yang memastikan pria ini tidak akan pernah melihat matahari dari balik jeruji besi selama lima belas tahun ke depan tanpa remisi."
Sastro hanya bisa pasrah tanpa suara saat dua petugas keamanan berbadan tegap maju dan menyeretnya keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk malu luar biasa. Siasat sabotase fisik yang diatur Bianca dari balik kegelapan jendela mobilnya malam ini kembali dihancurkan berkeping-keping dalam hitungan menit oleh taktik cerdas Kirei.
Ruang server kembali sunyi, hanya menyisakan dengung pelan mesin. Kirei mengembuskan napas panjang yang berat, perlahan melonggarkan sedikit kepalan tangan kanannya yang sejak tadi menegang menahan amarah terhadap pengkhianat baru di jajaran direksinya.
Vaxerion memutar tubuh tegapnya sepenuhnya menghadap Kirei. Ketenangan sikapnya yang selalu berdiri paling depan di setiap badai krisis membuat dada Kirei kembali diliputi rasa hangat yang luar biasa aman. Pria itu melangkah maju satu langkah besar, mengikis seluruh jarak profesional di antara mereka. Tangan kirinya yang besar dan hangat terulur ke depan, dengan gerakan yang sangat lembut menggunakan ujung jarinya, dia mengusap pelipis Kirei yang tampak kuyu karena kelelahan mental.
"Kamu sudah sangat hebat hari ini, Kirei," bisik Vaxerion dengan suara yang merendah, terdengar begitu romantis di dalam ruangan yang sunyi. Tatapan matanya yang jernih memancarkan binar rasa bangga yang jelas atas ketangguhan wanitanya. "Tikusnya sudah bersih tanpa sisa. Sekarang, ikut aku pulang. Oma sudah menunggumu di rumah dengan sup hangat, dan aku tidak mau melihat calon istriku jatuh sakit karena kelelahan sebelum panggung Gala Dinner kita dimulai minggu depan."
Mendengar perhatian manis yang dibungkus dengan ketegasan sikap seorang pria matang di depannya, Kirei tidak bisa menahan senyum tulusnya yang sangat cantik seutuhnya. Gengsi esnya melunak, digantikan oleh getaran haru yang meluluhkan seluruh kelelahan mentalnya malam itu di atas lantai empat puluh lima.