NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Baam!! Baam!! Baam!!

Loen menyeringai, mengayunkan tangan kosongnya ke mana pun ada monster. Setiap pukulannya meninggalkan gelombang kejut yang menghasilkan kerusakan area yang besar, menghantam monster di jalur pukulannya hingga hancur berkeping-keping.

Di saat yang bersamaan, beberapa serangan mendarat di tubuhnya. Cukup banyak luka, tapi tidak cukup untuk menghentikannya. Aspeknya memberinya toleransi terhadap rasa sakit yang melampaui batas manusia biasa, dan luka-luka yang dia terima saat ini tidak lebih dari sekadar sentuhan yang menggelitik.

Tubuhnya telah menjadi wadah kekuatan yang mampu memberikan kehancuran pada dunia. Setiap gerakannya bukan lagi sekadar serangan, melainkan fenomena yang menghancurkan segala sesuatu di jalurnya.

Baam!! Baam!! Baam!!

Kelelahan?

"Aku bahkan belum mulai!" Loen meraung, seringainya tidak luntur sedikit pun.

Begitu luka yang diterima tubuhnya cukup besar, dia melompat mundur dan menciptakan jarak. Dalam jeda singkat itu, Loen mengambil posisi memukul.

Angin berhembus di sekelilingnya. Pupil matanya tiba-tiba meninggalkan jejak samar dari rona merah, lalu dengan satu ayunan bersih yang diarahkan tepat ke udara, ke jalur di mana para monster menyerbu mendekat.

Krabooom!!

Ledakan sonik terjadi seketika. Gelombang suara yang mengejutkan meledak keluar, diikuti daya hantam dan angin kencang yang merobek udara itu sendiri. Asap abu-abu mengepul sepanjang jalan, dan teriakan monster-monster yang dekat lenyap sepenuhnya, hanya menyisakan suara dari ujung jalan yang masih jauh.

Begitu debu akhirnya mereda, Loen menemukan seluruh jalan raya di hadapannya meninggalkan jejak kerusakan yang panjang. Monster-monster di jalur itu hancur menjadi bubur, membentuk lautan darah hitam yang menggenang merata.

Di kejauhan, gelombang berikutnya masih tampak belum habis.

Loen tersenyum.

"Bagus. Mari kita lanjutkan."

---

"Wow, bisakah aku melampaui Nate jika aku membunuh seluruh monster ini?"

Nelphy memiringkan kepalanya dengan senyuman yang memikat, menatap gelombang monster yang luar biasa banyak di depannya. Lalu dia segera menggelengkan kepalanya sendiri.

"Ugh... Tidak mungkin. Orang sialan itu pasti juga sedang berkembang di posisi ini. Tidak bisakah dia dapat gelombang kecil saja?"

Berbeda dengan yang lainnya yang berdiri dekat dengan kristal, Nelphy justru berdiri langsung di medan perang. Wajahnya yang cantik berkerut pelan saat dia terus memikirkan bagaimana caranya melampaui Nate dan merebut peringkat pertama.

Mengapa dia begitu terobsesi pada posisi itu?

Nah. Alasannya hanya karena dia ingin. Itu sudah cukup sebagai alasan.

Saat monster akhirnya mendekat dan menerjang ke arahnya, Nelphy tidak bergerak sama sekali. Bahkan tidak berkedip. Sebelum monster itu sempat menyentuh tubuhnya, energi ungu gelap merembes keluar dari dirinya, dan dengan satu tarikan paksa, monster itu tercabik-cabik dan mati tanpa daya.

Selanjutnya energi itu mengalir semakin kuat dan luas. Setiap monster yang mencapai radius tertentu dari tubuhnya tiba-tiba tercabik-cabik dan mati begitu saja, tanpa satupun yang berhasil menyentuhnya atau melewatinya.

Aspeknya bertarung mewakili dirinya sendiri, tanpa Nelphy perlu bergerak atau bertindak secara khusus.

Di balik ketenangan itu, Nelphy bisa merasakan perkembangan dari jurang kegelapan di dalam dirinya yang semakin meluas. Pupil matanya yang segelap jurang itu berputar dengan kegilaan yang samar, memandang monster-monster itu sebagai sumber makanan yang akan terus meningkatkan kekuatannya, melampaui apa yang seharusnya dimiliki oleh level dan statistiknya saat ini.

Aspeknya adalah jiwa yang telah menjadi jurang hidup. Selama jurang itu semakin luas, dia akan semakin kuat, mengabaikan aturan level dan statistik. Seperti saat ini, radius serangannya terus meningkat mengikuti pertumbuhan jurang itu, memakan semakin banyak ruang di sekitarnya.

Tentu saja ada batasnya. Monster dengan peringkat yang lebih tinggi punya kekuatan yang jauh melampaui kemampuannya saat ini, dan aspeknya bergantung pada Mana, sehingga jika Mana-nya habis, semuanya berhenti. Tapi itu adalah masalah yang bisa dia selesaikan nanti, begitu dia cukup kuat untuk mengatasinya.

Dia hanya perlu waktu.

Senyumannya melebar, rona kemerahan muncul di pipinya, menampilkan ekspresi yang anehnya tampak indah dan menakutkan sekaligus.

"Nah, ini mulai membosankan."

Nelphy mengambil tindakan pertamanya. Dia tidak lagi menunggu monster datang kepadanya. Dia yang mendatangi mereka.

---

Zenith mendecakkan lidahnya dengan kesal.

"Apa-apaan pria berperingkat pertama sialan itu? Zenny katanya? Zenny? Nama konyol apa-apaan itu?"

Dia mendesah panjang, menatap jauh ke bawah dari ketinggian yang dia ambil.

Saat ini Zenith mengambang jauh di atas langit, sepasang sayap terus mengepak di kedua sisi punggungnya. Sayapnya berwarna gelap dengan corak keemasan dan garis-garis merah gelap, ujungnya tajam dan memperlihatkan tulang-tulang yang kokoh. Pupil matanya menampilkan celah vertikal yang tajam. Jari-jarinya telah berubah menjadi cakar yang panjang, kakinya ramping dengan enam jari. Sisik muncul di sekitar leher dan pinggiran matanya, dua taring menonjol dari bibirnya, dan rambutnya memanjang hingga ke bahu.

Meski begitu Zenith sama sekali tidak peduli dengan penampilannya saat ini dan terus memikirkan bagaimana cara membalas perlakuan tidak sopan dari Nate.

"Arghh!! Mengapa di saat seperti ini aku tidak bisa memikirkan apapun?!"

Dia mengacak-acak rambutnya, lalu tanpa sengaja mencabut beberapa helai dengan cakarnya sendiri.

"Gyaah!! Aku lupa! Aku benar-benar tidak terbiasa dengan jariku yang tajam!" Dia berteriak panik.

Kemudian nalurinya menendang lebih keras dari amarahnya. Zenith menoleh ke belakang, ke arah kristal, dan menemukan beberapa monster sudah melewati jalurnya tanpa dia sadari.

Wajahnya menggelap seketika.

"Eh?! Tunggu! Pause! Pause! Aku belum siap sialan!"

Tubuhnya segera menjadi kabur. Dalam sekejap, sebuah domain kekuningan muncul dalam ukuran yang cukup besar, menyelimuti seluruh area di sekitarnya. Di dalam domain itu, semua yang masuk adalah mangsa Zenith, dan Zenith adalah satu-satunya puncak rantai makanan.

Dengan satu gerakan bersih, dia memberikan luka besar pada monster yang sudah nyaris menyentuh kristal.

Kraaak!!

Begitu seluruh monster dalam jangkauan mulai mendekat, tubuh Zenith menegang sejenak, lalu dengan napas yang alami dan tatapan penuh amarah, dia melesat.

Craaash!! Craaash!!

Satu cakaran menumbangkan banyak monster sekaligus. Setiap gerakannya tampak kabur, seolah dia muncul di begitu banyak tempat pada waktu yang bersamaan.

Lalu sebuah serangan tajam menghantam perutnya dengan daya hantam yang luar biasa.

Klang!!

Suara yang terdengar adalah bunyi kaleng besi.

Zenith menatap monster yang melakukan itu tanpa ekspresi, mengangkat cakarnya, dan menusuk leher monster itu.

Jatuh dalam waktu singkat.

Dia kembali bermanuver, menghancurkan mereka dari sana ke sini. Setiap waktu yang berlalu memberinya lebih banyak ruang untuk beradaptasi, dan itulah salah satu kemampuan utamanya. Setiap pertarungan yang berlanjut, efisiensi serangannya meningkat, hingga dalam satu detik ada puluhan monster yang mati dan dalam sepuluh detik ada ratusan.

Tapi sayang, jumlah monster di jalurnya ternyata tidak cukup banyak untuk mengimbangi kecepatannya yang terus meningkat. Begitu Zenith mulai benar-benar merasakan peningkatan kekuatannya yang tidak berhenti, dia mendongak dan menyadari satu hal.

Tidak ada lagi yang tersisa kecuali dirinya sendiri.

Tubuhnya basah oleh cairan hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada luka, tidak ada satu pun bekas goresan di tubuhnya. Di sekelilingnya, seluruh monster telah tumbang dengan aliran darah hitam yang menggenang tanpa henti.

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
bysatrio
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!