"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Harus Aku?
Cahaya lampu jalan berkedip lalu meredup, menyisakan keremangan malam yang mencekam. Di sana, seorang pria tua dengan setelan jas abu-abu gelap berdiri tegak. Tangan keriputnya menggenggam kokoh tongkat kayu berujung perak. Meski wajahnya dimakan usia, sorot matanya setajam elang, menembus langsung ke arah kedua cucu perempuannya.
TUAN BESAR ARON CHARLES.
"K-Kakek?" Suara Bianca yang tadinya melengking galak, mendadak menciut. Ia mundur selangkah, hampir menjatuhkan koper di genggamannya.
"Enam tahun melarikan diri, dan kalian pikir bisa pulang ke rumahku hanya saat butuh?" Suara Tuan Besar terdengar berat dan penuh wibawa, menggema di gang sempit itu.
Bi Ina segera bersimpuh di tanah dengan tubuh menggigil.
"Tuan Besar... mohon maafkan kami..."
Aron Charles tak menanggapi. Pandangannya beralih ke bawah, tepat ke arah dua bocah kecil di samping Elena. Matanya menyipit menatap Arsen. Ia tertegun sejenak, bocah itu adalah replika sempurna Adrian Winston versi mini, berdiri tegak dengan tatapan yang sama sekali tidak gentar.
“Oh jadi ini dua musang yang rela bikin cucu-cucuku meninggalkan rumahku,” ucap Opa Aron datar namun tegas.
Arshy yang merasa suasana terlalu tegang, melepas tangan ibunya dan mendongak polos. "Aki-aki ciapa ini? Tadi di kantol polici ada aki-aki galak catu, cekalang datang lagi catu."
"Arshy Sayang, diam," bisik Elena dengan wajah pucat. Lalu mendekap kedua anaknya erat demi melindungi mereka dari sang Kakek otoriter.
Tuan Besar Aron melangkah maju. Ketukan tongkatnya di aspal terdengar seperti detak jam kematian. Ia berhenti tepat di depan Arsen.
"Siapa namamu, Bocah?"
Arsen menatap kakek buyutnya tanpa berkedip.
"Arsen Charlotte. Ini adikku, Arshy. Kami bukan objek yang bisa Kakek nilai dengan uang warisan."
Aron tertegun. Detik berikutnya, ia tertawa pendek.
"Haha... Sombong sekali. Persis seperti pria yang benihnya dicuri ibumu."
Elena tersentak, sementara Bianca dan Arsen mengernyit bingung.
"Bawa mereka semua ke mansion," perintah Tuan Besar kepada para pengawalnya tanpa bantahan.
"Termasuk barang-barang lusuh itu. Aku tidak ingin melihat cucu-cucuku tinggal di lubang tikus ini lebih lama lagi."
"Tapi Kek! Kami bisa jalan sendiri!" protes Bianca, mencoba memungut sisa harga dirinya.
"Masuk ke mobil, Bianca! Atau kucoret namamu dari silsilah keluarga detik ini juga!" bentak Tuan Besar.
Bisanya cuma memerintah tanpa mau mendengar penjelasan kami dulu,
Batin Elena was-was.
Tapi, mengapa Kakek sampai turun tangan sendiri ke sini? Apa lagi yang dia rencanakan?
Di dalam mobil, Arshy duduk di atas jok kulit yang sangat empuk. Mata bulatnya berbinar-binar sambil melompat kecil.
"Waaah! Mobilna empuk kayak kacul Bibi Bingka! Eh, tapi ini ndak ada bau acem-na!"
"Ya iyalah! Kasurku bau asem juga gara-gara kamu hobi mengompol!" ketus Bianca sambil mendudukkan Arshy dengan paksa sebelum bocah itu mengotori jok mewah tersebut.
Arsen yang bersandar santai dengan tangan terlipat di dada, ia melirik Ibunya yang terus meremas jemarinya sendiri.
"Bunda, kalau Opa jahat, Arsen punya virus yang bisa bikin semua lampu di rumahnya mati dalam satu detik."
Elena tersenyum getir, mengusap kepala putranya.
"Jangan, Sayang. Kita ikuti saja dulu."
Sementara itu, otak Bianca bekerja cepat menyusun strategi.
Kalau Kakek bawa aku pulang, artinya aku punya akses lagi ke dunia atas. Kalvin dan Adrian harus hancur!
Ia menyeringai tipis, penuh dendam yang telah dipendam selama enam tahun.
"Ada apa, El? Kenapa melihatku seperti itu? Apa malam ini aku terlihat sangat cantik?" tanya Bianca saat menyadari kegelisahan adiknya.
Elena mengatur napas. "Itu... Kak Bianca sudah bertemu Adrian. Apa Kakak akan rujuk padanya?"
Hening sejenak. Bianca menepuk bahu Elena dengan mantap.
"Jika aku kembali padanya, aku adalah wanita paling bodoh di dunia. Memang dia sudah berubah, tapi sakit hati ini permanen. Aku ingin dia merasakan kehancuran yang sama, Elena."
"Maksudnya... Kakak tidak masalah jika dia menikah dengan wanita lain?" tanya Elena ragu.
Tatapan Bianca menajam. Ia mencengkram bahu adiknya.
"Tidak, El! Aku tidak rela dia bersama dengan wanita lain. Kecuali..."
"Kecuali apa, Kak?"
"Kecuali kamu, Elena."
"Ha? Aku?"
Elena menunjuk dirinya sendiri, jantungnya berdegup kencang.
Apa Kak Bianca sudah tahu kalau Adrian adalah ayah biologis si kembar?
"Ya, El. Kamu satu-satunya yang harus menikah dengan Adrian dan membalaskan dendamku."
Pupil mata Elena membesar.
"Tu-tunggu! Kenapa harus aku?"
Bianca melipat tangan di dada dengan angkuh. "Wajahmu itu polos dan sangat meyakinkan. Adrian pasti luluh. Begitu dia jatuh cinta setengah mati padamu, saat itulah kamu harus meninggalkannya. Biar dia tahu rasanya dicampakkan."
"El, aku sudah membantumu membesarkan si kembar bertahun-tahun. Ini waktunya kamu balas budi. Kamu juga benci pria yang sudah membuangku, kan?"
"Ma-maaf, Kak. Aku tidak mau menikah," tolak Elena halus.
Bianca mulai berakting, menutup wajahnya sambil terisak.
"Jadi, kamu lebih senang melihat aku diinjak-injak? Apa hubungan darah kita sudah tidak ada artinya lagi?"
Elena panik karena Bianca yang biasanya "bar-bar" tiba-tiba menangis. "Baiklah, Kak. Aku akan pikirkan lagi. Tolong jangan menangis."
Bianca langsung memeluk Elena, menyembunyikan senyum kemenangannya.
Bagus, Elena. Buat pria sombong itu berlutut di kakimu, lalu buang dia ke dasar jurang paling dalam.
Di sisi lain, Elena membatin dengan perasaan campur aduk. Entah bagaimana reaksi Bianca jika rahasia besar tentang ayah si kembar terbongkar.
— 🌹
chi...dari tanah sengketa🤣🤣