NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jebakan dan Bahaya yang Mengintai

Pagi itu, sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, menyinari ruangan-ruangan di rumah besar keluarga Pratama. Namun, kehangatan cahaya matahari itu sama sekali tidak terasa menembus ke dalam hati penghuninya. Suasana pagi ini terasa berbeda, terasa lebih berat dan penuh kewaspadaan, seolah udara saja sudah dipenuhi dengan ancaman yang tak terlihat wujudnya.

Seperti biasa, Luna bangun pagi-pagi sekali dan mulai melakukan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga. Ia mengenakan seragam yang sederhana, menata rambutnya rapi ke belakang, dan berusaha sekuat tenaga untuk menutupi aura aslinya sebagai cucu kandung keluarga Pratama. Di hadapan semua orang, ia hanyalah gadis polos yang miskin dan berhutang budi pada tuan mudanya. Tidak ada satu pun yang boleh tahu kebenaran itu, karena nyawa mereka berdua adalah taruhannya.

Saat sedang menyusun piring dan gelas di meja makan, langkah kaki tegas terdengar mendekat. Aditya muncul dengan penampilan yang sangat rapi dan berwibawa, mengenakan setelan jas mahal yang biasa ia pakai untuk ke kantor. Wajahnya tampak tenang dan dingin seperti biasa, namun matanya sesekali melirik ke arah Luna dengan pandangan yang penuh perhatian dan peringatan.

"Pagi," sapa Aditya singkat sambil duduk di kursi utamanya.

"Pagi, Tuan," jawab Luna sopan, menundukkan kepalanya sedikit. Ia menyajikan sarapan ke piring Aditya dengan gerakan yang cekatan namun tetap hati-hati.

Di meja makan itu juga ada Bu Rina, yang diam-diam sudah mengetahui kebenaran soal jati diri Luna. Wanita paruh baya itu sesekali menatap Luna dengan tatapan iba sekaligus bangga. Ia kagum betapa kuat dan tegarnya gadis muda ini mampu menahan beban yang begitu berat sendirian, sambil terus berpura-pura menjadi orang lain demi keselamatan diri dan orang-orang yang dicintainya.

"Aditya, hari ini kamu ada jadwal rapat penting di kantor pusat kan?" tanya Bu Rina pelan, memecah keheningan.

Aditya mengangguk sambil mengaduk kopinya perlahan. "Iya, Bu. Rapat gabungan dengan direksi dan pemegang saham. Bapak Surya pasti akan ada di sana juga. Jadi... aku mungkin akan pulang agak sore atau malam nanti."

Saat mendengar nama Bapak Surya disebut, tangan Luna yang sedang memegang teko air sedikit gemetar. Ia langsung teringat tatapan tajam dan senyum licik pria itu kemarin. Jantungnya kembali berdebar kencang karena cemas. Ia menatap Aditya dengan pandangan yang seolah bertanya: Apakah kamu aman di sana? Apakah dia akan berani berbuat sesuatu padamu di kantor?

Aditya seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Luna. Ia melirik sekilas ke arah gadis itu dan memberikan kedipan mata yang sangat halus, seolah ingin meyakinkan: Tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri.

"Kalau begitu, Tuan... hati-hati di jalan ya," ucap Luna pelan, suaranya terdengar lembut namun menyimpan kekhawatiran yang mendalam.

Aditya tersenyum tipis, senyum yang hanya bisa ditangkap oleh Luna saja. "Hm. Kamu di rumah juga jangan macam-macam. Kerjakan tugasmu, jangan keluyuran ke sembarang tempat, dan jangan membuka pintu untuk orang asing. Paham?"

"Baik, Tuan. Saya paham," jawab Luna patuh.

Setelah sarapan selesai, Aditya segera berangkat ke kantor. Mobil mewahnya melaju membelah jalanan kota yang padat, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Ia terus memikirkan Bapak Surya, memikirkan rencana jahat apa yang mungkin sedang disusun oleh pria itu, dan yang paling utama... ia memikirkan keselamatan Luna yang tertinggal di rumah. Meski rumah ini dijaga ketat, ia tetap merasa cemas. Ia tahu betapa licik dan cerdiknya musuh yang sedang mereka hadapi.

Sesampainya di kantor pusat perusahaan Pratama yang menjulang tinggi dan megah, Aditya disambut oleh para staf dan karyawan dengan penuh rasa hormat dan segan. Ia berjalan menyusuri koridor luas dengan langkah yang tegap dan penuh percaya diri. Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang rapat utama, ia langsung merasakan suasana yang berbeda. Udara di sana terasa berat dan penuh tekanan.

Di ujung meja rapat yang panjang, sudah duduk Bapak Surya dengan wajah yang terlihat tenang namun matanya memancarkan cahaya yang sulit diartikan. Di sebelahnya ada beberapa direktur lain dan pemegang saham besar yang setia mendukungnya. Saat melihat kedatangan Aditya, Bapak Surya segera tersenyum lebar, senyum yang terlihat begitu ramah namun sebenarnya penuh kepalsuan.

"Ah, Aditya, anakku sayang. Kamu datang juga. Silakan duduk," ucap Bapak Surya dengan nada yang sangat akrab, seolah ia benar-benar paman yang paling menyayangi keponakannya.

Aditya membalas senyum itu dengan senyum yang sama manisnya namun matanya tetap dingin dan waspada. Ia duduk di kursi utamanya, tepat di hadapan Bapak Surya. "Maaf terlambat sedikit, Paman. Lalu, apa agenda rapat kita hari ini?"

Rapat pun dimulai. Di permukaan, semuanya berjalan seperti biasa. Mereka membahas laporan keuangan, proyek-proyek yang sedang berjalan, dan rencana pengembangan perusahaan ke depannya. Namun, Aditya sadar betul bahwa Bapak Surya sedang memainkan permainan yang jauh lebih besar. Pria itu sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan jebakan atau komentar yang seolah-olah mendukung namun sebenarnya ingin menjatuhkan nama baik dan kredibilitas Aditya di hadapan para pemegang saham lain.

"Aditya masih muda, masih banyak hal yang harus dipelajari. Tentu saja, sebagai paman sekaligus komisaris utama, aku akan selalu membimbingnya dan memastikan perusahaan ini berjalan di jalur yang benar," ucap Bapak Surya di tengah pembicaraan, nadanya terdengar sangat melindungi dan bijaksana. Padahal maknanya tersirat bahwa Aditya dianggap belum mampu dan butuh diatur-atur.

Aditya hanya tersenyum tipis dan tetap tenang. Ia tidak terpancing emosi. Ia menjawab setiap pertanyaan dan komentar dengan jawaban yang cerdas, tegas, dan memuaskan semua pihak, membuktikan bahwa ia bukan lagi anak kecil yang bisa dipermainkan seenaknya. Ia menunjukkan kedewasaan dan kecerdasan yang luar biasa, membuat Bapak Surya diam-diam merasa tertekan dan mulai khawatir. Pria itu sadar, Aditya bukan lagi pemuda polos yang dulu mudah ia kelabui. Ada perubahan besar yang terjadi pada diri pemuda itu.

Sementara itu, di rumah besar keluarga Pratama, suasana berjalan seperti biasa namun hati Luna terus berdebar tidak tenang. Ia terus memikirkan Aditya, berharap semuanya berjalan lancar dan aman di kantor. Ia sibuk membersihkan ruang kerja Aditya, menata berkas-berkas, dan sesekali melirik ke arah foto keluarga yang ada di atas meja kerja itu.

Di tengah kesibukannya, tiba-tiba telepon rumah berdering nyaring. Luna terkejut sejenak, lalu segera bergegas mengangkatnya.

"Halo, dengan keluarga Pratama. Ada yang bisa dibantu?" tanya Luna sopan.

Dari seberang sana terdengar suara seorang wanita yang terdengar panik dan tergesa-gesa. "Halo... apakah ini rumah Tuan Aditya Pratama? Saya perawat dari Rumah Sakit Umum Pusat... Tuan Aditya baru saja mengalami kecelakaan kecil di jalan menuju ke kantor kami. Kondisinya sedang ditangani sekarang. Kami meminta agar ada keluarga yang segera datang ke sini untuk mengurus administrasi dan menemaninya."

Kecelakaan?!

Dunia Luna seakan berhenti berputar. Kakinya terasa lemas seketika, gagang telepon nyaris terlepas dari tangannya. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi seperti kertas. Jantungnya terasa seperti diremas kuat-kuat, rasa takut yang luar biasa besar seketika memenuhi seluruh isi kepala dan dadanya.

"Ke... kecelakaan? Tu... Tuan Aditya... dia baik-baik saja kan? Dia tidak terluka parah kan?" tanya Luna terbata-bata, air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Kami belum bisa memastikan secara rinci kondisinya, Nona. Tapi sebaiknya Anda segera datang ke sini. Alamatnya..." wanita di telepon itu menyebutkan nama rumah sakit dan alamatnya dengan jelas.

Tanpa berpikir panjang lagi, Luna langsung menutup telepon dengan tergesa-gesa. Ia sama sekali tidak berpikir dua kali. Di dalam pikirannya hanya ada satu hal: Aditya sedang dalam bahaya, Aditya terluka, dan ia harus segera menemuinya. Ia harus memastikan keadaan pria yang paling ia cintai dan sayangi itu.

Luna berlari keluar dari ruangan itu, mengambil tas kecilnya, dan berniat pergi secepat mungkin ke rumah sakit yang disebutkan tadi. Ia lupa sama sekali akan pesan Aditya kemarin dan pagi tadi yang melarangnya keluar rumah sembarangan. Ia lupa bahwa bahaya sedang mengintai di mana-mana. Ia lupa bahwa ini bisa jadi jebakan. Rasa cemas dan rasa takut kehilangan membuat akal sehatnya seakan tertutup rapat.

Saat ia hampir saja melangkah keluar dari gerbang rumah, Bu Rina yang kebetulan lewat melihatnya dan langsung memanggil dengan nada kaget.

"Luna! Mau ke mana kamu? Tuan Aditya kan berpesan supaya kamu jangan keluar rumah!"

Luna berhenti sejenak, menoleh ke arah Bu Rina dengan wajah yang penuh air mata dan ketakutan. "Bu Rina... Aditya kecelakaan! Dia ada di rumah sakit! Saya harus ke sana, saya harus melihat keadaannya!"

Bu Rina mengerutkan kening, merasa ada yang janggal. "Kecelakaan? Siapa yang bilang? Tadi kan baru saja berangkat dan terlihat sehat-sehat saja."

"Tadi ada telepon dari rumah sakit, Bu! Katanya dia sedang ditangani dan butuh keluarga! Saya tidak bisa diam saja di sini kalau dia sedang kesusahan!" seru Luna dengan nada yang sangat cemas, lalu ia kembali melangkah pergi, tidak mau ditahan lagi.

Bu Rina sempat ragu sejenak, namun melihat ketegasan dan kepanikan Luna, ia akhirnya membiarkannya pergi, tapi dengan pesan agar hati-hati dan segera menelepon jika sudah sampai. Bu Rina sendiri sebenarnya punya firasat buruk, namun ia tidak sempat menahannya lebih lama karena Luna sudah terburu-buru naik taksi yang kebetulan lewat di depan sana.

Di dalam taksi, Luna terus menggumamkan doa dalam hatinya. Ia memohon kepada Tuhan agar Aditya selamat, agar lukanya tidak parah, dan agar ia bisa segera bertemu dengannya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di belakang taksi yang ditumpanginya, ada sebuah mobil hitam yang dari tadi diam-diam mengikutinya dari jarak yang agak jauh, dengan pengemudi yang mengenakan topi dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Sementara itu, di ruang rapat perusahaan, Aditya baru saja menyelesaikan pembicaraannya dengan salah satu direktur. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Perasaannya tiba-tiba menjadi sangat gelisah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi atau akan terjadi. Ia memegang dadanya, merasa sangat tidak tenang.

"Maaf sebentar, saya mau ke kamar mandi dulu," ucap Aditya kepada yang lain, lalu berjalan keluar dari ruang rapat.

Sesampainya di lorong yang agak sepi, Aditya segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon ke rumah. Ia ingin memastikan keadaan Luna. Namun, yang mengangkat telepon adalah Bu Rina, dan suara wanita itu terdengar sangat cemas dan panik.

"Halo, Tuan Aditya? Syukurlah Anda menelepon! Tadi ada telepon masuk yang bilang Anda kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, lalu Luna langsung panik dan buru-buru pergi ke sana sekarang juga! Saya sudah coba menahannya tapi dia sudah terlanjur pergi karena sangat cemas!"

Seketika darah Aditya seolah berhenti mengalir. Wajahnya berubah menjadi merah padam karena marah sekaligus ketakutan yang luar biasa besar.

"APA?! Kecelakaan? Itu bohong, Bu! Saya baik-baik saja di kantor sekarang! Itu jebakan! Itu pasti perbuatan Bapak Surya! Dia memancing Luna keluar rumah supaya dia bisa menangkapnya atau mencelakainya!" teriak Aditya dengan suara yang bergetar hebat karena amarah dan rasa takut.

Dunia Aditya rasanya mau runtuh. Ia sudah berusaha sekuat tenaga melindungi Luna di dalam rumah, menjaganya dari segala bahaya, namun karena kepanikan dan rasa sayang Luna padanya, gadis itu malah terperangkap masuk ke dalam jebakan musuh dengan sukarela.

"Rumah sakit mana dia pergi, Bu? Cepat katakan padaku!" perintah Aditya dengan nada yang sangat tegas dan cepat.

"Dia bilang... Rumah Sakit... Pusat di jalan Merdeka..." jawab Bu Rina yang juga mulai sadar bahwa itu memang jebakan.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aditya langsung berlari secepat kilat menuju lift. Ia tidak peduli lagi dengan rapat yang sedang berlangsung, tidak peduli lagi dengan siapa pun yang melihatnya. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah satu hal: Menyelamatkan Luna. Ia harus sampai ke sana secepat mungkin sebelum terlambat. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri seumur hidupnya jika terjadi sesuatu yang buruk pada Luna.

Di ruang rapat, Bapak Surya yang melihat Aditya pergi dengan wajah yang sangat marah dan panik, tersenyum licik penuh kemenangan. Ia tahu rencananya berhasil. Ia tahu umpan yang ia berikan sudah dimakan oleh mangsanya. Kini, tinggal menunggu hasil akhirnya. Semuanya berjalan persis seperti yang ia rencanakan.

Di sisi lain, Luna yang sedang berada di dalam taksi mulai merasa ada yang aneh. Jalan yang dilalui oleh pengemudi taksi ini tidak seperti jalan menuju ke Rumah Sakit Pusat yang biasa ia ketahui. Jalan ini semakin lama semakin sepi, masuk ke kawasan pinggiran kota yang agak terpencil dan jarang ada orang yang lewat.

"Pak... maaf, ini kan bukan jalan ke Rumah Sakit Pusat? Kenapa masuk ke jalan sepi begini?" tanya Luna dengan rasa curiga yang mulai timbul, rasa cemasnya perlahan kembali muncul namun kali ini karena alasan yang berbeda.

Pengemudi taksi itu tidak menjawab sepatah kata pun. Ia malah mempercepat laju kendaraannya, membuat Luna semakin ketakutan. Saat ia berusaha membuka pintu mobil atau berteriak minta tolong, tiba-tiba pengemudi itu menekan tombol pengunci pintu secara otomatis. Semua pintu terkunci rapat dan tidak bisa dibuka dari dalam.

Seketika Luna sadar. Ia sadar bahwa ia telah terjebak. Ia sadar bahwa semua kabar soal kecelakaan Aditya itu hanyalah rekayasa belaka untuk memancingnya keluar. Air matanya mengalir deras, rasa menyesal yang luar biasa besar menyelimuti hatinya. Ia menyesal tidak mendengarkan nasihat Aditya. Ia menyesal bertindak gegabah hanya karena rasa cemasnya. Dan sekarang, ia terjebak di dalam mobil asing yang dikemudikan oleh orang jahat, menuju ke tempat yang tidak ia ketahui.

"Siapa Anda?! Lepaskan saya! Tolong! Tolong!" teriak Luna sekuat tenaganya, memukul-mukul kaca jendela mobil, namun suaranya sama sekali tidak terdengar oleh siapa pun karena jalanan yang sepi dan mobil yang tertutup rapat.

Pengemudi itu kemudian mengeluarkan sebuah kain yang dibasahi cairan yang berbau sangat menyengat, lalu dengan cepat menempelkannya ke hidung dan mulut Luna. Luna berusaha melawan dan menepisnya sekuat tenaga, namun tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan orang itu. Perlahan-lahan, pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa pusing dan berat, dan akhirnya tubuhnya lemas tak berdaya lalu ia pun jatuh pingsan di kursi belakang mobil itu.

Mobil itu terus melaju kencang menghilang di balik tikungan jalan, membawa serta nasib dan harapan hidup satu-satunya pewaris sah keluarga Pratama ke dalam kegelapan yang penuh bahaya dan ketidakpastian.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!