❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA
Hari demi hari berlalu. Di kediaman megah keluarga Singhania, suasana yang tadinya kaku dan dingin mulai berubah perlahan.
Ny. Savitri yang dulu begitu sombong dan keras kepala, kini sering terlihat melamun sendirian di balkon kamarnya. Matanya sering menatap kosong ke arah jalanan, seolah sedang menunggu seseorang pulang.
Rasa marah dan kecewa di hatinya perlahan terkikis oleh rasa rindu yang begitu besar. Ia rindu suara tawa anaknya, ia rindu melihat wajah tampan Aaryan yang selalu memanggilnya "Ibu".
"Arya... anakku..." gumamnya pelan dengan suara parau. "Sudah lama sekali kau tidak pulang. Apa kau baik-baik saja di sana? Apa kau cukup makan? Apa wanita itu bisa merawatmu dengan baik?"
Meskipun mulutnya masih sering menggerutu dan masih enggan mengakui kesalahan, tapi hatinya yang seorang ibu itu mulai melunak. Ia mulai sadar, bahwa mungkin selama ini ia terlalu keras pada anaknya sendiri.
Suatu siang, Ny. Savitri memutuskan untuk keluar rumah sendirian tanpa pengawalan. Ia ingin menyegarkan pikirannya, berjalan-jalan santai di pasar tradisional yang cukup ramai, ingin merasakan suasana biasa seperti orang lain.
Ia berjalan pelan, menikmati angin siang. Namun, sayangnya tempat itu cukup ramai dan banyak orang iseng.
Tiba-tiba...
"BRAKK!!"
Dari arah samping, dua orang pria bertopeng dan berwajah seram menerobos masuk. Salah satu dari mereka dengan cepat menyambar tas tangan mewah yang digendong Ny. Savitri.
"Lepaskan! Itu tas saya! Berani kalian!" teriak Ny. Savitri panik dan menarik kuat tasnya.
Namun, malang tak dapat ditolak. Karena tarikannya itu, salah satu penjahat itu menjadi emosi. Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat yang tajam dan mengarahkannya tepat ke dada Ny. Savitri.
"Sialan! Nyerah saja Nenek! Atau aku tikam kau sekarang!" teriak penjahat itu dengan mata melotot penuh amarah.
Ny. Savitri terpaku ketakutan. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak bisa bergerak sedikitpun. Pisau itu sudah sangat dekat, hanya beberapa senti lagi dari tubuhnya.
"Tolong... tolong aku..." bisiknya lemah, matanya terpejam rapat siap menerima nasib.
Namun, sebelum pisau itu sempat menusuk tubuhnya...
"JANGAN BERANI-BERANI!!"
Teriakan keras itu menggema.
Dengan sigap dan cepat, sesosok wanita muda melompat maju menghalangi tubuh Ny. Savitri. Wanita itu mendorong bahu penjahat itu dengan sekuat tenaga hingga pria itu tersentak mundur.
Itu adalah Maheera!
Ia kebetulan sedang lewat di sana untuk membeli sayur dan keperluan rumah tangga. Dan tanpa pikir panjang, saat melihat ada orang yang bahaya, ia langsung bertindak!
"Hei! Kalian berani bertindak kasar pada wanita tua?! Minggir sana!!" teriak Maheera dengan berani, matanya menatap tajam ke arah penjahat itu.
"Eh, ada cewek pemberani ya!" seru temannya. "Ayo habisi saja mereka berdua!"
Penjahat itu kembali mengayunkan pisaunya ke arah mereka. Tapi Maheera sangat lincah. Ia menarik tangan Ny. Savitri mundur, lalu mengambil sebuah kayu kecil di tanah dan melemparkannya tepat ke wajah penjahat itu.
"Aduh!!"
Karena keributan itu, orang-orang ramai mulai berdatangan. Melihat situasi sudah tidak aman, kedua penjahat itu akhirnya lari terbirit-birit masuk ke dalam gang sempit.
"Lariiiii!!"
Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Hening sejenak menyelimuti tempat itu.
Maheera langsung memegang bahu wanita yang baru ditolongnya itu dengan panik.
"Bibi! Bibi tidak apa-apa kan? Apakah Bibi terluka? Syukurlah... syukurlah Bibi selamat!" ucap Maheera dengan napas memburu, wajahnya penuh kekhawatiran yang tulus.
Namun, saat wajah wanita itu menoleh ke arahnya...
Deg!!!
Dunia seakan berhenti berputar.
Maheera terbelalak kaget. Wanita yang baru saja ia selamatkan dari maut itu... adalah Ny. Savitri! Ibunya Aaryan! Mertuanya sendiri!
Wajah cantik Maheera langsung pucat. Tangannya yang tadi memegang bahu mertuanya itu langsung menarik diri seolah tersetrum listrik.
"I-Ibu...? Ibu Savitri...?" gumam Maheera terbata-bata, jantungnya berdegup kencang bukan main.
Di sisi lain, Ny. Savitri juga terlihat sangat kaget. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita muda di hadapannya ini. Wanita yang tadi begitu berani mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.
Wajah itu... ia sangat ingat wajah ini. Ini adalah wanita yang selama ini ia benci, yang ia usir, dan yang ia anggap telah merebut anaknya.
Tapi... baru saja detik yang lalu... wanita inilah yang menjadi tamengnya. Wanita inilah yang berani melawan pisau tajam demi menyelamatkan nyawanya.
Mata mereka saling bertatapan. Hening. Sangat hening.
Rasa syok, rasa takut, dan rasa haru bercampur menjadi satu di udara siang itu.
Ny. Savitri menatap mata Maheera. Ia tidak melihat rasa benci di sana. Yang ia lihat hanyalah ketulusan, keberanian, dan kebaikan yang begitu murni.
...Mata mereka saling bertatapan. Hening. Sangat hening.
Rasa syok, rasa takut, dan rasa haru bercampur menjadi satu di udara siang itu.
Ny. Savitri menatap mata Maheera. Ia tidak melihat rasa benci di sana. Yang ia lihat hanyalah ketulusan, keberanian, dan kebaikan yang begitu murni.
"Kau..." suara Ny. Savitri terdengar parau dan bergetar. Ia masih belum bisa berkata-kata. Detik ini saja rasanya seperti mimpi buruk sekaligus mimpi indah baginya.
Maheera langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan sopan, jari-jarinya bermain satu sama lain menahan gugup yang luar biasa.
"S-Saya... saya permisi, Bu. Saya tidak bermaksud..." Maheera terbata-bata, siap-siap kalau-kalau mertuanya itu akan memarahinya atau mengusirnya lagi seperti dulu.
Ia sudah siap hati untuk dimarahi. Tapi... apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaannya.
Alih-alih memarahi, tangan halus Ny. Savitri justru terulur dan memegang kedua tangan Maheera dengan erat.
Deg!
Maheera terkejut setengah mati. Ia mengangkat wajahnya perlahan, melihat wajah mertuanya yang kini sudah tidak lagi dipenuhi amarah, melainkan wajah yang terlihat sangat terharu dan sedikit berkaca-kaca.
"Jangan pergi..." ucap Ny. Savitri pelan, suaranya lembut sekali, sangat berbeda dengan nada ketus yang dulu sering ia lontarkan. "Tolong... jangan pergi dulu."
"Ibu...?" Maheera semakin bingung tapi hatinya terasa hangat.
"Terima kasih..." lanjut Ny. Savitri, menatap manik mata menantunya itu dalam-dalam. "Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa Ibu tadi. Kalau bukan karena kau, mungkin saat ini Ibu sudah tidak ada di dunia ini. Kau berani melawan pisau itu demi melindungi Ibu... padahal kau tahu siapa Ibu?"
Maheera mengangguk kecil. "Iya, Bu. Saya tahu. Tapi meskipun begitu, Ibu tetaplah orang tua, Ibu tetaplah ibu dari suami saya. Sudah kewajiban saya melindungi Ibu, apapun risikonya."
Mendengar jawaban setulus itu, pertahanan hati Ny. Savitri yang selama ini keras seperti batu, akhirnya runtuh sepenuhnya.
Air mata mulai mengalir membasahi pipi wanita paruh baya itu. Ia menggenggam tangan Maheera semakin erat, seolah takut melepaskannya.
"Maafkan Ibu... Ibu minta maaf sekali, Nak..." isak Ny. Savitri pelan. "Dulu Ibu jahat sama kamu. Ibu sombong, Ibu meremehkan kamu, Ibu bilang kamu tidak pantas buat Aaryan..."
"Tapi hari ini Ibu sadar... Ibu salah besar. Wanita sebaik, seberani, setulus kamu... justru wanita yang paling pantas buat anakku. Kamu bukan hanya cantik, tapi hatimu seluas samudra."
Maheera ikut menangis terharu mendengarnya. Ia tidak menyangka akan mendengar kata maaf dan pujian seindah itu dari mulut mertuanya sendiri.
"Bu... jangan menangis..." ucap Maheera ikut terisak, ia mengusap air mata di wajah Ny. Savitri dengan lembut. "Saya tidak pernah menyimpan dendam kok, Bu. Saya mengerti Ibu cuma sayang sama Mas Aaryan."
"Iya... Ibu sayang Aaryan. Makanya Ibu harus sayang sama kamu juga, karena kamu adalah bagian dari hidupnya sekarang." Ny. Savitri tersenyum tipis, senyum tulus yang pertama kali ia berikan pada menantunya ini.
"Kamu mau kan... memaafkan Ibu yang dulu jahat?" tanya Ny. Savitri dengan tatapan memohon seperti anak kecil.
Maheera mengangguk cepat sambil tersenyum lebar di balik air matanya.
"Tentu saja mau, Bu! Tentu saja mau! Alhamdulillah... saya sangat bahagia sekali mendengarnya."
"Nah, begitu dong..." Ny. Savitri tersenyum lebih lebar, lalu menarik tubuh Maheera ke dalam pelukannya.
Hug!
Mereka berpelukan di tengah jalan. Dua wanita yang dulu bagai api dan air, kini bersatu dalam ikatan kasih sayang yang hangat.
Rasa dingin dan benci itu hilang seketika, berganti dengan rasa hangat dan rindu yang terpendam lama.
"Pulang sama Ibu yuk? Atau... boleh tidak Ibu ikut ke tempat kamu dan Aaryan tinggal? Ibu kangen sama anakku... Ibu mau lihat bagaimana kalian hidup. Ibu mau minta maaf juga sama Aaryan," kata Ny. Savitri lembut.
Maheera mengangguk bahagia. "Boleh dong, Bu! Boleh banget! Pasti Mas Aaryan bakal senang sekali melihat Ibu datang!"
Hari itu menjadi hari yang bersejarah. Kebencian berubah menjadi cinta, dan tembok pemisah itu akhirnya runtuh karena ketulusan hati seorang wanita mulia bernama Maheera.